Menikahi Duda Misterius

Menikahi Duda Misterius
Bunuh Saja Mereka


__ADS_3

“Kenapa lama sekali?” Anya langsung menggerutu dengan tampang kesal begitu melihat Ayna akhirnya datang ke Hug Me Café—tempat mereka membuat janji setelah jam kantor berakhir.


Namun, butuh lebih dari setengah jam bagi Ayna untuk tiba di sana, membuat Anya harus menunggu cukup lama hingga bokoongnya terasa panas.


Beruntung, Anya belum memesan makanan apa pun, selain segelas ice lemon tea. Jika tidak, makanannya pasti sudah dingin atau sudah kering kontang seperti minumannya.


“Sorry,” kata Ayna tulus sembari duduk di depan Anya dengan nafas yang terlihat turun naik seperti orang yang habis berlarian, membuktikan bahwa dia begitu terburu-buru agar bisa tiba di Hug Me Café secepat mungkin. “Bu Cindy memintaku menyelesaikan laporannya hari ini juga karena besok aku akan dipindah tugas ke Kantor Direktur Utama.”


“Astaga, Ayna!” Anya memekik kaget, membuat Ayna tersentak dan menatapnya dengan kesal.


“Kau gila, ya?”


“Tidak,” sahut Anya tanpa dosa, dia sembari menggelengkan kepalanya dengan tatapan takjub yang masih tertuju pada Ayna.


“Jadi, kenapa kau berteriak?” Ayna menatap sang sahabat dengan tatapan aneh.


“Apa yang sudah kau lakukan?” tanya Anya dengan rasa ingin tahu yang dalam, membuat Ayna mengerutkan kedua alisnya.


“Apa yang sudah aku lakukan?” Ayna berbalik bertanya dengan bingung, merasa tidak melakukan sesuatu yang salah, selain berinteraksi dan berakhir di tempat tidur orang asing.


Namun, kenapa ekspresi sahabatnya bisa seheboh itu seolah-olah dia sudah merusak dunia?


“Kenapa kau bisa seberuntung itu hingga bisa bekerja langsung di bawah bimbingan direktur utama?”


Bagi Anya dan semua manusia yang ada di muka bumi ini adalah suatu keberuntungan bisa bekerja di Brillant Avenir Enterprise, terlebih jika berada di ruangan yang sama dengan direktur utama.


Benar-benar keberuntungan yang turun dari langit!


Karena itu, Anya benar-benar penasaran dengan amal baik yang Ayna perbuat hingga bisa mendapatkan keberuntungan itu. Jika bisa, dia juga ingin mengamalkannya.


“Ya, mana aku tau … tiba-tiba saja Bu Cindy memintaku untuk tidak datang ke ruangannya lagi mulai besok dan sebagai gantinya pergi ke ruangan direktur untuk menjadi sekretarisnya.” Ayna menjelaskan sembari melihat buku menu.

__ADS_1


“Ya, ampun, Ay … biar aku saja yang menggantikan posisimu. Bagaimana?” Anya terlihat begitu antusias menawarkan dirinya untuk ditukar ganti ke ruangan direktur utama.


Ayna mengangkat kepalanya dari buku menu hanya untuk menatap sang sahabat dengan ekspresi kebingungan yang tidak bisa disembunyikan. “Kenapa kau begitu ingin bekerja bersama direktur?”


Anya memutar bola matanya atas ketidaktahuan dan ketidakpedulian Ayna dengan situasi sekitar sehingga dia bahkan tidak tahu apa yang membuat semua karyawan di Brillant Avenir Enterprise sangat ingin berada di sisi direktur utama.


Pada saat yang sama, Anya juga yakin pasti akan banyak orang yang merasa iri pada Ayna.


Bagaimanapun, dia hanyalah karyawan magang.


Namun, keberuntungannya tidak main-main.


Padahal, masih begitu banyak karyawan tetap yang sudah lama bekerja, bahkan mungkin sudah berjamur di Brilliant Avenir Enterprise.


“Bukan hanya aku, tapi karyawan lain juga sangat ingin berada di posisimu,” kata Anya apa adanya, lalu dengan penuh semangat mulai membicarakan direktur utama. “Kau tidak tau, ya? Direktur kita itu duda keren sarang duit. Jadi, semua orang, … lebih tepatnya para wanita di kantor berlomba-lomba untuk bisa berada di sisinya. Bahkan, menjadi simpanannya pun mereka rela.”


“Kau mau jadi simpanannya?” tanya Ayna dengan alis yang terangkat sebelah, tampak tidak tertarik dengan cerita Anya.


“Jadi simpanan?” Anya berbalik bertanya dengan sinis, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menunjukkan betapa dia tidak ingin menjadi simpanan. “Big no!”


Mendengar itu, Ayna hanya memutar bola matanya, tanpa memberikan tanggapan lain.


“Ay, pokoknya kau harus menggoda Tuan Shinkar … buat dia jatuh cinta padamu,” tutur Anya lagi, memaksa sahabatnya untuk menjadi penggemar sang direktur juga.


“Kenapa?”  Ayna bertanya tanpa minat.


Hanya melihat dari perbedaan status yang seperti langit dan bumi, Ayna benar-benar tidak berminat dan berniat menggaet hati sang direktur.


Setidaknya, dia harus sadar diri!


Lagipula, Ayna juga tidak ingin bersaing dengan banyak wanita hanya untuk mendapatkan satu pria.

__ADS_1


Itu terlalu melelahkan!


“Kalau kau patah hati lagi, kau bisa menghapus air matamu dengan duit, bukan tisu atau kain murahan lainnya.”


Mendengar ucapan Anya , Ayna tergelak. Kemudian, kedua wanita itu pun kembali melanjutkan banyak pembicaraan lainnya sembari menyantap hidangan sore yang mereka pesan.


Setelah selesai, keduanya keluar dari cafe dan tidak sengaja bertemu dengan Jaena. Kali ini, wanita itu tidak sendirian, melainkan sedang bergandengan tangan dengan Darren—pria yang Ayna tunggu kabarnya selama seminggu ini.


Lebih tepatnya, Ayna menunggu permintaan maaf yang tulus dari si bajingan tukang selingkuh dan fitnah itu.


Namun, Darren tampak tidak menyesal sedikitpun setelah berselingkuh dari Ayna dan memutar balikkan fakta yang ada. Pria terkutuk itu malah bersikap seolah-olah tidak melihat Ayna, bahkan semakin bergandengan mesra dengan Jaena untuk memasuki Hug Me Café.


Ayna berhenti melangkah, membuat Anya yang bergandengan tangan dengannya juga ikut berhenti.


Tatapan membunuh Ayna layangkan pada Darren sambil berpikir ingin mengikat tubuh sang mantan bajingan di sebuah ruangan yang kedap suara, lalu menusuk benda pusakanya dengan besi panas dan menambahkan air perasaan jeruk ke lukanya. Saat pria laknat itu berteriak, Ayna akan merobek mulutnya hingga dia menangis meraung minta ampun.


Tidak cukup sampai di sana, Ayna juga berpikir ingin membakar rambut Darren hingga mendidihkan otaknya yang hanya berisi seputar ************ wanita.


Namun, Ayna tidak ingin melakukan apa yang ada di dalam pikirannya karena tidak ingin mengotori tangannya untuk menyentuh kotoran masyarakat seperti Darren.


Karena itu, dia hanya menarik tangan Anya untuk berjalan cepat, lalu dengan sengaja menabrak Darren dan Jaena sembari menyanyikan lagu yang berisi sumpah serapah.


“Hei, dasar wanita gila!” Jaena yang tak senang tentu saja balas memaki Ayna, bahkan dia juga ingin menjambak rambut wanita itu.


Namun, Darren menghentikannya. “Sudahlah, jangan ladeni dia.”


Ayna menggeram, tetapi tidak melakukan apa pun lagi karena Anya menariknya untuk menjauhi sejoli yang sedang dimabuk cinta itu.


“Kenapa kau masih mau berurusan, bahkan bersentuhan dengan dua manusia beracun itu?” tanya Anya dengan wajah cemberut, menunjukkan ketidaksenangannya atas perbuatan Ayna.


“Aku kesal setiap kali melihat mereka berdua,” gerutu Ayna.

__ADS_1


“Kalau begitu, kenapa tidak kau bunuh saja mereka?” Tanpa beban Anya mengajukan pertanyaan itu, membuat Ayna tertegun sejenak hingga berhenti melangkah.


“Ide bagus, akan aku pikirkan,” balas Ayna dengan antusias dan tatapan berbinar seolah-olah saran Anya benar-benar harus dipikirkan lagi karena merupakan ide brilian.


__ADS_2