Menikahi Duda Misterius

Menikahi Duda Misterius
Sangat Menjijikkan


__ADS_3

Ayna menggertakkan giginya bersamaan dengan kedua tangan yang terkepal erat, berusaha menahan diri untuk tidak memukul wajah Adam.


Padahal, dia sudah berbalik hati merubah pandangannya terhadap Adam, tetapi bagaimana mungkin pria itu bisa kembali begitu menyebalkan dalam sekejap?


Pada akhirnya, Ayna tertawa canggung yang bercampur kekesalan. “Tentu.”


Ayna langsung membereskan barang-barangnya sambil berkata pada Adam yang masih bersikap masa bodoh.  “Terkadang, Anda juga sangat menjijikkan hingga aku ingin Anda menghilang.”


Tanpa melihat ke arah Ayna, Adam membalas kata-kata wanita itu dengan tak kalah sarkas. “Aku juga merasa yang sama terhadapmu.”


Ketika langit sudah gelap dengan ribuan bintang yang menghiasi, bahkan jam di dinding pun sudah menunjukkan waktunya untuk tidur, Ayna membawa tubuhnya naik ke atas pembaringan.


Namun, dia mengalami kesusahan untuk menutup mata karena Nyonya Waltons sedang berkumpul bersama teman-teman sosialitanya.


Mereka tidak hanya minum-minum, tetapi juga mengobrol hingga mengganggu ketenangan Ayna.


“Aku meminta dia datang untuk mengatakan hal-hal baik tentang Viona, tapi dia malah terlambat. Bahkan, dengan tubuh berbau mawar murahan.”


Seketika, suara tawa para wanita sosialita itu menggema hingga membuat Ayna semakin terganggu.


“Aku yakin, Tuan Austin dan keponakannya juga tidak nyaman dengan aroma tubuhnya itu.”


Tidak perlu dipertanyakan lagi, Ayna tahu bahwa saat ini dirinyalah yang sedang dibicarakan oleh Nyonya Waltons.


Meski merasa tersinggung dan sakit hati atas kata-kata Nyonya Waltons, Ayna lebih memilih diam dan menutup telinganya dengan bantal.


Namun, suara mereka masih tetap berhasil menembus gendang telinganya.


“Bukankah pendampingmu itu sangat menjijikkan?”


“Ya, begitulah ….”


Kemudian, Nyonya Waltons mencoba mengubah topik pembicaraan saat menyadari Ayna mungkin saja mendengar apa yang baru saja dia dan teman-temannya bicarakan.


“Aku suka pesta Demeures De Luxe, sangat gemerlap. Namun, semuanya berhenti sejak tragedy yang mengejutkan itu. Bahkan, kudengar Tuan Adam tidak pernah kembali ke Demeures De Luxe lagi.”


“Apakah tidak ada penjelasan tentang itu?”


Bukan hanya Nyonya Waltons dan teman-temannya saja merasa kehilangan atas pesta mewah yang sering diadakan oleh Jovanka di Demeures De Luxe, bahkan semua sosialita Golden City juga merasakannya.


Pada saat yang sama, mereka juga merasa heran dengan kematian Jovanka yang begitu tiba-tiba dan tertutup.


Padahal, dia adalah istri seorang konglomerat, tetapi tidak ada satu pun berita yang meliput tentang kematiannya, entah penyebab atau apa pun itu.

__ADS_1


“Buruk! Itu benar-benar buruk!” kata Nyonya Waltons. “Namun, dia sangat mencintainya.”


“Jovanka-nya?”


Keesokan paginya, Ayna bangun pagi-pagi sekali dan langsung melakukan kegiatan rutinnya dengan membuka gorden kamar Nyonya Waltons yang sedang tertidur pulas.


“Pagi, Nyonya Waltons,” sapa Ayna dengan ramah dan lembut seperti biasanya, terlihat begitu profesioanl meski kata-kata wanita paruh baya itu sempat melukai hatinya.


“Hmmmm.” Nyonya Waltons yang berbaring miring membelakangi Ayna, melambaikan tangannya dengan lemah.


“Nyonya Waltons?” anastasiia berjalan mendekati wanita lemah itu.


“Hmmm.” Nyonya Waltons kembali melambaikan tangannya.


Ayna pun menyentuh tangan Nyonya Waltons dan bertanya dengan nada khawatir. “Kau baik-baik saja?”


“Ahhh aku sakit.” Nyonya Waltons mengeluh dengan suara lemah yang terdengar serak, bahkan dengan logat yang kurang jelas seperti mengalami luka pada lidahnya. “Aku … sakit semalaman.”


“Panggil dokter,” kata Nyonya Waltons lagi.


“Baik,” sahut Ayna patuh, dia pun berjalan menuju ke meja rias untuk mengambil ponsel Nyonya Waltons dan menghubungi dokter pribadinya.


“Panggil dokternya sekarang!” Nyonya Waltons kembali memberi perintah saat tak kunjung mendengar Ayna menghubungi dokter pribadinya.


Ayna tidak mengatakan apa-apa, dia hanya langsung menghubungi dokter sesuai perintah Nyonya Waltons.


Tahu apa yang diinginkan oleh Nyonya Waltons, Ayna pun segera menanggapi. “Akan kuambilkan.”


“Wadahnya di mana?!” tanya Nyonya Waltons tak sabar karena mulutnya hampir penuh karena desakan dari dalam perut.


“Ini dia.” Ayna kembali mendekati Nyonya Waltons dengan membawa wadah yang diinginkan oleh wanita tua itu.


Detik berikutnya, Nyonya Waltons muntah, Ayna melihatnya dengan jijik, tetapi tetap menahan diri karena begaimanapun, itu adalah bagian dari pekerjaannya


Karena Nyonya Waltons sakit, Ayna harus menjaga wanita tua itu hingga terpaksa memberanikan dirinya menghubungi Adam menggunakan nomor kantor hanya untuk meminta izin.


Ayna dengan lembut dan perlahan memberikan penjelasan pada Adam, tetapi pria itu malah menanggapinya dengan cara yang sangat menyebalkan.


“Terserah, tidak usah datang selamanya juga tidak masalah bagiku.”


Setelah mendengar kata-kata itu keluar dari lubang speaker ponselnya, Ayna langsung mendapati sambungan telepon sudah tidak tersambung lagi.


“Dasar duda menyebalkan!” gerutu Ayna sembari menatap kesal pada ponselnya seolah-olah benda itu adalah wajah datar Adam yang dia hadapi setiap harinya.

__ADS_1


Karena tidak bisa menghilangkan rasa kesalnya, Ayna pun memutar nomor telepon Anya hanya untuk curhat.


“Walaupun sakit atau mati sekalipun, dia tidak bisa memaksamu untuk tetap di sisinya hingga menghalangimu bekerja.” Bukannya ikut memarahi Adam atas kekesalan Ayna, Anya justru menyalahkan Nyonya Waltons karena sudah menghalangi sang sahabat pergi ke perusahaan.


Tidak memiliki tanggapan atas kata-kata Anya, Ayna pun memilih diam. Lagipula, memang wanita tua itu yang melarangnya pergi ke mana pun.


Menyadari kebungkaman sahabatnya, Anya kembali menggerutu kesal. “Demi menjaga nyonya tua itu, kau sampai tidak datang bekerja. Apa menurutmu itu layak?”


“Setidaknya, aku juga bekerja untuknya,” sahut Ayna dengan wajah cemberut.


“Kenapa kau tidak berhenti bekerja dengannya dan focus menjadi sekretaris Tuan Adam?” Anya bertanya sekaligus memberikan saran pada Ayna. “Siapa tahu Tuan Adam ingin kau tetap menjadi sekretarisnya, meski masa magangmu sudah berakhir.”


Saran Anya memang cukup menggiurkan, tetapi Ayna tidak bisa menerimanya. “Kenapa aku harus memilih salah satu, jika kedua pekerjaan itu bisa aku lakukan bersamaan?”


Selain mampu mengerjakan dua pekerjaan sekaligus, Ayna juga tidak bisa meninggalkan Nyonya Waltons hanya demi pekerjaan lain yang lebih layak.


Bagaimanapun, Nyonya Waltons sudah memberikan banyak jasa dalam hidup Ayna yang serba kekurangan.


Meski terkadang Nyonya Waltons cerewet dan berbicara sesuka hatinya tanpa peduli pada perasaan Ayna, tetapi setidaknya wanita itulah yang sudah merubah nasibnya.


Ayna tidak hanya bisa makan, minum dan tinggal di tempat yang layak, bahkan dia juga bisa sekolah tinggi seperti mimpinya.


Ayna benar-benar tidak tahu kehidupan seperti apa yang akan dijalaninya, jika tidak bertemu dan dipekerjakan oleh Nyonya Waltons.


Menyadari tidak mudah untuk membujuk Ayna agar meninggalkan Nyonya Waltons, Anya pun tidak ingin membahasnya lagi. Dia pun akhirnya mengalihkan pembicaraan. “Leon mengundang kita ke pesta ulang tahunnya, kau pergi, kan?”


Setelah rumor yang menyebar tentang perselingkuhannya, Ayna jadi semakin jarang membuka pesan grup hingga Leon mengirimkan pesan pribadi yang berisi undangan pesta ulang tahun di sebuah club malam ternama.


Namun, Ayna tidak begitu memikirkan undangan tersebut, bahkan tidak berniat datang karena dia yakin Darren pasti akan ada di sana juga.


“Entahlah,” sahut Ayna acuh tak acuh.


Mengetahui isi kepala Ayna, Anya pun berseru dengan sinis. “Jangan bilang kau berniat tidak datang karena ingin menghindari Darren!”


Pada akhirnya, Ayna tetap pergi di bawah desakan Anya.


Bahkan, Anya juga mendandani Ayna hingga sahabatnya itu terlihat semakin mempesona.


“Apa ini tidak terlalu berlebihan?” Ayna kembali mengajukan pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya, tampak tidak percaya diri dengan gaun mewah dan dandanan flawless yang dibuat oleh tangan ajaib Anya.


“Tidak, kau sangat cantik,” sahut Anya mencoba meyakinkan Ayna. “Pokoknya, kau harus tampil lebih cantik daripada wanita-wanita murahan yang tidur dengan bajingan berengsek itu.”


Kemudian, Anya memberikan sentuhan terakhir di wajah Ayna sambil berkata dengan penuh percaya diri. “Dia pasti menyesal sudah mencampakkanmu.”

__ADS_1


Mendengar itu, Ayna mendengus sinis dan menyangkal, “Bukan dia yang mencampakkan aku, tapi aku yang mencampakkannya!”


“Ya, iya … kau yang mencampakkannya,” balas Anya tidak ingin berdebat.


__ADS_2