Menikahi Duda Misterius

Menikahi Duda Misterius
Memukul Ayna


__ADS_3

Adam mencoba mengingat kejadian malam itu, tetapi dia sama sekali tidak ingat pernah memukul Ayna.


Jangankan Ayna, Adam bahkan tidak pernah memukul Jovanka, atau wanita mana pun di muka bumi ini.


Baginya, pantang seorang lelaki memukul wanita.


Namun, bagaimana bisa wanita gila itu mengatakan bahwa dia sudah memukulnya?


Apakah tidak cukup bagi Ayna membuatnya menjadi orang mesum di depan banyak orang dan sekarang membuatnya menjadi pria yang suka memukul wanita juga?


Padahal, Adam berniat baik dengan mendatangi Ayna yang sedang minum sendirian dengan alasan mengembalikan cushion. Dia khawatir Ayna diganggu pria mesum sesungguhnya saat sedang tidak sadarkan diri.


Bahkan, Adam juga dengan baik hati menemani Ayna minum dan menghentikan wanita itu ketika menyadari dia sudah terlalu banyak menenggak alcohol hingga membuatnya mabuk.


“Hei, tunggu sebentar.” Adam mencoba memegang botol bir yang ada di tangan Ayna saat melihat wanita itu ingin mengisi gelas kosongnya lagi. “Kau bilang, satu botol adalah batasmu.”


Kemudian, dia mencoba menarik botol bir itu seraya berkata, “Ini sudah botol yang ketiga.”


“Ini baru yang pertama.” Ayna tak ingin kalah dan merebut botol dari tangan Adam, bahkan menepuk tangan pria itu seperti anak kecil. “Untuk minuman keras,” imbuhnya sembari tertawa, lalu kembali mengisi gelas kosongnya


Pada akhirnya, Adam hanya bisa diam saat melihat Ayna terus menenggak alcohol seperti sedang minum air putih hingga mengosongkan berbotool-botol bir.


Bahkan, dia hanya bisa pasrah menyaksikan dan mendengarkan apa pun yang wanita mabuk itu lakukan juga bicarakan.


Ketika sudah mabuk berat, Ayna pun meletakkan kepalanya ke atas meja. Sementara itu, Adam hanya bisa memperhatikannya dalam diam sembari menongkat wajahnya pada kedua tangan yang bertumpu di atas meja.


Setelah beberapa saat, dia mengangkat kepalanya, lalu berkali mengecup tangannya dan melemparkan ke arah Adam yang hanya melihat tindakan gilanya itu dengan perasaan geli.


“Hei, di mana tempat tinggalmu?” tanya Adam yang sudah terlalu lelah dan benar-benar tidak sanggup menunuggu sampai si pemabuk itu sadar dengan sendirinya. “Aku akan mengantarmu pulang,” imbuhnya.


Ayna mengangkat kepala dan menatap Adam dengan tatapan yang sudah tidak focus lagi saat bertanya, “Pulang?”

__ADS_1


“Hmmm, ayo, pulang.” Adam mengangguk dan langsung berdiri menghampiri Ayna, sebelum akhirnya menyeret wanita mabuk itu keluar dari club.


Bukannya membawa Adam ke alamat rumahnya, Ayna justru berjalan ke arah sebuah kursi yang terletak di pinggir jalan, bahkan berbaring di sana.


“Apa rumahmu ada di daerah sini?” Adam melihat ke sekeliling yang terdapat perumahan dan berpikir salah satunya adalah rumah Ayna.


“Tidak,” sahut Ayna mengangkat sedikit kepala dan menggeleng, lalu kembali berbaring. “Aku hanya ingin beristirahat.”


“Jadi, di mana kau tinggal?” Adam bertanya lagi, berusaha menahan geram atas sikap si pemabuk itu.


Ayna diam sejenak, tampak berpikir sebelum bicara, “Aku tidak punya rumah karena rumah-rumah di Golden City sangat mahal.”


“Aku akan membelinya ketika aku sudah punya uang


Kehilangan kesabaran yang hanya setipis tisu hingga membuatnya hampir frustasi, Adam pun membangunkan Ayna dengan paksa hingga wanita itu duduk di kursi.


Kemudian, dia memegang kedua pipi wanita itu, mencoba membuatnya sadar. “Hei, karena inilah kau dibuang pacarmu! Kau itu sangat bodoh!”


“Kau benar-benar bodoh!” Adam kembali berteriak marah dan ingin rasanya membanting kepala wanita itu ke pohon agar dia benar-benar sadar. “Hei!”


Bagaimanapun, dia sudah benar-benar lelah dan butuh istirahat untuk menghadapi hari esok yang tak terduga.


Begitu sampai di rumah, Ayna langsung terjun dari punggung Adam dan membanting pria itu ke sofa hingga membuatnya terkejut.


Adam semakin terkejut ketika Ayna tiba-tiba naik ke atas tubuhnya, membuatnya harus menyilangkan kedua tangan di depan dada seperti anak gadis yang mencoba melindungi kesuciannya.


Pada saat bersamaan, Adam juga tidak suka menyentuh wanita mabuk karena tidak ingin dianggap sebagai pria yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Namun, apa yang dilakukan oleh Ayna begitu menggoda hingga membuat Adam hampir tidak bisa menahan diri.


Bagaimanapun, dia tetaplah pria normal yang sudah bertahun-tahun tidak disentuh oleh wanita.

__ADS_1


Jadi, ketika Ayna mendekatkan wajah dan mengecup bibirnya, Adam hanya bisa diam dengan pikiran kosong, antara terkejut dan juga menikmati manisnya bibir wanita mabuk itu.


Mengakhiri ingatannya tentang malam itu, Adam kembali menatap Ayna dengan tatapan yang tidak bisa wanita itu artikan.


Detik berikutnya, Adam teringat perkelahian antara Ayna dan Darren di restoran yang dia saksikan.


‘Saat itu, aku hanya memahami perasaan yang dia alami,’ batin Adam saat mengingat dirinya dengan impulsive menyenggol bahu Ayna.


‘Pada akhirnya, aku melakukan apa yang seharusnya tidak aku lakukan,’ batinnya lagi dengan menghela nafas panjang, lalu menambahkan dengan sedikit frustasi. ‘Aku pasti sudah gila.’


Di sisi lain, Julian yang merasa keberadaannya tidak dianggap, memilih keluar dan bertanya langsung pada Charles—asisten Adam.


Setidaknya, Charles pasti mendengar atau tahu sesuatu, kan?


“Siapa wanita itu” tanya Julian dengan rasa ingin tahu setinggi gunung, seperti ibu-ibu yang sedang mencari informasi untuk dijadikan bahan gossip sekomplek.


“Sekretaris Tuan Adam,” sahut Charles seadanya, nada suara dan sikapnya tampak begitu dingin.


“Sejak kapan dia punya sekretaris wanita?” Julian kembali bertanya, kali ini terlihat kerutan di kedua alisnya karena merasa bingung.


Sejak kematian Jovanka, Julian tahu bahwa Adam tidak pernah dekat dengan wanita mana pun seolah-olah sahabatnya itu mengalami trauma yang dalam.


Dan ini adalah pertama kali bagi Julian juga semua orang yang mengenal Adam dengan baik, melihat pria itu menempatkan seorang wanita di sisinya, bahkan dengan usia yang terpaut cukup jauh.


“Sejak hari ini.”


“Apa sesuatu terjadi antara Adam dan wanita itu?” tanya Julian lagi karena merasa tak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Charles sebelumnya. “Aku dengar, dia memukul wanita itu dan mereka tidur bersama?”


“Entahlah, saya tidak tahu apa-apa.” Charles masih tidak ingin mengatakan apa pun, karena dia juga tidak jelas mengerti dengan hubungan yang terjalin antara Adam dan Ayna.


Tidak percaya pada kata-kata Charles, Julian pun menempelkan kepalanya di pintu untuk mencuri dengar pembicaraan antara Ayna dan Adam.

__ADS_1


Melihat itu, Charles mencoba mencegahnya. “Sudah aku katakan, tidak ada yang terjadi dan berhentilah bersikap seperti ini!”


Charles menarik tangan Julian untuk menjauhkannya dari pintu, tetapi pria itu terlalu keras kepala. “Kau juga tahu, kantor Tuan Adam dibatasi untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.”


__ADS_2