Mengejar Cinta Suami Dingin

Mengejar Cinta Suami Dingin
Bohong Jika Tak Cinta


__ADS_3

Disatu sisi, hati masih ingin berjuang namun di sisi lain harus rela melepas saat kita merasa tak lagi dibutuhkan. Dilara, perempuan itu mengaku salah sebab tak pernah mengatakan yang sebenarnya perihal persetujuan yang ia sepakati bersama Hary sebelum dinikahi Alan. Pada awalnya Lara tak menyangka jika Alan semurka ini setelah mengetahui. Akan tetapi, kembali lagi. Dirinya sudah diminta untuk pergi dan bukankah itu sebagai isyarat jika Alan tak ingin melihat dirinya ada di rumah ini lagi.


Dilara memilih tak membawa barang apa pun terkecuali sebuah tas yang hanya berisi beberapa barang penting miliknya.


Tubuhnya yang lemah ia paksa untuk bergerak. Menyeret langkah untuk keluar dari rumah Alan.


"Nyonya, barang-barang anda apa perlu kami yang mengemas?." Seorang pelayan tiba-tiba mendekat dan menawarkan. Mungkin selepas ia melihat jika Lara tak membawa koper satu pun.


"Tidak, terimakasih," jawab Dilara. Ia kembali melanjutkan langkah. Semula ia berharap Alan akan menarik katanya-katanya, menahan agar dirinya tak pergi. Akan tetapi, semua hanya anggan saat pria itu justru tak terlihat.


Dilara menghela nafas dalam. Dirinya sudah tak dibutuhkan lagi, dan dirinya memang harus pergi.


Seorang supir pribadi menggiring langkah Dilara untuk masuk ke dalam.


"Nyonya, Tuan Alan memerintahkan saya untuk mengantarkan anda."


Dilara ragu, dirinya serasa enggan untuk masuk ke dalam mobil.


"Nyonya, saya mohon untuk tidak menolak perintah dari Tuan."


Dilara pasrah. Mungkin ini terakhir kalinya Alan memperhatikannya, setelah ini bukankah mereka harus hidup masing-masing?.


Kuda besi yang dikemudikan sang supir melesat ke jalanan. Dilara memilih menyandarkan kepala. Kedua matanya ia biarkan terpejam, bukan untuk tidur tetapi coba untuk menenangkan pikiran.


💗💗💗💗💗

__ADS_1


"Kakak."


Suara kelima adik yang menyambut kedatangannya tak ayal membuat senyum di bibir Dilara terukir lebar. Dilara sebisa mungkin menyimpan nelangsa cukup untuk diri sendiri, dan tak ia perlihatkan pada orang lain apalagi adik-adiknya.


"Hai, Kakak rindu kalian." Dilara merentangkan tangan untuk memeluk adik-adiknya secara bergantian.


"Kakak datang sendiri, tidak bersama Kakak ipar?." Sena, adik pertama Dilara bertanya. Gadis itu celingukan, mencari keberadaan sang Kakak ipar.


"Em, tidak. Kakak hanya datang sendiri."


Adik-adik tak banyak lagi bertanya. Mereka kemudian membawa sang Kakak masuk untuk beristirahat.


Seperti biasa, kedatangan Dilara akan disambut dengan suka cinta. Dibantu pelayan mereka akan memasak banyak makanan kemudian dimakan bersama-sama.


Apa, dua hari lalu, hadiah?.


"Te-tentu saja, nanti akan Kakak sampaikan." Dilara tersenyum lebar, sebisa mungkin ia menutupi kegugupan. Sejenak ia memejamkan mata, rupanya Alan memperlakukan adiknya dengan begitu baik. Meski jarang sekali bertemu, tetapi Alan punya cara tersendiri untuk menunjukan keperdulian.


"Adik-adik, Kakak ingin bicara sebentar." Selepas makan Dilara meminta adiknya untuk diam sementara dirinya berbicara. Dengan patuh, kelima anak itu duduk diam dan memperhatikan sang Kakak.


"Untuk sementara waktu Kakak akan menginap di sini, tinggal bersama kalian."


"Yeay." Adik-adik berseru senang.


"Jika Kakak di sini lalu bagaimana dengan Kakak ipar, em maksudku Kakak ipar pasti sendirian jika Kakak menginap." Sena, gadis remaja itu bertanya. Ia sudah pasti senang dengan rencana Dilara untuk menginap namun, bagaimana dengan Kakak ipar. Atau jangan-jangan Alan juga akan menginap di sini?.

__ADS_1


"Em, kebetulan Kakak ipar kalian sedang perjalanan dinas ke luar negeri, dan beliau lah yang meminta Kakak untuk tinggal di sini. Mungkin Kakak ipar kalian takut jika Kakak kesepian saat dia tinggalkan."


"O, begitu." Adik-adik mengangguk tanda mengerti.


"Kalau begitu, tidak masalah. Kakak boleh tinggal seberapa lama pun. Kami sangat senang dan berjanji akan menemani Kakak."


"Wah, terimaakasih." Dilara tersenyum haru. Sebisa mungkin ia tak meneteskan air mata di hadapan adik-adik. Terusirnya ia dari kediaman serta hidup Alan, kemungkinan besar juga akan berimbas pada rumah dan fasilitas yang dinikmati adik-adiknya kini. Mereka akan kembali hidup seperti semula. Menjadi gelandangan dan hidup dari belas kasih orang.


Sementara Alan.


Selepas kepergian Dilara, ,Alan memilih mengurung diri. Dia enggan bekerja atau bertemu dengan siapa pun. Dirinya ingin sendiri. Menghabiskan waktu dengan diam dan merenung.


Dilara, sesungguhnya kehadiran perempuan berusia 18 tahun itu perlahan mulai merubah hidup serta cara berpikir. Dilara, keceriaan yang ia hadirkan, seperti menghidupkan suasana rumah dan suasana hati Alan yang selama ini hanya diisi dengan pekerjaan dan berbagai kesibukan.


Rayuan Dilara serta kata-kata menggoda yang dulunya dianggap Alan muak, nyatanya justru membuatnya candu. Bahkan rindu saat sehari saja Dilara lupa untuk merayunya.


Hah, kenapa jadi begini.


Alan meremas kasar rambutnya hingga acak-acakan. Dirinya kecewa saat bentuk perhatian Dilara untuknya hanya kepura-puraan.


"Aku kira, kau berbeda. Tapi nyatanya, sama saja. Di matamu, hanya ada uang. Sedangkan aku." Alan memukuul bagian daddanya yang terasa sesak. "Bohong jika aku tak mencintaimu. Bohong jika aku tak menaruh hati, sedangkan kita sudah berkali-kali menghabiskan malam bersama."


Sebagai pria, pantang baginya untuk menangis hanya karna wanita. Akan tetapi kepergian Dilara, serta rahasia yang terkuak nyatanya mampu menorehkan luka teramat sangat di hatinya. Alan rapuh. Alan terluka dan semua itu karna Dilara.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2