
Sebelum Heri mendapatkan laporan dari sekretaris Kurniawan.
Sejak datang pagi tadi, aura Elly terlihat cerah dan sumringah. Wajahnya tampak selalu dihiasi dengan senyuman, meskipun dia belum memberitahukan undangan dari mamanya untuk Ryan Jamaludin.
Tapi dia sudah menghubungi sahabatnya, Renata, memberikan kabar gembira ini.
..."Iya Ren, Mama setuju. Bahkan mengundang Mas Ryan untuk makan malam di rumah." ...
..."Kapan itu?" ...
..."Nanti malam! Dan Aku sudah tidak sabar menunggu malam tiba." ...
..."Apa Kamu sudah memberitahu Ryan?" ...
..."Belum. Aku masih sangat sibuk, jadi belum sempat ke ruangannya." ...
..."Sekarang Elly! Kamu tidak mau rencana ini gagal bukan? Siapa tahu Ryan sudah ada janji yang lebih penting, sehingga mengelola undangan yang Kamu miliki." ...
..."Tapi..."...
..."Cepatlah! Asal Kamu tahu, jika sampai Kamu gagal satu kali, seterusnya Kamu juga akan gagal lho!" ...
Mendengar perkataan Renata yang seperti sebuah ancaman untuk usahanya, membuat Elly panik dan segera mengiyakan perkataan sahabatnya itu.
..."Baik-baik. Aku akan segera ke ruangan Mas Ryan terlebih dahulu." ...
..."Good girl! Kamu harus bisa menaklukkan mas Ryan Jamaludin tercinta. Hahaha..." ...
..."Ahhh, sial Kau! Dasar sahabat sengklek!" ...
..."Hahaha... jika Kamu sudah merasakannya, jangan lupa untuk berbagi denganku ya Baby Elly manis..." ...
..."Hihh! Jijik Aku mendengar suaramu yang aneh seperti itu!" ...
..."Hahaha... sesekali gila itu penting Elly, agar Kamu tahu rasanya gila itu seperti apa. Sebab Kamu juga tahu kan, bagaimana gilanya Kakak Kamu Reina?" ...
..."Sudah-sudah, jangan bicarakan tentang kakakku itu. Aku justru merasa kasihan padanya, sebab dia terus patuh pada mama atas perjodohan yang dia jalani." ...
..."Hai jangan lupakan Aku Elly! Aku juga mengalami nasib yang sama seperti kakakmu, Reina itu! Jadi bersyukurlah dan pertahankan Mas Riyan mu itu, jika Kamu tidak ingin hatinya jatuh ke tangan orang lain." ...
..."Eh, jangan sampai ya! Dan jangan pernah ngomong seperti itu Renata!" ...
..."Ya-ya... cepatlah sana, buat Mas Ryan bertepuk lutut dengan cintamu!" ...
..."Hihihi... pastinya." ...
__ADS_1
..."Selamat berjuang Girl!"...
..."Ok Ren, thanks ya atas sarannya." ...
Klik!
Dari percakapan telpon Elly dengan sahabatnya itulah, sekretaris Kurniawan mengetahui rencana Ammy, yang akan mengundang Ryan makan malam bersama di rumah keluarga Sudiarto.
Sekretaris Kurniawan memang tidak mengetahui hubungan yang sebenarnya antara Ryan dengan keluarga besar direktur utama ST.
Tapi Heri sudah mengetahuinya. Dia sudah menyelidiki siapa sebenarnya Ryan, yang ternyata masih ada ikatan darah dengan keluarganya sendiri, dari garis mamanya.
Heri yakin jika mamanya sendiri tidak mengetahui hal tersebut, apalagi dengan Elly. Sebab adiknya itu terlalu polos, dengan segala kemudahan yang diberikan oleh sang mama, dan perlindungan dari ketiga Kakak-kakaknya, termasuk dengan Heri juga.
*****
Tok tok tok
Ryan mendongakkan kepalanya, untuk melihat pintu ruangan yang diketuk dari luar. Dia sedang menghubungi Shiro Yuki, membalas tentang rencananya yang kemarin.
Setelah mengakhiri panggilan telpon dengan Shiro Yuki, Riyan mempersilahkan orang yang tadi mengetuk pintu ruangannya untuk masuk.
"Masuk."
Clek
"Selamat pagi Mas Ryan."
"Selamat pagi juga Nona Elly."
Mendengar jawaban sapaan Ryan, Elly mengembungkan pipinya. Dia kesal karena Ryan tidak mengindahkan larangannya untuk memanggil namanya dengan sebutan Nona.
"Mas Ryan lupa?"
Kening Ryan mengeryit heran, mendengar pernyataan yang diucapkan oleh Elly. Dia berpikir bahwa tidak ada yang salah dari ucapannya.
"Ihhh, Mas Ryan tidak peka deh! Selalu melupakan Aku," rengek Elly manja.
Tapi sedetik kemudian dia penutup mulutnya sendiri, karena bersikap seperti anak kecil yang sedang merengek-rengek di saat tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
"Ada perlu apa Nona Elly?"
Ryan kembali bertanya, mengingatkan tujuan Elly datang ke ruangannya sepagi ini. Biasanya Elly datang ke ruangannya jika ada hal penting atau urusan pribadi saja, sebab jika untuk urusan kantor, Elly akan menghubunginya lewat panggilan telepon dari ruangannya sendiri.
"Aku tidak dipersilahkan duduk?" Elly memegangi sandaran kursi yang ada dihadapannya Ryan.
__ADS_1
"Oh ya, silahkan duduk Nona."
Elly tersenyum dengan kikuk, kemudian duduk di kursi yang berada di depan Ryan, dengan terhalang meja kerja.
"Emh, Mas Ryan diundang..."
"Mama mengundang Mas Ryan untuk makan malam di rumah."
Elly sedikit gugup saat menyampaikan undangan makan malam untuk Ryan di rumahnya, atas permintaan dari mamanya.
"Nyonya Ammy mengundangku makan malam di rumah? ada apa ya?" Ryan bertanya, karena ini adalah sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Tidak mungkin direktur utama perusahaan ST mengundangnya makan malam ke rumah, jika tidak ada sesuatu yang sangat penting dan pribadi. Karena jika untuk urusan perusahaan ST, bisa dipastikan jika undangan makan malam itu akan ada di restoran.
Ryan segera berpikir dengan cepat, takut jika rencana yang sudah disusun bocor dan diketahui oleh Ammy.
"Tidak ada apa-apa Mas. Mama ingin mengenal Mas Ryan lebih dekat secara pribadi, bukan sebagai pegawai ST."
Mendengar jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh Elly, Ryan akhirnya bernafas lega. Sebab tadi dia sudah berpikir kemana-mana, khawatir jika rencananya bersama dengan Laura dan Shiro Yuki terbongkar.
"Bagaimana Mas Ryan?" desak Elly, meminta pada Ryan supaya segera menjawab undangan tersebut.
Setelah berpikir sejenak, Ryan akhirnya memutuskan untuk menerima undangan makan malam dari Ammy.
"Apa ini ada kaitannya dengan permintaan Reina barusan ya?" tanya Ryan dalam hati.
Sebelum Elly datang, Reina sudah datang menemuinya terlebih dahulu. Memberitahu bahwa Leo setuju dengan tawaran gadai saham atas nama Shiro Yuki. Tapi Reina juga memintanya untuk menikah dengan Elly.
Ryan sebenarnya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Reina. Tapi setelah Elly datang dan menyampaikan maksudnya, Ryan mulai memahami kemana arah tujuan dari permintaan Reina tadi.
Mungkin saja karena Reina sangat menyayangi adiknya, sehingga dia tidak mau jika Elly mengalami nasib yang sama seperti dirinya, yaitu dijodohkan dengan orang lain demi eksistensi perusahaan ST.
"Ternyata Reina memiliki sisi baik sebagai seorang saudara bagi Elly. Reina tidak mau jika Elly yang polos mengalami tekanan seperti yang dirasakannya."
Sekarang Ryan mulai memahami jalan pikiran Reina, meskipun sebenarnya dia juga belum bisa memastikan niatan Ammy, dengan undangan makan malam ini.
"Bagaimana Mas? Kok malah melamun."
Ryan tersadar dari lamunannya, saat Elly kembali bertanya tentang kesanggupannya.
"Baiklah. Aku akan datang ke rumah Sudiarto. Tapi... kira-kira Aku harus datang jam berapa?" Ryan bertanya tentang waktu yang tepat untuk kedatangannya.
Dia tidak mau jika terlalu awal atau kemalaman sewaktu datang ke rumah Elly.
"Ugh... kira-kira Mas bisa bisa siap jam berapa? biar nanti supir yang menjemput Mas Ryan di kos." Elly justru balik bertanya, sebab dia akan mempersiapkan supir untuk menjemput Ryan di kos-kosan.
__ADS_1
Ryan terdiam. Dia tidak segera memberikan jawaban, sebab dia juga sedang memikirkan perasaan Mira, seandainya dia pergi dengan dijemput supir dari keluarga Sudiarto.