
"Reina punya teman pengusaha asal Amerika. Dia tertarik untuk melakukan penetrasi pasar di Indonesia."
"Dia tertarik membeli saham ST untuk memudahkan mereka melakukan ekspansi di Indonesia. Reina pernah ditawari bahwa mereka hanya butuh Saham tersebut selama 10 tahun saja, setelah itu Reina bisa buyback kembali."
"Tapi Reina menolak, karena Reina tidak butuh uang segitu banyak."
"Skema ini mirip dengan pegadaian kan. Jadi kita seperti menjaminkan saham kita selama 10 tahun, lalu bisa dibeli kembali." jelas Reina.
Leo lalu berpikir sembari menyerap penjelasan Reina. "Hmm, 10 tahun ya. Itu tidaklah lama, Aku yakin saat itu Aku bakal bisa membelinya lagi."
Setelah beberapa menit merenung, Leo kembali bertanya. "Kalau boleh tahu, siapa nama pengusaha ini?"
Reina berpura-pura sedang mencoba mengingat-ingat nama pengusaha fiktif tersebut. "Emmm… kalau tidak salah, namanya Shiro Yuki."
"Shiro Yuki? Aku belum pernah mendengarnya. Tapi, nama keluarga Yuki ini, apakah ada hubungannya dengan Nagato Group milik Yuki Nagato, perusahaan nomor 10 di dunia itu?!" Leo sangat bersemangat begitu sadar identitas Shiro Yuki.
"Sepertinya begitu. Mungkin masih satu keluarga." jawab Reina dengan entengnya seakan tidak peduli dengan identitas Shiro Yuki.
Melihat reaksi Reina, Leo memutar matanya. "Jangan anggap enteng mereka, Reina. Mereka sangat kuat, bahkan lebih kuat ratusan kali lipat dari perusahaan kita."
"Ya ya ya, Aku tidak peduli semua itu Kak Leo. Aku cuma mau hidup bebas sebelum memasuki penjara kehidupan."
Merasakan adanya kesedihan dalam ucapan Reina, Leo tidak bisa berkata-kata. Dia tahu bahwa Reina telah dijodohkan sejak kecil. Hal inilah yang membuatnya menjadi seperti wanita malam.
Leo pun kemudian langsung mengalihkan pembicaraan, kembali ke permasalahan awal.
"Bisakah Kamu menghubungi Shiro Yuki untukku?"
"Oke Kak, nanti akan Reina kabari lagi." Setelah itu, Reina keluar dari ruangan Leo dan segera pergi ke ruangan Ryan.
Dan seperti biasa, Reina masuk tanpa mengetuk pintu.
"Pagi, Mas…"
"Permainan Mas tadi malam benar-benar hebat. Aku tidak menyangka, jika Mas lebih buas ketika sadar daripada saat mabuk." ucap Reina dengan nada manja kegatelan.
Ryan yang sedang menunggu kabar Laura cukup terkejut dengan kedatangan Reina. Apalagi, Reina sama sekali tidak menyensor ucapannya.
Ryan menekan keningnya berkali-kali. Dia merasa semua rencananya sudah melenceng jauh ketika dia bertemu dengan Reina.
"Ugh, bisakah Kamu tidak membicarakan hal itu di kantor? Akan sangat gawat kalau ada orang lain yang tahu."
"Hehehe, siap Mas." Reina tertawa sambil menutupi mulut dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"Jadi, ada apa kemari?"
"Reina sudah memancing sang singa masuk ke lubang buaya. Mas tinggal menghubungi teman mas untuk melangkah ke tahap selanjutnya."
"Terima kasih Reina, Aku tidak menyangka ini akan berjalan mulus. Padahal, orang waras manapun akan curiga dengan tawaran seperti itu. Sepertinya desakan Laura benar-benar berhasil."
Reina tiba-tiba mendekat dan berbisik ke telinga Ryan. "Bagaimana kalau Mas memberi Reina hadiah?"
Mendengar permintaan Reina, Ryan menduga Reina akan memintanya kembali menemaninya tidur seperti semalam.
"Haah, bisakah Kamu memberiku waktu untuk bebas? Aku tidak enak dengan Ibu kos jika Aku selalu pulang pagi."
"Ihh, Mas mesum ah…" Reina mencubit lengan Ryan dengan lembut. "Reina tidak ada pikiran untuk meminta itu."
Ryan terkejut dengan hal ini. "Sepertinya Aku tidak bisa berpikir jernih ketika berada di dekatnya Reina."
"Jadi, kamu mau hadiah apa?"
"Aku ingin mas menikahi Elly?"
"Hah?" Ryan sangat terkejut dengan permintaan Reina.
***
"Hmm, pantas saja Laura meributkan hal ini. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika Aku ada pada posisi Laura."
"Aku jadi penasaran, apa yang akan Kamu lakukan, adikku tersayang?"
"Bagaimanapun juga, akulah yang akan mewarisi ST. Jangan jadi pungguk merindukan bulan, wahai adikku." gumam Heri sambil tersenyum menyeringai.
Penampilan Heri ini benar-benar berbeda dengan yang biasa dia tunjukkan sehari-harinya. Bahkan Ammy tidak tahu sisi lain dari anaknya Heri.
Semua menganggap bahwa Heri adalah sosok pria sempurna yang sangat cocok sebagai penerus tahta Direktur Utama ST.
Akan tetapi, tidak ada yang tahu bahwa itu semua hanyalah topeng yang sengaja di bangunnya sejak kecil sebagai pencitraan semata.
Tok tok tok
Begitu mendengar suara ketukan pintu, ekspresi wajah Heri kembali lagi menjadi hangat dan bermartabat. "Masuk!"
Dari balik pintu, Kurniawan yang merupakan sekretaris pribadi Ammy masuk.
"Tuan Muda, Saya ingin melapor."
__ADS_1
"Nyonya Ammy bermaksud mengundang Ryan Jamaludin untuk makan malam."
"Makan malam?" Heri penasaran dengan informasi yang diberikan Kurniawan.
"Itu benar, Tuan Muda. Nyonya baru saja meminta pada Saya untuk mengosongkan jadwal malam ini, demi makan malam dengan Ryan Jamaludin di rumah."
"Hmm… baik lah, terima kasih atas informasinya."
Setelah itu, Kurniawan membungkukkan badannya di depan Heri. Dia pamit dan segera keluar dari ruangan Heri.
Kurniawan adalah mata-mata Heri untuk mengawasi mamanya. Pada awalnya, Kurniawan adalah orang yang sangat setia pada Ammy.
Namun, semenjak Heri menjadi direktur produksi di ST, Kurniawan terpesona oleh karisma yang dimiliki Heri. Akhirnya, Kurniawan bersumpah setia untuk melayani Tuan Muda-nya itu.
"Hmm, Aku tidak pernah menyangka jika Mama akan mengundang sepupuku untuk makan malam. Mungkinkah Mama akan menjodohkannya dengan Elly?"
"Setahuku, akhir-akhir ini Elly sedang dimabuk cinta dengan Ryan. Bahkan kemarin Elly meminta Mama untuk membatalkan perjodohannya bersama dengan Kevin."
"Kalau memang benar seperti ini, Aku akan berusaha mendukungnya. Ryan adalah pemuda yang memiliki talenta dalam bidang investasi. Aku bisa memanfaatkannya kedepannya nanti, memanfaatkannya setelah menyingkirkan Leo dari kursinya."
Saat Heri sedang berpikir, tiba-tiba ponselnya yang ada di atas meja bergetar.
Dreeet dreeet dreeet
Melihat identitas penelpon nya, Heri segera mengangkat panggilan tersebut.
..."Halo…"...
..."Bos, barang pesanan Bos akan tiba di pelabuhan tengah malam ini."...
..."Apakah Kamu sudah memastikan informasi ini tidak akan bocor?"...
..."Tenang saja Bos, Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk menjaga wilayah pelabuhan hingga 3 kilometer."...
..."Bagus. Ingat, jangan lengah. Aku tidak mau sampai ada Polisi yang melakukan penggerebekan dan menghancurkan transaksi penting ini."...
..."Siap Bos!"...
Klik!
Setelah menutup panggilan telponnya, Heri segera mengambil jasnya yang tersampir pada sandaran kursi, kemudian pergi meninggalkan ruangannya.
Tidak ada yang pernah tahu, apa yang dikerjakan oleh Heri di luar sana. Karena pada kenyataannya, Heri menambah kekuatan dan pengaruhnya dengan berbisnis kotor.
__ADS_1
Dia melakukan transaksi bisnis ilegal yang tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan ST. Dan ini merupakan pekerjaan yang tidak pernah diketahui oleh siapapun, termasuk Leo. Adiknya yang terlihat jelas br3ngs3k jika dibandingkan dengan dirinya, di mata orang-orang yang mengenal mereka sebagai dua pangeran dari keluarga Sudiarto.