Mengubah Takdir

Mengubah Takdir
Suasana Hati


__ADS_3

"Mas Ryan!"


Ryan menoleh ke arah Mira, yang memanggilnya dari seberang halte.


"Mira."


Ternyata Mira sedang membeli nasi goreng, yang memang banyak dijajakan di pinggir jalan raya area sekitar rumahnya, yang tidak jauh dari ST tower.


Selain itu, ada banyak bangunan rumah kos-kosan yang tentunya memiliki banyak penghuni, yang menjadi pekerja di perusahaan ST dan sekitarnya.


"Kamu beli apa?"


"Beli nasi goreng Mas. Mas Ryan sendiri dari mana?" tanya Mira balik, setelah menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ryan.


Ibunya Mira memang jarang menyediakan makanan di rumahnya, padahal hanya ada dirinya sendiri dan Mira di rumah. Tapi kesibukannya di luar rumah justru membuatnya tidak sempat untuk memperhatikan anaknya, yang untungnya sudah besar dan bisa mengurus dirinya sendiri. Apalagi Mira termasuk gadis yang tidak suka menuntut, sehingga ibunya juga tidak merasa bersalah.


Mira juga tidak keberatan jika harus makan makanan seperti nasi goreng dan yang lainnya, sebab dia memahami kondisi ibunya.


"Aku ada acara makan malam dengan Pak Heri, yang tadi antar Aku."


Ryan gak bohong ya gaesss, kan memang tadi makan malam bersama dengan Heri juga. Hehehe...


"Oh..."


Mulut Mira hanya membola menanggapi jawaban yang diberikan oleh Ryan padanya. Tadi dia memang sempat mengetahui mobil yang menurunkan Ryan.


"Pak Heri itu siapa Mas? mobilnya bagus sekali," tanya Mira penasaran.


Sepertinya Mira mengagumi mobil milik Heri, yang memiliki harga selangit. Tapi Ryan memakluminya, sebab mobil tersebut memang berharga fantastis untuk ukuran orang biasa.


"Dia salah satu petinggi ST."


Mira mengangguk-anggukkan kepalanya, dengan wajah yang kagum pada Ryan. Dia merasa bangga dengan Ryan, yang bisa dekat dengan salah satu orang yang penting di perusahaan sebesar ST.


"Kamu suka mobil seperti tadi?" tanya Ryan memancing Mira.


"Suka dong Mas. Munafik jika bilang gak suka. Mobilnya bagus gitu kok, pasti sangat mahal kan?" sahut Mira dengan bibir mengerucut.


Dia berpikir bahwa Ryan tentang mengolok-ngolok, karena dia tidak mungkin bisa memiliki mobil sebagus miliknya pak Heri. Yang merupakan salah satu petinggi ST.


"Besok Kamu juga bisa punya mobil seperti itu. Mungkin yang lebih bagus juga bisa kok," kata Ryan enteng.


Mira tersenyum geli, mendengar perkataan Ryan yang sepertinya bercanda.

__ADS_1


"Hehehe... Mas Ryan bisa saja! Mana mungkin Mira bisa punya mobil sebagus itu Mas, Mira gak punya uang miliar-milyaran yang bisa buat bayar." Mira menggeleng sambil tertawa kecil.


'Aku akan mengabulkan keinginanmu Mira, tunggu saja waktunya nanti.' Ryan berkata dalam hati, dengan keinginannya mewujudkan impian Mira.


"Mas Ryan bener nggak mau pesen?"


"Gak, Mas sudah kenyang."


Mira tersenyum saja, karena Ryan tidak mau menerima tawarannya untuk dibelikan nasi goreng. Mungkin Ryan sudah kenyang, karena baru saja pulang dari acara makan malamnya dengan para petinggi ST.


Tak lama kemudian, nasi goreng pesanan Mira selesai. Mereka berdua berjalan bersama-sama pulang ke rumah, berjalan bersisian dalam diam.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, senyum terus tersungging di bibir Mira, bersyukur karena bertemu dengan Ryan meskipun hanya dalam keadaan seperti ini. Tapi itu sudah membuat suasana hatinya membaik, membuat moodnya naik dan bisa jadi tidurnya juga semakin nyenyak.


"Sepertinya Kamu sedang senang Mira, ada apa?" tanya Ryan.


"Sudah lama kita gak jalan-jalan Mas. Terakhir Mas mau ajak Mira jalan, tapi gak jadi." Mira mengingatkan Ryan dengan ajakannya yang batal karena harus menemani Reina.


Ryan mengangguk, membalikkan badan untuk menghadap Mira. "Mau ke mana jalan-jalannya?"


Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Ryan secara tiba-tiba, membuat Mira tidak bisa memberikan jawaban dengan cepat. Dia bingung harus menjawab apa, karena tadi dia tidak bermaksud untuk menagih.


"Emhhh..."


'Ditemani Mas Ryan? yang benar saja. Saat dia yang mengajakku saja batal, ini malah minta Aku yang menentukan. Seperti ini saja sudah membuatku merasa nyaman, daripada ada rencana tapi batal lagi.'


"Nggak usah Mas. Aku gak mau ke mana-mana kok Mas."


Ryan mengernyit curiga, pura-pura tidak mengerti maksud Mira. Dia berpikir jika Mira sedang merajuk, karena dia pernah membatalkan janjinya sendiri dan belum menggantinya dengan mengajaknya lagi.


"Tidak apa-apa Mira, Kamu bilang saja mau ke mana, nanti Mas akan berusaha mengosongkan jadwal untuk menemanimu."


"Kalau cuma ke pasar Tanah Abang, bisa?" tanya Mira ragu.


"Mau beli apa ke Tanah Abang?"


Sekarang Mira yang berpikir untuk memberikan jawaban, sebab tadi dia hanya jawab asal.


"Emhhh... jika gak bisa gak apa-apa kok, Mira cuma mau lihat-lihat saja. Gak ada yang mau di beli juga." Akhirnya Mira menyerah, karena tidak mungkin Ryan mau ikut bersama dengannya ke pasar Tanah Abang.


"Bisa, kapan?"


Mira melihat dengan mata menyipit, memastikan kebenaran tentang kesediaan Ryan kali ini.

__ADS_1


Mira akhirnya tersenyum simpul, menanggapi perkataan Ryan yang bersedia mengantarkan dirinya ke pasar Tanah Abang. Padahal dia sendiri tidak tahu, apa yang ingin di beli di sana nanti.


***


Di dekat pelabuhan Tanjung Priok.


Heri memukuli salah satu anak buahnya, yang ketahuan sedang melakukan kesalahan untuk transaksinya kali ini.


Bug bag bug bag


"Bodoh! Begitu saja tidak becus!"


"Apa otak kalian ini kosong semua, ha?!"


Heri yang sedang kesal semakin kesal, karena kesalahan yang dilakukan oleh anak buahnya tersebut. Padahal sebenarnya kesalahan itu tidaklah fatal, karena salah memberikan ukuran pada paket yang dikirim.


Paket tersebut seharusnya berisi 50 kg yang dipisah menjadi 5 kotak paket, tapi anak buahnya justru membuat 7 paket dengan isian yang tidak seharusnya.


"Rugi besar jika ini terjadi terus-menerus. Apa Kamu mau mengganti kerugiannya!"


"Cepat bereskan di jalan, sebelum sampai ke tujuan!" perintah Heri pada yang lainnya. Sedangkan yang sudah dihajar dan babak belur, masih tertelungkup di tanah tanpa ada yang berani menolong.


Heri dengan segera berjalan menuju ke mobilnya, mengikuti anak buahnya yang pergi untuk membereskan paket yang salah.


Dugh dugh dugh


"Ck! Benar-benar tidak bisa diandalkan!"


Tangan Heri memukul setir mobil lagi, melampiaskan kekesalannya yang belum hilang. Dia benar-benar merasa kesal malam ini, dengan permasalahannya yang semakin kompleks.


***


Di sebuah club, Leo sudah bertemu dengan Kevin. Membicarakan tentang keadaan di rumahnya, dengan makan malam yang ditinggalkan tadi.


"Semua ini gara-gara Kamu Vin! Si br3ngs3k Ryan akhirnya dapat restu dari mama."


Leo menyalahkan Kevin, yang membuat mamanya justru menjadi bersimpati dengan Ryan Jamaludin. Pemuda yang dianggap remeh olehnya, tapi pada kenyataannya justru jauh lebih kaya dibandingkan dengan dirinya sendiri.


"Aku butuh bantuan."


"Heh, bantuan apa? Masa Leo yang tidak pernah minta bantuan mau minta bantuan padaku, apa tidak salah dengar?"


Hemmm... kira-kira apa yang diminta Leo pada Kevin ya?

__ADS_1


__ADS_2