Mengejar Cinta Suami Dingin

Mengejar Cinta Suami Dingin
Dulu Digoda, Sekarang Tergoda.


__ADS_3

"Apa yang kalian dapatkan?."


Hary duduk bersandar di sofa tunggal, bertanya dan menatap seorang pria yang duduk di hadapannya. Hari ini, pria suruhannya datang dengan membawa beberapa bukti sesuai permintaannya.


"Maaf sebelumnya, apa Tuan ada mencurigai seseorang?."


Hary diam dan berpikir. Mencurigai seseorang?. Ah, entahlah.


"Entahlah, aku malah mencurigai supir pribadiku sendiri." Perihal kesepakatannya dengan Dilara yang bocor sampai ketelinga Alan, Hary tetap akan mencari tau siapa pelakunya. Ia mencurigai supir pribadinya sebab hanya dia lah yang selama ini selalu ada bersamanya.


"Sayangnya bukanlah supir pribadi anda yang melakukannya."


"Lalu siapa?." Jika bukan supirnya, lalu siapa.


Pria dihadapan Hary membuka sebuah amplop dan mengeluarkan selembar foto.


"Salah satu asisten rumah tangga cucu anda yang melakukan."


Hary terkesiap, Asisten rumah tangga Alan?.


"Siaalan." Hary meeremas foto itu selepas mengamati wajahnya. Dia adalah asisten rumah tangga Alan yang usianya lebih muda.


"Saya rasa dia bekerja pada seseorang. Mungkin setiap anda dan Nyonya berbicara hal penting di rumah, dia selalu mencuri dengar."


"Bedeebah Sialaan!." Sayangnya selama ini Hary tak sadar jika sedang dimata-matai. Ia juga tak curiga sebab Asisten itu terlihat biasa-biasa saja.


"Rugi sudah membayarnya mahal jika tidak mampu menjaga martabat majikannya. Tidak seharusnya dia mencuri dengar atau mencampuri urusan majikan. Dia sungguh lancang." Memang Alan mendapatkan para pekerja di rumahnya melalui yayasan khusus, juga menggaji mereka dengan rupiah yang tak sedikit. Tentunya saat mengikuti pelatihan mereka sudah dibimbing untuk bekerja secara profesional dan tahu aturan. Tapi ini...


"Aku yakin jika dia diimingi upah yang lebih besar, jika tidak mana mungkin dia mau melakukan." Tidak ada seorang pun yang tak tergiur dengan uang. Diimingi uang lebih besar, maka yang haram pun akan dianggap halal.


"Mungkin saja, Tuan. Atau bisa juga dia mendapatkan ancaman."


Hary mencebik. Ah tidak, jika mendapatkan ancaman kenapa Asisten itu tidak melaporkan?.


"Lalu apa rencana anda, apakah akan membawanya kejalur hukum atau menghukumnya dengan cara anda sendiri?."


Hary terdiam sejenak.


"Kau masih harus mencari siapa tersangka utamanya sedangkan untuk perempuan itu, biar aku yang urus. Aku akan pura-pura tak tau. Terlihat biasa saja tapi diam-diam aku akan mengamati pergerakannya."


Pria itu menganggukkan kepala. Menyukai ide Alan. Sementara itu tugas berat baginya untuk menemukan tersangka utama. Untuk orang-orang terdekat dirinya belum mencurigai siapa pun namun jika orang lain, entahlah. Dirinya harus bekerja lebih keras lagi.


💗💗💗💗💗

__ADS_1


Hary sama sekali tak membiarkan Dilara merenung atau menyendiri. Dilara harus dimanjakan dan dia harus dibuat senang setiap saat. Hary berperan dengan sangat baik. Pria itu bahkan lebih gesit dari seorang suami untuk istri yang sedang mengandung.


Dilara tak diperbolehkan keluar rumah tetapi dirinya mendapatkan semua fasilitas yang diinginkan. Setiap hari, Dilara selalu memanjakan diri. Segala bentuk perawatan tubuh ia dapat, dari kepala sampai kaki. Untuk urusan belanja pun, perempuan itu tinggal 'klik' dan barang yang diinginkan akan sampai kerumah kurang dari 24 jam. Dilara diperlakukan layaknya ratu oleh Hary.


Bukan karna dirinya sedang mengandung perwaris Wirdo Hutomo Corp, tentapi Hary sudah sangat menyayangi Dilara seperti cucu sendiri. Sedangkan pada Alan, selepas kejadian itu Hary tak lagi perduli.


Alan beberapa kali terlihat ingin mengunjungi sang Kakek namun selalu ditolak. Hary yang terlanjur muak, bahkan sama sekali tak ingin menemuinya.


Sampai dua minggu berlalu. Alan pasrah, ini untuk kesekian kalinya ia mengetuk pintu gerbang kediaman sang Kakek dengan penuh pengharapan agar dirinya diberi akses masuk.


Langit sudah petang. Alan yang baru saja sepulang bekerja, memilih untuk singgah meski selalu ditolak. Sesungguhnya dirinya bukan hanya ingin menemui sang Kakek tetapi juga Dilara.


Dilara, bagaimana kabarmu?.


Lebih dari dua minggu dirinya tak melihat wajah Dilara, seperti ada bagian dari hidupnya yang hilang. Sepi. Alan bahkan kerap merenung selepas kepergian sang istri. Aneh, bukankah istrimu pergi karna kau usir?.


"Maaf, Tuan Muda. Masih atas perintah Tuan besar, anda tidak diizinkan untuk masuk."


Alan mengepalkan kedua tangan serta menghela nafas dalam, lagi-lagi kehadirannya ditolak.


"Paman, tolonglah. Aku datang bukan untuk menemui Kakek tapi ingin menemui istriku."


Hanya gelengan kepala dari penjaga gerbang yang didapat. Alan tak langsung pergi. Ia masih berdiri dan berdiam diri. Siapa tau ada keajaiban datang. Dilara melihat dan menyuruhnya masuk. Senyum di bibir Alan terkembang. Wajah cantik Dilara memenuhi benak. Suara lembut mendayu serta kata-kata menggoda yang keluar dari bibir mungil Dilara, sudah teramat Alan rindu.


"Ada apa, kenapa menatapku seperti itu?." Alan menggerutu pada sang penjaga yang menatap aneh padanya. Sementara sang penjaga, hanya menundukkan kepala.


Dasar aneh, wong situ yang senyum-senyum sendiri trus nendang pager tiba-tiba, kok dilihat ngak terima. Saya kan kaget, takut kalo situ mendadak kesambet.


Penjaga itu hanya bisa menggerutu dalam hati. Tak dinyana, rupanya Hary keluar dari pintu utama bersama supir pribadinya. Hary sepertinya hendak bepergian.


"Kakek." Begitu melihat peluang, Alan lekas berteriak memanggil nama sang Kakek.


Hary mengernyit. Ia yang sudah hendak memasuki mobil, mengurungkan niat.


"Kakek, ayolah. Izinkan cucumu ini untuk masuk. Badanku gatal, nyamuk di rumah Kakek begitu ganas menggigitku." Alan berpura mengaruk lengan dan tengkuk, sementara Hary hanya bersedekap menatap sang cucu dari kejauhan.


"Wah, Kakek rasa seluruh nyamuk di rumah ini perempuan sampai begitu tergiur dengan bau badanmu."


"Kakek, ayolah. Izinkan aku masuk. Ada hal penting yang harus aku bicarakan pada Kakek."


Malas berdebat, Hary pada akhirnya memerintahkan penjaga untuk membuka pintu gerbang.


"Yes." Alan bersorak kegirangan. "Ya tuhan, tak pernah aku sesenang ini saat masuk ke rumah Kakek." Alan terus bergumam sementara Hary hanya geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Hary mengajak sang cucu untuk duduk di ruang tamu. Alan malah diam, bukankah tadi dia bilang ingin berbicara hal penting.


"Heh, kenapa diam. Bukannya kau menemui Kakek untuk membicarakan hal penting?."


"I-itu, anu," ucap Alan seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Anu-anu apa?. Anu anu?."


"Em.."


Langkah kaki terdengar dari arah tangga. Hary dan Alan serempak menggeser pandang ke arah tangga.


Alan mengangga. Di sana terlihat Dilara sedang menuruni anak tangga. Malam ini perempuan berusia 18 tahun itu terlihat cantik dan segar dengan gaun malam seatas lutut yang membalut tubuh sintalnya


Alan menelan ludah. Terlebih saat menatap bagian daada sang istri yang terlihat samar dari balik pakaian tanpa lengannya.


"Hei, apa yang kau lihat?." Hary bertanya setengah membentak. "Katanya mau bicara, kenapa hanya diam?."


Alan tak menggubris ucapan sang Kakek. Ia justru sibuk menatap Dilara yang sepertinya malah seperti sedang tidak melihatnya. Dilara menuruni anak tangga tanpa sedikit pun melihatnya.


Astaga kenapa dia?.


Dilara terlihat memegang gelas kosong. Ia sepertinya hendak mengambil air minum di dapur.


Seperti sengaja, Dilara berjalan dengan santai sampai pinggang dan paantatnya ikut bergoyang seirama. Alan kesulitan memgatur nafas, ia hendak bersuara untung memanggil sang istri tetapi Hary lagi-lagi membentaknya.


"Yah," keluh Alan saat tubuh Dilara tak terlihat.


Beberapa detik kemudian senyum di bibir pria itu terkembang saat sang istri kembali dengan membawa segelas penuh air putih.


Ah rupanya istriku sedang haus.


Akan tetapi lagi-lagi Alan seperti tertampar kenyataan, Dilara sama sekali tak menatapnya. Ya Tuhan, mimpi apa Alan semalam sampai tak kasat mata di depan istrinya sendiri.


Dilara kembali melangkah santai. Menaiki setiap anak tangga menuju lantai atas kediaman Hary.


Alan menangis dalam hati. Kali ini, untuk pertama kali dirinya diabaikan keberadaannya oleh Dilara. Alan masih mencuri pandang, menatap ke arah tangga di mana tubuh indah Dilara justru terlihat semakin menggoda kala ia berbadan dua.


Sementara Hary, pria tua itu sebisa mungkin menahan tawanya agar tak meledak kapan saja. Dalam hati ia memberi dua jempol pada aksi Dilara yang dengan sengaja menggoda Alan dalam diam.


Gokil kau, Dilara. Bukankah lemari es juga ada di kamarmu, lantas kenapa kau mencari air minum sampai turun ke dapur. Buahahaha...


TBC.

__ADS_1


__ADS_2