
Mendengar pengakuan Elly yang mengejutkan itu, membuat Ammy menjadi teringat akan masa lalunya sendiri.
Dulu, Ammy menjalani pernikahan dengan tidak bahagia. Dia terpaksa menikahi seorang pria kaya demi masa depan ST.
Setelah menikah, Ammy baru tahu kalau suaminya memiliki banyak wanita di luar sana. Apalagi, suaminya juga jarang melayaninya. Dia lebih suka tidur di rumah wanita simpanannya.
Dalam sebulan, suami Ammy mungkin hanya menyentuh Ammy tidak lebih dari 4x. Padahal Ammy ingin lebih dari itu. Ammy mencoba sabar dengan itu semua.
Hingga akhirnya, dia melakukan perbuatan tabu dengan kakak iparnya.
"Aku tahu bahwa Kevin itu playboy. Dia suka main perempuan dan juga kasar. Aku bersedia menjodohkannya dengan Elly karena latar belakang keluarganya akan sangat membantu ST di masa depan."
"Tapi..."
Jauh di lubuk hati terdalam Ammy, dia tak ingin Elly bernasib sama seperti dirinya. Apalagi, sifat Kevin benar-benar mirip dengan almarhum suaminya.
Ammy dengan tega meracuni Almarhum suaminya dan juga kakaknya untuk bisa bersama dengan kakak iparnya itu.
Tentu Ammy tidak ingin Elly menempuh hal yang sama sepertinya dengan meracuni kevin demi dapat bersama dengan Ryan.
Setelah terdiam beberapa menit, akhirnya Ammy memberi keputusan. "Ajak Ryan Jamaludin kemari untuk makan malam. Mama sendiri yang akan menilai apakah dia pantas atau tidak menjadi calon suamimu."
Reina yang akan bersiap-siap untuk mandi, tidak sengaja mendengar percakapan antara Elly dan Ammy.
"Mama benar-benar tidak adil! Dia membiarkan Elly bersama dengan Ryan, sementara Aku harus tetap menjalani perjodohan ini! Ini benar-benar tidak adil!" batin Reina dengan penuh amarah.
Tapi, mendadak Reina mendapat sebuah ide jahat. "Benar juga, Aku bisa menggunakan cara seperti ini, hahaha..."
"Akan Aku biarkan semua ini berjalan sesuai dengan keinginanmu Elly. Tapi di masa depan, Ryan adalah milikku!"
Memikirkan hal itu, mood Reina kembali bagus dan segera pergi ke kamar mandi.
***
Hari ini adalah hari sabtu, jadi semua pegawai ST hanya masuk kerja setengah hari.
Karena sudah masuk mood libur, banyak pegawai ST yang datang ke kantor dengan bersemangat.
Tak terkecuali Ryan. Dia juga datang ke kantor dengan semangat, tapi dengan alasan yang berbeda. Ryan tidak sabar menunggu kabar dari Laura yang akan melakukan aksinya hari ini juga.
Sementara itu, di ruang Direktur Utama ST, suasana di sana sangat tidak enak.
"Laura, apa maksudmu?"
__ADS_1
"Jangan bodohi Aku, Ammy! Aku sudah menyelidikinya, bahwa manipulasi laporan Neraca kemarin adalah perbuatan anak keduamu, Leo Sudiarto!" bentak Laura.
Mendengar hal ini, Ammy cukup terkejut dengan informasi yang berhasil Laura gali. Walau begitu, Ammy sama sekali tidak menampakkannya dan terus memasang wajah datar sewajarnya.
Ammy kemudian bertanya dengan nada yang datar. "Jadi, apa yang ingin Kamu lakukan Laura?"
"Aku ingin Leo mengganti semua uang yang telah diambilnya. Aku tidak mau bekerjasama dengan perusahaan yang berusaha melindungi kejahatan dari salah satu petingginya!"
"Itu…" Wajah Ammy mulai goyah. Dia tidak dapat lagi menahan ekspresi cemas dan khawatir.
"Jika kamu tidak mau melakukannya, maka kita tidak perlu membicarakan hubungan kerjasama denganku lagi!"
Setelah mengucapkannya, Laura berbalik dan bergegas pergi.
"Tunggu!"
Mendengar suara Ammy, Laura menghentikan langkahnya.
"Aku bersedia untuk menghukum Leo. Aku akan memintanya untuk mengembalikan semua uang perusahaan." ucap Ammy dengan terburu-buru.
Senyuman mulai mekar dari wajah Laura. Dia kemudian berbalik menghadap Ammy dan berkata, "Aku mau Leo menggantinya dengan kemampuannya sendiri. Aku tidak mau Kamu membantunya."
"Ingat, jaringan informasiku sangat luas. Aku akan dengan mudah mengetahuinya jika Kamu membantunya satu rupiah pun."
Laura lalu keluar dari ruang Direktur Utama ST, meninggalkan Ammy sendirian duduk tercengang di kursinya.
"Masa lalu apa yang Laura ketahui? Apakah itu tentang hubungan tabuku dengan mas Imam? Atau dia tahu bahwa aku adalah dalang dari pembunuhan atas suami dan kakak kandungku sendiri?"
"Tapi Aku yakin tidak meninggalkan bukti apapun dalam kejadian itu!"
Semakin memikirkannya, Ammy semakin panik. Setelah beberapa menit, Ammy kembali normal. Dia lalu menghubungi sekretarisnya untuk segera memanggil Leo ke ruangannya sekarang.
Sepuluh menit kemudian, Leo datang ke hadapan Ammy.
"Leo, kamu masih ingat tentang kerugian 1,2 Triliun dari bisnis judi online?"
"Iya, Leo masih ingat Ma."
"Mama mau Kamu menggantinya."
"Apa?!" Leo terkejut dengan ucapan mamanya.
"Ini adalah hukuman Mama untukmu! Mama merasa terlalu memanjakan Kamu selama ini! Jika begini terus, ST bisa bangkrut dalam pengelolaanmu! Tentu Mama tidak ingin hal itu terjadi."
__ADS_1
"Maka dari itu, Mama beri Kamu waktu 7 hari, untuk mengembalikan uang tersebut. Mama tidak akan membantumu, Kamu harus mencari sendiri cara untuk membayarnya dalam waktu 7 hari."
"Jika Kamu gagal, maka Mama akan mengambil kembali saham yang Mama berikan dan mencopotmu dari jabatan Direktur Investasi."
Mata Leo terbelalak mendengarnya. Dia tidak menyangka, jika mamanya yang selalu memaafkan semua kesalahannya tiba-tiba berubah menjadi seperti ini.
"Tidak mungkin mama tiba-tiba berubah menjadi seperti ini. Pasti ada alasan di balik semua ini. Apakah ini perbuatan kak Heri? Atau... ada faktor lain?"
Leo berusaha mengidentifikasi sumber masalahnya. Tapi melihat keseriusan di mata mamanya, Leo pun akhirnya menyanggupi perintah mamanya dan segera pergi dari ruangan tersebut.
Begitu Leo kembali ke ruangannya, dia langsung meluapkan emosinya.
Brakkk
Leo mendendang keras mejanya dan mengumpat. "Brengsek! Siapa yang melakukan semua ini!"
"Awas saja, jika Aku tahu siapa dalang dibalik semua ini, Aku akan membunuhnya!"
Setelah beberapa menit mengobrak-abrik ruangannya, Leo akhirnya menjadi sedikit tenang.
"Hahhh, sekarang Aku harus memikirkan bagaimana caranya, supaya Aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu seminggu ini."
"Semua asetku saja tidak sampai 500 Milliar. Aku juga tidak mungkin menjual semuanya dengam cepat. Apa yang harus Aku lakukan untuk mendapatkan kekurangannya?!"
Saat Leo sedang bingung, mendadak suara ketukan pintu terdengar.
Tok Tok Tok
"Hemm? Siapa yang ingin menemuiku di saat-saat seperti ini?"
"Masuk!"
Dari balik pintu, Reina muncul dan segera masuk ke dalam ruangan.
"Kak Leo, apa yang terjadi? Kenapa ruangan Kakak berantakan?"
Melihat Reina yang datang, Leo jadi sedikit tidak tertarik. "Oh Reina, ada apa?"
"Aku yang seharusnya bertanya begitu Kak. Reina tidak sengaja mendengar suara ribut-ribut dari luar, makanya Reina mencoba mengecek keadaan Kakak."
Melihat kekhawatiran di mata adiknya, Leo jadi sedikit tersentuh. Dia kemudian mulai menceritakan awal mula mengapa dia menjadi seperti ini.
"Kak, bagaimana kalau Kakak menjaminkan Saham kakak? Setelah Kakak punya uang, Kakak bisa menebusnya kembali." usul Reina.
__ADS_1
Seakan mendapat angin segar, Leo kembali bersemangat. "Menjaminkan? Bisa ceritakan lebih detail?"