Menikahi Duda Misterius

Menikahi Duda Misterius
Jangan Pergi


__ADS_3

"Terima kasih, Ay."


Di sisa-sisa kesadarannya, sayup-sayup Ayna mendengar bisikan lembut Adam yang disertai dengan kecupan hangat di puncak kepalanya.


Namun, Ayna tidak yakin apakah itu nyata atau khayalan dan mimpi indahnya semata.


Bagi Ayna itu mungkin hanya mimpi mengingat bagaimana sikap Adam padanya selama ini, jadi bisikan lembut dan kecupan hangat itu terasa tidak benar-benar nyata meskipun dia bisa merasakannya.


Bahkan, kehangatan sikap dan tindakan Adam mengantarkannya ke alam mimpi yang lebih indah daripada itu.


Padahal, itu nyata!


Adam benar-benar berterima kasih dan mengecup hangat puncak kepala Ayna karena berhasil mereguk kenikmatan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Bagaimana tidak nikmat, jika setiap hentakan dari pinggulnya disambut dengan denyutan hangat yang menggigit hingga membuatnya seperti hendak melayang ke langit ke tujuh.


Saat merasakan kenikmatan itu, Adam bahkan sampai menggeram dengan mata terpejam dan kepala terangkat.


Benar-benar nikmat yang tidak bisa didustakan!


Bagi Adam, mungkin saja ekstaksi dan sejenisnya tidak akan senikmat tubuh Ayna.


Bahkan, Jovanca saja tidak senikmat Ayna!


Adam ingat, sudah tidak terhitung berapa kali dirinya mendaki kenikmatan bersama Jovanca, baik sebelum atau sesudah menikah. Akan tetapi, rasanya jauh berbeda saat bersama Ayna.


Mungkinkah itu karena Adam menjadi yang pertama bagi Ayna hingga memberikan kepuasan tersendiri baginya?


Sementara itu, dirinya bukanlah yang pertama bagi Jovanca.


Namun, mendiang istrinya itu selalu punya cara untuk menggodanya dan membangkitkan hasratnya hanya dengan mengenakan gaun kekurangan bahan yang bahkan tidak pantas disebut gaun, juga bersikap seperti ******.


Sampai akhirnya, benihnya berhasil dibenamkan ke dalam rahim Jovanca. Akan tetapi, Adam merasa aktifitas mereka begitu hambar seolah-olah hanya formalitas di dalam pernikahan.


Terlebih, setelah mengetahui ....


Adam menggelengkan kepalanya, mencoba menyudahi pemikirannya tentang Jovanca, lalu dengan berat hati memisahkan diri dari sumber kehangatan yang menyelimuti benda pusakanya.


Adam berguling ke sisi kanan Ayna, membawa wanita itu ke dalam pelukannya yang hangat.

__ADS_1


Dalam keheningan malam itu, Adam memandangi wajah Ayna yang bebas make-up, tampak putih dan lembut seperti bayi yang baru lahir.


Bersih dan tidak ternoda!


Bulu mata Ayna yang panjang dan lentik memberikan bayangan di wajahnya saat berada di bawah cahaya, sementara bibirnya terlihat mungil, begitupun dengan hidungnya.


Segala yang melekat di wajah Ayna yang mungil semakin terlihat mungil saat berada di atas dadaa bidang Adam.


Bahkan, si duda keren sarang duit itu sampai meletakkan telapak tangannya di atas wajah Ayna hanya untuk memastikan seberapa mungil wajahnya.


"Kecil dan imut," puji Adam dan dengan senyum manis di wajahnya, dia merapikan rambut Ayna yang sedikit berantakan, sebelum akhirnya mengelus lembut wajah mungil wanita itu.


Ayna yang sudah berkelana ke alam mimpi, mana mungkin sadar dengan apa yang Adam lakukan padanya. Dia tampak seperti orang yang tidak pernah tidur sebelumnya hingga saat ini membalas dendam atas malam-malam yang dilewatkannya tanpa kedamaian.


Padahal, Ayna bukannya tidak pernah tidur, dia hanya kurang tidur karena tumpukan pekerjaan yang Adam berikan.


Saat ini, kelelahan akibat aktifitas panjang dan penuh nikmat yang dilakukan bersama Adam, membuat Ayna tidur dengan begitu damai seperti tidak memiliki beban apa pun lagi untuk dipikul.


Terlebih, udara di luar yang masih sejuk hingga menembus sampai ke tulang-belulangnya, juga sangat mendukung untuknya semakin merapatkan tubuh polosnya pada Adam yang juga belum mengenakan sehelai benang pun.


"Emmmm." Ayna bergumam di dalam tidurnya dan memposisikan tubuhnya dengan lebih nyaman.


"Ahhh, sial!" Adam menggeram saat merasakan tubuh bagian bawahnya sudah menegang hingga berdiri tegak hanya karena kaki Ayna tidak sengaja menyentuhnya.


Bahkan, telapak tangan Ayna yang berada di atas dadanya semakin menghantarkan gelanyar hasrat sampai ke ubun-ubunnya.


Adam tidak mengerti, kenapa benda itu menjadi lebih sensitif jika berada di dekat Ayna.


Padahal, wanita lain, termasuk Jovanca harus berusaha keras untuk bisa membangunkan benda pusakanya itu.


Mengingat Ayna baru pertama kali melakukan kegiatan memabukkan yang membuatnya sangat kesakitan dan kelelahan, Adam pun terpaksa menahan diri.


Meski kesakitan, Adam juga bisa melihat Ayna begitu menikmati permainan panas mereka.


Adam memang sudah menahan diri untuk tidak kembali menyatukan tubuhnya dengan Ayna, tetapi tangan dan bibirnya tidak bisa diajak bekerja sama. Terlebih, ketika mengingat bagaimana Ayna mengerang nikmat di bawah kendalinya.


Begitu saja, tangan dan bibir Adam dengan lancang sudah menjamah tiap inci bagian tubuh Ayna, terutama kedua gunung kembar wanita itu.


Adam dengan rakus menghisap benda kecil berwarna kemerahan yang ada di puncak dada Ayna, seperti bayi yang sedang menyusu pada ibunya. Bahkan, tangannya juga ikut bekerja sama untuk meremas kedua benda kenyal itu secara bergantian.

__ADS_1


Setidaknya, Adam melakukan itu hanya untuk membuat adik kecilnya kembali tertidur.


Pada saat yang sama, Ayna sedang bermimpi tubuhnya kembali dijamah oleh Adam, membuatnya kembali merasakan kenikmatan yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya.


Karena itu, tidurnya sama sekali tidak terganggu dan dia justru tampak menikmati permainan Adam hingga duda haus belaian itu semakin bersemangat.


"Engghhhh ...." Ayna yang sedang memejamkan matanya, melenguh kuat dan penuh nikmat, juga bergerak dengan gelisah.


Dia berharap mendapatkan lebih dari itu seolah-olah sentuhan dari bibir dan tangan Adam saja tidak cukup.


Dia butuh penyatuan!


Melihat kegelisahan Ayna, Adam sangat ingin menyatukan tubuh mereka untuk memberikan apa yang wanita itu butuhkan.


Akan tetapi, Adam khawatir Ayna masih merasa tidak nyaman di area pribadinya. Jadi, dia hanya bisa menyentuh dan membelai benda itu sampai Ayna bisa menuntaskan hasratnya juga.


"Ahhhhh ... Adamhhh ...." Sekali lagi, Adam berhasil membuat Ayna melenguh panjang sembari menyebutkan namanya, bahkan hanya di dalam tidurnya.


“Ay, kau milikku!” Saat sudah berhasil mencapai puncaknya lagi, Adam menggeram sembari menggenggam kuat benda pusakanya membayangkan benda itu kembali berada di dalam tubuh Ayna yang sempit dan hangat, meski dalam keadaan basah.


“Jangan bermimpi untuk memberikan tubuhmu pada pria lain, Ay!” Adam masih memejamkan mata dengan kepala mendongak, membayangkan betapa nikmatnya jika benih-benih cintanya direnggut habis oleh rahim Ayna.


Setelah berhasil menuntaskan hasratnya dengan caranya sendiri, Adam beranjak dari atas ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi hanya untuk membersihkan dirinya.


Namun, gerakannya tertahan kala tangan Ayna meraih pergelangan tangannya.


"Jangan pergi," gumam Ayna dengan mata yang masih terpejam rapat.


Menyadari Ayna sedang bermimpi, Adam tersenyum dan membelai kepala wanita itu dengan lembut dan berbisik, "Aku akan segera kembali."


Dengan tubuh yang terlihat lebih segar setelah mandi air dingin, Adam keluar sembari membawa handuk kecil yang sedikit basah untuk digunakan membersihkan tubuh Ayna dari sisa-sisa percintaan mereka.


Setelah selesai, Adam menyelimuti tubuh polos Ayna dan berjalan ke arah jendela, sebelum akhirnya membuka benda itu hingga udara dingin di luar masuk ke dalam kamar.


Merasakan udara yang begitu menyengat, Ayna meringkuk di atas ranjang mencoba mencari sumber kehangatannya.


Melihat itu, Adam segera mengeluarkan ponselnya hanya untuk menghubungi Charles.


“Cari tahu siapa pemilik penginapan Nuit Chaude! Aku ingin kau membeli penginapan ini dan berikan penawaran terbaik untuk pemiliknya!

__ADS_1


__ADS_2