
Tidak menghiraukan kata-kata dan tindakan Charles, Julian tetap menempelkan kepalanya di daun pintu.
Namun, bukan suara dari dalam yang terdengar, melainkan rasa sakit di kepalanya karena terbentur pintu yang terbuka dari dalam.
Ayna yang membuka pintu dengan keras, merasa bersalah saat menyadari tindakannya memakan korban. Jadi, dia langsung mendekati Julian. “Maaf, maafkan aku.”
Melihat itu, Adam tidak senang dan dengan cepat menarik tangan Ayna sambil berkata, “Jangan meminta maaf padanya.”
Ayna mengerutkan alis dengan heran. “Apa? Tapi aku harus—”
“Jika aku memberi perintah, maka kau harus mematuhinya!” Adam dengan tegas menyela ucapan Ayna yang belum selesai.
Mendapati sikap dingin Adam, Julian sama sekali tidak tersinggung dan justru menyapanya dengan menepuk bahu sang sahabat sebagai salam pertemuan. “Lama tidak berjumpa, Adam.”
Adam tidak meladeni Julian, bahkan menganggap pria itu hanyalah makhluk astral. “Kenapa aku terus bertemu dengan Tuan Gammino di saat kami tidak memiliki urusan?” tanyanya pada Charles yang mengatur segala keperluan, termasuk jadwal dan janji temunya.
“Hei, dasar.” Julian menggeleng dengan tersenyum lebar atas sikap Adam. “Karena inilah tidak ada yang menyukaimu.”
Di perusahaan, memang sebagian besar karyawan pria tidak menyukai Adam, tetapi yang wanita tetap suka meski diperlakukan dengan dingin, bahkan jika mereka dianggap butiran debu.
Terlepas dari semua itu, Adam tidak peduli.
Sementara itu, Ayna hanya memperhatikan interaksi antara Julian dan Adam dalam diam dengan ekspresi bingung.
“Suruh dia pergi,” kata Adam pada Charles dengan tegas, sebelum akhirnya menyeret Ayna pergi.
Setelah kepergian Adam dan Ayna, David menatap Julian dan menggerutu kesal. “Aku dimarahi karenamu."
Sementara itu, Adam membawa Ayna untuk bertemu dengan klien dan memberikan begitu banyak dokumen untuk wanita itu pelajari agar bisa dia lakukan selama menjadi sekretarisnya.
“Di antara teman sekelasku, aku dikenal sebagai wanita gila. Tapi berkatmu, aku menjadi lebih gila di kantor ini,” kata Ayna dengan nafas turun-naik, lalu melanjutkan dengan sinis. “Terima kasih.”
“Itu bukan apa-apa dan aku pun harus berterima kasih padamu,” sahut Adam dengan acuh tak acuh. “Berkatmu, aku menjadi direktur yang menampar wanita dan menyentuh bokongnya.”
“Begitukah?” tanya Ayna dengan sinis. “Karena kau sudah membahasnya, maka biarkan aku bertanya … kita tidur bersama atau tidak? Aku sungguh tidak ingat.”
Mendengar Ayna kembali mengajukan pertanyaan yang sama, Adam langsung berhenti melangkah sehingga wanita itu tidak sengaja menabraknya.
__ADS_1
Adam pun berbalik, lalu berkata dengan datar. “Seorang wanita memukulku malam itu.”
Kemudian, dia memiringkan kepalanya seperti sedang mengingat apa yang terjadi malam itu. “Hmmm, aku juga sedikit minum dan aku bukanlah pria suci ….”
“Kita tidur bersama?” tanya Ayna takut-takut, tetapi juga merasa tak sabar menunggu jawaban Adam.
“Aku memang bukan orang suci, tapi aku masih punya mata.”
Detik berikutnya, Arthur menatap Anastasia dengan tatapan menilai. “Namun, kau … Ayna.”
Adam menggelengkan kepalanya dengan sikap merendahkan, dia juga tidak tahu harus menggunakan kata apa yang tepat untuk menilai wanita itu.
Melihat bagaimana menyebalkannya sikap Adam, Ayna menarik nafas dalam untuk mencoba menahan geramnya dan mengukir senyum yang tampak sangat dipaksakan. “Jadi, apa yang terjadi?”
Adam tidak langsung menjawab, dia tersenyum misterius sehingga membuat Anastasia semakin penasaran. “Entahlah.”
***
“Hei.” Adam memegang kedua pipi Ayna dengan lembut, mencoba membangunkan wanita yang sudah menghabiskan empat botol bir sendirian. “Sadarlah!”
Bahkan, tidak bisa dipastikan apakah dia benar-benar sudah sadar.
Meski begitu, Adam tetap mencoba berbicara dengannya. “Saat sesuatu seperti ini terjadi, orang-orang pasti akan salah paham dan mulai berspekulasi tentangmu.”
“Kau pasti sudah membuat kesalahan?”
“Kau kalah dengan wanita lain.”
“Mungkin kau membosankan?”
“Bahkan, mungkin saja kau adalah orang yang tidak disukai oleh orang lain.”
Adam menarik nafas dalam dan panjang, tatapannya tampak serius dalam kesenduan. “Aku tahu perasaan dikhianati dengan baik, karena aku juga pernah mengalaminya.”
“Namun, ini tidak benar ….”
Entah paham atau tidak, Ayna memaksa membuka matanya lebar-lebar hanya untuk memperhatikan dan mendengarkan Adam dengan serius juga.
__ADS_1
“Kita tidak melakukan sesuatu yang salah, merekalah yang bersalah karena mengkhianati kita!” tegas Adam, lalu melanjutkan dengan kata-kata yang lebih bijak. “Jadi, hiduplah lebih baik lagi … buktikan bahwa kau bisa hidup tanpanya!”
Saat semua orang menikmati makan siang di kantin perusahaan, Ayna justru tertidur dengan posisi duduk di bawah pohon rindang dan teduh yang menghembuskan udara segar menyejukkan.
Bekerja di bawah tekanan Adam benar-benar membuat Ayna kelelahan hingga stress, jadi wajar saja jika dia tertidur sampai bermimpi hanya karena hembusan angin yang ada di taman belakang perusahaan.
Ketika merasakan kepalanya terkulai lemah, Ayna segera membuka mata dan menyeruput liurnya yang hampir berjatuhan.
“Dia tidak menamparku?” gumam Ayna pada dirinya sendiri sembari memegang pipinya yang dipegang Adam di dalam mimpi yang terasa begitu nyata.
Teringat dirinya masih di perusahaan dan harus segera kembali ke ruangan Adam, Ayna langsung melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Astaga, waktu makan siang sudah habis,” ujarnya sembari bergegas beranjak pergi dari taman hanya untuk kembali ke ruangan sang atasan, khawatir keterlambatannya akan membuat pria itu mengutuknya.
Namun, dia tidak dimarahi, apalagi dikutuk oleh Adam meski terlambat sepuluh menit tiba di ruangan.
Pria itu terlihat focus dengan dokumen-dokumen yang ada di atas meja hingga Ayna yang merasa aneh dengan sikap sang atasan hanya bisa menghela nafas lega.
Pada akhirnya, Ayna diam-diam menatap Arthur yang tampak tidak peduli dengan keberadaannya.
‘Dia juga dikhianati?’ Ayna membatin, mencoba menyambungkan ingatan yang masuk dalam mimpinya dengan kemurahan hati Adam ketika membantunya pergi dari hadapan Darren. ‘Apa karena itu dia bersedia membantuku?’
“Ayna ….” Adam memanggil Ayna tanpa mengangkat pandangannya sedikitpun dari dokumen yang dia baca.
“Aku tidak melihatmu." Seperti tertangkap basah sudah mencuri, Ayna langsung berpura-pura focus pada tumpukan pekerjaannya yang diberikan oleh sang atasan.
“Ya, aku tahu,” sahut Adam dengan acuh tak acuh, dia masih bicara tanpa memandang Ayna. “Aku hanya ingin kau tidur di rumahmu malam ini.”
Karena begitu sibuk membantu Adam dalam proyek barunya, Ayna sering lembur hingga tertidur di perusahaan. Beruntung, dia sempat membawa pakaian agar bisa berganti pada keesokan harinya.
Hanya saja, rambut lepek dan wajah kusamnya tidak bisa disembunyikan hingga siapa pun yang melihatnya pasti akan tahu bahwa tidak mandi sebelum memulai pekerjaan.
“Tidak usah,” sahut Ayna dengan murah hati.
Pemikirannya tentang Adam sedikit berubah setelah mimpi beberapa saat lalu, jadi dia pun bersedia tidak pulang hanya untuk membantu pria itu.
“Mandilah.” Adam mengangkat kepalanya untuk menatap Ayna, sebelum akhirnya kembali berkata tanpa beban dosa. “Aku ingin kerja di lingkungan yang bersih.”
__ADS_1