Menikahi Duda Misterius

Menikahi Duda Misterius
Kau Orang yang Mana?


__ADS_3

Saat tiba di club tempat pesta berlangsung, Ayna dan Anya mendapati teman-teman mereka sedang bersenang-senang.


ada yang mengobrol sembari minum-minum, ada juga yang berjoget ria.


Begitu melihat Ayna, Darren benar-benar terpesona pada kecantikannya dan mulai menyesal karena sebelhm hubungan mereka kandas dia belum menyentuh manisnya tubuh sang mantan.


Benar kata Ayna, Adam adalah pria bajingan yang hanya memikirkan selang kangan wanita!


Sama seperti Anya, Ayna pun mulai berbaur dengan pesta dan mengabaikan keberadaan Darren yang mencoba curi-curi pandang, bahkan tampak tak segan merayunya.


Tidak hanya Darren, Ayna juga mengabaikan Jaena yang berkali-kali memancing emosinya.


Dia menganggap keduanya seperti makhluk tak kasap mata.


“Ay, kenapa kau tidak membawa pasanganmu? Mungkinkah tidak ada yang mau menjadi partner ranjangmu?”


Mendengar kata-kata Jaena, Ayna tentu saja kesal. Akan tetapi, sebelum dia bisa membalas, Leon tiba-tiba datang mendekatinya.


“Bagaimana kalau aku saja?” tanya Leon—pria yang selama ini mengejar cinta Ayna. Dia menatap wanita itu dengan tatapan menggoda dan mulai merayu. “Aku pasti akan menjadi pria terhebat di atas ranjangmu.”


Ayna menggertakkan gigi dan mengepalkan kedua tangannya, bersiap memberikan pukulan yang mematikan ke wajah Leon.


Pada saat yang sama, Anya dengan sigap pasang badan untuk membantu Ayna membasmi para sampah itu.


Namun, kehadiran Adam yang berkilauan tidak hanya menghentikan aksi Ayna dan Anya, tetapi juga menarik perhatian semua orang yang merasa silau dengan keberadaannya.


“Maaf, aku datang terlambat,” kata Adam dengan penuh wibawa datang mendekati Ayna, membuat wanita itu menatapnya bingung.


Kemudian, Ayna beralih menatap Anya yang juga merasa bingung karena Adam tiba-tiba hadis di tengah-tengah mereka.


Tidak hanya membingungkan, sikap manis yang tidak pernah Adam pertontonkan di depan umum juga sangat mengejutkan.


“Haruskah kita pergi sekarang?” Adam menaikkan sebelah alisnya, memberi kode pada Ayna yang masih belum mengerti.

__ADS_1


Menangkap kode Adam, Anya pun dengan cepat mendorong tubuh Ayna hingga sang sahabat jatuh ke dalam pelukan pria agung itu.


“Pergilah, Ay … nikmati malam kalian.” Anya mengedipkan sebelah matanya dengan centil seperti sedang menggoda Ayna, padahal dia pun tengah membantu Adam untuk memberi kode pada wanita kurang peka itu.


Begitu saja, Adam pun menyeret Ayna pergi tanpa menghiraukan rasa bingung wanita itu.


Tidak lama setelah kepergian mereka, Anya pun mulai merasa bosan. Baginya, pesta itu tidak lagi menyenangkan sejak teman-temannya mencoba merendahkan dan merayu Ayna hingga sang sahabat pergi.


Karena itu, dia berniat undur diri. “Aku juga harus pergi, seseorang sudah menungguku.”


Di sisi lain, Julian juga menyaksikan apa yang disaksikan oleh Adam dari kejauhan. Keduanya mulai memperhatikan kerumunan mahasiswa yang sedang berpesta-fora itu sejak melihat kedatangan Anya dan Ayna.


Sementara Adam sudah bertindak layaknya pahlawan kesiangan, Julian baru saja akan memberikan serangan balasan ketika melihat Leon dan Darren pergi ke toilet.


Julian berpura-pura mabuk dan masuk ke kamar mandi dengan berjalan sempoyongan, sebelum akhirnya sengaja menabrakkan tubuhnya pada Leon dan Darren hingga mereka basah kuyup oleh air seni masing-masing.


“Maaf … maaf,” kata Julian dengan tatapan yang tidak focus seperti sedang benar-benar berada dalam pengaruh alkohol.


“Sial!”


Pada akhirnya, mereka memilih pergi setelah membersihkan diri masing-masing dan meninggalkan Julian yang tertawa puas.


Masih di club yang sama, Adam membawa Ayna masuk ke ruang private—tempatnya mengawasi Ayna dari pantulan kaca satu arah yang bisa membuatnya melihat semua yang terjadi di luar, sementara orang luar bahkan tidak mengetahui keberadaannya.


Adam langsung duduk di sofa, lalu menuangkan segelas anggur ke gelas kosong sembari bertanya dengan alis yang terangkat sebelah. “Jadi, ini alasanmu tidak masuk ke kantor hari ini?”


Ayna yang masih berdiri di depan pintu dengan raut wajah bingung, berbalik bertanya, “Kenapa kita di sini?”


“Minum,” sahut Adam tanpa beban dosa menyurungkan gelas yang sudah berisi anggur ke arah Ayna. “Temani aku,” imbuhnya menatap Ayna dengan tatapan yang sulit diartikan.


Tidak tahu alasan Adam mengajaknya minum bersama, Ayna tidak berniat menolak, terlebih ketika mengingat pria itu sudah berkali-kali membantunya.


Jadi, dia pun menerima gelas pemberian Adam dan duduk di sebelah pria itu.

__ADS_1


“Nyonya Waltons sakit, jadi aku harus menjaganya dan tidak datang ke kantor.” Ayna menjelaskan untuk menjawab pertanyaan Adam sebelumnya.


Adam mengerutkan keningnya. “Apa yang kau—”


“Aku pendampingnya,” sahut Ayna cepat.


“Jika harus membayar pendamping, pasti bukan nyonya yang baik, kan?” tanya Adam lagi.


Ayna tidak menjawab dan hanya tersenyum tipis sebagai tanggapan, sebelum akhirnya menenggak seteguk anggur dari gelasnya.


Masih dengan rasa ingin tahunya, Adam kembali bertanya, “Kenapa dia? Kurasa, masih banyak nyonya lain yang lebih baik dari dia di dunia ini.”


Sekali lagi, Ayna tersenyum. Akan tetapi, kali ini dengan jawaban seadanya. “Tapi hanya dia yang bersedia mengulurkan tangan di saat aku benar-benar membutuhkan bantuan.”


Seketika, Ayna ingat bagaimana dia dan ibunya mengalami kesulitan setelah ayahnya meninggal. Karena itu, ibunya harus bekerja keras untuk kebutuhan mereka sehari-hari hingga dia sakit dan akhirnya meninggal juga.


Sejak saat itu, kehidupan yang Ayna jalani semakin sulit. Dia tidak hanya harus berhenti sekolah, tetapi juga bekerja di sebuah kedai makan hanya demi sesuap nasi.


Suatu hari saat dalam perjalanan hendak pergi bekerja, Ayna bertemu dengan Nyonya Waltons yang sedang mengalami kemalangan dan tanpa pikir panjang langsung membantunya hingga wanita itu menawarkan kebaikan padanya dengan menjadi pendamping.


Pekerjaannya mewajibkan Ayna untuk selalu ada di sisi Nyonya Waltons dan terkadang, dia juga harus merawat wanita tua itu seperti bayi kecil.


Meski begitu, Ayna tidak keberatan karena dia bisa melanjutkan sekolah berkat uang yang diberikan oleh Nyonya Waltons.


“Aku juga digaji $700 per bulan.” Ayna menambahkan hingga menimbulkan raut terkejut di wajah Adam.


Melihat itu, Ayna tersenyum lembut. “Mungkin bagimu itu tidak seberapa, tapi cukup besar bagiku.”


Setidaknya, dia bisa mencukupi kebutuhannya dengan uang itu, bahkan masih bisa membeli sedikit pakaian atau pun peralatan make-up seperlunya saja.


Adam mengangguk mengerti dan berkata, “Kurasa kesepian ada harganya.”


“Aneh, bukan? Beberapa orang justru terlihat bahagia sendirian, tapi ada juga yang justru butuh orang lain untuk melewati harinya,” balas Ayna masih dengan senyuman manis di wajahnya.

__ADS_1


“Kau orang yang mana?”


__ADS_2