Mengejar Cinta Suami Dingin

Mengejar Cinta Suami Dingin
Kemarahan Diego


__ADS_3

"Ya Tuhan, apa-apaan ini?." Hary memekik, terkejut mendapati sang cucu berada di kamar cucu menantunya. "Dan astaga, apa yang sedang kalian lakukan?."


Dilara yang tak kalah terkejut, lekas mendorong Alan yang sedang menciumnya, hingga terjengkang dan masuk ke dalam bath tup. Perempuan itu lekas berlari dan memilih bersembunyi di belakang punggung Hary.


Sementara Alan, pria itu gelagapan selepas meminum air bekas mandinya sendiri.


Dilara Siialan, bisa-bisanya dia mendorongku saat kepergok Kakek.


"Lara, katakan, apa yang sudah Alan lakukan padamu?. Apa dia memaksa masuk dan memintamu untuk memandikannya?. Cih, seperti bocah saja." Hary mengomel. Ia menatap pada Lara dan Alan bergantian. "Dan kau," panggil Hary pada Alan. "Cepat ganti pakaianmu dan keluar dari kamar cucuku," titah Hary yang mana membuat sepasang mata Alan membulat sempurna.


"Kek, kami ini suami istri. Ini bukan hanya kar Lara tapi juga kamarku. Lalu apa tadi?. Lara cucu Kakek?. Kalau hanya Lara cucu Kakek, lalu aku ini siapa?." Alan tak terima.


"Cih, kau itu hanya bocah tengik yang menguras emosiku. Cepat ganti pakaianmu dan temui aku di bawah." Hary berbalik badan dan menuju pintu kamar. "Ya tuhan, bocah tengik itu berusaha untuk merayu istrinya. Meminta dimandikan dan setelahnya mereka berciuman. Astaga, aku bisa gila. Kemarin diusir, lalu sekarang mengemis meminta kembali. Dasar bocah, kau memang tak berpendirian, Alan," oceh Hary sebelum keluar dari kamar Dilara dan pastinya ucapan pria tua bisa didengar oleh kedua Cucunya.


Alan berkacak pinggang sementara Dilara lekas menyusul Hary, sebelum Alan kembali menyentuhnya.


Di dalam kamar Alan memaki sang Kakek yang sudah dengan sengaja merusak acara mandi romantisnya dengan Dilara. Andai saja sang Kakek datang lebih terlambat, tentu dirinya sudah bisa merengkuh Dilara dan membawanya kenirwana. Namun sayang, Hary merusak segalanya.


Alan lekas menuju ruang pakaian. Mungkin saja di tempat itu juga tersimpan pakaian miliknya. Akan tetapi pria muda itu dibuat kecewa saat tak ada selembar pun pakaiannya tersimpan.


"Hah, semuanya hanya ada pakaian Dilara. Ck, mana mungkin aku memakainya."


Alan menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal. Hendak memanggil Dilara, sudah dipastikan Hary akan menyemprotnya dengan kata-kata pedas.


"Tapi kalau aku tak lekas keluar, bisa-bisa Kakek datang dan memukulku dengan tongkat baseball."


"Alan!." Teriakan Hary dari lantai dasar saat memanggil Cucunya.


"Kan, dia memang peka."

__ADS_1


Alan lekas memilah seluruh pakaian yang sayangnya hanya milik Dilara. Alan nyaris pingsan, tak mungkin ia memakai pakaian perempuan terlebih postur tubuhnya dengan Dilara jauh berbeda. Istrinya itu cukup mungil, sedangkan dirinya.


"Ya tuhan, aku ini laki-laki dan dalam keadaan waras. Mana mungkin aku akan memakai dres atau lingerie."


Pria berhidung mbangir itu putus asa seiring waktu yang terus berjalan. Tak ada lagi pilihan, Alan memilih pakaian bermotif bunga dari lipatan. Jika dilihat dari ukurannya yang lumanyan lebar, sepertinya itu pakaian longgar milik Dilara yang sepertinya akan pas ditubuhnya.


"Biarlah, lagi pula hanya Kakek dan Lara yang akan melihatku memakai pakaian ini," gumam Alan. Tanpa dalaman, Alan nekad memakai pakaian longgar Dilara. Begitu melekat ditubuh, Alan menatap aneh pada pantulan tubuhnya sendiri di cermin.


Otot-otot tubuhnya nampak meski tertutup pakaian, dan panjang pakaian itu hanya sebatas lutut.


"Luar biasa, penampilanmu sungguh mengerikan, Alan." Alan bermonolog. "Sungguh, andai ada kehidupan kedua, maka aku tak ingin memiliki Kakek secerwet Hary." Alan lebih dulu mengibaskan rambut setengah basahnya sebelum keluar dari kamar.


Siulan Alan serta langkah kakinya, mengalihkan perhatian Hary dan Dilara yang tengah menikmati secangkir kopi.


Hary langsung menyemburkan kopi yang sudah berada di dalam mulut, begitu mendapati sang cucu menuruni anak tangga dengan mengenakan pakaian longgar milik istrinya.


"Lara, urus suami boodohmu. Cepat ganti pakaian itu dengan pakaian milikku sebelum stok kesabaranku habis."


"Baik, Kek."


Tanpa banyak kata, Dilara lekas menarik tangan Alan kembali menaiki anak tangga.


"Honey, kenapa harus diganti?. Lagi pula pakaian ini terasa nyaman. Lihat, Jika tanganku terangkat, hem... Ketiakku akan terasa sejuk, dan ini." Alan menujuk pakaian bagian bawahnya. "Bukan hanya ketiak, bagian bawahku juga ikut merasakan sejuk aww..." Dilara lekas mencubit pinggang Alan untuk membungkam mulutnya yang mulai ngelantur kemana-mana.


💗💗💗💗💗


"T-tuan."


"Ada apa?." Baru saja keluar dari kendaraan mewah, Diego disambut wajah pucat Penjaga rumah serta pelayannya.

__ADS_1


"Katakan, ada apa?." Ulang Alan saat para pekerjanya tak buka suara.


"I-itu, Ny-nyonya Dahlia.."


"Ya, perempuan tua itu, memangnya kenapa dia?. Membuat masalah?."


Para pekerja itu saling lirik.


"B-bukan Tuan, tapi Nyonya Dahlia su-sudah pergi dari ru---


"Pergi!. Pergi bagaimana maksudmu?."


Pekerja itu saling senggol.


"Cepat katakan. Dahlia pergi, Dahlia pergi, maksud kalian perempuan itu pergi kemana?." Suara Diego kian meninggi. Ia seperti mendapat firasat tak enak tentang perempuan bernama Dahlia yang sudah berhari-hari tinggal bersamanya.


"Nyonya Dahlia pergi bersama Tuan yang katanya pemilik rumah sakit di mana anda bekerja."


Hary.


"Siialan!." Diego menggeram. Ia juga melayangkan tampparan pada para pekerja. "Kalian memang tak becus bekerja. Sudah kukatakan untuk tak mengizinkan ia keluar apa pun alasannya. Tapi apa sekarang... Kalian bahkan memberikan secara cuma-cuma pada musuh bebuyutanku."


Para pekerja menundukkan kepala. Mereka ketakutan.


"Kalau sudah begini, mau apalagi!. Memmbunuh kalian pun tak akan membuat perempuan itu kembali." Diego mengambil ancang-ancang. Ia menendang vas bunga dan apa pun yang berada disekitarnya. Semua hancur lebur bak kapal pecah. Tak cukup di halaman, Diego lekas menuju ruang pribadinya. Ia mulai mengambil beberapa foto Dilara kemudian membakarnya.


Kenapa kau susah sekali didapatkan, Dilara. Aku sudah sempat menahan Ibumu, berharap bisa membawamu kepelukku. Tapi nyatanya gagal. Namun, aku tak menyerah. Kalian lihat saja, usahaku tak cukup hanya sampai di sini. Akan ada prahara besar andai Dilara dan Alan kembali bersatu lagi.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2