
Ruangan luas bercat putih terang itu tak luput dari pandangan seorang perempuan yang beberapa saat lalu duduk sembari menunggu sang pemilik rumah. Dahlia, paruh baya itu memindai segala penjuru ruangan. Menatap takjub pada dekorasi rumah beserta perabot dikediaman putra putrinya.
Bersama Diego, Dahlia melanjutkan misi. Datang bertamu meski beberapa kali pernah ditolak. Kali ini sang pemilik rumah memberi akses masuk sebab perempuan itu tak sendiri melainkan ada seorang pria yang bersikap seperti tameng bagi dirinya.
Sena, gadis berkulit putih itu kembali keluar untuk menemui sang Ibu. Tadinya ia sengaja masuk ke dalam rumah bukan berniat untuk menghindar tetapi untuk mengamankan adik-adiknya. Untuk sekarang, Sena masih belum mengizinkan sang Ibu untuk menemui adik-adik.
"Sena, mana adik-adikmu? Kakakmu juga kemana, kenapa tidak terlihat?." Dahlia bertanya sementara pandangannya bergerak liar, coba mencari-cari keberadaan putra putrinya.
Sena menghela nafas. Sesungguhnya dirinya pun enggan untuk menemui sang Ibu, akan tetapi melihat kondisi sang Kakak yang lemah dan terbarong di ranjang, Sena tak tega. Ia abaikan gemetar tubuh, ia juga mencoba bersikap tenang meski dalam batin dirinya menahan tangis kala mengingat kekejaman yang sudah ditorehkan Sang Ibu padanya beserta saudara-saudaranya.
"Adik-adik, tidak ada. Semua sedang bersekolah. Sedangkan Kakak, dia sedang tidur di kamar."
"Lara tidur?." Kini Diego yang bertanya. Pria itu cukup terkejut, pasalnya ini tak bisa dikatakan pagi lagi tapi kenapa gadis yang ia suka masih belum membuka mata.
"Ya, Kak Sena sakit makanya dia masih ti-- ops." Sena membungkam mulut. Sungguh, ia keceplosan.
"Lara sakit?." Diego kembali bersuara. Pria itu tampak terkejut.
Sena hanya menganggukkan kepala.
"Lara sakit apa?." Berbeda dari Dahlia, Diego justru banyak bicara. Pria itu seperti sedang mengkhawatirkan Dilara.
"Em aku rasa Kakak demam," jawab Sena dengan suara lirih.
"Dimana dia, apa aku boleh melihatnya?." Diego menatap kesegala penjuru seperti sedang mencari di mana keberadaan Dilara. "Apa kau sudah memanggil Dokter?."
Sena hanya menggeleng saat Diego memberondongnya dengan pertanyaan.
"Itu berbahaya. Jika tidak ada Dokter, setidaknya kau berikan obat pada Kakakmu. Ya tuhan, tolong beri tau aku di mana Dilara. Aku ingin melihatnya."
"Untuk apa? Anda juga bukan siapa-siapa kami." Sena terlihat tak suka.
"Sena," tegur Dahlia. "Nak Diego ini orang baik yang sudah mau menampung Ibu untuk tinggal di rumahnya setelah ditolak Kakakmu. Dia juga Dokter, ya meskipun Dokter gigi tapi mungkin bisa membantu."
Sena diam. Dalam hati ingin menolak, namun sepertinya tak mungkin. Ia membiarkan kemudian mengiring dua orang tamunya menuju kamar Dilara.
"Dilara." Diego bergumam, memanggil nama Dilara. Perempuan itu terbaring dengan selimut yang menutupi tubuh sampai leher.
__ADS_1
"Boleh aku periksa suhu tubuhnya?." Diego meminta izin sebelum mendekati Lara.
"Silakan," jawab Sena pada akhirnya.
Diego perlahan mendekat. Ia tatap wajah Dilara yang memucat. Perempuan itu sedang sakit. Kondisi Dilara sedang tak baik-baik saja.
"Kau sudah memberinya obat?."
Sena hanya menggeleng saat Diego melempar tanya.
"Bolehkah aku membawanya ke rumah sakit?."
"Jangan," tolak Sena. "Aku akan menghubungi Kakak ipar. Beliau suaminya, beliau yang lebih berhak atas Kakak, bukan orang lain."
Diego membuang wajah saat Sena menyebutnya 'orang lain' bagi Lara. Ya, Diego akui jika dirinya hanya orang lain untuk Dilara.
Ragu, Diego ragu untuk melakukan sesuatu. Ia memberanikan diri untuk menyentuh Kening Dilara guna memastikan suhu tubuhnya.
Panas.
Melihat air dan kain di atas meja, Diego spontan mencelupkan kain ke dalam air kemudian mengompres kening Dilara, berharap suhu tubuh perempuan itu lekas menurun.
Diego tak tega. Sesungguhnya jika diizinkan dirinya akan membawa Lara ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Akan tetapi, apalah daya, dirinya bukan siapa-siapa.
💗💗💗💗💗
Diego dan Dahlia memilih pulang selepas dipinta oleh Sena. Bukan berniat mengusir namun secara lembut gadis itu meminta pada tamunya untuk pergi.
"Ibu, tolong pulanglah bersama Dokter Diego. Jika Kakak bangun dan menemukan Ibu di sini, aku yakin Kakak pasti akan marah." Sena sesungguhnya mengkhawatirkan kondisi Dilara. Selepas berhasil mengusir dua tamunya, gadis itu lekas menghubungi Alan melalui ponsel sang Kakak.
Sena menunggu panggilan tersambung dengan harap-harap cemas. Begitu tersambung, panggilan itu diabaikan.
"Kenapa tidak diangkat?." Sena bergumam. Meski sang Kakak ipar sedang bekerja, bukankah ia harus tau kondisi istrinya.
Sena coba menghubungi nomor Alan kembali. Tersambung, bibir Sena mengukir seulas senyum.
"Ada apa!."
__ADS_1
Suara dingin itu mengejutkan Sena. Nyaris ponsel dalam gengaman terjatuh karna terkejut.
"K-kakak I-ipar, i-ini aku, Sena." Terbata-bata Sena berbicara.
"Sena?." Suara di seberang tak lagi terdengar. Mungkinkah Alan lupa siapa itu Sena?."
"Ma-maaf jika aku mengganggu, aku hanya ingin mengabarkan jika Kak Dilara sakit."
"Aku tak perduli." Sambungan telepon terputus. Sena mengganga dibuatnya. Antara syok, yakin atau tidak jika nomor yang baru saja dihungi itu nomor kontak Alan.
Tubuh Sena gemetar. Ia terkejut luar biasa. Jika dari suara, memang ada kemiripan. Akan tetapi dari nada bicara, kenapa kali ini terkesan kasar berbeda saat Alan datang ke rumah dan memberi mereka banyak hadiah.
"Bagaimana ini?." Sena cemas. Berulang kali ia menatap pada sang Kakak yang seperti tertidur dalam. Perempuan itu tidak merintih apalagi mengeluh sakit, tapi itu justru menjadi ketakutan tersendiri bagi Sena.
"Aku harus menghubungi siapa?."
Sena kembali mengulir layar ponsel sang Kakak. Mencari nomor kontak yang sepertinya cukup dekat dengan mereka. Jika membawa sendiri ke rumah sakit, pasti Dilara akan menolak.
"Kakek?." Sena mengernyit saat menemukan satu kontak bernama 'Kakek' pada ponsel Dilara. Kakek siapa, sedang mereka tak lagi mempunyai Kakek.
Pada akhirnya Sena nekad menghubungi nomor tersebut. Berharap jika seseorang yang mengangkat panggilan, berhati baik dan bisa membantunya.
"Halo, Dilara. Di mana kau Nak, Kakek mencarimu?." Suara itulah yang didengar Sena ketika panggilan tersambung.
"Ka-kakek, ini Sena, bukan Dilara."
"Hah, lalu dimana Dilara?."
"Kak Dilara ada dirumah." Sena menyebutkan alamat tempat tinggal mereka. "Kakek, bisakah membantuku. Kakak Dilara sakit, dia demam, tapi aku kesulitan untuk membawanya ke rumah sakit."
"Apa?." Suara di seberang terdengar terkejut. "Sakit?."
"Ya, Kakak sakit."
"Ya, Tuhan. Tunggu sebentar, Kakek akan segera datang. Tolong jaga Kakakmu, dan pastikan dia dalam kondisi baik-baik saja." Setelahnya panggilan diputus sepihak. Sena bisa bernafas lega. Ia dekati sang Kakak dan mengompresnya kembali. Ia harus berjaga dan memastikan Dilara baik-baik saja sembari menunggu Kakek datang.
Tbc.
__ADS_1