
Sesaat setelah mengatakan itu, Ayna pun menoleh ke samping hanya untuk melihat wajah pria asing yang diajaknya melakukan cinta satu malam.
Namun, karena dirinya mengalami rabun jauh dan lensa matanya terlepas beberapa saat lalu, Ayna tidak bisa melihat dengan jelas sosok pria yang menabraknya hingga dia harus menyipitkan dan mengedipkan matanya berkali-kali saat mencoba menilik wajah pria itu.
Menyadari pria yang diajaknya tidur cukup tampan dan masih muda, Ayna menghela nafas lega. Hanya saja, dia merasa tak asing dengan wajah itu.
Ayna pun mengerutkan alisnya saat berusaha mengingat kembali di mana dirinya pernah melihat wajah tampan itu hingga sekelebat ingatan pun muncul di kepalanya.
"Kenapa juga aku menyentuh bokongmu?"
"Aku tidak menyentuhnya!"
"Kenapa kau menuduhku?"
“Bukan aku satu-satunya pria yang ada di MRT ini, bahkan yang memakai jas! Namun, kenapa aku yang kau tuduh?!”
“Kau?!” Ayna berseru kaget setelah bisa mengingat bahwa pria yang dia ajak bermalam tak lain dan tak bukan ialah Adam —pria yang dia temui di MRT tadi pagi dan dituduhnya sebagai orang mesum.
Adam menaikkan sebelah alisnya bersamaan dengan senyum miring yang tercetak jelas di wajahnya saat menatap Ayna dan berkata, “Ada apa? Ayo, pergi.”
Pada saat yang sama, Darren yang masih berdiri di belakang Ayna pun kembali mengeluarkan suaranya dengan nada tak senang. “Anne, hentikan!”
Darren berhenti sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan dengan ancaman. “Jika tidak, hubungan kita berakhir cukup sampai di sini.”
Mendengar itu, Ayna pun tersenyum sinis dan langsung merangkul lengan Adam dengan sikap profoaktif. “Ayo, pergi,” ujarnya, lalu menarik pria itu berjalan keluar dari restoran.
“Haish, dasar mak lampir,” umpat Darren saat melihat Ayna bergandengan mesra dengan pria asing tanpa menghiraukan keberadaannya.
Detik berikutnya, Darren pun menyusul pergi untuk mengejar Ayna dan berniat untuk membujuk wanita itu.
Di sisi lain, Austin yang melihat semua kejadian itu hanya tersenyum puas. Dia merasa sebentar lagi Adam —keponakannya yang keras kepala akan menemukan pelipur lara, pengobat luka.
Begitu tiba di luar, Ayna langsung melepaskan rangkulannya dari Adam dengan memasang wajah cemberut. Bahkan, dia juga mengibas-ngibaskan tubuhnya yang tersentuh oleh pria itu seolah-olah ada najis di sana.
Bagaimanapun, Ayna masih menganggap Adam sebagai pria mesum yang sudah kurang ajar menyentuh bokongnya.
__ADS_1
Namun, mengingat Adam sudah membantunya, Ayna terpaksa sedikit melembutkan sikapnya terhadap pria itu.
“Terima kasih, tapi aku tadi hanya berpura-pura mengajakmu tidur,” terang Ayna cepat, khawatir Adam salah paham dan menganggapnya serius. “Jadi, jangan diambil hati dan kita tidak perlu memesan kamar hotel,” imbuhnya benar-benar tidak berniat berbasa-basi.
“Aku juga tidak ingin tidur denganmu,” balas Adam tak kalah ketus. “Aku hanya ingin bilang bahwa aku bukan orang mesum!”
Setelah mengatakan itu, Adam langsung memberhentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat di sana, tanpa memperdulikan keberadaan Ayna.
Sementara itu, Ayna hanya mencebikkan bibirnya untuk menanggapi kata-kata Adam dan berniat pergi dari hotel. Akan tetapi, netranya tidak sengaja menangkap sosok Darren yang terlihat seperti sedang berjalan ke arahnya. Karena itu, Ayna langsung membuka pintu taksi yang ditumpangi Adam dan duduk di sebelah pria itu tanpa izin.
Melihat Ayna duduk di sebelahnya, Adam tentu saja merasa heran hingga alisnya pun berkerut dalam, bahkan terlihat hampir menyatu.
Sebelum Adam mengatakan sesuatu, Ayna sudah lebih dulu memberikan penjelasan dengan nada memohon. “Pria bajingan itu masih mengejarku, jadi tolong aku sekali lagi.”
Tanpa menunggu persetujuan dari Adam , Ayna langsung menatap si sopir yang berada di depan dan memerintahkan, “Jalan, Pak.”
“Ah, sialan!” Darren yang baru saja tiba saat taksi sudah melaju kencang, hanya bisa mengumpat sembari menendang dan memukul angin.
Sementara itu, Ayna yang merasa canggung karena berada semobil dengan Adam , kembali menjelaskan, “Aku benar-benar tidak pernah mengajak pria tidur, itu kulakukan hanya untuk membalaskan dendamku pada bajingan tukang selingkuh itu.”
Terlebih, setelah apa yang terjadi saat di MRT.
Bukankah tidak lucu jika Adam berpikir bahwa wanita yang meneriakinya sebagai orang mesum di depan orang banyak, ternyata adalah wanita murahan?
Adam menghela nafas lelah sembari memutar bola matanya, lalu berkata dengan acuh tak acuh. “Dan aku bukanlah orang mesum!”
Dia benar-benar tidak peduli orang seperti apa Ayna, dia hanya tidak ingin wanita itu tetap menganggapnya sebagai orang mesum.
Itu sangat menjijikkan!
Setelah apa yang terjadi, Ayna pun mulai mempercayai perkataan Adam . Lagipula, jika Adam benar-benar adalah orang mesum, maka pria itu pasti akan mengambil kesempatan darinya.
Ayna menggigit bibirnya, merasa bersalah karena sudah sembarangan menuduh orang. Dia pun terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya berkata dengan tulus. “Maaf.”
Tidak mendapati tanggapan apa pun dari Adam , Ayna mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah pria itu. Kemudian, dia kembali berkata, “Sebagai tanda maaf dan ucapan terima kasih, bagaimana jika aku mentraktirmu minum?”
__ADS_1
“Tidak perlu,” tolak Adam tanpa pikir panjang hingga membuat Ayna cemberut dan menatapnya dengan tajam.
Meski begitu, Adam tampak tak peduli. “Katakan, kau akan turun di mana?”
Bagaimanapun, dirinyalah yang sudah menghentikan taksi yang mereka tumpangi saat ini. Jadi, taksi itu harus mengantarkannya sampai ke tempat tujuan, tanpa harus membawa serta Ayna.
“Dasar tidak punya hati,” umpat Ayna dengan suara pelan yang masih mampu menembus telinga Adam , tetapi pria itu tampak tak peduli sedikitpun.
Padahal, Ayna hanya membutuhkan teman di saat sedang patah hati seperti saat ini.
Namun, Adam benar-benar tidak bisa dijadikan teman!
Kemudian, Ayna pun memperhatikan daerah sekitar yang dilalui oleh taksi dan melihat sebuah bar tidak jauh dari sana.
“Pak, hentikan mobilnya di depan sana,” kata Ayna pada si supir yang sejak tadi hanya diam sembari mendengarkan percekcokan penumpangnya.
Mendengar Ayna meminta supir menghentikan mobil, Adam hanya diam-diam melirik wanita itu tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Sesaat kemudian, mobil pun berhenti di tempat yang Ayna inginkan.
Sebelum keluar, Ayna beberapa kali menoleh ke arah Adam seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi pria itu justru membuang wajahnya ke luar mobil.
Karena itu, Ayna mengurungkan niatnya untuk bicara pada Adam , bahkan walau hanya mengucapkan terima kasih.
Setelah kepergian Ayna, Adam menatap panggung wanita itu yang berjalan dari taksi.
Melihat Ayna beberapa kali mengusap matanya, Adam yakin bahwa wanita itu pasti kembali menangis.
Bagaimana tidak? Wanita itu baru saja putus cinta dengan cara yang cukup tragis!
Dalam sekejap, Adam merasa khawatir pada Ayna berbagai macam pikiran buruk pun mulai berkelebat di kepala kecilnya.
‘Bagaimana jika ada orang jahat yang memanfaatkan?’ batin Adam.
Detik berikutnya, pria itu menggelengkan kepalanya dan bergumam dengan acuh tak acuh, tampak tak peduli. “Kenapa aku harus peduli? Kami hanya orang asing!”
__ADS_1