Menikahi Duda Misterius

Menikahi Duda Misterius
Kita Tidak Melakukannya, kan?


__ADS_3

"Wah, apa aku sudah gila?" Ayna sangat terkejut dengan rangkaian kata yang ditulisnya tanpa sadar. Bahkan, Ayna tidak percaya pada dirinya sendiri. "Aku menulis dia keren?"


Pada akhirnya, Ayna tiba-tiba tertawa keras dan berguling-guling sembari bertepuk tangan, benar-benar terlihat seperti wanita gila.


Terus berguling, Ayna tidak menyadari bahwa posisinya saat itu sudah berada di pinggiran hingga dia pun terjatuh.


Seketika, bayangan saat dia mabuk dan menindih tubuh Adam, kembali melintas di kepala kecilnya.


Saat itu, Ayna naik ke atas tubuh Adam, membuat pria itu terkejut hingga sampai menyilangkan kedua tangannya di dada seolah-olah sedang melindungi dirinya agar tidak ternodai.


Mengabaikan reaksi dan ekspresi Adam, Ayna bersikap manja dan centil saat mengikuti jarak di antara mereka sehingga pria itu tidak bisa menahan godaan pada bibir mungilnya.


Awalnya, Ayna yang memulai c*uman pertama mereka, sebelum akhirnya Adam membalas hingga mereka berc*uman cukup lama dengan ha srat masing-masing yang sudah naik ke ubun-ubun.


Namun, Ayna tidak bisa mengingat apa pun lagi setelahnya, semua ingatan langsung buyar dari kepala kecilnya


“Kenapa ini? Kenapa aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi selanjutnya?” gumam Ayna dengan rasa frustasi, dia pun terlalu lelah mencoba mengingat kenangan yang hilang dari ingatannya.


Keesokan paginya, Adam bangun dari tidurnya dengan rasa pengar di kepalanya. Bahkan, dia juga merasa kesakitan di sekujur tubuhnya seolah-olah sudah melakukan pekerjaan yang cukup berat dan melelahkan pada malam sebelumnya.


Setelah beberapa saat, Adam berusaha duduk sembari menggelengkan kepala, sebelum akhirnya memegang kepalanya yang terasa berat seperti dihentam dengan batu besar. “Ahhh … kepalaku …”


“Ssshhh.” Adam mencoba membuka matanya yang masih berat, lalu melihat ke sekeliling dan mendapati kemejanya teronggok di atas ranjang, berbalut dengan selimut yang menutup tubuh bagian bawahnya.


Saat meraih kemeja, Adam mendapati celana panjangnya juga teronggok di sana. Dengan raut bingung, Adam menatap kedua helai kain berwarna hitam dan putih itu, sebelum akhirnya menyadari bahwa tubuhnya memang tidak berbalut pakaian.


Meski begitu, dilehernya masih terdapat dasi yang sudah terbuka. Adam menarik dasi itu dari lehernya dan membuang benda itu ke sembarang arah.


Masih kebingungan dengan situasi yang terjadi, Adam membuka sedikit selimut yang dia kenakan dan sangat terkejut begitu mendapati tidak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuh bagian bawahnya, selain selimut yang membalutnya saat ini.


“Tunggu ….”


Tidak hanya terkejut, duda itu bahkan terlihat gelisah seolah-olah tidak pernah ditelanjangi atau menelanjangi seseorang sebelumnya.


Dalam sekejap, Adam berhasil menyeret ingatannya pada malam sebelumnya saat dia keluar dari club bersama Ayna.

__ADS_1


"Astaga." Adam meremas kepalanya dengan rasa frustasi saat mengingat dirinya memeluk Ayna di depan club.


Detik berikutnya, ingatan Adam kembali berkelana saat mengingat bagaimana Ayna dengan susah payah membawanya pulang hingga masuk ke dalam kamar.


Sebelum Ayna membaringkannya, Adam justru melempar wanita itu ke atas ranjang, bahkan menindihnya.


Adam juga menatap wajah Ayna dengan dalam dan penuh makna, membuat wanita itu sangat gugup hingga menggenggam tangannya sendiri dengan erat.


"Tu—tuan ...."


Tidak memberikan kesempatan pada Ayna untuk berbicara, Adam langsung mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu, sebelum akhirnya bibir mereka menempel dan saling berpaut.


Bahkan, lidah keduanya juga ikut bekerja sama dalam membangkitkan hasrat masing-masing.


Namun, ingatan itu hanya berhenti sampai di sana dan Adam tidak mampu mengingat apa pun lagi setelahnya.


“Ahhh ….” Adam sangat shock dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, seperti anak gadis yang baru saja diperawani. “Tidak, itu tidak mungkin!”


Adam benar-benar tidak menduga bahwa dirinya akan berbuat seperti itu pada Ayna, wanita yang baru dia kenal dan kini menjadi bawahannya.


Jadi, dia akan lebih banyak bertemu dengan Ayna, daripada karyawan lainnya.


Ketika masuk ke dalam kantornya, Adam tersentak kaget saat mendapati Ayna sudah lebih dulu berada di sana. Bahkan, wanita itu langsung menyapanya dengan senyum ceria.


“Selamat pagi.” Ayna beranjak dari posisi duduknya hanya untuk menyapa Adam dengan senyum lebar dan postur centil seperti ulat bulu.


Melihat Ayna tersenyum malu-malu dengan kedua jemari tangan yang saling bermain, Adam justru tampak semakin frustasi mengingat kejadian kemarin malam yang ingin dia lupakan begitu saja.


“Hei, kenapa … kenapa kau kelihatan malu-malu begitu?” Adam takut dan geli sendiri melihat ekspresi Ayna.


“Entahlah.” Ayna tertawa masih dengan malu-malu, bahkan membekap mulutnya dengan satu tangan.


“Hei, jangan malu.” Adam kesal.


Bagaimanapun, bukan ekspresi malu-malu dari Ayna yang dia inginkan, melainkan penjelasan lebih lanjut tentang kejadian semalam.

__ADS_1


Apakah mereka benar-benar melakukannya?


Namun, Adam terlalu takut untuk langsung bertanya. Jadi, dia hanya memutuskan untuk pergi ke kursi kebesarannya dan menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan.


Di belakang, Ayna masih bersikap seperti ulat bulu.


Meski sangat ingin pergi dan melupakan segalanya, Adam justru tidak bisa rasa penasarannya.


Karena itu, dia pun berbalik hanya untuk bertanya, “Hei, Ayna Maurice, soal semalam ….”


Adam terlihat kebingungan, tidak tahu harus memulai pertanyaannya dari mana. “Jadi, bagaiamana aku harus mengatakannya, ya?”


Ayna tidak mengatakan apa pun, hanya mendengarkan Adam dalam diam sembari tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali.


“Saat pria dan wanita ….” Adam menatap Ayna yang menatapnya dengan berbinar dan senyuman seolah-olah ada cinta di antara mereka dan itu membuatnya semakin takut. “Kita tidak melakukannya, kan?"


“Entahlah.” Ayna mengatupkan bibirnya rapat-rapat, sebelum akhirnya tangannya juga ikut membekap mulutnya.


“Apa ada sesuatu lain yang bisa kau katakan selain ‘entahlah’?”


Ayna tampak berpikir sembari menggigit jemarinya, lalu berkata, “Aku tidak yakin.”


“Aihhh ….” Adam semakin tertekan, terlebih saat melihat Ayna tertawa malu-malu. “Kita melakukannya, ya?”


Ayna tidak menjawab, tetapi ekspresinya berhasil membuat Adam ingin mencakar-cakar wajah cantiknya itu.


“Aku kacau.” Adam langsung berlalu pergi dari hadapan Ayna, tidak ingin lebih lama lagi menatap wajah wanita itu atau kesabarannya benar-benar akan hilang.


Melihat Adam begitu tertekan, Ayna tertawa puas di dalam hatinya. ‘Rasakan itu, Adam Shinkar! Kau juga tidak mengatakan padaku apakah waktu itu kita tidur bersama. Sekarang, aku ingin kau juga merasakan apa yang aku rasakan.’


“Aku ingin kau bekerja untukku, meski masa magangmu sudah berakhir, Ayna.”


Tiba-tiba, Ayna teringat kata-kata yang diucapkan oleh Adam dalam keadaan mabuk dan sebelum akhirnya pria itu tambang di bahunya.


“Apa maksudnya itu?” gumam Ayna dengan menghela nafas panjang. “Hmmm, Terserahlah. Ayna, dia sedang mabuk dan pasti tidak ingat dengan apa yang dikatakannya, jadi, lupakan saja!”

__ADS_1


__ADS_2