
Kemunculan Diego serta terlalu ikut campurnya dia dalam kehidupan rumah tangga Alan dan Dilara, memantik api kemarahan Hary. Pria itu tak suka dan risih, terlebih Dokter muda itu seperti tak henti untuk membujuk Ibunda Dilara agar sang putri berpisah dengan Alan lalu bersama dengannya.
Huh, tidak semudah itu Fulgoso.
Dari orang kepercayaan Hary bisa menemukan rumah Diego. Hary mencari waktu yang pas untuk berkunjung. Bukan untuk menemui Diego tetapi untuk menemui Dahlia. Hary ingin bicara berdua juga menjelaskan semua. Hary harap Dahlia bisa mengerti dan tak lagi ikut memperkeruh suasana seperti yang diharapkan Diego.
Hary baru tau jika Diego sudah bekerja cukup lama di rumah sakitnya. Dia juga teman dekat Alan. Tidak dekat juga sih sebab keduanya sering terlibat cekcok.
"Teman kok makan teman. Itu terdengar tidak enak, lagi pula juga tidak mengenyangkan." Hary mengendikkan bahu. Ia bersama supir pribadinya hendak menuju kediaman Diego.
Beberapa saat mereka tak langsung menuju gerbang. Mereka memilih menepi, sedikit menjauh dari depan pintu gerbang kediaman Diego. Setelah memastikan kendaraan beserta Diego keluar rumah, Hary baru meminta supir pribadinya untuk mendekat.
"Maaf, cari siapa?." Seorang penjaga keamanan rumah Diego bertanya.
"Kami datang untuk bertamu," jawab supir Hary dengan hanya membuka kaca pintu mobil.
"Maaf, tapi pemilik rumah sedang bekerja dan kami diperintahkan untuk tak menerima tamu secara sembarangan."
Jawaban dari penjaga rumah membuat Hary jengah. Ia lekas membuka pintu mobil dan keluar.
"Kau tau, aku bukanlah tamu sembarang."
Penjaga itu sedikit terkejut.
"Tapi, Tuan. Saya hanya mengikuti perintah, atau perlu saya hubungi Tuan Diego untuk kembali kerumah agar anda bisa bertamu?."
"Tidak perlu!." Hary menatap tajam penjaga itu, yang mana membuat paruh baya itu sontak tertunduk. "Aku pemilik rumah sakit tempat Tuanmu bekerja. Di sini aku hanya ingin menemui Dahlia. Tidak usah menghubungi Diego atau berkata apa pun tentang kedatanganku, jika tidak aku akan langsung memecat majikanmu itu dan mengatakan jika kaulah biang dari kasus pemecatannya."
"J-jangan, Tuan. Sa-saya bersumpah, saya tidak akan mengatakan apa pun tentang anda." Pria itu gemetar dan cepat-cepat menyingkir untuk memberi akses masuk. "Silakan, Tuan. Saya akan meminta pelayan untuk memanggil Nyonya Dahlia."
Hary tergelak dalam hati.
Boodoh memang, digertak segitu saja sudah ketakutan. Memangnya siapa yang akan memecat Diego. Ya memang si aku punya wewenang, tetapi kan tetap tidak boleh seenaknya untuk memecat seseorang.
Hary benar-benar disambut dengan baik. Dahlia pun sudah berdiri tak jauh darinya. Paruh baya itu cukup terkejut dengan kehadirannya. Ia terlihat cemas terlebih Diego sedang tak berada di rumah.
"Tuan, anda..."
__ADS_1
"Selamat pagi, Nyonya Dahlia. Senang bisa kembali bertemu dengan anda," sapa Hary. Terdengar sopan, namun cukup membuat tubuh Dahlia gemetar.
"P-pagi juga Tuan."
"Nyonya, boleh saya duduk?." Hary bertanya saat Dahlia hanya diam mematung.
"B-boleh, Tuan. Tentu saja boleh." Dahlia meringis. Ia ikut duduk setelah mempersilahkan Hary untuk duduk.
"Wah, besar dan nyaman rumah Diego rupanya. Pantas saja Nyonya Dahlia kerasan tinggal di rumah ini."
Senyum di bibir Dahlia seketika luntur. Apa-apaan ini?. Dalam hati Dahlia menggerutu. Tak suka dengan ucapan Hary yang seperti itu.
"Saya jadi ingin tau, bagaimana ceritanya sampai anda bisa tinggal di sini, bersama Diego sedangkan yang saya tau kalian tidak punya hubungan darah."
Dahlia terdiam. Tentulah Hary datang bukan untuk bertamu seperti orang kebanyakan. Pria tua itu memiliki tujuan lain yang tentu mencari tau tentang dirinya.
"Nak Diego kasihan sebab melihat saya diusir oleh anak-anak saya. Saya hidup sendiri sampai bertemu Nak Diego lalu dia mengajakku untuk tinggal bersama."
Hary tergelak.
"Wah suatu kebetulan yang menyenangkan ya, atau jangan-jangan sesuatu yang kebetulan iti memang sudah direncanakan?."
"Hei, ayolah. Kenapa saat itu kalian bertemu dan momennya tepat saat kau diusir anak-anakmu?."
Dahlia terdiam. Seperti memikirkan ucapan Hary.
"Kau diusir anakmu juga pasti ada alasannya?."
"Alasan apa, Tuan. Memang mereka saja yang durhaka, saat aku sudah tua mereka membuangku begitu saja."
Hary terbahak sementara Dahlia tergeragap.
"Jangan kau pikir aku boodoh. Aku sudah tau riwayat hidup serta sepak terjangmu. Bertahun-tahun lalu kau sengaja meninggalkan putra putrimu demi mengejar kepuasanmu. Bersyukur anak-anakmu tak mati kelaparan. Lalu setelah hidup mereka enak dan sudah mengiklaskanmu, kau malah datang dan bersikap layaknya Ibu yang teraniaya. Kau memang pintar memutar balikkan fakta."
Wajah Dahlia berubah pias. Ia tertunduk dengan memilin dua tangan di atas pangkuan.
"Kenapa, kau malu karna aku mengetahui semua keburukanmu?."
__ADS_1
Dahlia hanya bisa menggeleng. Ia tidak mengira jika apa yang sudah ia perbuat di masa lalu, malah diketahui orang banyak.
"Jangan kira hanya aku yang tau kebusukanku, aku rasa Diego pun tau tapi dia berpura tak tau. Aku juga yakin jika dia memberimu tempat tinggal karna memiliki sebuah rencana tersendiri dengan cara mengikatmu dengan kata 'balas jasa'."
Dahlia terperangah. Apa benar ucapan Hary jika kebaikan Diego memiliki maksud terselubung?.
"Kau juga mengungkit tentang kesepakatanku dengan putrimu. Menuding kami memanfaatkan kemiskinan kalian demi sebuah tujuan?." Hary seperti sedang ingin mengeluarkan semua kekesalan dalam diri tentang kesalah yang ditujukan padanya dan juga Alan.
"Kau tau, bukan dengan tangan kosong aku bisa menunjuk putrimu untuk bisa menjadi cucu menantu. Dilara gadis baik, dia menolongku kala itu. Sesungguhnya dia pun menolak saat aku menawarkan kemewahan asal dia mau dinikahkan dengan cucuku." Nafas Hary memburu. Ah sesungguhnya ia tak ingin memgingat kejadian itu. "Hidup semua putra putrimu tak terurus. Dilara bekerja serabutan untuk memberi makan adik-adiknya. Aku tak tega, aku terus memaksa sampai pada akhirnya dia menerima."
Dahlia menghela nafas. Daadanya terasa sesak membayangkan hidup anak-anaknya saat ia tinggalkan.
"Perjuangan Dilara untuk bisa merebut hati cucuku pun tak mudah. Segala cara ia lakukan bahkan sampai oprasi besar untuk mengubah bentuk tubuh dan juga wajah."
Dahlia kembali tersentak. Oprasi?. Ya, Dahlia memang melihat perubahan besar dalam diri putrinya dari wajah dan bentuk tubuh. Ternyata...
"Kenapa, kau kaget lagi?. Apa setelah mendengar semua kau masih ingin mengusik kebahagiaan putrimu?."
Dahlia tersedu. Perempuan itu menagis mendapati kenyataan perih yang dijalani sang putri demi berada dititik seperti ini.
"Ayo, aku tau kau ingin kembali pada putra putrimu. Aku akan membawa kau kerumah di mana putra putrimu tinggal tapi dengan satu syarat."
"Apa, Tuan?." Kali ini Dahlia lebih penurut.
"Tinggalkan rumah ini dan jangan pernah kembali atau pun berhubungan dengan Diego lagi."
Dahlia terdiam sejenak.
"Bagaimana, kau setuju."
"Baik, saya setuju." Pada akhirnya Dahlia menyetujui.
"Baiklah. Tidak usah mengemasi pakaian. Aku akan langsung mengantarmu. Di sana akan aku pastikan kehadiranmu diterima dan kau juga mendapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan."
Dahlia mengangguk patuh. Saat Hary bangkit dan berjalan keluar rumah, seorang pelayan mendekat dan bertanya takut-takut.
Lewat isyarat pandangan, Hary meminta pada penjaga untuk menjelaskan. Saat itulah Hary dengan cepat membawa Dahlia kedalam mobil dan meninggalkan rumah Diego secepatnya.
__ADS_1
Tbc.