Mengejar Cinta Suami Dingin

Mengejar Cinta Suami Dingin
Ketakutan Alan


__ADS_3

”love you, honey.”


Alan tersenyum tipis, melambaikan tangan pada Dilara yang melepas kepergiannya untuk bekerja.


Pagi ini penampilan terlihat rapi seperti biasa. Kemeja dan celana bahan warna senada, membalut pas di tubuh nyaris sempurna miliknya.


Tentang kepergian Dilara semalam untuk mengunjungi adik-adiknya, Alan berpikir alangkah baiknya jika ia pun mengirimkan beberapa hadiah sebagai bentuk kepedulian.


Alan tiba-tiba mengambil kertas dan bulpoin dari dalam tas kerja kemudian menuliskan sesuatu dikertas tersebut.


"Ambil pesanku di tempat ini dan berikan pada adik-adik Dilara,” titah Alan seraya mengulurkan selembar kertas itu pada sang supir. Pagi ini, Alan tak mengemudikan kuda besinya seorang diri. Dirinya sengaja diantar supir untuk berjaga-jaga.


”Baik, Tuan.”


Pikir Alan menerawang jauh. Melihat kelima adik Dilara, kenapa hatinya ikut terenyuh. Dulu mereka tinggal di rumah repot, dan sekarang sudah menempati rumah mewah. Apa rumah itu hasil dari kerja keras Dilara atau malah pemberian seseorang?.


Kemudian untuk anak, dirinya dan Dilara sudah melakukan hubungan suami istri beberapa kali. Apa mungkin dalam waktu dekat ini Dilara bisa mengandung kemudian mereka punya anak?.


Sejenak Alan memejamkan mata. Anak?. Hubungan pernikahan mereka saja masih mengambang sampai detik ini. Mereka memang menikah, tinggal satu rumah, tidur satu ranjang, dan berhubungan badan. Akan tetapi untuk urusan hati, apa keduanya sudah saling mencintai?.


Alan mengusap wajahnya secara kasar. Segala bentuk godaan dan kepintaran Lara dalam melayani, tak ayal sudah membuat Alan nyaman dan bergantung. Dilara seperti pandai menempatkan diri, mencari celah agar dirinya dapat masuk, hingga berhasil menduduki tempat tersendiri dihati Alan yang belum mampu disentuh siapa pun termasuk mantan kekasih Alan dulu.


Bukannya senang, keberadaan Dilara di hati Alan justru menjadi ketakutan tersendiri. Pria itu tak mau berharap atau pun menginginkan lebih. Seperti apa perasaan Dilara padanya, Alan pun tak mengerti. Ia takut jika terlanjur mencintai, ternyata perempuan itu hanya mengkhianati.


Alan mengerjap saat kuda besi yang membawanya sudah masuk ke halaman Wirdo Hutomo Hospital. Dirinya sudah sampai.


Pria berpakaian formal itu keluar dari kendaraan dengan menenteng tas kerja dan paper bag berisi kotak bekal. Ia tak lagi sungkan, mulai terbiasa meski beberapa pasang mata masih menatap aneh padanya.


Kini setiap hari tak terlewatkan tanpa membawa bekal buatan Dilara saat bekerja. Seperti yang pria itu katakan tadi, apa yang ada dalam diri Dilara serta apa yang sudah perempuan itu sentuh, sudah menjadi candu untuknya. Termasuk apa pun makanan yang sudah perempuan itu buat.


Selepas melewati koridor serta menaiki lift, Alan sudah sampai di depan pintu ruang kerja. Ia lantas membuka dan menuju meja kerja. Seperti biasa, jas kebesaran miliknya selalu ia sampirkan di punggung kursi kerja. Jas kebesaran yang mengukuhkan titelnya sebagai seorang Dokter.


Begitu Alan meletakkan tas ke atas meja, sontak pandangannya tertuju pada sebuah amplop berwarna coklat yang juga tergeletak di atas meja.


"Amplop apa ini," tanya Alan setelah memperhatikan benda itu secara seksama. Padahal semalam sebelum ia tinggal, di atas meja tak ada amplop apa pun. Lalu ini apa, dan siapa yang sudah masuk ke ruangannya tanpa izin?.


Pandangan Alan lekas menyapu kesekeliling. Tak ada yang mencurigakan. Semua barang yang ada di ruang kerjanya tak berpindah tempat. Merasa penasaran dengan isi amplop yang terlihat tebal, pria itu lekas menjatuhkan bobot tubuh di atas kursi kemudian membuka amplop tersebut guna menjawab rasa penasarannya.

__ADS_1


"Apa ini?." Alan mengernyit. Ini seperti tumpukan kertas atau..., eh tidak. Perlahan Alan menarik isi di dalamnya setelah membuka.


"Foto?." Alan tertegun setelah berhasil menarik isi amplop itu hingga keluar. Akan tetapi yang muncul justru lembaran foto yang berhasil membuat jantung Alan berdetak lebih cepat.


"Dilara?." Lirih Alan menyebut nama sang istri. Alan terkesiap, ketika diteliti secara seksama, rupanya foto sang istrilah yang tergambar di sana namun sayang perempuan itu tak sedang sendiri. Dilara ada bersama seorang pria dalam lembaran foto yang tak bisa dikatakan sedikit jumlahnya itu.


"Dia, dia kenapa bersama dengan Diego?." Lembaran foto yang Alan pegang jatuh ke meja. Sebentar, pria itu berfikir dalam atau sepertinya sedang coba mengingat sesuatu.


"Bersama Diego, tapi kapan?." Setahu Alan Dilara jarang sekali keluar, lalu kapan pertemuannya dengan Diego?. Apakah semalam, tapi bukankah perempuan itu bilang jika baru mengunjungi adik-adik?.


Alan meremas lembaran foto tak penting itu lalu membuangnya ke tong sampah. Setelah kejadian ini maka dijamin mood Alan pun hancur berantakan. Bekal buatan Dilara hanya ia cicipi sedikit, akan tetapi jika menyangkut pekerjaan, Alan tetap melakukannya secara paripurna. Sedikit saja ia melakukan kesalahan maka nyawa orang lain ikut terancam.


💗💗💗💗💗


Berusaha menutupi kemarahan, Alan pulang dengan memasang wajah tenang. Perihal foto-foto itu tentu dirinya akan menanyakan kebenarannya pada Dilara nanti.


"Honey."


Seperti biasa, perempuan berambut panjang itu selalu menyambutnya. Penampilan perempuan berusia 18 tahun itu tetap enak dipandang mata, sama seperti hari-hari biasanya.


Benarkah?.


Alan hanya mengusap rambut Dilara pelan, kemudian membawa sang istri untuk masuk ke dalam rumah. Pria berprofesi sebagai Dokter itu memperhatikan setiap gerakan sang istri yang kini sedang berjongkok, melepaskan sepatunya. Tak ada yang aneh, Dilara masih melayaninya begitu baik. Tetapi kenapa dia menyembunyikan pertemuan dengan Diego darinya?.


”Honey, biar aku bantu membuka pakaianmu.” Dilara baru saja membuka kancing paling atas pakaian Alan, tiba-tiba pria itu justru menggenggam tangan sang istri agar tak bergerak.


”Lara, boleh aku bertanya sesuatu padamu?.”


Dilara yang sempat terkejut karna tangannya ditahan oleh Alan, tersenyum menggoda. Bertindak lebih berani, Dilara malah mencium bibir Alan secara tiba-tiba sampai pria itu terbelalak.


Dilara tergelak kemudian berucap, ”Tentu saja, Honey. Memangnya kau ingin bertanya tentang apa?.” Saat penghangat tangan Alan melemah, Dilara lekas memeluk pinggang sang suami juga membubuhkan kecupan-kecupan ringan di daada bidang Alan yang masih berbalut pakai.


”Kemarin, kau hanya mengunjungi adik-adikmu atau sempat singgah ke tempat lain?.”


Dilara sontak menelan ludah. Kenapa perasaanya mendadak tidak enak, terlebih Alan yang biasanya tak ingin tau tentang aktifitasnya, justru seperti sedang mencari informasi. Ya Tuhan, bagaimana ini?.


”Lara,” tanya Alan sekali lagi saat Dilara tak kunjung merespon.

__ADS_1


”oo, yang kemarin ya?. I-itu, a-aku, em aku, selain menemui adik-adik aku juga sempat menemui seseorang." Pada akhirnya Dilara tak mampu berdusta.


Alan menghela nafas lega.


”Bertemu seseorang, siapa?.”


Dilara menggigit bibir bawah. Antara bimbang dan ingin mengatakan yang sejujurnya.


”D-dokter Diego.”


”Diego,” tanya Alan pura-pura terkejut.


Dilara menatap Alan kemudian menganggukkan kepala.


”Sebenarnya kemarin mobil kita sempat menubruk mobil pengendara lain. Aku takut, turun kemudian ingin meminta maaf. Tapi rupanya mobil yang tanpa sengaja ditabrak supir kita adalah mobil milik Dokter Diego, lalu ...”


”Lalu ..?.”


Dilara takut-takut menjelaskan. Ia tak ingin salah bicara.


”Aku berusaha meminta maaf dan ingin mengganti kerugian. Tapi Dokter Diego menolak." Dilara menjeda ucapan. ”Lalu dia mengajakku untuk minum kopi bersama. Honey, aku tidak enak untuk menolak.” Dilara tertunduk. Sementara Alan kembali menghela nafas lega. Begitulah alasannya.


”Kecelakaan, lalu apa kau terluka?.” Alan memindai seluruh tubuh sang istri dari kepala sampai kaki.


”Ti-tidak, aku tidak papa. Itu hanya kecelakaan kecil. Kau tak perlu khawatir." Dilara tergelak lirih, meski ia juga cemas. Ia takut jika Alan tak percaya dan masih mencecarnya dengan banyak tanya.


”Ya sudah, sekarang bantu aku lepas pakaian. Gerah, aku ingin cepat mandi.” Alan merentangkan tangan. Seolah memberikan ruang untuk Dilara agar lebih leluasa melepaskan pakaiannya.


Dilara menelan Saliva. Ia jadi salah tingkah. Jika Alan diam, dia semangat untuk menggoda, tetapi jika Alan menyerahkan diri seperti ini, Dilara malah cemas.


”Ayo, tunggu apa lagi. Bukankah tadi kau bilang ingin membantu membuka pakaianku?.”


Istri Alan itu meringis. Ia kembali mendekat, mengangkat tangan untuk kembali membuka kancing baju Alan yang sempat terjeda. Akan tetapi kenapa tangannya jadi gemetar begini?.


Alan tergelak dalam hati. Ia puas menjahili sang istri seperti ini. Rupanya Dilara tak sebinal yang ia pikirkan selama ini. Perempuan di depannya ini sebenarnya pemalu, hanya saja selama ini dia berpura menjadi perempuan penggoda yang lebih mirip seperti jaalang untuk bisa menggodanya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2