
Sejak hari di mana Adam dan Ayna terjebak di kamar yang sama, mereka memutuskan menjalin hubungan.
Di perusahaan mereka bersikap profesional layaknya atasan dan bawahan, tetapi tetap saja terlihat mesra hingga membuat iri banyak orang.
Terkadang, keduanya sarapan atau makan siang bersama baik di dalam maupun di luar perusahaan.
"Selamat pagi, Nyonya." Ayna yang sudah berpakaian rapi datang ke kamar Nyonya Walton untuk membantu wanita itu berbenah seperti pagi-pagi sebelumnya.
Ayna tidak hanya memandikan Nyonya Walton yang suda tidak bisa beranjak dari ranjang sejak sakit terakhir kali, dia juga menyuapi makan dan melakukan hal-hal lainnya yang diperlukan oleh wanita setengah abad itu.
"Apa yang kau pakai?" Nyonya Walton bersandar di sandaran ranjang melihat penampilan Ayna yang memakai dress putih. Dia mengerutkan kening saat berkata, "Itu tembus pandang."
Ayna menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga dengan salah tingkah, dia pun meraba-raba tubuhnya untuk memeriksa pakaiannya.
Saat ini, dia mengenakan tank top ber yang menggantung di belakang lehernya dan dipadukan dengan sweater dan rok mini sebagai bawahannya.
Pakaian yang dia kenakan memang cukup menerawang.
Hanya saja, itu tidak akan terlihat jelas jika tidak diperhatikan dengan seksama.
Namun, Ayna tidak merasa dirinya harus mengganti pakaian lain karena dia memang sengaja berpakaian seperti itu untuk Adam.
Ya, hari ini dia memiliki janji temu dengan Adam seperti minggu-minggu sebelumnya yang dia suguhkan sepenuhnya waktu liburnya untuk sang kekasih.
Bagaimanapun, hari-hari lainnya dia hanya memiliki sedikit waktu membersamai Adam karena dia terlalu sibuk kerja di perusahaan pada siang hingga sore hari, sementara malam hari dia gunakan untuk mengurus Nyonya Walton dan beristirahat.
"Kau memakai pakaian dalam?" Nyonya Walton menatap Ayna dengan tatapan menyelidik, membuat wanita yang tengah dimabuk asmara itu semakin salah tingkah.
"Ya, tentu saja," sahut Ayna cepat, dia menundukkan kepalanya karena takut ditelanjangi oleh tatapan Nyonya Walton.
Tidak, dia tidak memakai pakaian dalam!
Dia sengaja melakukannya sesuai keinginan Adam yang merasa dirinya sangat seksi tanpa dalaman.
Tentu saja, itu hanya dilakukan setiap kali mereka membuat janji temu.
Dengan begitu, kegiatan panas mereka saat bertemu nanti akan lebih mudah tanpa harus menyingkap dalaman.
"Nyonya, aku berangkat dulu, ya. Selanjutnya, semua keperluanmu akan diurus oleh perawat."
Begitu saja, Ayna langsung pergi meninggalkan Nyonya Walton sebelum wanita itu mengajukan lebih banyak pertanyaan yang terus beranak-pinak.
__ADS_1
Jika itu terjadi, maka bisa dipastikan dia akan terlambat menemui Adam yang sedang menunggunya di tempat biasa.
“Apa yang akan kita lakukan hari ini?” Ayna menatap Adam yang sedang duduk bersandar di badan mobil.
Melihat Ayna mendekatinya, Adam tersenyum lebar. Dia membuang puntung rokok yang menemaninya, lalu membuka pintu mobil untuk sang kekasih. “Kamu akan tahu nanti.”
Di dalam perjalanan, Ayna dan Adam saling bertukar cerita hingga mobil yang membawa mereka berhenti di pantai.
Menyadari dirinya dibawa ke pantai yang tengah viral dan sedang diperbincangkan oleh banyak orang karena view dan berbagai fasilitas, Ayna merasa sangat senang.
Terlebih, ketika mendengar deburan ombak pantai yang menyapu pasir, ketenangan seperti menyelimutinya.
Namun, ....
"Kenapa sepi?" Ayna melihat ke sekeliling pantai dengan alis berkerut dalam.
Di sana, tidak ada orang lain selain dirinya dan Adam.
Bukankah biasanya Pantai Pallawa selalu ramai pengunjung? Namun, kenapa hari ini berbeda?
Adam juga melihat ke sekeliling, dia tersenyum puas. "Khusus hari ini, aku tidak mengizinkan siapa pun masuk ke sini."
Ayna menghela nafas pasrah.
Ayna menggelengkan kepalanya dan bergumam, "Orang kaya memang beda!"
Adam mengabaikan gumaman Ayna yang menembus lubang telinganya, dia merangkul pinggang gadis itu dan membawanya duduk di tepi pantai.
Di sana sudah terdapat sofa pantai, payung dan beberapa fasilitas lainnya yang melengkapi kegiatan mereka.
Adam duduk di pasir yang sudah dibentangkan alas, sementara Ayna berbaring telungkup di sisinya. Mereka berjemur dan menikmati keindahan pantai sembari menanti matahari tenggelam.
Adam merangkul pinggang mungil Ayna yang berbaring, sementara tangan lainnya dia gunakan untuk memainkan pasir dan menyusunnya di atas bahu telanjang sang kekasih.
“Bayangkan jika ingatan bisa disimpan di dalam botol seperti aroma, kita pasti bisa membukanya kapan pun kita mau." Ayna berbicara dengan mata terpejam, dia sangat menikmati sensasi aneh berbaur dengan kenikmatan yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya akibat sentuhan Adam.
Sangat memabukkan!
Terlebih, dirinya saat ini seperti sedang di peluk pria itu.
"Ahhh ...." Ayna bahkan sesekali mendesah saat tangan Adam menyentuh titik sensitifnya. "Rasanya seperti mengalami momen itu."
__ADS_1
Adam juga menikmati aktifitas membelai tubuh Ayna yang sudah menjadi candu untuknya.
Bagi Adam, sehari saja tidak bersentuhan dengan Ayna rasanya dia akan kehilangan mood dan bisa dipastikan, tidak sedikit orang yang akan menjadi pelampiasan mood buruknya itu.
“Momen apa saja dalam hidup mudamu yang ingin kau simpan di dalam botol?” Adam dengan sengaja menyentuh buah dadaa Ayna yang menempel pada bumi tempat mereka berpijak.
"Adamhhh." Ayna memejamkan matanya, sementara suaranya yang mendayu-dayu seolah mengatakan dirinya ingin sentuhan lebih dari Adam. "Momen minggu ini, sekarang dan tiap menitnya."
Rasanya, dia benar-benar ingin bersama dengan Adam setiap waktu.
Ayna menambahkan, “Tidak pernah terlupakan.”
“Ingatan yang tidak diinginkan bisa dibuang saja,” sahut Adam tanpa beban.
"Kemarilah." Adam menarik tubuh Ayna hingga wanita itu berbalik dan berbaring telentang.
Detik berikutnya, tubuh Ayna sudah ada di atas pangkuan Adam.
"Ay, ingatlah kamu itu milikku!"
Saat malam hari, Ayna yang sudah memakai piyama tidur dengan rambut basah, berdiri di depan cermin hanya untuk menatap dirinya dari pantulan cermin.
Dia tersenyum malu-malu saat mengingat bagaimana Adam melumuri bahunya dengan pasir pantai, sebelum akhirnya pria itu meninggalkan banyak jejak kepemilikan di tubuhnya.
Bahkan, kata-kata Adam yang mengklaim kepemilikan atas dirinya setiap kali mereka akan melakukan pergumulan, berhasil membuat Ayna senang hingga dia seolah-olah melayang.
Ayna memejamkan matanya. "Ah, indah sekali!"
Bagi Ayna, bayangan yang saat ini bergumul di kepalanya sangat indah, lebih indah daripada semua keindahan yang ada di dunia ini.
Rasanya, Ayna mau lagi dan lagi!
Bahkan, saat ini Ayna masih menginginkannya.
Padahal, dia sudah dibuat kejang berkali-kali karena ulah Adam yang tidak pernah gagal memberikan kenikmatan padanya.
Ting!
Notifikasi pada ponsel yang tergeletak di meja nakas membangunkan Ayna dari bayangan indahnya.
Menyadari motif itu adalah notif khusus yang dia pasang untuk nomor Adam, Ayna segera meraih ponselnya.
__ADS_1
"Ay, aku menginginkanmu."
***