Menikahi Duda Misterius

Menikahi Duda Misterius
Kudengar Kau Tidur Dengannya?


__ADS_3

“Entah kenapa kau begitu tidak senang ketika ada yang membicarakan Jovanka,” kata Austin sembari menatap handhphone-nya seolah-olah sedang berbicara langsung dengan Adam, padahal sang keponakan bahkan sudah mengakhiri sambungan telepon hanya karena dia menyebut nama Jovanka.


“Hmmmm.” Austin menghela nafas panjang dan dalam, lalu meletakkan ponselnya ke atas meja kerja sembari menggelengkan kepala tanpa daya.


Austin benar-benar bingung, tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan Adam terhadap Jovanka—wanita yang terlihat sempurna di mata semua orang.


Jovanka memang dikenal sebagai seorang sosialita yang cantik jelita dan sering mengundang para bangsawan untuk berpesta di Demeures De Luxe, kediaman Lancaster. Akan tetapi, dia adalah istri yang sangat perhatian dan penyayang. Bahkan, Jovanka sendiri yang menyajikan makanan sempurna untuk Adam, meski Demeures De Luxe memiliki banyak pelayan.


Mengingat Adam tidak pernah menjalin atau hanya sekadar dekat dengan wanita lain, Austin pikir keponakannya itu sangat mencintai Jovanka.


Namun, dilihat dari bagaimana enggannya Adam membicarakan atau hanya sekadar menyebut nama Jovanka, Austin pikir sang keponakan sangat membenci mendiang istrinya itu.


“Apa yang salah dengan Jovanka sampai kau bersikap seperti itu sejak kematiannya?” Austin bergumam dengan rasa ingin tahu.


Pria paruh baya itu pun mulai menerawang jauh, mencoba mengingat betapa berbahagianya Adam ketika Jovanka masih hidup.


Terlebih, ketika Jovanka mengumumkan kehamilannya di depan keluarga besar Lancaster, Adam adalah orang yang paling berbahagia di sana. Bagaimanapun, dia sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


Cinta dan perhatian yang Adam tunjukkan sejak kehamilan sang istri terlihat begitu manis hingga berhasil membuat semua orang iri dan sangat ingin merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Jovanka.


Tok, tok, tok.


Suara ketukan yang berasal dari pintu, menghentikan lamunan Austin. Dia pun kembali duduk dengan tegap dan penuh wibawa, sebelum akhirnya meminta seseorang yang ada di luar sana untuk masuk ke dalam ruangannya.


Julian Gammino, keponakan Monica—istri Austin Lancaster—masuk ke ruangan sambil berseru takjub. “Wah, Paman … pagi sekali kau datang hari ini.”


Austin tersenyum saat menanggapi ketakjuban sang keponakan. “Yah, seperti yang kau lihat … aku hanya tidak bisa tidur dan memutuskan untuk datang bekerja pagi-pagi sekali.”


“Apa sesuatu telah terjadi?” tanya Julian dengan rasa ingin tahu sembari meletakkan sebuah dokumen ke atas meja kerja sang paman.


Austin menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, “Bukan apa-apa.”


“Baiklah, kalau begitu aku keluar dulu,” kata Julian pada Austin sembari menatap dokumen yang baru saja dia letakkan di atas meja. “Ingatlah untuk memeriksa dokumen itu dan mintalah seseorang untuk mengantarnya ke kantor Adam.”


Austin tidak langsung mengambil dokumen itu, dia justru menatap Julian dengan alis yang terangkat sebelah dan bertanya, “Kenapa bukan kau saja yang mengantarkannya kepada Adam?”


“Kau tahu bagaimana hubunganku dengannya, Paman,” sahut Julian. “Dia tidak akan menerima kehadiranku.”


“Bukankah kalian bersahabat?” Austin mengerutkan kedua alisnya hingga terlihat hampir menyatu. “Kenapa dia tidak mau menerimamu?”


Jika diingat-ingat, Austin memang sudah lama tidak pernah melihat Adam dan Julian bersama lagi. Padahal, sebelumnya mereka terlihat seperti kuku dan kulit yang tidak terpisahkan.


Mendengar itu, Julian memaksakan bibirnya melengkung untuk membentuk sebuah senyuman di wajah tampannya. “Itu dulu … jauh sebelum kami mengenal Jovanka.”

__ADS_1


Tidak ingin dihujani dengan begitu banyak pertanyaan dari Austin yang memiliki rasa ingin tahu setinggi langit, Julian pun meminta izin keluar dari ruangan sang paman. “Aku pergi dulu, Paman.”


Kemudian, Julian menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya saat berkata, “Ada klien yang harus aku temui sebentar lagi.”


Setelah itu, dia meluncur keluar dari ruangan Austin, tanpa menunggu respon dari sang paman.


Melihat betapa anehnya sikap sang keponakan, Austin pun diterpa rasa penasaran yang semakin dalam. Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian dan Jovanka?”


Di sisi lain, Ayna berjalan menyusuri koridor perusahaan dengan tubuhnya yang terlihat seperti memiliki jiwa.


‘Baajingan syalan itu tidak pernah menghubungiku sekalipun. Lebih soalnya lagi, aku tidak bisa mengingat apakah aku tidur dengan pria mesum itu atau tidak.'


“Kudengar kau tidur dengannya?” Pertanyaan dari Anya Green—sahabat yang kini menjadi rekan kerjanya di Brillant Avenir Enterprise, berhasil membuat Ayna terlonjak kaget.


Bahkan, Ayna sampai menyilangkan kedua tangannya di dada sembari menatap Anya dengan bola mata yang hampir menggelinding keluar.


“Dengan orang asing,” imbuh Anya acuh tak acuh, tampak tak peduli dengan keterkejutan Ayna dan hanya focus pada ponsel yang ada ditangannya.


“Bagaimana kau tahu?” Ayna tampak ketakutan dan langsung meneliti penampilannya dari atas hingga bawah, lalu kembali bertanya pada Anya, “Memangnya kelihatan ya?”


Tidak menjawab pertanyaan dari rasa penasaran Ayna, Anya justru kembali berkata, “Kudengar kau punya hubungan cinta satu malam, jadi Darren membuangmu.”


Mendengar itu, Ayna langsung tertawa sinis dan menyangkal rumor tersebut. “Aku tidak selingkuh, dia yang—”


Seketika, Ayna langsung membuka ponsel yang dia abaikan sejak kemarin malam dan mendapati ada begitu banyak pesan belum terbaca di grup chat kelasnya.


Detik berikutnya, Ayna pun membuka dan membaca satu per satu pesan.


[Karena ketahuan selingkuh, Ayna dicampakkan oleh Darren]


[Memalukan sekali]


[Bagaimana bisa dia melakukan itu?]


[Ayna bermalam dengan pria asing? Benarkah? Wah, Aku tidak menyangka dia ternyata wanita yang seperti itu]


[Aku juga tidak menduga dia seperti itu, padahal wajahnya terlihat seperti dia adalah wanita baik-baik]


[Makanya, jangan tertipu dengan wajahnya yang polos!]


[Mencampakkan wanita seperti itu adalah pilihan yang tepat bagi Darren]


[Darren yang malang]

__ADS_1


“Hah?!” Ayna tampak shock setelah membaca semua pesan itu seolah-olah dia adalah tokoh antagonis yang jahat, licik dan tukang selingkuh. Sementara Darren menjadi protagonist yang patut dikasihani.


“Wah!” Ayna menggeleng tak percaya pada rumor sialan itu dan merasa dirinya difitnah pada cerita yang diputar-balikkan ke arahnya.


“Ini benar-benar gila!” kata Ayna dengan gigi terkatup menahan geram pada rangkaian pesan yang tidak berhenti masuk ke grup chat.


“Kau tidak benar-benar melakukannya, kan?” Sulit bagi Anya mempercayai semua rumor itu.


Bagaimanapun, dia dan Ayna sudah berteman sejak kecil hingga bisa dikatakan bahwa dirinya adalah orang yang paling dekat dan mengenal sang sahabat luar-dalam.


Jadi, mengenai rumor yang menyebar di grup chat tentang Ayna bermalam dengan pria, itu benar-benar mustahil. Apalagi, dengan pria asing!


“Tidak, aku—”


“Setelah semua bukti yang ada, kau masih bisa menyangkalnya? Bukankah kau benar-benar tidak tahu malu?”


Belum selesai Ayna menjawab pertanyaan sahabatnya, tiba-tiba sebuah suara yang terdengar sinis dan sarat dengan aura pemusuhan terdengar dari arah belakang.


Ayna dan Anya serentak berhenti, bahkan berbalik hanya untuk melihat pemilik suara yang tak lain dan tak bukan ialah Lee Jaena—teman sekelas mereka.


“Kenapa dia ada di sini?” Anya berbisik lirih pada Ayna yang juga terlihat kebingungan dengan kehadiran Jaena.


Pasalnya, Anya dan Ayna jelas tahu bahwa Jaena tidak magang di tempat yang sama dengan mereka.


“Dia tidak merasa malu?


“Kurasa, orang yang melakukan cinta satu malam harus disingkirkan,” kata Jaena tanpa memperdulikan rasa heran Anya dan Ayna, bahkan dengan sengaja mengeraskan volume suaranya agar apa yang dia katakan didengar juga oleh orang lain.


Bagaimanapun, membuat Ayna malu adalah tujuan hidup Jaena!


“Cukup, Lee Jaena!” tegas Ayna dengan melayangkan tatapan tajam pada wanita yang memiliki mulut berbisa itu.


“Kenapa? Kau merasa terganggu?” balas Jaena tanpa rasa takut, bahkan tatapannya terlihat seperti sedang menantang Ayna.


“Bukan begitu.” Ayna tersenyum sinis pada Jaena. “Hanya saja, jangan bicara seakan kau tahu segalanya!”


“Aku akan melakukan apa yang aku mau,” sahut Jaena tak peduli, tatapannya dan Ayna semakin beradu seolah-olah sedang berlomba untuk menunjukkan siapa yang paling kuat di antara mereka.


***


Guys, jangan lupa tinggalin jejak biar aku makin semangat nulis dan update ya hehe


Salam sayang untuk kalian semua, semoga sehat selalu

__ADS_1


__ADS_2