
Begitu pertanyaan tersebut meluncur bebas dari bibir seksi Ayna yang pernah dicicipi oleh Adam, keheningan panjang pun kembali terjadi.
Menyadari sumber keheningan, Ayna langsung merasa bersalah dan menatap Adam dengan canggung. “Maaf, itu pasti sangat tidak sopan.”
Ayna tidak memiliki niat apa pun dengan mempertanyakan hal itu, dia hanya penasaran apakah meninggalnya sang ibu juga disebabkan oleh patah hati.
Namun, mungkin pertanyaan itu justru memiliki makna lain bagi Adam yang sudah ditinggal pergi oleh istrinya.
"Tidak," sahut Adam seadanya, tidak berniat memperpanjang masalah yang sebenarnya bukanlah masalah.
Meski mengatakan tidak, Adam enggan menjawab pertanyaan itu dan Ayna juga tidak berniat memaksanya bicara.
Untuk menghindari kebosanan dalam sisa perjalanan mereka, Ayna dan Adam sesekali bertukar tanya dan cerita.
"Kenapa kau memilih tempat sejauh ini untuk mengadakan pertemuan dengan klien?" Ayna kembali bertanya, mencoba menghilangkan kecanggungannya terhadap Adam.
Pada saat yang sama, Ayna juga ingin mengikis habis rasa penasaran yang sejak tadi dengan paksa dia telan.
Entah di mana titik lokasinya, tetapi jalanan yang mereka lalui untuk menuju ke tempat pertemuan benar-benar jauh dan terpencil, bahkan harus melewati jalan yang berliku, juga hutan rimbun.
Jika hanya sendirian, Ayna tentu saja tidak akan berani mendatangi tempat seperti itu.
Lagipula, kenapa juga harus memilih tempat terpencil dan sejauh itu, jika di pusat kota saja masih banyak restoran atau hotel berbintang yang biasa digunakan untuk pertemuan oleh para pengusaha?
"Bukan aku yang memilih tempat ini, tapi Tuan Kana." Adam menarik nafas sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan, "Dia sedang berbulan madu di sini, jadi sekalian mengajakku bertemu untuk membahas kerja sama."
Seperti biasa, pria itu tidak berniat menjelaskan lebih banyak pada Ayna. Terlebih, mengenai hubungan yang terjalin antara dirinya dan sang klien.
Bagi Adam, itu bukanlah sesuatu yang penting untuk dijelaskan kepada siapa pun, termasuk Ayna.
Meski tidak mengenal siapa 'Tuan Kana' yang di oleh atasannya, Ayna tahu hubungan mereka pastilah cukup baik sehingga untuk mengadakan pertemuan saja sang klien tidak perlu menghubungi dirinya yang merupakan sekretaris atau pun David sebagai asisten Adam.
Pada saat yang sama, Ayna juga tidak berniat mengorek lebih banyak informasi sang klien dari atasannya.
"Wah, tempat ini benar-benar indah," ujar Ayna dengan takjub saat mobil yang dikendarai oleh Adam berhenti di sebuah penginapan.
Tempat itu memang terpencil dan bisa dikatakan berada di pedesaan, tetapi pemandangannya benar-benar memukau, mengalahi pemandangan yang ada di perkotaan.
Bahkan, udaranya pun sangat segar dan bebas polusi.
Ayna tidak menduga, tempat terpencil itu menyimpan keindahan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan hanya bisa dinikmati.
Sampai pada akhirnya, pertemuan dan kerja sama dengan Tuan Kana yang merupakan teman lama Adam pun berjalan dengan lancar, tanpa hambatan apa pun.
__ADS_1
Bahkan, pembicaraan mereka yang mencakup tentang bisnis tidak begitu menegangkan karena Tuan Kana bukanlah jenis klien yang kaku seperti pada umumnya.
Hanya saja, ketika Adam dan Ayna dalam perjalanan kembali ke pusat kota, tiba-tiba saja hujan badai menyerang ....
Dalam sekejap, guruh, petir dan kilat menyambar di langit yang sudah gelap hingga tampak terang benderang. Bahkan, ribuan air mulai berjatuhan dari langit disertai angin kencang yang turut mengguncang pepohonan di sekitar dan itu benar-benar menakutkan.
Setelah melihat hujan lebat di luar mobil dengan guruh, petir, serta kilat yang menyambar-nyambar, Adam memelankan laju mobilnya dan mengalihkan tatapannya pada Ayna saat berkata, "Cuacanya sangat buruk dan sepertinya, kita tidak bisa pulang."
Mendengar itu, Ayna pun ikut melihat apa yang Adam lihat sebelumnya dan menyetujui kata-kata pria itu.
Bagaimanapun, jalanan yang akan mereka lalui tidak hanya licin, tetapi juga dikelilingi pepohonan rimbun dan akan sangat berbahaya jika memaksa pulang dengan cuaca buruk seperti itu.
"Jadi, bagaimana?" tanya Ayna, tidak tahu harus melakukan apa dalam keadaan seperti itu.
Menunggu cuaca membaik atau pun berdiam diri di dalam mobil, bukanlah cara terbaik untuk mengatasi masalah tersebut!
"Kalau tidak salah, di depan sana ada penginapan," kata Adam mencoba menajamkan indera penglihatannya di tengah-tengah badai yang membuat jarak pandang terbatas, berharap tidak terjadi kecelakaan apa pun yang tidak diinginkan.
"Apa kita akan menginap di sana?" tanya Ayna, tampak ragu untuk menyetujui keputusan Adam.
"Apa kau mau tetap tinggal di sini? Kalau iya, silahkan saja." Adam memutar bola matanya ke arah Ayna, lalu melanjutkan dengan acuh tak acuh. "Aku akan pergi ke penginapan sendirian."
Mengingat cuaca sangat buruk dan berada di tempat yang cukup terpencil, mana mungkin Ayna mau ditinggal sendirian oleh Adam.
Karena itu, dia pun setuju mengikuti sang duda menyebalkan menuju ke tempat penginapan terdekat.
Begitu tiba di depan penginapan, Adam langsung membuka jas yang dia kenakan, lalu turun dari mobil. "Tunggu sebentar."
Setelah itu, Adam langsung berlari ke kursi penumpang sembari menutup kepalanya dengan jas hitam miliknya. Kemudian, dia juga membukakan pintu mobil untuk Ayna. "Ayo, cepat!"
Mendapati perlakuan gentle dari Adam, Ayna tentu saja merasa takjub hingga berbunga-bunga. Akan tetapi, dia berhasil menutup rasa itu dengan bersikap biasa saja dan berkata dengan tulus. "Terima kasih."
Begitu Ayna menginjakkan kakinya ke tanah, suara guntur di atas langit kembali menggelegar hingga membuatnya terlonjak kaget, bahkan hampir terjatuh.
Beruntung, Adam dengan gerakan cepatnya langsung merangkul pinggang Ayna, membuat netra keduanya saling beradu untuk waktu yang cukup lama.
Ketika saling bertatapan dengan madu yang keluar dari netra masing-masing, kedua insan itu seolah-olah lupa bahwa ada hujan badai yang membasahi tubuh mereka.
Setelah beberapa saat berlalu, Ayna yang terpesona pada ketampanan wajah Adam segera tersadar dan dengan cepat menjauhi pria itu.
Namun, gerakan cepatnya itu justru membuat tubuhnya tidak seimbang hingga kakinya terlipat, bahkan sampai terkilir.
"Aduh!" Ayna mengaduh kesakitan dan dia hampir saja terjatuh, jika bahunya tidak dirangkul oleh Adam.
__ADS_1
"Pelan-pelan," ujar Adam lembut dan pelan, mencoba mengatasi kecanggungannya terhadap Ayna yang membuat dadanya bergemuruh seperti langit malam saat itu.
"Terima kasih," ucap Ayna tulus sembari mencoba berdiri dengan benar, tetapi tidak bisa karena rasa sakit yang menyerang pergelangan kakinya.
Melihat Ayna kesakitan hingga tidak bisa berjalan, sementara hujan terus mengguyur tubuh mereka, Adam pun langsung menggendong wanita itu untuk membawanya masuk ke penginapan.
"Eh?!" Ayna tentu saja terkejut atas tindakan tiba-tiba Adam dan menatap pria itu dengan bingung. "Apa yang kau lakukan? Turunkan aku."
"Diam dan berpeganglah jika kau tidak ingin jatuh!" sahut Adam dengan nada dan raut dingin.
Begitu saja, Ayna pun langsung menuruti perintah Adam untuk berpegangan dengan merangkul leher pria itu dan mereka masuk ke dalam penginapan seperti sepasang pengantin baru yang akan menikmati malam pertama.
Ketika tiba di depan resepsionis, Adam dengan perlahan menurunkan Ayna yang terlihat malu-malu karena ditatap oleh dua wanita yang berjaga di sana.
Sementara itu, Adam justru tidak peduli dengan tatapan semua orang padanya dan malah memasang wajah datar andalannya. "Dua kamar."
Berpikir sepasang pelanggan yang baru masuk adalah suami-istri, kedua resepsionis itu tentu saja mengerutkan kening ketika Adam meminta dua kamar.
Namun, bukan ranah mereka untuk bertanya dan menuntaskan rasa penasaran. Lagipula ....
"Maaf, Tuan. Kamar di penginapan kami hanya tersisa satu," kata salah satu resepsionis dengan memasang wajah bersalah.
Mendengar itu, Ayna dan Adam saling berpandangan.
"Bagaimana mungkin kita bisa tidur sekamar?" tanya Ayna dengan suara pelan, tampak keberatan berada di satu ruangan dengan pria yang berhasil memporak-porandakan dadanya hingga membuat detak jantungnya menggila.
"Kenapa tidak bisa?" Adam berbalik bertanya dengan menaikkan alisnya sebelah, tampak tak suka dengan penolakan Ayna yang begitu kentara. "Lagipula, ini bukan pertama kalinya kita tidur bersama!" imbuhnya tanpa beban, membuat wanita yang ada di depannya memerah seperti kepiting rebus.
"Tapi—"
"Kau bisa tidur di mobil, jika menolak tidur sekamar denganku!"
Pada akhirnya, Ayna terpaksa setuju sekamar dengan Adam karena tidak punya pilihan lain. Bahkan, dia pun kembali pasrah ketika pria itu menggendongnya masuk sampai ke dalam kamar.
Saat tiba di depan pintu kamar yang sudah terbuka, Adam langsung menurunkan Ayna dengan perlahan dan keduanya sama-sama terkejut saat melihat isi kamar penginapan itu.
"Kenapa hanya ada satu ranjang?" tanya Ayna yang tidak menduga bahwa kamar pesanan Adam hanya memiliki satu ranjang.
Padahal, sebelumnya dia berharap akan ada dua ranjang di dalam kamar.
Sama seperti Ayna, Adam juga tidak menduga akan hal itu. Jangankan sofa, bahkan ruangannya pun cukup sempit hingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk menggelar selimut di lantai agar bisa tidur terpisah.
Lagipula, selimut di dalam kamar itu hanya ada satu dan cuaca di luar juga sangat dingin sehingga mereka tidak mungkin bisa membagi satu selimut agar bisa tidur terpisah.
__ADS_1
"Ayo, tidur bersama," kata Adam tiba-tiba, masih dengan wajah datar.
"Hah?!" Ayna melongo tak percaya mendengar ajakan yang meluncur bebas tanpa beban dari bibir tipis Adam.