Mengejar Cinta Suami Dingin

Mengejar Cinta Suami Dingin
Maafkan Aku


__ADS_3

Hary tersenyum penuh kemenangan saat berhasil mengelabuhi para pekerja di rumah Alan, dan sukses membawa Dahlia pergi. Rupanya tak sulit, hanya bermodal ancaman mereka tak kuasa untuk bisa mencegah kedatangan juga kepergiaannya. Entah seperti apa reaksi Diego nanti setelah mengetahui Dahlia telah dibawa kabur olehnya.


Hary tergelak dalam hati. Ia menatap pada Dahlia yang duduk di kursi depan, bersebelahan dengan supir pribadinya.


Pria tua itu sudah memiliki rencana. Dahlia memang akan Ia bawa ke rumah putra putrinya, tetapi untuk sementara waktu perempuan itu akan dijadikan pelayan. Kenapa demikian?. Jika Dilara dan Sena mungkin masih bisa mengenali wajah Ibunya, tapi bagaimana dengan adik-adik mereka?. Bukankah mereka akan terkejut dan menolak saat ingin dipeluk seorang Ibu yang pernah meninggalkan mereka?.


Itulah alasan hari, dengan cara demikian baik Dahlia dan anak-anaknya akan saling menyesuaikan. Begitu mereka sudah akrab dan dekat, barulah Dahlia akan mengatakan yang sebenarnya.


Ya hitung-hitung itu sebagai hukuman karna sudah berniat untuk menelantarkan anak-anakmu.


💗💗💗💗💗


Alan tak patah arang, selepas bekerja ia kembali mendatangi rumah sang Kakek untuk bisa bertemu dengan Dilara. Andai kali ini Hary memintanya untuk pulang, dia akan terus memaksa sampai pria tua itu mengizinkan.


"Tuan muda?." Seorang pelayan menatap heran pada kedatangan Tuan mudanya. Padahal dulu ia tak sesering ini datang kemari.


Oh, iya. Mungkin karna istrinya Tuan muda jadi sering berkunjung.


"Kakek ada?." Alan langsung menerobos masuk sebelum pelayan itu kembali menutup pintu. Pria muda itu mengibaskan pakaiannya yang basah akibat tetesan air hujan.


"Tuan besar sedang keluar, Tuan."


Wah, rupanya keberuntungan sedang berpihak kepadaku.


Alan tersenyum penuh arti. Selain sang Kakek dirinya juga tak melihat Dilara. Wah, kemana dia. Apakah sudah tidur?.


Alan memeriksa arloji di pergelangan tangan. Ini bahkan baru jam 8 malam. Apa mungkin Dilara sudah terlelap?.


"Apa Dilara sudah tidur?." Alan bertanya pada sang pelayan yang baru saja memberikan handuk kering padanya.


"Nyonya baru saja makan malam. Memang ada di kamar tetapi sepertinya masih belum tidur."


"Baiklah," jawab Alan seraya memberikan handuk itu kembali selepas digunakan untuk mengusap kepala serta pakaiannya yang sedikit basah. "Aku akan menemuinya," sambung Alan kemudian.


"Tapi, Tuan. Bagaimana kalau Tuan besar marah?." Pelayan itu mencegah. Wajar saja mengingat ia sudah diberi perintah untuk menjaga Dilara dan tak mengizinkan Alan untuk menganggunya.


"Memangnya kenapa dengan Kakek?. Lagi pula kami ini masih suami istri, jadi tetap halal meski kami tidur bersama sekali pun."


Ah, iya. Benar juga.

__ADS_1


Alan tersenyum miring kemudian menaiki anak tangga menuju kamar Dilara. Rumah Hary yang begitu luas membuat Alan cukup kesulitan untuk menemukan kamar di mana Istrinya beristirahat.


Secara berurut Alan membuka pintu setiap kamar. Sampai pada kamar terakhir, Alan membuka pintu secara perlahan. Kosong, tetapi jika dilihat dari ranjang dan segala barang yang ada di ruangan, kamar itu memang berpenghuni. Tapi kemana Dilara?.


Alan masuk dan melangkah tanpa suara. Apa mungkin Dilara sedang berada di kamar mandi?.


Indra pendengar Alan tiba-tiba mendengar suara perempuan bernyanyi dari arah ruang pakaian. Sudut bibir pria tampan itu tertarik, membentuk seulas senyum tipis. Dirinya bisa mengenali suara itu meski tanpa melihat wajahnya.


Dilara.


Lagi, Alan melangkah pelan. Membuka pintu ruang pakaian sampai tak menimbulkan suara. Benar saja, Dilara berada di sana. Perempuan itu sedang berganti pakaian.


"Duh, bagaimana ini?." Dilara, perempuan itu sedang memakai gaun berwarna merah muda tetapi sepertinya kesulitan untuk mengaitkan kancing yang berada di bagian lehernya.


Spontan Alan mendekat, begitu jarak mereka tinggal sejengkal, Alan lekas mengambil alih pekerjaan Lara.


"Sini, aku bantu."


Dilara terkesiap, ia nyaris terlonjak jika Alan tidak menahan.


Pria yang masih mengenakan pakaian basah itu mengaitkan kancing pakaian sang istri tanpa kesulitan. Setelahnya, Alan membubuhkan satu kecupan ditengkuk sang istri.


Tubuh Dilara terpaku. Kedatangan secara tiba-tiba serta kecupan yang pria itu berikan, seperti sebuah mimpi. Belum lagi, kini Alan malah memeluknya dari belakang dan mendaratkan dagu di bahunya.


"Dilara, aku merindukanmu," bisik Alan yang sukses membuat Dilara meremang. "Kenapa diam, apa kau juga tidak merindukanku?." Alan kembali berucap setelah Dilara hanya diam. Kenapa, padahal biasanya perempuan itu lah yang paling banyak bicara.


"M-maaf," ucap Dilara seraya membuka pelukan Alan. "Enggap, aku kesulitan bernafas." Dilara beralasan. Ia menjauhi Alan juga meninggalkan ruang pakaian.


Di sana Alan ternganga. Tak percaya dengan sikap sang istri yang terlihat menolak sentuhannya. Wajar saja, mungkin Dilara masih marah.


"Honey."


Langkah Dilara terhenti. Kali ini untuk pertama kalinya Alan memanggilnya dengan sebutan 'Honey'.


"Honey, pakaian serata sepatuku basah. Apa kau mau membantuku untuk melepasnya?."


Dilara berbalik badan demi menatap seseorang yang sedang berbicara di balik punggungnya.


Ya, dirinya tidak bermimpi. Dari wajah dan suara, itu memang Alan. Tetapi kenapa sikapnya berubah banyak?.

__ADS_1


"Honey, maukah kau membantuku?."


Dilara mengangguk dan meminta Alan untuk duduk. Setelahnya Dilara bersimpuh, melepas kaos kaki serta sepatu sang suami. Tiba-tiba satu tangan Alan bergerak untuk mengusap puncak kepala sang istri. Alan menyadari jika selama ini Dilara mengurusnya dengan sepenuh hati.


Setelah menyimpan sepasang sepatu Alan, Dilara memasuki kamar mandi. Entah apa yang sedang perempuan itu kerjakan namun Alan akan menunggunya dengan sabar.


"Kau kehujanan, lebih baik mandi dengan air hangat lebih dulu." Dilara meminta Alan berdiri. Perempuan itu mulai melepas kancing kemeja sang suami satu persatu. Setelahnya gesper kemudian celana bahan. "Mandilah, aku akan bantu menggosok punggungmu." Alan patuh, ia berjalan menuju kamar mandi sedang Dilara mengekori langkah sang suami.


Di dalam bath tup berisi air hangat, Alan merendamkan tubuh. Wangi aroma terapi, seketika membuatnya nyaman. Saat memejamkan mata, Alan bisa merasakan sentuhan serta pijatan lembut dikepalanya. Ya tuhan, Dilara sedang mencuci rambut miliknya.


"Honey."


"Heem."


Alan menghela nafas saat jawaban yang keluar dari mulut sang istri adalah 'heem'.


"Aku minta maaf."


"Untuk?."


Alan membuka mata. Ia berbalik badan agar bisa melihat wajah istrinya.


"Untuk semuanya," jawab Alan. Pandangan pria itu turun keperut Dilara yang masih rata. Tangan ria itu mengusap bagian perut sang istri dengan lembut. "Semua, semua yang pernah aku lakukan padamu. Aku harap kau bisa memaafkanku dan kita bisa memperbaiki hubungan agar kembali seperti sedia kala."


Dilara diam. Ia seperti sedang menikmati tangan hangat Alan yang mengusap bagian perutnya.


"Kenapa, apa kau ragu." Alan bangkit, mereka kini saling berhadapan. Alan menatap bibir ranum Dilara yang basah dan menggoda. Ia rindu untuk mencium dan menggigitnya karena gemas.


"Honey, bicaralah atau aku akan..."


"huump."


Alan tak kuasa menahan. Pria itu mencium bibir Dilara meski sempat mendapat penolakan. Sementara di gerbang utama, kendaraan Hary sudah memasuki halaman menuju garasi. Padangan pria itu memicing saat mendapati kendaraan sang cucu lagi-lagi mengisi garasinya.


Dassar bocah tengik. Mau apa lagi dia datang kemari?.


Tbc.


Yuk, baca juga ya. Terimakasih

__ADS_1



__ADS_2