
Keesokan harinya, Ayna benar-benar pergi ke ruangan direktur utama yang berada di lantai teratas gedung Brillant Avenir Enterprise. Mulai pagi itu, dia akan menjadi sekretaris sementara direktur utama karena sekretaris sebelumnya sudah mengundurkan diri.
Ayna menarik nafas dalam-dalam, mempersiapkan dirinya sebelum mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan yang dihuni oleh seorang pria dengan dokumen menutupi seluruh wajahnya.
Meski wajahnya tidak tertutup dokumen, Ayna bisa melihat dengan jelas aura yang terpancar dari pria itu hingga dia memiliki keyakinan bahwa sang atasan adalah orang yang tampan dan berwibawa.
Tidak membuang waktu lebih lama lagi, Ayna pun langsung memperkenalkan dirinya dengan penuh semangat. “Senang bertemu denganmu … saya Ayna, pegawai magang yang ditugaskan sementara untuk menjadi—”
“Kau?!” Ayna berhenti bicara dan sangat terkejut hingga mulutnya ternganga lebar saat melihat wajah yang tertutup dokumen itu adalah Adam—pria yang membuatnya memiliki banyak pikiran.
Sebelumnya, Ayna berharap kehidupan barunya akan dimulai setelah menjadi sekretaris direktur utama dan tidak perlu bertemu lagi dengan Jaena atau pun Darren.
Namun, dia justru bertemu lagi dengan Adam, pria yang juga tidak ingin dia temui lagi di sisa umurnya.
Sialnya, pria itu bahkan ternyata direktur utama di Brillant Avenir Enterprise.
Seketika, Ayna membungkam mulutnya yang ternganga lebar dan dalam sekejap itu juga, ingatan-ingatan tentang dirinya dengan Adam mulai berkelebat di kepalanya seperti kaset rusak.
[Kau mau tidur denganku?]
[Aku akan tidur denganmu.]
Itu adalah ingatan-ingatan yang sempat Ayna lupakan, dia pun memejamkan mata dan berpikir ingin mencari sebuah lubang untuknya bersembunyi dari Adam.
“Senang bertemu denganmu,” balas Adam sembari meletakkan data diri Ayna yang baru saja dia baca ke atas meja, lalu kembali berkata, “Kurasa, kita pernah bertemu sebelumnya.”
Ayna pelan-pelan menurunkan tangan dari mulutnya dan mencoba bersikap senormal mungkin untuk menghindari kecurigaan Adam. “Hmmm, saya tidak yakin dengan itu,” ujarnya menggelengkan kepala dan tersenyum canggung.
Menurut Ayna, akan lebih baik jika Adam benar-benar melupakan kejadian malam itu dan juga segalanya tentang dirinya.
“Apa kau sering mengambil jalur 6 di kereta bawah tanah?” Adam kembali bertanya dengan alis yang terangkat sebelah.
Bagaimanapun, dia masih tidak senang atas kejadian di MRT saat Ayna menuduhnya sebagai pria mesum di depan banyak orang.
Dengan cepat Ayna menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Tidak, saya sering menaiki bus atau mengendarai sepeda."
Mendengar itu, Adam tersenyum miring. "Apa kau pergi ke hotel?"
__ADS_1
Lagi-lagi, Ayna menggeleng cepat. “Tidak, saya biasa pergi ke motel—"
Detik berikutnya, Ayna terbungkam dan merasa terjebak dengan pertanyaan Adam
“Namun, kenapa kau pergi pagi itu?” Lagi-lagi, Adam bertanya seakan tidak berniat memojokkan Ayna.
“Saya harus sarapan sebelum berangkat ….” Ayna tersadar, dia hampir keceplosan dan segera meralat jawabannya. “Aku tidak yakin. Aku juga tidak tahu apa yang kau bicarakan."
Seketika, tatapan Adam menjadi begitu tajam saat menyorot wajah Ayna dan berkata dengan sinis. “Tolong berhenti bersikap tidak tahu malu! Bahkan, ini lebih buruk dari apa yang dikatakan penjahat.”
Ayna pun balas mendengus sinis, “Namun, kau mengolok-olokku saat kau tahu segalanya.”
Adam mengedikkan bahunya tanpa beban saat membalas kata-kata Ayna. “Aku hanya menguji kejujuranmu, transparansi, memori dan sebagainya.”
“Oooo … aku tahu.” Ayna mengangguk dengan senyum lebar. “Sepertinya, aku ingat sesuatu.”
“Apa itu?” tanya Adam dengan menaikkan sebelah alisnya.
Dengan menggeram kesal dan gigi yang saling berbenturan, Ayna pun berkata, “Si pria mesum yang menyentuh—"
“Astaga, aku tidak pernah mengatakan itu adalah kau.” Ayna menutup mulutnya dengan dramatis.
“Aku belum pernah bertemu seseorang yang tidak menghargai kebaikan orang lain, sangat kekanak-kanakan,” cibir Adam.
Ayna mendelik kesal dan membalas, “Aku berterima kasih, tapi itu tidak sampai disebut kekanak-kanakan.”
Ayna memang berterima kasih, tetapi Adam masih tidak puas hati karena dia tidak bisa melihat ketulusan wanita itu. “Apa kau sadar bahwa aku adalah atasanmu?”
Karena itu, Adam sengaja menggunakan kekuasaannya untuk membungkam Ayna. Dia pikir, itu adalah jalan terakhir dan satu-satunya untuk menghadapi Ayna yang pantang mengalah.
Namun, wanita itu benar-benar tidak ingin mengalah meski tahu statusnya di sana hanyalah seorang bawahan, bahkan sedang dalam masa percobaan.
“Ya, aku sadar. Itu sebabnya aku menjadi benar-benar kacau.”
Bagaimana mungkin dia tidak menjadi kacau setelah bertemu lagi dengan pria yang pernah diajaknya tidur bersama, bahkan ternyata mereka adalah atasan dan bawahan.
Hingga kini, dia tidak tahu apakah dirinya sudah tidur dengan Adam atau tidak?
__ADS_1
“Karena sudah ditakdirkan, maka aku ingin mengajukan satu pertanyaan padamu,” kata Ayna mencoba memberanikan dirinya.
“Katakan!” sahut Adam sembari duduk di atas meja dengan melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Ayna dengan lekat.
Ayna terdiam sejenak dengan menggigit bibirnya, lalu memperhatikan sekitar dan bicara dengan suara yang lebih pelan. “Ini bersifat lebih pribadi.”
“Katakan saja, aku adalah orang jujur yang tidak menyembunyikan apa pun, seperti seseorang.” Adam berbicara santai dengan sindiran halus yang ditujukan untuk Ayna.
Mendengar itu, Ayna yang semulanya ragu menjadi semakin geram dan tanpa pikir panjang langsung bertanya dengan menaikkan kepalanya tinggi-tinggi, menunjukkan sikap menantang. “Apa kita tidur bersama?”
Pada saat yang sama, Julian pun masuk tanpa aba-aba hingga membuat Adam terkejut.
Sementara itu, Ayna justru memasang wajah tanpa dosa karena bagaimanapun, Adam yang memaksanya bertanya.
Namun, di dalam hatinya dia merasa malu.
Melihat keberadaan Julian—mantan sahabat yang kini menjadi musuhnya, Adam dengan cepat berkata, “Jangan salah paham.”
Detik berikutnya, dia terbungkam dan berpikir di dalam hati. ‘Kenapa harus menjelaskan diriku padanya?’
Tanpa memperdulikan bagaimana pemikiran Julian tentang dirinya, Adam kembali menatap Ayna dengan tatapan membunuh.
Namun, sebelum dia mengatakan apa pun, wanita itu sudah lebih dulu membuka mulut dan mengeluarkan suara.
“Karena kau adalah orang yang jujur, aku memiliki pertanyaan lainnya.”
Tampaknya, Ayna tidak ingin menyerah dan mengabaikan keberadaan Julian seolah-olah pria itu adalah makhluk tak kasap mata.
“Apa itu?” Adam masih saja bersikap santai, tidak berpikir akan ada bahaya di dalam pertanyaan Ayna.
“Kau memukul wajahku, bukan?” Mata Ayna menyipit saat mengajukan pertanyaan itu, mencoba menelisik wajah Adam untuk memastikan apakah ada kejujuran di sana.
Merasa dituduh, Adam pun berteriak marah. “Kapan aku melakukannya?!”
Wanita ini benar-benar tukang fitnah!
Adam mencoba mengatur pernafasan untuk mengendalikan emosinya yang benar-benar diuji oleh Ayna.
__ADS_1