
Pada akhir pekan, sebuah Maybach Exelero sudah terparkir indah tidak jauh dari gerbang kediaman Nyonya Waltons dan karena hanya diproduksi satu-satunya di dunia ini, tidak diragukan lagi bahwa mobil mewah dan mahal itu adalah milik Adam.
Benar saja, si pemilik mobil yang saat ini sedang mengenakan setelan hitam tampak duduk dengan anggun dan penuh keagungan di depan kap mobil mewahnya.
Di jari duda perkasa itu, terdapat sebatang rokok yang menyala, sementara tatapannya yang tajam tertuju lurus pada gerbang kediaman Nyonya waltons yang tak kunjung terbuka.
Padahal, Adam sudah berada di sana lebih dari sepuluh menit dan menghabiskan dua batang rokok. Bahkan, kepulan asap rokok yang berterbangan di wajah sempurna sang duda membuatnya terlihat semakin tidak nyata seolah-olah dia adalah dewa kayangan.
Setelah dua menit berlalu, akhirnya wanita yang ditunggu-tunggu oleh Adam mulai menampakkan batang hidungnya.
Ayna keluar dari gerbang dan menghampiri Adam dengan mengendap-endap, sebelum akhirnya bertanya dengan sungkan. "Apa kau sudah lama menunggu?"
Ayna tidak bisa tidak terpesona pada ketampanan Adam, terlebih dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancung dan membingkai mata indahnya.
"Tidak juga," sahut Adam dengan acuh tak acuh sembari mematikan rokok yang menemaninya menunggu kedatangan Ayna. "Kenapa kita harus pergi sembunyi-sembunyi seperti ini?" imbuhnya tampak tak senang, terlebih ketika mengingat bagaimana cara Ayna keluar dari kediaman Nyonya Waltons hanya untuk menemuinya.
Saat ini, mereka tampak seperti sepasang kekasih remaja yang pergi diam-diam untuk berkencan, tanpa izin dari orangtua mereka.
Kemarin malam, Adam mengirimkan pesan singkat pada Ayna hanya untuk mengajak wanita itu pergi menikmati akhir pekan di Jardin Botanique.
Namun, Ayna tidak langsung menyetujui ajakannya hanya karena khawatir Nyonya Waltons tidak senang.
Sebagai gantinya, justru Adam yang berbalik tidak senang pada Ayna dan mengabaikan puluhan pesan dan telepon dari wanita itu
Pada akhirnya, Ayna setuju. Akan tetapi, dia mengajukan syarat pada Adam agar tidak menjemputnya di depan gerbang kediaman Nyonya Waltons.
Tanpa pikir panjang dan tidak menanyakan alasan jelasnya, Adam langsung menyetujui syarat dari Ayna.
Namun, dia tidak menduga ternyata Ayna itu tidak hanya memintanya menunggu dengan jarak 200 meter dari kediaman Nyonya Waltons, bahkan wanita itu pun keluar dengan cara mengendap-endap seperti maling.
Ayna menghela nafas panjang dan berat, sementara raut bersalah tertera jelas di wajah cantiknya. "Kau tahu sendiri, Nyonya Waltons sangat menginginkanmu untuk menjadi menantunya. Aku hanya tidak enak hati jika dia tahu kau justru berpergian denganku."
Demi bisa bepergian dengan Adam, Ayna tidak hanya mengelabui Nyonya Waltons dengan mengatakan dia sedang sakit dan harus berdiam diri di dalam kamar agar tidak menularkan penyakitnya, bahkan dia juga menyelinap keluar melalui jendela kamar.
"Hmmmm." Adam menghela nafas pasrah.
Sebenarnya, Adam sama sekali tidak peduli dengan tanggapan atau pendapat Nyonya Waltons tentang hubungannya dengan Ayna.
Lagipula, wanita tua yang selalu berpenampilan glamor dan berlebihan itu tidak memiliki hak sedikitpun atas dirinya. Apalagi, sampai harus mencampuri urusan pribadinya.
Nyonya Waltons bisa saja mendambakan Adam menjadi menantunya, tetapi dia benar-benar tidak berhak melarang Adam berhubung dengan siapa pun!
Namun, karena Ayna sangat ingin menjaga hati Nyonya Waltons yang cukup berjasa dalam kehidupannya, Adam pun tidak ingin ambil pusing dengan masalah itu.
Setidaknya, dia masih bisa berhubungan dengan Ayna!
__ADS_1
"Pergi sekarang?" Pria yang sudah menduda selama tiga tahun itu bertanya dengan alis yang terangkat sebelah, sementara Ayna hanya mengangguk dalam diam.
Jika saat akan pergi Adam membukakan pintu mobil untuk Ayna, maka pria itu juga melakukan hal yang sama ketika mereka sudah tiba di Jardin Botanique.
Begitu keluar dari mobil, Ayna membaca papan besar yang terdapat di dekat gerbang.
"JARDIN BOTANIQUE. PLEASE DO NOT TOUCH ANYTHING!"
Kemudian, wanita itu berjalan beriringan dengan Adam, menyusuri tiap sudut kebun.
"Di sini, ada kaktus berasal dari Fairy Town yang ketinggiannya mencapai 20 meter dan hidup hingga 200 tahun, tetapi baru berbunga setelah berumur 70 tahun."
Mendengar itu, Adam mengalihkan perhatiannya pada Ayna dan bertanya dengan rasa ingin tahu. "Dari mana kau tahu tentang ini semua?"
Ayna tersenyum lembut sembari membalas tatapan Adam, sebelum akhirnya fokus menatap pemandangan indah di sekelilingnya. "Aku membacanya, semua kuketahui dari buku."
Semua buku-buku berharga yang sudah usang itu, Ayna dapatkan dari Nyonya Waltons.
Kemudian, Ayna kembali menatap Adam dan berkata, "Aku belum memiliki pengalaman apa pun, jadi hanya ingin mencarinya sebelum aku tua."
Setelah lama berjalan, Ayna berjalan di pelataran kayu di atas air danau yang biru dan masih asri. Bahkan, di sekeliling danau terdapat air terjun yang membuat Ayna menatap pemandangan indah itu dengan netra berbinar karena takjub.
Sementara itu, Adam memilih berjalan lebih lambat hanya untuk memandangi sosok Ayna yang begitu bahagia dan antusias terhadap pemandangan di sekitar.
"Sangat indah," puji Ayna tiada henti.
Adam berdiri di samping wanita itu dalam diam, tidak menanggapi pujian Ayna pada pemandangan yang ada di depan mata mereka.
Bagaimanapun, ini bukanlah pertama kali bagi Adam melihat keindahan-keindahan dunia. Bahkan, dia perna melihat yang lebih indah daripada itu.
Namun, dari semua keindahan yang pernah dia lihat, tubuh polos Ayna masih yang paling indah.
Mengingat bagaimana tubuh polos Ayna berada di bawah kendalinya, Adam rasanya ingin langsung menyeret wanita itu masuk ke dalam air hanya untuk merenggut kenikmatan dalam keindahan juga sejuknya air danau.
Ah, pasti benar-benar nikmat!
Membayangkannya saja, sudah membuat sekujur tubuh Adam menegang.
“Apa kau pernah ke sini?”
Pertanyaan Ayna berhasil menghentikan bayangan-bayangan indah yang berkelebat di kepala Adam.
Pria itu menggeleng, lalu menatap sumber khayalan fantasi terliarnya dengan dalam dan penuh makna. “Bertahun-tahun lalu, saat bulan maduku bersama mendiang istriku.”
Ayna terdiam, mendapati Adam sempat termenung untuk beberapa saat, dia pun berpikir di dalam hatinya. 'Apa dia mengajakku ke sini hanya untuk bernostalgia?'
__ADS_1
Detik berikutnya, Ayna menghela nafas panjang dan kembali membatin, 'Adam, tolong jangan dekati aku hanya karena kau ingin melihat istrimu di dalam diriku.'
Setelah beberapa saat, Ayna menggelengkan kepalanya saat merasa pemikirannya itu sangat konyol dan tidak masuk akal.
Ayna tersenyum, mencela diri sendiri.
'Tidak mungkin dia melihat mendiang istrinya pada diriku!'
Seketika, Ayna juga merasa rendah diri karena bagaimanapun, sosok Jovanca adalah wanita yang begitu dibanggakan oleh hampir seluruh penghuni Golden City.
Bahkan, karena menikahi Adam yang bergelar King of Golden City, Jovanca digelari sebagai Queen-nya.
Jadi, mana mungkin Ayna dan Jovanca bisa disamakan dalam segi apa pun!
Pada saat yang sama, Ayna merasa penasaran dengan sosok istri Adam.
Bagaimana rupa, apa pekerjaan dan semua hak tentang Jovanca berhasil membuat rasa ingin tahu Ayna menggelitik
Apakah Jovanca benar-benar semenakjubkan itu hingga disenangi oleh semua orang?
Mulanya, Ayna ragu untuk mempertanyakan perihal Jovanka, tetapi rasa penasarannya membuat wanita itu tidak bisa menahan diri.
“Bagaimana istrimu—”
“Tidak, kumohon … jangan!”
Adam yang enggan membicarakan istrinya, berbalik dan langsung pergi meninggalkan Ayna sendirian. Bahkan, hasratnya pada wanita itu yang hampir merasuki jiwa raganya, seketika lenyap.
Menyadari topik tentang Jovanca benar-benar sensitif bagi Adam, Ayna hanya bisa menghela nafas dan memutuskan untuk tidak mengungkitnya lagi di kemudian hari.
Kemudian, Ayna menyusul Adam yang sudah berdiri di samping mobil.
Dalam perjalanan pulang, keheningan menimpa Maybach Exelero yang melaju dengan kecepatan sedang.
Mungkinkah pertanyaan Ayna tentang istri Adam menyebabkan kecanggungan di antara mereka?
Entahlah, itu tidak bisa dipastikan karena Adam memang tipe orang tidak banyak bicara.
Lagipula, Ayna memang tidak memiliki topik untuk dibicarakan.
Namun, setelah beberapa saat dia teringat tentang Demeures De Luxe yang sering dibicarakan oleh Nyonya Waltons dan teman-teman sosialitanya
Jadi, dia memutuskan untuk mengangkat hak itu sebagai topik pembicaraan demi mengakhiri kebisuan yang ada . "Bisa ceritakan tentang Demeures De Luxe? Kudengar tempatnya sangat menarik."
"Ya, Demeures De Luxe lebih dari sebuah rumah. Itu adalah hidupku yang sudah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad, sampai sekarang."
__ADS_1
"Jika aku meninggal tanpa keturunan, maka rumah itu akan menjadi milik saudaraku. Mereka anak-anak baik, tetapi bukan bermarga Shinkar."