
Ketika sedang menikmati alckohol pesanannya, Ayna dengan cemberut membuka ponselnya hanya untuk memeriksa pesan dan telepon masuk.
Namun, dia tidak mendapati satu pun notifikasi dari Darren hingga menghampakan hatinya yang terlalu berharap.
Bodoh, kenapa juga harus berharap pada pria yang sudah jelas-jelas selingkuh di depan matanya.
Bahkan, Darren sedikitpun tidak mengingat Ayna karena terlalu dimanjakan oleh seorang wanita.
“Darren bajingaan! Benar-benar bajinngan siialan!” umpat Ayna kembali menenggak alcohol dari gelasnya hanya dengan sekali tegukan. “Bukankah seharusnya dia mengirim pesan atau menelponku untuk meminta maaf?”
Pada saat yang sama, Ayna menyadari ada seorang pria yang datang mendekati dan berdiri di hadapannya. Sayangnya, dia tidak bisa mengenali bahwa pria itu adalah Adam hanya karena kontak lensanya terlepas saat menangis beberapa saat lalu.
“Pergilah, aku sedang tidak ingin diganggu,” kata Ayna dalam keadaan setengah sadar dan berpikir bahwa Adam adalah pria mesum yang datang untuk mengambil kesempatan darinya ketika mabuk.
Menyadari pria itu masih tidak beranjak dari posisinya, Ayna mendengus kesal dan berkata dengan ketus. “Kenapa kau masih belum pergi juga?”
“Kau ingin aku pergi?” tanya Adam dengan wajah datar andalannya.
Mendengar suara tidak asing itu, Ayna langsung mengangkat kepala dan menyipitkan matanya untuk menelisik sosok yang berdiri di hadapannya dan ketika berhasil mengenali sosok Adam, dia justru tercengang hingga kehilangan kata-katanya.
Melihat ekspresi Ayna, Adam segera merogoh saku jasnya untuk mengeluarkan sesuatu dari sana dan menyerahkannya pada wanita itu.
“Ini.” Adam meletakkan kotak bedak milik Ayna ke atas meja, lalu lanjut bicara, “Kau sengaja meninggalkannya, kan?”
Beberapa saat lalu, Adam memang sempat mengkhawatirkan keadaan Ayna yang memilih mabuk setelah putus cinta dan kebetulan.
Dia ingin menemui dan menemani Ayna hanya untuk memastikan wanita itu baik-baik saja, tetapi enggan karena gengsi.
Saat hati dan pikirannya bergelut, Adam mendapati bedak wanita itu terjatuh di taksi.
Dia pun menggunakan bedak tersebut sebagai alasan untuk kembali menemui dan memastikan bahwa Ayna tidak dimanfaatkan ketika dalam keadaan terpuruk seperti saat ini.
Ayna melihat cushion yang baru saja Adam letakkan di atas meja, lalu kembali mengangkat pandangannya untuk melihat pria itu dengan tawa khas orang mabuk. “Apaan ini? Senang rasanya bisa melihat wajah yang familiar.”
Adam masih berdiri dengan wajah datar andalannya, sama sekali tidak memberikan tanggapan atas kata-kata Ayna yang sudah mulai menyimpang.
“Aku tidak mendapatkan pesan atau telepon dari siapa pun,” keluh Ayna sembari menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. “Aku benar-benar merasa seperti seorang penyendiri.”
Kemudian, wanita mabuk itu kembali mengangkat pandangannya untuk melihat Adam sembari tersenyum. “Tapi kenapa aku begitu senang saat melihat wajah yang familiar?”
“Kurasa kau benar-benar sengaja meninggalkan ini,” kata Adam dengan penuh keyakinan bahwa Ayna meninggalkan cushion-nya hanya agar dia menyusulnya.
“Mungkin,” sahut Ayna dengan acuh tak acuh, lalu menyurungkan sebuah gelas kosong ke arah Adam untuk menawarinya minum bersama.
__ADS_1
Bukannya menerima gelas pemberian Ayna, Adam justru mengambil cushion dari atas meja dan memberikannya pada wanita itu. “Aku datang hanya untuk mengembalikan ini.”
Namun, Ayna yang tidak pantang menyerah malah mengambil cushion dari tangan Adam dan menggantinya dengan gelas. Tidak menunggu lebih lama lagi, Ayna pun langsung menuangkan alcohol ke dalam gelas yang sudah ada di dalam genggaman Adam.
“Hei, tunggu ….”
Ayna tidak menghiraukan penolakan Adam dan justru mendetingkan gelas mereka dengan senyum tanpa dosa, membuat pria itu menggelengkan kepalanya. “Astaga.”
Pada akhirnya, Adam pasrah menenggak alcohol yang sudah dituangkan oleh Ayna, sebelum akhirnya duduk di depan wanita itu dan mereka pun minum, bahkan mabuk bersama.
***
Keesokan paginya, Ayna terbangun di ranjang besar dengan suasana kamar yang maskulin dan tampak asing. Dia pun segera beranjak duduk sembari mencoba mengingat apa kejadian pada malam sebelumnya hingga bisa berakhir di kamar yang tampak berantakan seperti baru saja terjadi perang di sana, bahkan pakaiannya juga terlihat acak-acakan.
Samar-samar, Ayna mengingat dirinya sudah mendorong Adam ke atas sofa, sebelum akhirnya dia naik ke atas tubuh pria itu.
“Ha?!” Ayna sangat shock dengan ingatannya dan langsung menutup mulutnya yang terbuka lebar.
“Apa yang sudah aku lakukan?” tanya Ayna dengan rasa frustasi kala ingatan dirinya hendak mencium Adam muncul di kepala kecilnya.
Ayna benar-benar terkejut, bahkan tidak percaya dengan ingatannya sendiri. Terlebih, dia tidak bisa mengingat semua yang terjadi malam itu.
“Tidak, tidak mungkin aku melakukan hal … itu padanya!” sangkal Ayna sembari menggeleng kuat. “Iya, kan?” imbuhnya lagi mencoba meyakinkan dirinya yang tidak sepenuhnya yakin.
Karena tidak puas hati, Ayna pun beranjak turun dari atas ranjang hanya untuk mencari keberadaan Adam dan menanyakan secara langsung pada pria itu apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua.
Namun, begitu mendapati suara air yang mengalir di dalam kamar mandi dan yakin Adam ada di dalam sana, Ayna justru menjadi ragu. Jangankan bertemu, bahkan dia juga tidak tahu harus mengatakan pada pria itu.
“Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus kulakukan di situasi seperti ini?” tanya Ayna sembari mondar-mandir dengan perasaan bingung dan panik.
Kemudian, dia mencoba melambaikan tangannya dengan canggung, mencoba mempraktekkan apa yang akan dia lakukan di depan Adam nanti. “Haruskah aku menyapanya? Minta maaf? Berterima kasih?”
“Tidak … tidak!” Ayna segera menggelengkan kepalanya, “Tidak mungkin aku menyapanya setelah apa yang terjadi? Atas kesalahan apa aku minta maaf dan untuk apa juga aku berterima kasih?”
Bukankah itu akan membangkitkan kembali ingatan tentang kemarin malam? Sangat memalukan!
Pada akhirnya, Ayna mengambil kertas dan pena yang ada di atas nakas, lalu menuliskan kata ‘maafkan aku’, sebelum akhirnya berlari untuk keluar dari rumah Adam dengan penampilannya yang terlihat seperti wanita gila.
Bahkan, dia sendiri pun sampai terlonjak kaget saat tak sengaja menatap dirinya dari pantulan kaca mobil di depan rumah Adam.
“Wah!” Ayna tampak shock dan tak percaya bahwa wanita berantakan yang ada di hadapannya adalah dirinya sendiri. “Aku benar-benar membenci diriku sendiri!”
Di sisi lain, Adam baru saja keluar dari kamar mandi saat ponselnya berdering karena panggilan masuk dari Austin, pamannya.
__ADS_1
Pada saat yang sama, dia juga tidak sengaja melihat kertas yang terdapat tulisan tangan Ayna dan hanya menggeleng pelan, lalu menjawab panggilan telepon dari sang paman.
“Kau tidur dengannya?” Pertanyaan pertama yang Austin layangkan pada Adam begitu panggilannya mendapatkan jawaban.
“24 panggilan tak terjawab,” sahut Adam memutar bola matanya dengan jengah, tidak berniat menjawab pertanyaan sang paman.
“Iya, kan? Kau pasti tidur dengannya,” balas Austin masih dengan rasa ingin tahunya dan tidak ingin melepaskan Adam begitu saja.
“Aku dapat 24 panggilan tak terjawab dari orang yang sama hanya untuk pertanyaan tak berguna ini?” Adam berbalik bertanya.
Adam tahu bahwa Austin memiliki rasa ingin tahu yang berlebihan tentang kepentingan atau pun urusan dirinya, terlebih jika itu menyangkut kisah cintanya. Akan tetapi, tidakkah seharusnya pria paruh baya itu menghubunginya sebanyak 24 kali untuk menanyakan sesuatu yang lebih penting.
“Hei, aku hanya penasaran.”
Mungkin, bagi Adam kisah cintanya tidaklah penting, tetapi bagi Austin itu lebih penting dari apa pun urusan di dunia ini.
“Setelah kau pergi dengan wanita itu, aku tidak bisa tidur semalaman,” kata Austin apa adanya, “Bukankah dia asisten Nyonya Waltons? Dia juga yang menuduh sebagai pria mesum, kan?”
Kemarin malam, Austin benar-benar tidak tidur hanya karena memikirkan apa yang dilakukan oleh Adam dengan asisten Nyonya Waltons. Padahal, sebelumnya Adam sempat menggerutu kesal dan mengatakan bahwa wanita itu gila karena menuduh orang dengan sembarangan.
Namun, mereka justru pergi bersama dengan saling bergandengan tangan layaknya pasangan.
“Hmmm, itu dia,” jawab Adam singkat.
“Jadi, apa kau tidur dengannya?” Sekali lagi, Austin bertanya dengan rasa ingin tahu yang tidak bisa dia sembunyikan lagi.
“Entahlah,” sahut Adam menahan senyumnya, membiarkan sang paman diderita rasa penasaran.
“Astaga, aku benar-benar penasaran,” gerutu Austin sedikit kesal, “Karena Jovanca, kau tidak pernah lagi berinteraksi dengan perempuan.”
Mendengar Austin menyebut nama ‘Jovanca’ yang begitu tabu, senyuman di wajah Adam seketika sirna tanpa jejak.
“Wah, kau tidur dengannya, kan?” Austin masih saja bertanya, dia tidak menyadari perubahan pada raut wajah Adam.
Itu karena, Austin terlalu senang melihat Adam bersama dengan seorang wanita setelah sekian lama hingga dia lupa bahwa sang keponakan tidak suka nama mantan istrinya disebut.
“Kurasa, kita harus akhiri telepon ini. Aku tutup dulu.” Tanpa menunggu respon dari Austin, Adam langsung mengakhiri panggilan telepon itu.
Adam memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya, mencoba mengenyahkan kenangan buruk tentang mantan istrinya yang hendak berkeliaran di kepalanya.
Setiap kali ada yang menyebutkan nama Jovanca, Adam memang selalu seperti ini.
Terkadang, dia bahkan tidak bisa mengendalikan pikirannya hingga tak jarang dia tidak bisa mengenyahkan bayangan Jovanca dari kepalanya saat ada yang menyebutkan nama wanita itu.
__ADS_1
Itu sebabnya, Jovanca adalah hal yang tabu untuk disebutkan di depan Adam!