
Di sebuah ruangan Hary membeku menatap hasil tes darah milik Dilara yang diberikan kepada petugas rumah sakit. Pria tua itu ingin tak percaya, tetapi bukti nyata bahkan sudah berada di depan mata.
"A-apa, cu-cuku me-mengandung?." Hary bertanya dengan suara tergagap.
Seorang Dokter yang duduk tepat di hadapan Hary itu menganggukkan kepala.
"Benar, Tuan. Itulah yang kami temukan dari hasil pemeriksaan darah kemarin. Usia kandungan Nyonya Dilara masih sangat muda, ini baru minggu-minggu awal usia kehamilan beliau." Sang Dokter menjelaskan.
Hary tercekat. Bukannya tak senang, ini merupakan kabar besar untuknya di mana sang cucu menantu berhasil mengandung pewaris yang selama ini ia inginkan. Akan tetapi kenapa kehamilan ini datang disaat pernikahan cucu-cucunya mengalami prahara.
"A-apa Dilara atau Alan sudah mengetahui tentang kehamilan ini?."
Dokter berkacamata itu sontak menggelengkan kepala kemudian menjawab, "Belum, Tuanlah orang pertama yang mengetahui perihal kehamilan Nyonya Dilara."
"Baguslah," gumam Hary yang mana membuat Dokter senior itu mengerutkan dahi.
"Tolong, rahasiakan kehamilan ini pada siapa pun untuk sementara waktu. Biar aku saja yang menjawab jika ada yang bertanya."
"Baik, Tuan." Pada akhirnya sang Dokter bisa bernafas lega. Beberapa saat lalu dirinya sempat ketakutan kala diminta menghadap sekaligus menjelaskan tentang sakit dan hasil sempel milik Dilara pada Hary yang merupakan pemilik Wirdo Hutomo Hospital, tempat dirinya bertugas saat ini.
Dirinya sendiri tak tau pasti tentang siapa pasien penghuni kelas VVIP yang dibawa Hary langsung, dan saat ini barulah dia ketahui jika Dilara adalah istri Dari Dokter Alan yang juga merupakan cucu dari Hary Wirdo Hustomo.
Berbagai pertanyaan sempat mengganjal, tentang Alan yang sama sekali tak mendampingi dan justru Hary yang mengambil peranan penting. Tapi sudahlah, ia takut untuk ikut campur apalagi sampai bertanya. Bukannya mendapat jawaban, ia pasti akan langsung ditendang dari rumah sakit ini karna terlalu lancang.
Hary menyimpan hasil tes darah Dilara ke dalam saku jas. Biarlah, ia tak ingin memberitahukan perihal kehamilan itu pada Dilara untuk saat ini. Ia takut jika hal tersebut justu menjadi beban dan membuat cucu menantunya itu tertekan. Jika Dilara bertanya tentang penyakitnya makan ia akan menjawab jika perempuan itu hanya kelelahan dan butuh banyak istirahat.
Pria itu tersenyum senang begitu memasuki ruang perawatan Dilara. Sang cucu menantu sedang menikmati buah segar, sedangkan sang adik duduk menyuapi di sampingnya
__ADS_1
"Kakek," panggil kedua kakak beradik itu mengetahui kehadiran Hary.
"Hai, wah Kakek senang melihatmu sudah sehat." Hary mendekat, ia usap puncak kepala Dilara dengan sayang. "Ayo, makan yang banyak," titah Hary yang diangguki oleh Dilara.
"Kakek, Kakak sakit apa?." Sena bertanya.
"Kakakmu hanya kelelahan. Setelah beristirahat dan menjaga pola makan, kondisi Kakakmu akan membaik seperti sedia kala."
"O, benarkah?." Tetapi kenapa Sena seperti tak yakin dengan jawaban Alan.
"Tentu saja."
Meski masih ada beberapa makanan Dilara yang berada di meja, Hary meminta pada petugas untuk mempersiapkan lagi. Hary bilang, Dilara harus makan-makanan bergizi agar mempercepat pemulihan. Sedangkan Dilara, sesungguhnya perempuan itu tak berselera makan. Lidahnya terasa pahit meski memakan makanan manis sekali pun. Akan tetapi begitu melihat perhatian Hary, Dilara memaksa untuk makan. Ia harus sehat dan pulih seperti sedia kala agar tak merepotkan orang lain.
💗💗💗💗💗
"Kakek?."
"Hem, ini aku." Hary mendorong keras pintu itu lagi agar tertutup setelah dirinya masuk. Alan hanya geleng-geleng kepala, menanggapi tingkah seenaknya sang Kakek.
"Istrimu dirawat dan kau hanya duduk di sini. Dasar kau tak memiliki pri kesuamian. Setidaknya tujukan kepedulianmu sedikit saja, melihatnya atau mungkin ingin menjaganya."
Di kursinya Alan berdecak. Ia malas, apalagi untuk membahas tentang Dilara.
"Sudah kubilang sebelumnya, aku tak perduli."
Hary tergelak. Sudut bibirnya terangkat seperti tak mempercayai ucapan sang cucu yang sedari kecil sudah ia rawat sepenuh hati.
__ADS_1
"Begitu mudahnya kau mengatakan jika sudah tak perduli, sementara kau tau jika di dunia ini selain adik-adiknya, Dilara hanya punya kau!." Hary menekan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya dengan pengharapan cucunya akan mengerti dan bisa merubah keputusan.
Alan justru tergelak. Pria itu menutup laptop kemudian menatap tajam pada sang Kakek.
"Kata siapa dia hanya punya adik-adik dan aku?. Lara masih punya Ibu, dia juga punya Diego. Entah apa hubungan Lara dan Diego sebenarnya sampai perempuan yang mengaku sebagai Ibu dari Dilara itu memintaku untuk menceraikan putrinya."
Hary terkesiap. Ya, dirinya sampai lupa. Bukankah pelayan rumah juga sempat menyebut Diego saat kepergian Dilara terjadi.
"Kenapa malah membawa-bawa pria lain. Di sini kau suaminya sedangkan Dilara pergi dari rumah karna kau yang meminta dan bukan atas kemauannya sendiri!."
"Sudahlah, Kek. Aku pusing. Aku malas membahas Dilara. Aku sudah membebaskannya dan tak akan lagi perduli padanya." Alan enggan berdebat. Ia kembali fokus pada layar laptop.
Hary ternganga, demi apa pun dirinya tak pernah segeram ini pada Alan. Hary geram sebab Alan tak lagi perduli pada Dilara terlebih kondisi perempuan itu sedang hamil.
"Baiklah," ucap Hary pada akhirnya. Pria tua itu menyerah pada akhirnya. "Berkali-kali kau bilang jika sudah tak perduli lagi pada Dilara." Hary bangkit, kemudian merogoh kertas yang ia simpan dalam saku pakaian lantas melemparkannya ke hadapan Alan begitu saja. "Lihat, dan baca itu baik-baik. Aku harap setelah ini kau tak akan menyesal."
Alan melirik pada kertas itu, sejenak lebih dulu menatap pada sang Kakek sebelum membuka dan membacanya secara perlahan.
"Apa ini?." Alan membaca setiap ketikan di kertas.
"Dilara hamil, tadinya aku ingin kau untuk menjaganya mengingat kau adalah Ayah kandung dari bayi yang ia kandung. Akan tetapi setelah berkali-kali kau mengatakan tak perduli, aku pun berubah pikiran. Dilara akan tinggal bersamaku. Dia akan selalu berada dalam pengawasanku, dan aku tak mengizinkan kau untuk bertemu dengannya sampai waktu yang tak bisa kutentukan." Hary sempat menenndang meja kerja sebelum beranjak pergi. Sedangkan Alan, Dokter muda itu membeku. Sesaat dunianya seperti berhenti berputar saat sang Kakek mengatakan sesuatu hal yang tak pernah ia duga. Dilara hamil.
"Di-dilara, hamil?." Alan tercekat. Sepeninggal Hary dirinya malah terlihat kebingungan.
"Benarkah, Dilara hamil?." Alan bermonolog. "Istriku hamil?." Pada akhirnya pria muda itu memyebut Dilara sebagai seorang istri.
Tbc.
__ADS_1