
Setelah membuat Charles terbangun di tengah malam dan memberikan titah tak terbantah untuk membeli penginapan yang menjadi saksi percintaannya dengan Ayna, Adam tanpa pikir panjang langsung mematikan sambungan telepon.
Kemudian, dia kembali naik ke atas ranjang dan memberikan kenyamanan yang dibutuhkan oleh Ayna, sebelum akhirnya ikut terlelap dan berkelana ke alam mimpi bersama wanita itu.
"Dasar duda sialan! Aku sumpahi kau akan menduda untuk waktu yang lama!" Charles yang dibangunkan dari mimpi indahnya, langsung mencaci-maki atasan yang semena-mena itu sesaat sambungan telepon terputus secara sepihak.
Bagaimana tidak kesal, jika mimpinya yang hampir mencapai puncak kenikmatan harus berakhir hanya karena panggilan telepon dari Adam.
Beruntung, sumber mimpi itu ada di sampingnya hingga dia bisa membuat mimpinya itu menjadi kenyataan.
"Sayang ...." Charles berbisik dengan penuh hasrat di dekat telinga Bianca—sang kekasih, sebelum akhirnya mengganggu tidur wanita itu hanya untuk merealisasikan mimpinya.
Menyadari tubuhnya dijamah, Bianca justru menerima dengan senang hati dan menyudahi mimpinya yang tidak senikmat sentuhan Charles.
Pria itu selalu bisa membuatnya berkali-kali mengejang nikmat!
Begitu saja, Charles membawa Bianca mendaki kenikmatan, tanpa memikirkan lebih jauh lagi maksud dari perintah Adam.
Menurut Charles, hal itu bisa dia tanyakan nanti saat di perusahaan, sementara saat ini ada yang lebih penting dan harus dia tuntaskan segera.
Yakni, menyiramkan lahar panasnya ke rahim sang kekasih.
***
Keesokan paginya, sinar mentari yang datang dari jendela memancar ke mata Ayna yang masih terpejam hingga membuat wanita itu merasa sedikit silau.
Belum lagi, panggilan alam pun sudah menghampiri Ayna hingga dia harus menjauh dari sumber kenyamanan yang membuat tubuhnya hangat sepanjang malam.
Wanita itu belum sadar sepenuhnya dari situasi dan kondisi yang sedang terjadi padanya, tetapi dia sudah membuka mata lebar-lebar dan hendak beranjak pergi ke kamar mandi.
Namun, seonggok manusia yang berbaring telentang di hadapannya, tidak hanya menghentikan pergerakan, tetapi juga membangunkan Ayna sepenuhnya dari mimpi indah.
Pupil Ayna membesar bersamaan dengan mulutnya yang ternganga dan segera dia tutup menggunakan telapak tangannya.
Detik berikutnya, Ayna mengingat semua yang terjadi kemarin malam membuat wajahnya memerah.
__ADS_1
Terlebih, dirinya dan Adam melakukan penyatuan yang seharusnya hanya dilakukan oleh pasangan sudah menikah, dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya, tanpa pengaruh alkohol atau paksaan siapa pun.
"Apa yang kau pikirkan?" Suara serak dan dalam Adam membuat Ayna terlonjak kaget.
"Astaga!" pekik Ayna tertahan sembari memegang dadanya yang berbalut selimut. "Kau mengagetkanku!"
"Siapa yang memintamu melamun pagi-pagi buta?" balas Adam tanpa rasa bersalah.
Baginya, rasa terkejut yang dialami oleh Ayna disebabkan oleh lamunan wanita itu sendiri, bukan karena dirinya.
"Kenapa wajahmu merah begitu?" tanya Adam berpura-pura tidak tahu kenapa wajah Ayna bisa Semerah kepiting rebus.
Dia yakin, wanita itu pasti merasa malu!
Benar saja, Ayna memang malu atas apa yang terjadi.
Namun, Adam justru bersikap biasa saja seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara mereka.
Hanya saja, sikap pria itu menjadi lebih lembut dan manis terhadap Ayna. "Ayo, aku akan membantumu membersihkan diri, setelah itu kita sarapan bersama."
'Membantuku membersihkan diri, apa maksudnya itu?' batin Ayna, tidak berani bertanya langsung pada Adam.
"Iya, ayo." Adam tidak menjelaskan apa pun pada Ayna, hanya langsung menggendong wanita itu.
"Eh, apa yang ingin kau lakukan?" Ayna kembali dibuat terkejut dengan tindakan dan sikap Adam.
"Berpegangan jika kau tidak ingin jatuh!" Adam masih saja dengan sikapnya yang enggan menjelaskan apa pun untuk menjawab rasa ingin tahu Ayna dan hanya ingin memberikan jawaban dengan tindakannya.
Adam membawa Ayna ke kamar mandi dan meletakkan tubuh wanita itu ke atas wastafel, sebelum akhirnya mengisi air hangat ke dalam bathtub.
"Tuan, aku bisa sendiri." Ayna menatap Adam dengan wajah yang semakin memerah, ingin rasanya mencari sebuah lubang untuk menyembunyikan dirinya.
"Diam dan nikmati saja!" seru Adam dengan tatapan yang menyiratkan dirinya tidak ingin dibantah.
Setelah air terisi, Adam kembali mengangkat Ayna dan meletakkannya ke dalam bathtub, sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam dan duduk di belakang wanita itu.
__ADS_1
Ayna tentu saja gugup dan khawatir dengan apa yang terjadi selanjutnya, tetapi Adam tidak melakukan apa pun padanya, selain membersihkan dirinya dengan telaten.
Adam benar-benar memandikan Ayna tanpa embel-embel lain untuk memuaskan dirinya sendiri dan memperlakukan wanita itu layaknya bayi yang tidak bisa mandi sendiri.
"Berhentilah memerah, kita bahkan sudah melakukan yang lebih dari ini," kata Adam saat membantu Ayna mengenakan pakaian yang sudah dia keringkan sebelumnya.
Bukannya berhenti, wajah Ayna justru semakin memerah. Dia tidak bisa berhenti merasa malu, meski sudah saling menelanjangi, bahkan menyatu dalam gairah yang membara.
Kemudian, Adam membawa Ayna sarapan bersama di restoran sederhana yang ada di penginapan, sebelum akhirnya kembali ke pusat kota karena cuaca membaik.
Setelah apa yang terjadi, Adam tidak membawa Ayna kembali ke perusahaan untuk bekerja, dia justru mengantarkan Ayna ke kediaman Nyonya Waltons agar wanita itu bisa beristirahat lebih lama lagi.
"Tuan, kita tidak kembali ke perusahaan?" Mengingat suasana intim di antara dirinya dan Adam sudah berakhir, Ayna kembali bersikap formal dan menatap pria itu dengan bingung saat menyadari arah tujuan Maybach Exelero itu tidak menuju ke perusahaan.
Kemarin, mereka berhasil mendapatkan proyek baru. Jadi, bukankah seharusnya mereka kembali ke perusahaan untuk membahas tentang proyek tersebut?
"Tidak, aku memberikan libur untukmu hari ini," sahut Adam acuh tak acuh, masih fokus pada kemudi mobilnya.
Meski kebingungan, Ayna tidak ingin memikirkannya lebih jauh, apalagi sampai kembali mempertanyakan keputusan Adam.
Dia khawatir pria itu akan berubah pikiran dalam hitungan detik.
Ketika sampai di gerbang kediaman Nyonya Waltons, Adam turun lebih dulu hanya untuk membukakan pintu mobil penumpang yang menampung Ayna.
Namun, Ayna justru tidak sengaja melihat buku di dashboard saat hendak turun dan karena tidak bisa menahan rasa penasaran, dia mengambil buku itu
Bahkan, sudah membuka buku yang berjudul, [SEBUAH ANTOLOGI PUISI CINTA.]
Di halaman pertama, Ayna membaca untaian tinta yang begitu indah dan bertuliskan, [From Jovanka to Adam]
Saat pintu penumpang sudah terbuka, Adam melihatnya dan merasa tidak senang. "Tolong kembalikan itu pada gtempatnya semula!"
“Oh, tentu … maaf.” Ayna langsung meletakkan buku tersebut ke tempat semula, sebelum akhirnya keluar dari mobil Adam.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Adam pun langsung masuk dan melajukan mobilnya, bahkan tidak sedikitpun dia menatap wanita yang sudah memberikan kenikmatan padanya.
__ADS_1
Melihat Adam pergi tanpa kata, Ayna merasa hampa dan langsung masuk ke dalam kamar sembari merutuk dirinya sendiri. "Gadis bodoh! Kenapa kau membaca bukunya?!"