
Saat jam pulang kantor tiba, para karyawan sudah bersiap-siap untuk meninggalkan Brillant Avenir Enterprise.
Bahkan, beberapa dari mereka ada yang sudah mulai berhamburan pulang ke rumah masing-masing, meski atasan sekaligus pemilik perusahaan masih menyibukkan dirinya dengan berbagai data dan diagram yang ada di layar komputer.
Sementara itu, Ayna yang menjadi sekretaris Adam pun tidak bisa bersantai-santai seperti karyawan lain. Terlebih, duda menyebalkan yang menjadi atasannya sudah meletakkan setumpuk dokumen di atas mejanya sejak tadi pagi.
Di dalam ruangan bernuansa hitam yang memberikan kesan maskulin, Adam dan Ayna seperti lupa pada jam pulang, bahkan keheningan pun terjadi hanya karena mereka memfokuskan diri pada tugas masing-masing.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Adam mencoba meregangkan otot-ototnya yang mulai tegang, sebelum akhirnya mengemasi beberapa dokumen yang harus dibawa pergi.
Kemudian, pria itu beranjak dari singgasananya dan berbicara pada Ayna, tanpa menatap wanita itu. "Ayo, kita pergi sekarang."
Karena tidak ada orang lain lagi selain dirinya di dalam ruangan itu, Ayna menyadari bahwa Adam sedang berbicara padanya. Akan tetapi, dia tampak kebingungan karena diajak pergi padahal tugasnya belum selesai.
Lagipula, sebelumnya Adam juga tidak ada merencanakan bepergian dengannya.
"Pergi?" tanya Ayna dengan raut bingung, "Ke mana?"
"Bertemu klien," jawab Adam singkat dan datar.
Mendengar jawaban Adam, Ayna semakin mengerutkan keningnya dengan rasa bingung karena bagaimanapun, dirinyalah yang mengatur semua jadwal kerja sang bos dari membuka sampai menutup matanya kembali.
Jadi, Ayna kembali bertanya hanya untuk memastikan pendengarannya sedang tidak bermasalah. "Bertemu klien?"
"Hmmm." Adam hanya berdehem dengan malas, tidak berminat mengatasi rasa bingung Ayna.
"Sekarang? Bukankah tidak ada jadwal bertemu klien hari ini?" Ayna yakin, dirinya tidak pernah mengatur janji temu untuk hari itu, terlebih di jam sore seperti ini.
Mungkinkah ada perubahan jadwal tanpa sepengetahuan dirinya?
Bagaimana mungkin?
"Aku yang membuatnya," sahut Adam lagi.
"Hah?" Ayna masih tampak kebingungan dan jawaban Adam atas pertanyaan yang dia ajukan sama sekali tidak membantu menjawab rasa ingin tahunya.
Adam sudah berdiri di depan pintu dengan menggenggam tas kerjanya, saat berbalik dan menatap Ayna dari balik kaca matanya. "Cepatlah, jangan banyak tanya."
Seperti biasa, Adam tetaplah Adam yang menyebalkan bagi Ayna. Bahkan, dia sama sekali tidak berniat menjelaskan apa pun pada wanita yang hampir mati karena rasa penasaran.
__ADS_1
Padahal, apa susahnya mengatakan pada Ayna bahwa janji temu itu dibuatnya secara dadakan hanya karena dirinya dan sang klien memiliki hubungan baik di masa lalu?
Itu sebabnya, sang klien tidak perlu menghubungi David atau pun Ayna yang menjadi perwakilan Adam di perusahaan hanya untuk mengatur sebuah pertemuan.
Tidak ingin Adam membuka mulut hanya untuk mengeluarkan kata-kata yang bisa membuatnya naik darah, Ayna pun terpaksa menyudahi dan meninggalkan pekerjaannya.
Kemudian, wanita itu mulai mengekori Adam layaknya bayangan dan bertanya, "Tuan, apa perlu saya mereservasi restoran untuk pertemuan ini?"
Bagaimanapun, mereservasi restoran atau sejenisnya adalah bagian dari tugas Ayna. Jadi, dia harus memastikan bahwa tempat pertemuan sudah diatur sedemikian rupa demi memberikan kenyamanan bagi kedua belah pihak yang akan menjalani kerja sama.
"Tidak perlu, semuanya sudah diatur dan kau hanya perlu melakukan yang terbaik untuk pertemuan ini!"
Sudah diatur?
Di mana?
Melakukan yang terbaik?
Bukankah selama dua bulan bekerja pada Adam, Ayna selalu menunjukkan performa terbaiknya!
Meski memiliki begitu banyak pertanyaan di dalam kepala kecilnya, Ayna memilih diam dan mengikuti saja semua pengaturan Adam.
Di dalam perjalanan, keheningan panjang pun terjadi di dalam mobil yang melewati begitu banyak belokan setelah keluar dari perbatasan kota.
Padahal, mobil itu memiliki dua penghuni yang juga memiliki bibir. Akan tetapi, sepertinya tidak ada dari mereka yang berniat memulai pembicaraan untuk mengakhiri keheningan itu.
Dengan suasana hening dan angin sepoi-sepoi bertiup di sepanjang jalan yang dikelilingi dengan pepohonan, Ayna merasa matanya mulai memberat seolah-olah mengajaknya merajut mimpi indah.
Perlahan, wanita itu mengatur posisi tubuhnya agar menjadi lebih nyaman, sebelum akhirnya mulai memejamkan matanya.
"Jangan tidur!" seru Adam dengan nada datar, berhasil menarik kesadaran Ayna yang hampir berkelana, kembali ke tempat semula.
Dengan penuh keterpaksaan, Ayna membuka mata dan menatap Adam dengan tatapan kesal dan merutuk di dalam hatinya. 'Dasar duda menyebalkan!'
Karena terbawa suasana yang cukup mendukung untuk melelapkan matanya, Ayna hampir melupakan fakta bahwa dia masih bersama Adam yang super super menyebalkan.
Jadi, bagaimana mungkin atasannya yang menyebalkan itu akan membiarkannya tidur dengan damai?
Memang benar, Adam tidak mungkin membiarkan Ayna tidur, sementara dirinya harus mengemudi untuk menempuh perjalanan yang cukup jauh dan sepi dari kendaraan lain.
__ADS_1
Sama seperti Ayna, Adam juga merasa perjalanan mereka begitu hening hingga cukup membosankan. Hanya saja, dia tidak tahu bagaimana harus mengakhiri suasana yang membosankan itu.
Meski kesal dengan sikap Adam, Ayna tidak berniat melampiaskan kekesalannya pada sang atasan.
Sebaliknya, dia justru memulai pembicaraan hanya sekedar ingin berbasa-basi agar perjalanan mereka tidak begitu mencekam seperti di kuburan.
"Ini Maybach Exelero, kan?" Ayna bertanya sembari melihat interior megah dari mobil yang menampungnya dengan tatapan takjub. "Kalau tidak salah, mobil ini hanya ada satu di dunia. Aku benar-benar tidak menyangka aku tidak hanya bisa melihat kemegahan dan kemewahan mobil ini, tapi bahkan bisa menaikinya juga.”
Sebagai mobil satu-satunya, desain Maybach Exelero menyiratkan sebuah gengsi dan kebanggaan pada pemiliknya. Lekukan mobil itu sangat karismatik dan memiliki bentuk memesona layaknya mobil tokoh utama dalam sebuah komik.
Maybach Exelero benar-benar cocok dan sesuai dengan karakter Adam seolah-olah mobil itu diciptakan khusus untuk sang duda.
Mendengar penuturan Ayna, Adam langsung memalingkan wajahnya dari kemudi hanya untuk menatap wanita itu saat bertanya, "Kau tahu tentang mobil?"
Bagaimanapun, Ayna adalah seorang wanita dan Adam tidak pernah bertemu dengan wanita yang mengerti tentang permobilan.
Bahkan, wanita itu tahu bahwa mobilnya hanya ada satu-satunya di dunia.
Ayna berbalik menatap Adam yang sudah kembali fokus pada kemudinya. "Ayahku penggemar mobil."
Meski menggemari, bukan berarti ayah Ayna adalah pengoleksi mobil, terutama yang mewah seperti Maybach Exelero.
Ayah Ayna hanya sering mengoleksi gambar-gambar mobil, dari yang biasa saja sampai paling mewah. Bahkan, di setiap gambar terdapat keterangan mengenai kelebih dan kekurangan dari mobil tersebut.
Jadi, sedikit banyak Ayna tahu tentang Maybach Exelero dan beberapa mobil lainnya karena kegemaran sang ayah yang sudah menghadap Tuhan.
Adam mengangguk mengerti, lalu bertanya, "Kalau boleh tahu, kapan orang tuamu meninggal?"
"Lima tahun lalu. ayahku meninggal karena influenza dan ibuku meninggal setengah tahun kemudian." Ayna berbicara dengan santai seperti tidak ada beban kesedihan yang menyesakkan dada saat menceritakan tentang kedua orangtuanya.
Namun, dari cara Ayna membuang pandangan ke sembarang arah, Adam tahu wanita itu sedang mencoba menutupi kesedihan darinya.
Bahkan, netra coklat Ayna sudah mulai berair.
Meski bisa merasakan kesedihan Ayna, Adam si pria kaku itu tentu saja tidak tahu harus melakukan apa untuk menghiburnya.
Bagaimanapun, membujuk atau menghibur wanita bukanlah keahlian Adam Lancaster!
Setelah beberapa saat, Ayna menarik nafas dalam-dalam untuk menyingkirkan kesedihannya dan berbalik bertanya pada Adam sembari menatap pria yang tengah fokus dengan kemudi mobil. "Menurutmu, apa orang bisa meninggal karena patah hati?”
__ADS_1