
Penolakan Dilara serta tak diberinya akses untuk menemui kelima anak-anaknya, rupanya masih tak membuat Dahlia jera. Siang ini dirinya kembali mendatangi rumah megah yang ditempati putra putrinya.
"Anda lagi," geram seorang tukang kebun yang sudah bosan dengan kedatangan Dilara. "Bukankah Nyonya sudah mengatakan agar tak datang lagi ke rumah ini tetapi kenapa anda tetap memaksa?." Pria itu hanya menggelengkan kepala. Berniat mengusir tetapi ia pun sudah bosan. Toh lagi pula sia-sia juga. Perempuan itu tetap akan bertahan sampai Dilara sendiri yang menghadapi.
"Aku tidak akan menyerah sebelum bertemu dengan anak-anakku dan tinggal di rumah ini."
"Ah, terserah anda saja." Enggan menanggapi, tukang kebun itu memilih pergi. Hanya memberi pengamanan dua kali lipat dipintu gerbang agar perempuan itu tak bisa masuk.
"Berani-beraninya kau," geram Dahlia pada salah satu pekerja dikediaman putrinya.
Kali ini Dahlia tak lagi berteriak atau bertindak bar-bar. Dirinya hanya perlu memasang wajah memelas, memakai pakaian compang-camping, dan berdiri diam di pintu pagar sampai salah satu anaknya melihat kemudian menyuruhnya untuk masuk. Beres.
Tiga puluh menit berlalu, Dahlia masih bertahan diposisi semula meski kakinya sudah terasa pegal. Mentari pun kian meninggi, menambah terik dan semakin mengeringkan tenggorokan yang sedari tadi tak terguyur air.
Dahlia mengumpat dalam hati. Kenapa salah satu anaknya tak ada yang bermain di luar lalu melihatnya?.
"Siialan, aku bisa dehidrasi jika terus seperti ini," gumam Dahlia yang masih setia bersandar di pintu gerbang. Sesekali mengintip dari celah pintu, lebih mirip seperti pengemis yang meminta belas kasih.
Terlihat perempuan itu menghela nafas dalam. Ah, andai dirinya tak nekat lari bersama sang kekasih hati waktu itu, mungkin hidupnya sudah enak seperti keenam anaknya. Tapi bagaimana lagi, saat itu dirinya sedang tergila-gila dengan pria muda yang mengaku masih perjaka itu. Dirinya yang sesang kasmaran, enggan memikirkan anak apa lagi bekerja untuk menghidupi mereka. Dilara yang diminta menggantikan. Mencari uang bagaimana pun caranya agar dirinya tak kelaparan. Bahkan uang peninggalan mendiang suami ia berikan pada sang berondong atau pun untuk bersenang-senang.
Dahlia berdecak. Setelah nekat meninggalkan anak-anakknya, perlahan kedok pacarnya terbongkar. Pria muda itu sudah memiliki istri juga anak. Perempuan itu mengamuk, namun apa guna sebab uang simpanan yang punya sudah habis tak tersisa. Uang peninggalan yang sejatinya untuk membesarkan anak-anak justru ia habiskan untuk main gila.
"Ibu."
Dahlia tersentak, saat melamun dirinya sampai tak sadar jika putri pertamannya itu datang mungkin untuk mengunjungi adik-adiknya.
"Mau apa Ibu ke sini, bukankah kemarin aku sudah melarangmu untuk datang?." Tanya Dilara lagi saat Ibunya masih diam.
"Di-dilara, I-Ibu mohon, jangan seperti ini. Tolong beri Ibu satu kesempatan untuk hidup bersama kalian lagi."
"Terlambat," sambar Dilara. "Kenapa baru sekarang, kenapa tidak dari dulu. Sudahlah, dari pada membuang waktu Ibu dengan berpanas-panasan seperti ini, lebih baik Ibu pergi. Sampai kapan pun kami tidak bisa lagi menerima Ibu." Dilara tak lagi sungkan, dengan mengusir sang ibu secara terang-terangan. Biarlah, ia sudah lelah dan malas berdebat.
__ADS_1
"Sombong sekali kau Dilara." Tak dinyana, Dahlia yang semula tampak memelas mulai menunjukkan taring. Ia menatap tajam putri pertama yang 18 tahun lalu ia lahirkan. "Ibu tau hidupmu sudah enak sekarang. Tapi sayangnya kau tak punya adab dengan mengusir perempuan yang sudah melahirkanmu ke dunia ini dengan bertaruh nyawa." Dahlia tampak berapi-api sedangkan Dilara terdiam.
Dahlia tersenyum sinis, kini pandangannya menyapu kebangunan mengah bertingkat yang ditinggali putra putrinya.
"Aku penasaran, kiranya dari mana kau mendapatkan uang sampai mampu membeli rumah sebagus ini atau jangan-jangan kau menjadi simpanan pria kaya demi bisa merubah hidupmu seperti saat ini?." Dahlia tergelak. Ia seperti puas saat melihat wajah putrinya yang pucat pasi.
"Kau tak bisa menjawab 'kan, atau jangan-jangan yang aku katakan itu benar. Kau menjadi simpan pria kaya un---"
"Diam!."
Bibir Dahlia mengatup saat Dilara berteriak.
"Lalu apa perdulimu jika aku memang menjadi perempuan simpanan demi bisa hidup seperti sekarang?."
Dahlia terdiam, tak mampu menjawab.
"Ayo jawab, apa perdulimu jika putrimu ini memang menjadi perempuan simpanan demi hidup enak?."
"Dil--"
Dahlia tercekat. Sementara Dilara yang tak tahanan lagi menahan gejolak di dada, lekas menjauh dari hadapan sang Ibu. Ia membuka pintu gerbang kemudian menutup kembali. Ia tak ingin sang Ibu masih dan bertemu adik-adiknya.
💗💗💗💗💗
Dahlia menyusuri jalanan dengan berjalan kaki. Dirinya tak lagi mempunyai uang untuk sekadar memesan jasa ojek atau pun taksi. Untuk tempat tinggal, perempuan itu tinggal disebuah kost yang sudak ia bayar dua bulan terakhir ini. Dahlia tak bekerja, dan pada saat mengetahui jika putrinya hidup enak, ia pun bergerak cepat dengan tak menyia-nyiakan keadaan.
Akan tetapi yang ia inginkan nyatanya tak sesuai kenyataan. Berharap putrinya akan senang dan menerimanya kembali, tetapi sang putri justru terang-terangan mengusir dan tak menginkannya lagi. Sungguh malang.
Teriknya mentari yang terasa membakar kulit membuat Dahlia menepi, mencari tempat bernaung sekaligus untuk beristirahat. Dirinya benar-benar letih setelah tiga puluh menit berjalan kaki.
Rindangnya pohon serta kencangnya hembusan angin, membuat tubuh Dahlia yang semula berpeluh, terasa segar.
__ADS_1
Perutnya melilit meminta diisi tapi apalah daya, uang dirinya sudah tak pegang. Dahlia meringis, mereemas perutnya yang melilit. Hendak memaki, tapi pada siapa. Disini memang dirinya lah yang bersalah.
"Nyonya, makanlah. Saya tau jika anda sedang lapar."
Dahlia tersentak saat sekotak nasi disodorkan ke hadapan oleh seseorang. Wajah Dahlia yang semula tertunduk, mulai terangkat. Ingin menatap wajah seseorang yang mengulurkan makanan kepadanya.
Paruh baya itu mengerjap manakala sepasang matanya menatap pada sesokok pria muda yang belum pernah dilihatnya.
"A-anda siapa?." Tanya Dahlia seraya memperhatikan pria tersebut secara seksama.
"Anda tidak perlu tau siapa saja. Sekarang makanlah, saya tau jika anda sedang lapar," jawab pria tersebut seraya menyodorkan kotak nasi tersebut lebih dekat lagi pada Dahlia.
Beberapa saat Dahlia menimang, antara ingin menerima atau menolak. Akan tetapi rasa pedih diperut tak tertahan lagi, yang mana membuat Dahlia tak berfikir lama untuk merebut, memuka kotak itu kemudian memakan isi di dalamnya dengan begitu lahap.
Pria itu tergelak tanpa suara.
"Bukan hanya mendapatkan makanan seperti ini, tempat tinggal dan uang, kau juga akan dapatkan jika kau ikut bersamaku."
Dilara menghentikan makanan. Pandangannya tertuju pada sang lawan bicara.
"Ikut bersamamu, maksudmu aku akan bekerja padamu?."
"Mungkin bisa dikatakan seperti itu."
Dahlia tampak berpikir. Menimang baik dan buruknya.
"Aku tau, kau tak punya tempat tinggal dan diusir oleh anak-anakmu. Maka dari itu aku memberi penawaran. Tinggalah bersamamu maka hidupmu akan terjamin."
Pada akhirnya Dahlia menganggukkan kepala. Tak perduli apa pekerjaannya nanti, yang penting dirinya bisa punya tempat tinggal dan makanan tanpa mengeluarkan sepeser pun uang.
Tbc.
__ADS_1
Wah kira-kira si pria misterius ini siapa ya?.
Yuk tebak di komentar.