Mengubah Takdir

Mengubah Takdir
Makan Malam


__ADS_3

Setibanya di dalam aula, Ryan melihat Heri, Leo, dan Reina duduk di kursi meja makan. Terlihat ada banyak makanan yang telah dihidangkan, namun sama sekali belum disentuh. Yang artinya, mereka semua telah menunggu Ryan, tamu yang datang ke rumah mereka malam ini.


"Ayo Mas, duduk di sebelah Elly saja." ucapnya sambil menunjuk sebuah kursi.


Saat Elly mengatakan hal ini, ekspresi Leo berubah. Dia jelas-jelas menunjukkan ekspresi tidak suka terhadap Ryan.


Sementara Reina dan Heri, mereka menunjukkan ekspresi senyum. Terlebih Heri, menunjukkan senyuman yang elegan, yang dapat membuat orang ingin sekali mengikutinya. Dan ini adalah keahliannya Heri, selalu bisa menghipnotis seseorang dengan senyumannya.


"Oh ya, Mas Ryan pasti belum pernah bertemu Kak Heri dan Kak Reina ya. Yang duduk di sebelah kanan Kak Leo ini Kak Heri," Elly memperkenalkan Ryan pada Heri.


Ryan kemudian berdiri dan menjabat tangan Heri. "Saya Ryan. Suatu kehormatan bisa mengenal Pak Heri."


"Saya sudah banyak mendengar sepak terjang Anda di kantor. Kreator game yang telah banyak diunduh jutaan orang. Saya merasa tenang menyerahkan adikku padamu."


Heri menyambut luluran tangan Ryan, dengan memberikan penilaiannya. Dia juga memuji Ryan atas keberhasilannya di kantor.


"Terima kasih Pak Heri, Saya masih perlu banyak belajar," ucap Ryan merendah.


Setelah berkenalan dengan Heri, Elly beralih untuk memperkenalkan Ryan dengan Reina. Tentu saja Reina pura-pura tidak mengenal Ryan dan melakukan perkenalan formal seperti apa yang dilakukan Heri tadi.


Tak lama kemudian, Ammy muncul dengan gaun malam merah. Pakaian ini, membuat wanita yang sudah berkepala 5 itu terlihat menawan.


"Maaf telah membuat kalian menunggu."


"Mama lama sekali, nanti makanannya keburu dingin." ucap Elly dengan nada bercanda.


"Maaf, tadi Mama ada telepon penting. Jadi akhirnya Mama malah terlambat. Ayo kita mulai makan supaya tidak keburu dingin."


Mendapat ijin dari Ammy, semua orang mulai mengambil makanan yang ada di meja.


Sambil menikmati makanannya, Ammy mulai menanyakan latar belakang Ryan. Ammy sama sekali tidak menaruh rasa curiga, ketika Ryan mengatakan bahwa dia berasal dari sebuah desa nelayan di Jawa Tengah.


Ammy benar-benar tidak sadar, bahwa Ryan adalah anak dari pria yang dicintainya.


Mendengar cerita Ryan, Leo berkali-kali mendengus seakan menghina Ryan, bahwa dia hanyalah orang miskin yang tidak seharusnya makan satu meja dengan orang-orang kaya seperti dirinya dan juga keluarganya ini.


Selama mengobrol, Ammy memperhatikan semua gerak gerik Ryan untuk melakukan penilaian awal.

__ADS_1


'Aku tidak merasakan adanya kebohongan dalam tutur katanya. Selain itu, dia sama sekali tidak canggung saat makan bersama kami. Seakan-akan dia sudah biasa ikut dalam acara makan malam resmi dengan orang-orang penting.' nilai Ammy dalam hati.


'Tapi semakin Aku memperhatikan wajahnya, dia sangat mirip dengan pria yang Aku cintai. Jika saja tidak Elly yang menyukainya, mungkin Aku juga mau memeliharanya.'


"Ryan, menurutmu Elly itu orang yang seperti apa?" tanya Ammy mencoba menggali sisi lain dari Ryan.


Menanggapi pertanyaan Ammy, Ryan menjawabnya dengan jujur. "Menurutku Nona Elly adalah seorang pekerja keras. Terkadang ceroboh, naif, tapi baik hati dan juga cantik."


Mendengar ucapan Ryan, Elly tersipu malu-malu. Dia seakan-akan sedang mendapatkan pujian dan rayuan dari orang yang dia cintai.


Melihat Elly seperti ini, Ammy pun melunak.


"Ryan, maukah Kamu menikah dengan Elly?" tanya Ammy.


Mendengar pertanyaan mamanya ini, jelas-jelas membuat Leo marah dan menggebrak Meja.


Brak


"Mama, apa maksudnya semua ini? Mama membuang Kevin, yang memiliki latar belakang keluarga kaya, demi anak nelayan miskin seperti ini?!"


"Leo! Jangan pernah membentak Mama!" Ammy memandang Leo dengan mata melotot.


Tiba-tiba saja, Heri ber_celetuk. "Leo, tahukah Kamu, bahwa orang yang Kamu hina miskin itu, telah berinvestasi sebanyak 100 Milliar ke Green-Jak beberapa hari yang lalu."


"Apa?! Itu tidak mungkin!" teriak Leo tidak percaya dengan perkataan kakaknya.


'Ba... bagaimana mungkin Heri bisa tahu? Apakah itu artinya dia menyelidiku?' Batin Ryan juga sangat terkejut dengan ucapan Heri yang belum pernah dia temui.


Makan malam ini menjadi tegang dengan kekacauan yang dilakukan oleh Leo, karena rasa tidak puasnya atas keputusan yang dibuat oleh mamanya sendiri.


"Kak Heri tidak perlu membual," ucap Leo sengit. Dia tidak percaya begitu saja dengan perkataan kakaknya.


Padahal Leo sangat tahu bagaimana watak Heri, yang tidak mungkin mengatakan sesuatu dengan asal. Kakaknya itu akan menganalisa menyelidiki dan mempertimbangkan sebelum mengeluarkannya sebagai penjelasan dari sebuah fakta.


"Apa itu benar?"


Sekarang Ammy ikut-ikutan bertanya, tentang kebenaran berita yang baru saja dia denger soal Ryan.

__ADS_1


Tadinya dia asal setuju saja dengan keinginan anaknya, Elly, melihat bagaimana potensi Ryan yang baik di kantor dan perilakunya dalam pergaulan.


Tapi setelah mendengar perkataan anaknya, Heri, tentu saja ini menambah nilai lebih untuk mempertimbangkan persetujuannya. Dia tidak akan pernah menyesal dengan keputusannya menyerahkan Elly pada Ryan, jika ternyata pemuda ini memang benar-benar kaya dan itu di luar dugaannya.


"Saya... tapi dari mana Pak Heri mendapatkan berita tersebut?"


Ryan mengajukan pertanyaan kepada Heri, karena investasinya di Green-Jak hanya diketahui oleh Laura Adela dan Shiro Yuki. Bahkan Reina tidak pernah mengetahuinya.


Heri tersenyum penuh misteri, tapi dengan cepat dia memberikan jawabannya. "Nadine Markarim adalah adik dari sahabatku, dan kebetulan kami bertemu di basment parkir, setelah dia melakukan pertemuan denganmu."


"Ya... kebetulan dia bercerita jika ada seorang pemuda yang mau menanam modal dalam usahanya."


Ryan tidak pernah menyangka, jika apapun yang dia lakukan ada dan dikelilingi oleh orang-orang dari keluarga Sudiarto.


"Aku tetap tidak percaya!"


Setelah mengucapkan hal tersebut, Leo beranjak dari tempat duduknya kemudian pergi begitu saja tanpa pamit.


"Leo!"


Leo mengabaikan panggilan mamanya, dan terus berjalan keluar dari aula. Ternyata dia tidak pergi ke dalam rumah, tapi menuju ke garasi mobil, kemudian masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan halaman rumah.


Dia seakan-akan ingin pergi menghilang dari hadapan Ryan, karena ternyata pemuda yang dia rendahkan memiliki kekayaan yang melebihi dirinya. Bahkan dia sendiri saat ini bisa dibilang miskin, sebab harus mencari uang yang sangat banyak untuk mengganti kerugian yang diderita ST atas ulahnya.


Dug dung


"Mama tidak adil!"


"Br3ngs3k! Sialan!"


Leo memukul-mukul setir mobil, meluapkan kekesalan yang ada di dalam hatinya.


Di aula rumah Sudiarto, Ammy meminta maaf pada Ryan, atas kekacauan yang terjadi di acara makan malam mereka ini.


"Ryan, maaf ya atas kekacauan yang dilakukan oleh anakku Leo."


"Dia sedang tidak stabil akhir-akhir ini."

__ADS_1


Reina melirik dan tersenyum dengan misterius ke arah Ryan, tanpa diketahui oleh siapapun.


__ADS_2