
Setelah insiden penusukan itu, Elly dilarikan ke rumah sakit. Sementara Mira, dia ditangkap karena telah melakukan percobaan pembunuhan.
Karena kondisi Mira yang aneh, pihak kepolisian memutuskan untuk melakukan Uji Urin. Ternyata, hasilnya Mira positif menggunakan narkoba.
Di bawah pengaruh narkoba, Mira yang depresi dan belum bisa Move On dari Ryan, melakukan tindakan nekat ini.
Ryan benar-benar terpukul atas kejadian ini. Dia tidak pernah menyangka, bahwa Mira akan melakukan semua ini demi dirinya. Ryan benar-benar merasa bersalah telah menyakiti Mira dan juga Elly.
Walau begitu, Ryan sudah tidak bisa mundur lagi. Sekarang, yang bisa dia lakukan hanyalah tetap di samping Elly yang masih belum sadarkan diri di rumah sakit.
Apalagi, secara dokumen, Ryan dan Elly sudah dinyatakan resmi dan sah sebagai suami istri. Jadi sudah sewajarnya, sebagai suaminya Elly, dia menjaga istrinya sendiri.
Menurut dokter, tusukan Mira tidak mengenai titik vital. Akan tetapi, kondisi Elly yang sejak kecil memang lemah, membuat lukanya tersebut menjadi berbahaya.
Melihat Elly yang sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit, Ryan menggenggam erat tangan Elly. "Maafkan Aku, Elly…"
Selama 6 bulan ini, Ryan lambat laun mulai menerima perasaan Elly. Maka dari itu, perasaan kalutnya kali ini benar-benar nyata. Dia sudah jatuh cinta pada kebaikan dan kepolosan Elly.
Dari celah pintu kamar rumah sakit, Reina melihat Ryan yang penuh kekhawatiran dan juga terpukul. Hal ini malah membuat Reina cemburu. 'Mas Ryan adalah milikku! Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun memilikinya, walau itu adik kandungku sendiri!'
Setelah itu, Reina pergi secara diam-diam dengan suasan hati yang buruk.
Selang satu jam kemudian, terdengar suara ketuka pintu.
Tok Tok Tok
"Masuk…"
Dari balik pintu, muncul Renata, teman baik Elly. "Ryan, bagaimana keadaan Elly?"
"Kata Dokter kondisi Elly tidak begitu baik. Walau begitu, Dokter memperkirakan Elly akan sadarkan diri besok." jelas Ryan dengan mata merahnya.
"Syukurlah kalau begitu. Aku sangat mengkhawatirkan Elly." ucap Renata dengan wajah yang dipenuhi kesedihan.
__ADS_1
"Oh ya Ryan, biarkan Aku yang menjaga Elly dulu, kamu bisa istirahat dulu sana. Aku tahu Kamu sama sekali belum makan sejak pagi tadi."
Ryan lalu melihat ke arah jam, yang ternyata telah menunjukkan pukul 6 sore. "Terima kasih Renata, kalau begitu Aku keluar dulu mencari makan."
"Oke… Aku hanya bisa menjaga Elly sampai jam 10 aja, jadi kalau bisa kembalilah sebelum jam 10."
"Oke…"
Setelah itu Ryan segera keluar dari ruang rawat inap rumah sakit, tapi bukan untuk membeli makan, melainkan pergi ke kantor polisi tempat Mira di penjara.
Setibanya di penjara, Ryan diberi waktu 30 menit untuk mengobrol dengan Mira.
"Mira…"
"Maafkan Aku Mas, begitu Aku mendengar Mas Ryan akan menikah hari ini, Aku jadi tidak bisa berpikir jernih." ucap Mira dengan penuh penyesalan.
Mendengar hal ini, Ryan menjadi curiga. "Bagaimana Kamu tahu kalau Aku akan menikah hari ini?"
"Seorang pria berpakaian serba hitam mendatangiku. Dia mengajakku mengobrol di kafe dan bercerita bahwa Mas Ryan akan menikah hari ini."
"Dan ketika pria itu menyarankan Aku untuk membunuh Elly, Aku menurutinya begitu saja tanpa bisa berpikir jernih."
"Akhirnya, secara tidak sadar, Aku justru menusuk Elly."
Mendengar pengakuan Mira, Ryan semakin yakin bahwa ada seseorang yang dengan sengaja mempengaruhi Mira untuk membunuh Elly.
Dan kemungkinan, kopi yang diminum Mira telah dicampur narkoba, sehingga Mira tidak dapat berpikir jernih dan melakukan saran dari pria yang ditemuinya.
'Tapi, siapa orang yang merencanakan semua ini?!' batin Ryan penasaran.
***
Renata yang sedang menjaga Elly, tidak sengaja tertidur. Jadi dia tidak mengetahui situasi dan kondisi di kamar Elly.
__ADS_1
Dari luar kamar, Reina mengendap-endap berjalan menuju samping Elly. Dia kemudian mengeluarkan sebuah ampul berserta alat suntik nya.
Tanpa ada keraguan, Reina menyedot cairan dalam ampul tersebut dan menyutikkannya ke dalam selang infus Elly. Setelah yakin cairan tersebut masuk ke dalam pembuluh darah Elly, Reina bergegas kabur dari tempat itu.
Tak lama kemudian, suara alat pengukur detak jantung yang terhubung dengan Elly berbunyi sangat keras. Terlihat, grafik detak jantung Elly sangat tidak stabil.
Renata yang tertidur pun langsung bangun. Dengan cepat, dia menekan bel darurat yang tersambung ke meja perawat.
Dengan cepat, para dokter memberikan obat-obatan dan nutrisi melalui infus untuk membantu memperkuat tubuh Elly. Namun, kondisi Elly terus memburuk dan dia mengalami gagal jantung.
Gagal jantung adalah kondisi di mana jantung tidak mampu memompa cukup darah ke seluruh tubuh. Ini adalah kondisi serius yang dapat mengancam nyawa seseorang.
Para dokter segera memasang alat bantu pernapasan dan oksigen untuk membantu Elly bernapas. Selain itu, mereka juga memberikan obat untuk membantu jantung Elly supaya bisa berdetak dengan normal. Selain obat-obatan, para dokter juga menggunakan teknologi seperti defibrillator dan mesin ECMO (Extracorporeal Membrane Oxygenation) untuk membantu jantung Elly bekerja lebih baik.
Defibrillator digunakan untuk membantu jantung berdetak secara normal. Ini adalah alat yang memberikan serangkaian arus listrik ke jantung untuk membantu mengembalikan irama jantung yang normal. Sementara itu, mesin ECMO digunakan untuk membantu menyediakan oksigen yang cukup ke seluruh tubuh ketika jantung Elly tidak mampu melakukannya dengan sendirinya.
Para dokter juga melakukan pemeriksaan dan tes secara teratur untuk memantau kondisi Elly. Mereka menggunakan alat-alat seperti EKG (Elektrokardiogram) dan alat monitor jantung untuk memantau irama jantung dan tekanan darahnya.
Namun, meskipun semua upaya para dokter sudah dilakukan, kondisi Elly terus memburuk dan akhirnya, dia meninggal. Kematian Elly membuat Renata yang sejak tadi berdiri di dalam kamar menangis histeris. Dia merasa bersalah karena tidak menjaga sahabatnya dengan baik.
"Huhuhu... Elly, maafkan Aku Elly..."
Renata dengan segera menghubungi nomor ponsel Ryan dan juga Reina, karena dia memang memiliki nomor ponsel mereka berdua dari Elly sendiri. Dia memberikan kabar tentang keadaan Elly yang sudah tidak dapat ditolong.
Kabar duka ini tentu saja membuat Ryan yang masih berada di kantor polisi, rasa sangat terpukul. Mira yang ikut mendengar pembicaraan Ryan bersama seseorang di seberang sana, ikut syok berat.
"Mas..."
Mira tidak bisa melanjutkan kalimatnya, ketakutan dengan semua tuntutan yang akan diterima nanti. Apalagi sekarang Elly benar-benar meninggal, dan secara tidak langsung dialah yang menyebabkan Elly meninggal dunia.
"Maaf Mira, Aku harus segera kembali ke rumah sakit."
Ryan pamit tanpa menghiraukan keadaan Mira yang ketakutan, sedih dan penuh penyesalan.
__ADS_1
"Apa yang sudah Aku lakukan?" Mira bertanya pada dirinya sendiri dengan penuh penyesalan, meskipun semuanya sudah terlambat.