
Ayna tersenyum tipis saat menjawab, "Orangtuaku sudah lama meninggal, jadi aku terbiasa sendirian."
Merasa pembicaraan tentang orang tua terlalu sensitif dan khawatir akan membuat Ayna tidak nyaman hingga bersedih, Adam pun mengubah topik. "Jadi, apa kau akan tetap bekerja pada Nyonya Waltons setelah magang, bahkan kuliahmu selesai?"
Ayna terdiam sejenak, tampak berpikir dan saat itu juga, saran dari Anya melintas di kepalanya.
Siapa yang tidak ingin bekerja di Brillant Avenir Enterprise—perusahaan besar yang menggaji karyawannya berkali-kali lipat lebih tinggi daripada perusahaan lainnya?
Hanya saja, apakah dirinya layak?
Lebih tepatnya, apa Adam bersedia mempekerjakannya?
Sementara itu, Nyonya Waltons juga tidak berniat membuangnya. Meski begitu, Ayna tetap berniat mencari pekerjaan lain yang lebih layak dan sesuai dengan keahliannya.
Bagaimanapun, bekerja dengan Nyonya Waltons bukanlah mimpi Ayna.
"Entahlah," sahut Ayna, tampak enggan berbagi isi pikirannya dengan Adam.
Detik berikutnya, wanita yang tengah tersenyum tipis itu pun menenggak habis anggur yang tersisa sedikit di dalam gelasnya.
Malam itu, mereka minum bersama dan berbicara banyak, seperti tidak pernah terjadi perdebatan di antara keduanya.
Padahal, selama ini Adam tidak terbiasa minum-minum dengan orang asing, apalagi sampai berbagi cerita.
Namun, kali ini Adam bahkan kehilangan kesadaran di depan Ayna—wanita yang dikenalnya karena sebuah kesalahpahaman.
Melihat Adam sudah tergeletak di sofa, Ayna tampak kebingungan memikirkan bagaimana cara untuk membawanya pulang.
Bagaimanapun, Adam memiliki tubuh lebih besar darinya.
Pada saat bersamaan, Ayna juga tidak tahu harus menghubungi siapa untuk meminta bantuan, meski tahu bahwa pria itu memiliki banyak pria berwajah datar dan dingin di sisinya sebagai antek-antek.
Selain tidak mengenal satu pun dari mereka, Ayna juga tidak bisa mengakses ponsel Adam untuk menghubungi mereka.
Tidak ingin terus berpikir hingga membuang waktu lebih banyak lagi, Ayna akhirnya memesan taksi dan meminta bantuan salah satu pelayan yang ada di club' untuk membawa pria itu keluar dari sana.
Ketika sedang menunggu taksi, Adam yang semula bersender di tubuh Ayna, langsung berdiri tegap di depan wanita itu dan berkata, “Aku ingin kau bekerja untukku, meski masa magangmu sudah berakhir, Ayna.”
Entah dalam keadaan sadar atau tidak, Adam yang saat ini sedang berdiri di depan Ayna tampak serius dengan kata-katanya.
__ADS_1
Ayna memasang raut wajah bingung, kedua alisnya berkerut dalam hanya karena mencoba mencerna kata-kata Adam. "Apa maksud—"
Belum selesai Ayna mempertanyakan maksudnya, Adam sudah lebih dulu mengikis jarak di antara mereka dan menjatuhkan kepalanya di bahu wanita itu.
"Eh?" Ayna tampak terkejut dan semakin kebingungan dengan sikap Adam yang tiba-tiba merengkuhnya.
Detik berikutnya, Adam benar-benar kehilangan kesadarannya, membuat Ayna secara refleks mencoba menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Tidak jauh dari tempat Ayna dan Adam berada, Darren, Jaena dan teman-teman lainnya melihat semua kejadian itu.
Meski tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh Adam dan Ayna, tetapi posisi mereka saat ini cukup membuat semua orang berpikir bahwa keduanya sedang mengumbar kemesraan.
Menyaksikan hal itu, Darren yang masih mencintai Ayna tentu saja merasa tak senang. Akan tetapi, tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengepalkan tangannya erat-erat dan menatap sejoli di depan sana dengan api cemburu yang mengobar.
Di sebelahnya, Jaena yang memiliki perasaan lebih dari sekedar teman terhadap Darren, tentu saja menyadari kecemburuan pria itu dan dia juga merasa tak senang.
"Lihatlah, dia benar-benar ******!" seru Jaena sarat dengan kebencian, sengaja memancing emosi Darren agar pria itu melepaskan perasaannya untuk Ayna.
"Belum lama putus darimu, tapi dia sudah ada penggantimu," Jaena menatap Darren dengan iba, lalu melanjutkan, "Kau harus melupakan wanita jalaang itu, dia benar-benar tidak layak untuk mendapatkan cintamu."
Bukannya tidak tahu bagaimana perasaan Jaena padanya, Darren hanya menutup mata karena cintanya sudah terbungkus rapi untuk Ayna.
Bukan tidak tergoda pada tiap rayuan yang Jaena layangkan secara tak langsung, Darren hanya tidak ingin berurusan dengan wanita yang memiliki perasaan padanya.
Dia yakin, itu pasti akan sangat merepotkan. Terlebih, ketika tiba saatnya dia dimintai pertanggungjawaban.
Namun, kali ini situasinya jelas-jelas berbeda. Darren bisa merasakan bahwa Jaena secara terang-terangan ingin mencampakkan diri ke atas ranjangnya dan dia tidak berniat membuang kesempatan itu.
Darren membalas tatapan Jaena dengan penuh damba. "Bagaimana denganmu?"
"Hah?" Jaena tampak kebingungan, benar-benar tidak mengerti maksud Darren.
"Apa kau layak untuk cintaku?"
Jaena tidak menjawab, dia hanya tersenyum malu-malu sembari menatap Darren dengan penuh maksud.
Menangkap kode rahasia yang diberikan oleh Jaena, Darren pun tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi.
Dia mendekati Jaena dan memeluk pinggang kecil wanita itu dengan sedikit meremasnya, lalu berbisik dengan lirih dan penuh godaan. "Bagaimana kalau malam ini kita juga menikmati dan menciptakan kenangan indah?"
__ADS_1
***
Saat dini hari, Ayna menyelinap keluar dari apartemen milik Adam yang berhasil dia masuki menggunakan sidik jari sang duda.
Begitu tiba di kamarnya yang terletak di belakang kediaman Nyonya Waltons, Ayna langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
"Hah, lelahnya." Ayna merentangkan kedua tangannya di atas ranjang sembari mencoba memejamkan matanya.
Namun, apa yang dilakukan Adam padanya saat dia membawa pria itu pulang dalam keadaan mabuk, mulai berkeliaran bebas di kepala Ayna.
Semula, memang Adam yang memulai segalanya. Akan tetapi, Ayna tetap saja menikmati, bahkan membalas setiap sentuhan yang sangat memabukkan itu.
"Huh, panas." Ayna langsung membuka mata dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah, berusaha memberikan udara segar ke wajahnya yang tiba-tiba terasa panas hanya karena mengingat adegan panasnha bersama Adam.
"Kenapa kamar ini menjadi begitu panas?" Ayna beranjak duduk, sebelum akhirnya membuka jendela yang ada di ujung kepala ranjang.
Kemudian, Ayna kembali berbaring dan tanpa sengaja menyenggol buku hariannya yang tergeletak di atas ranjang.
Ayna pun mengubah posisi berbaringnya menjadi telungkup hanya untuk membuka dan membaca kembali apa yang sudah dia tulis di lembar-lembar buku hariannya.
Adam Shinkar, duda menyebalkan!
Dia seperti biasanya!
"Benar, dia menyebalkan," gumam Ayna dengan tatapan menerawang jauh, mengingat bagaimana menyebalkannya Adam. "Dia sangat-sangat menyebalkan!"Jika diingat-ingat kembali, Ayna hampir gila karena harus menghadapi tempramen buruk Adam setiap harinya.
Entah bagaimana, duda itu selalu punya cara untuk membuatnya kesal.
Tiba-tiba, Ayna teringat kata-kata yang pernah Adam ucapkan padanya.
"Lagu kutukan bukanlah cara yang tepat untuk membalas mantanmu. Abaikan saja, jadilah lebih baik dan hiduplah dengan benar."
Mengingat itu, Ayna pun tersenyum, bahkan tertawa sendirian dan tanpa sadar menulis di buku diary-nya.
Tapi dia sangat keren.
Ayna masih saja tertawa seperti wanita gila, sebelum akhirnya terkejut saat melihat apa yang dia tulis.
Bahkan, Ayna sampai menjatuhkan pena yang ada di tangannya.
__ADS_1