Mengubah Takdir

Mengubah Takdir
Takdir Mempertemukan Musuh


__ADS_3

Dengan pakaian rapi dan parfum yang wangi, Ryan segera pergi dari kamar kosnya. Akan tetapi, ketika Ryan akan keluar pagar, Mira memanggil Ryan.


"Mas Ryan, mau kemana? Kok rapi begitu?" tanya Mira penasaran.


Mendengar suara Mira, Ryan menoleh ke belakang. "Malam Mira. Mas ada undangan makan malam dengan beberapa Investor."


Ryan berusaha untuk memberikan alasan yang masuk akal, supaya Mira tidak curiga dengan bepergiannya malam ini.


Penampilan Ryan yang seperti ini membuat Mira terpana. "Tampan sekali Mas Ryan!"


"Oh begitu. Mas, besok ada waktu tidak?" akhirnya Mira bertanya, karena dia ingin mengajak Ryan pergi.


"Seharusnya besok Aku di kos-kosan saja sih, kenapa Mira?"


"Besok temani aku belanja pakaian ke Mall bisa tidak?" tanya Mira dengan rasa was-was. Dia deg-degan juga, seandainya Ryan tidak bisa menerima ajakannya.


"Tentu saja bisa." Senyum Ryan.


Mira pun sangat senang dengan jawaban Ryan kali ini. "Oke Mas…"


Setelah selesai berbincang dengan Mira, Ryan segera pergi ke Halte Bus yang ada di samping gedung ST Tower.


Ryan sebelumnya sudah memberitahu Elly bahwa dia ingin di jemput di Halte saja. Dia tidak mau jika Mira curiga dengan keadaan mobil dan supir yang datang menjemputnya ke kos-kosan.


Saat tiba di Halte, Ryan tidak sengaja bertemu Ella yang sedang menunggu Bus.


"Lho Ella, Kamu baru pulang?"


Ella menoleh ke arah Ryan dengan ekspresi sebal. "Kamu kira gara-gara siapa Aku harus lembur begini!"


"Arrgh! Pekerjaan ini membunuhku! Mas Ryan ini tampan-tampan tapi kejam! Cepat carikan Aku teman, Aku tidak bisa bekerja sendirian terus!" cebik Ella dengan mengerucutkan bibirnya.


Ryan tersenyum mendengar keluhan Ella. "Maaf-maaf… Aku sudah minta tolong Divisi HRD untuk membuka rekrutmen. Jadi bersabarlah."


Untuk menenangkan Ella yang sedikit tantrum, Ryan mengusap-usap kepala Ella. Dan ini terbukti berhasil. Ella benar-benar menjadi tenang, akan tetapi wajah Ella justru jadi memerah.

__ADS_1


"Mas Ryan curang…" bisik Ella.


"Huh? Kamu ngomong apa? Aku tadi tidak mendengarnya. Suara lalu lalang kendaraan ini membuat suaramu tidak kedengaran."


"Ah tidak kok Mas, cuma bergumam sendiri." Ella bersyukur karena Ryan tidak mendengar perkataannya yang tadi.


Tak lama kemudian, sebuah mobil Rolls Royce Phantom berwarna hitam berhenti di depan Halte. Pintu kursi pengemudi perlahan terbuka, kemudian dari dalam mobil keluar seorang pria berambut cepak dengan setelan jas hitam dan sarung tangan hitam.


Hal ini membuat Ryan sangat terkejut. "Ini…"


"Bukankah orang ini adalah supir taksi gadungan yang telah membunuhku?!"


"Jadi dugaanku memang tidak salah, ada salah satu dari anggota keluarga Sudiarto yang mendalangi pembunuhanku!"


Di saat yang sama, mata Ella terbelalak melihat sosok pria yang keluar dari mobil tersebut. "Kakak?"


Mendengar ucapan Ella, Erold mengerutkan dahinya dan berkata, "Maaf, mungkin Nona salah orang. Saya tidak memiliki keluarga sama sekali."


"Ah maaf, habisnya Mas sangat mirip dengan Almarhum kakak saya, yang telah tewas 15 tahun yang lalu saat ada kebakaran hebat di panti asuhan."


"Jadi Ella ini anak yatim-piatu dan dibesarkan di panti asuhan? pantas saja dia berpenampilan seperti..."


"Mari Tuan Ryan."


Erold, supir yang datang untuk menjemput Ryan, membubarkan lamunan Ryan, dengan mempersilahkannya masuk ke dalam mobil. Dia juga sudah membuka pintu bagian penumpang, supaya ryan bisa langsung masuk tanpa membuka pintu sendiri.


"Ella, Kamu langsung pulang ya! Aku pergi dulu," pamit Ryan sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil.


Ella hanya mengangguk saja, tanpa menyahuti ucapannya Ryan. Dia masih memperhatikan keadaan supir tersebut, dengan mata menyipit.


"*Aku tidak bisa mengenalinya secara baik. Tapi sepertinya Aku tidak salah lihat, jika supir tadi adalah..."


"Eh, tapi Mas Ryan mau ke mana? Kenapa ada supir yang menjemputnya? Dan tadi itu adalah mobil dari para petinggi perusahaan ST ini, karena plat nomornya bagian belakang pasti ada huruf ST nya*."


Ella berpikir dan bertanya-tanya, tentang kepergian Ryan barusan.

__ADS_1


Tapi yang lebih mengusik pikirannya adalah keberadaan supir tersebut. Dia juga merasa penasaran dengan supir yang memiliki wajah mirip seperti kakaknya, saat berada di panti asuhan dulu.


Kakak yang dia maksud adalah kakak panti, bukan kakak kandung. Sebab Ella sudah hidup sebatang kara sejak kecil dan dibesarkan di panti asuhan, sehingga dia hanya memiliki saudara sesama anak-anak panti. Mereka saling berbagi dan peduli, menganggap yang kecil adalah adiknya dan yang besar adalah kakaknya.


*****


Sekitar 20 menit mobil yang membawa Ryan tiba di rumah besar keluarga Sudiarto.


Rumah yang bangunannya terlihat megah dan mewah, tapi tetap memperlihatkan budaya Indonesia dengan bagian depannya yang sama seperti aula besar terbuka. Mirip seperti pendopo keraton-keraton di daerah Jawa yang megah dan luas.


Apalagi ada 4 tiang besar dengan ukiran-ukiran unik atau soko, yang mencirikan bangunan khas Jawa. Yaitu Rumah Joglo yang mempunyai kerangka bangunan utama yang terdiri dari soko guru berupa empat tiang utama penyangga serta tumpang sari yang berupa susunan balok yang disangga soko guru.


Di bagian belakang aula terbuka ini, baru ada bangunan rumah besar. Yang kemungkinan besar menjadi kamar-kamar utama penghuni keluarga Sudiarto.


"Bagus sekali rumahnya. Mewah tapi tetap elegan dan jadi unik, karena perpaduan dari bangunan khas Jawa kuno dengan modern."


Ryan mengagumi bentuk dari bangunan rumah keluarga Sudiarto, yang tentunya berbanding terbalik dengan rumahnya di kampung.


Sebenarnya Ryan sendiri sedang merenovasi rumahnya di kampung, tapi itu dia pasrahkan pada ayahnya. Jadi apapun yang diinginkan ayahnya atas bentuk rumah tersebut, Ryan tidak ikut campur.


Dia hanya ingin membahagiakan ayahnya, karena belum bisa mengajak ayahnya ke Jakarta, supaya tinggal bersama dengannya.


Masih ada banyak PR yang ingin diselesaikan Ryan terlebih dahulu, sehingga dia belum bisa memutuskan untuk membeli rumah ataupun apartemen sebagai tempat tinggalnya.


"Silahkan Tuan."


Supir sudah membukakan pintu dan meminta Ryan untuk turun, karena saat ini mereka memang sudah berada tepat di depan aula rumah Sudiarto.


Di teras aula, Elly sudah berdiri dengan anggun menunggu kedatangan Ryan.


Elly tampak tersenyum senang melihat kedatangan Ryan, yang tentunya sudah ditunggu-tunggu. Sebab malam ini dia ingin menunjukkan kepada mamanya, bahwa Ryan adalah laki-laki yang pantas untuk menjadi suaminya. Dan bukan si Kevin.


"Selamat datang Mas Ryan..."


Dengan membungkukkan badannya sedikit, Elly menyambut kedatangan Ryan seperti para penerima tamu di hotel.

__ADS_1


Jangan lupakan senyum Elly yang terus mengembang sesuai dengan perasaan hatinya malam ini, sebab dia merasa sudah berhasil membawa Ryan untuk masuk ke dalam lingkungan keluarganya.


__ADS_2