
Saat Ryan tiba di rumah sakit, seluruh anggota keluarga Sudiarto, termasuk Ammy, telah berada di sana.
Melihat kedatangan Ryan, Leo bergegas menghampiri Ryan dan langsung memukul wajahnya.
Buk
Ryan pun jatuh terduduk di lantai lorong rumah sakit. Tidak ada perlawanan sama sekali dari Ryan. Dia sendiri merasa sangat bersalah atas semua kejadian ini.
"Gara-gara Kamu, Elly meninggal! Kalau saja Elly tidak menikah denganmu, maka mantan pacarmu itu tidak akan menusuk Elly!"
"Semua ini salahmu!" teriak Leo lagi.
Melihat Leo akan memukul Ryan lagi, Ammy langsung berkata dengan nada tinggi. "Leo! Hentikan!"
"Bagaimanapun juga dia adalah adik iparmu!"
Mendengar suara Ammy, Leo mengurungkan niatnya untuk memukul Ryan. "Cih…"
Reina kemudian langsung membantu Ryan untuk bangkit. "Mas Ryan, Kamu tidak apa-apa mas?" tanya Reina khawatir dengan keadaan Riyan. Apalagi saat melihat pipi Ryan yang lebam, hati Reina menjadi perih.
"Aku tidak apa-apa kok, terima kasih Reina."
"En…" angguk Reina sambil membelai pipi Ryan yang lebam sambil meringis sendiri, seakan-akan dia ikut merasakan rasa sakitnya.
Tentu kejadian ini tidak luput dari mata Ammy. Dia merasa kedekatan Reina dan Ryan tidak normal.
Setelah kejadian itu, keluarga Sudiarto mempersiapkan pemakaman ekstra megah. Puluhan ribu pengunjung dari berbagai rekan bisnis dan keluarga datang.
Seperti apa kata pepatah, orang baik hidupnya pendek. Dan inilah kasus nyata dari pepatah itu. Elly dikenal sebagai pribadi yang baik, maka dari itu banyak orang yang menyukainya.
Banyak yang menyayangkan kematian Elly ini, dan berharap Mira dihukum seberat-beratnya. Walau semua orang berpikir bahwa ini semua salah Mira, namun berbeda dengan Ryan. Dia percaya bahwa kematian Elly kali ini bukan karena luka yang sebabkan Mira.
Untuk itu, sebelum pemakaman, Ryan meminta pihak rumah sakit untuk melakukan uji darah secara rahasia. Karena kematian Elly kali ini sangat mirip dengan kematian Ibunya dulu.
Dan ternyata benar, di dalam darah Elly terdapat senyawa Arsenik yang sangat tinggi. Hal inilah yang telah memicu terjadinya gagal jantung.
Melihat hasil uji lab ini, Ryan mengepalkan tangan. "Siapa? Siapa yang tega melakukan semua ini?!"
__ADS_1
Ryan curiga jika ada seseorang yang dengan sengaja membunuh Elly, dengan memanfaatkan situasi Mira yang akan menjadi tertuduh dengan kematian istrinya.
***
Pada malam yang sepi setelah usai pemakaman, Ryan duduk sendirian di ruang tamu keluarga Sudiro penuh duka. Dia merenungkan kematian istrinya, yang telah meninggalkan dirinya setelah acara pernikahan baru saja selesai.
Ryan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Elly, mengapa dia meninggal begitu tiba-tiba di rumah sakit, dan apakah ada orang lain yang terlibat dalam tragedi kematian istrinya tersebut. Padahal saat itu Renata yang menjaga Elly, sedangkan dirinya sendiri pergi menemui Mira di kantor polisi.
Sebagai seseorang yang sudah pernah hidup di masa depan dengan banyak pengalaman, Ryan tahu bahwa untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya ini dia harus melakukan penyelidikan dengan teliti dan hati-hati. Oleh karena itu, dia harus meminta bantuan ahlinya untuk mengumpulkan bukti-bukti dari beberapa saksi dan CCTV yang ada di beberapa titik rumah sakit.
Akhirnya Ryan menghubungi orang yang dia percaya untuk mendapatkan apa yang diperlukan, tapi ini dilakukannya secara diam-diam tanpa melibatkan pihak keluarga Sudiarto.
..."Aku butuh bantuan."...
..."Apa yang bisa Aku bantu Ryan?" ...
..."Aku tidak bisa mengatakannya melalui telepon. Kita harus bertemu secara langsung, dan sebaiknya Kamu yang menentukan saja dimana tempat yang tidak membuat orang curiga." ...
..."Baiklah. Aku akan menyampaikannya melalui pesan saja." ...
..."Ok, Aku tunggu secepatnya!" ...
Ryan mengedarkan pandangannya untuk memastikan, bahwa tidak ada orang yang mendengar berbicaranya yang tadi bersama seseorang melalui telepon.
Dia memastikan untuk menghukum orang yang sudah menjadi penyebab kematian Elly. Apalagi Elly sudah menjadi istrinya, yang secara otomatis keselamatan Elly adalah tanggung jawabnya.
"Aku akan bertanya pada Renata juga, sebab dia adalah orang terakhir bersama dengan Elly. Tapi dia juga tidak mungkin mencelakai sahabatnya sendiri."
Setelah berpikir kemungkinan-kemungkinan yang ada, Ryan membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Setelahnya dia juga berbalas pesan tersebut, memberikan instruksi pada orang suruhannya.
Ryan meminta orang tersebut untuk menyelidiki penyebab kematian istrinya yang tidak wajar, dengan mengecek rekaman CCTV yang tersedia di rumah sakit.
Dia ingin melihat gambar-gambar yang diambil dari pintu masuk utama, lorong-lorong yang ada di kamar rawat inap Elly juga.
Ryan ingin tahu dan melihat bahwa keberadaan perawat atau tim medis lainnya, yang bisa dengan mudah keluar masuk ke dalam ruangan Elly. Ryan mencurigai perawat atau tim medis, yang sudah bersekongkol dengan pembunuh tersebut.
"Semuanya harus jelas. Aku yakin jika Elly dibunuh oleh seseorang yang menginginkan kematiannya."
__ADS_1
***
Di kamarnya, Reina tersenyum-senyum sendiri membayangkan keberhasilannya, yang sudah menyingkirkan adiknya sendiri. Dia seakan-akan tidak merasa bersalah, atas semua yang sudah dia lakukan pada Elly.
"Aku sangat menyayangimu Elly. Tapi karena Kamu mencintai laki-laki yang Aku inginkan, Aku tidak rela. Daripada Aku harus menyakitimu selama hidup nanti, lebih baik Kamu Aku singkirkan secepatnya. Semua ini demi kebaikanmu sendiri."
Reina memang tidak menampik jika dia sangat menyayangi adiknya, Elly. Tapi rasa ingin memiliki Ryan membuatnya gelap mata.
Dia tidak memikirkan resiko atau apapun itu, dengan pindahkan yang sudah dilakukannya. Reina hanya ingin bisa mendapatkan dan memiliki Ryan seorang diri, tanpa harus berbagi dengan orang lain, termasuk dengan adik kandungnya sendiri.
Nasi sudah menjadi bubur. Dia hanya harus bisa menyimpan rahasia ini sendirian, supaya tidak terbongkar dan membuatnya harus mendekam di dalam penjara.
Tok tok tok
Reina terkejut disaat pintu kamarnya diketuk-ketuk dari luar. Dia mengerutkan keningnya, berpikir dan menebak-nebak siapa orang yang ingin menemuinya.
Tok tok tok
"Reina, Reina!"
"Kamu sudah tidur?"
Ternyata yang mengetuk pintu kamarnya adalah Ammy, yang ingin memastikan bahwa dirinya sudah tidur.
Clek
"Ada apa Ma? Ayo masuk Ma." Reina membuka pintu kamarnya, mempersilahkan Mamanya untuk masuk.
"Ren... hiks hiks hiks..."
"Mama pikir... Kamu sudah tidur, ternyata belum. Hiks hiks hiks..." Ammy memeluk Reina dengan menangis, teringat dengan Elly.
Dia tidak pernah menyangka jika anak bungsunya itu kini telah meninggalkan dirinya untuk selamanya, padahal seharusnya anaknya itu sedang berbahagia dengan pernikahan yang diinginkan Elly sendiri.
Reina hanya bisa membalas pelukan Mamanya, supaya mamanya ini tidak curiga dengan apa yang sudah dia perbuat.
"Sudah Ma, sabar. Mungkin sudah nasibnya Elly seperti ini."
__ADS_1
"Kamu tidak marah pada adikmu itu kan? karena dia justru menikah terlebih dahulu sebelum Kamu, Leo bahkan Heri."
Reina terkesiap mendengar pertanyaan mamanya, yang seakan-akan mencurigai dirinya sebagai penyebab kematian Elly.