
Mobil berhenti tepat di titik Aditia biasa menunggu Lisa keluar dari sekolah. Hari ini adalah hari pertama untuk istrinya melaksanakan ujian akhir. Yang akan menjadi penentu segala usahanya selama ini.
"Kamu jangan tegang ya.. Santai saja, tidak usah memikirkan hal lain selain soal ujian yang ada di hadapanmu.." Aditia mengusap punggung tangan istrinya tersebut sambil tersenyum. Dia mencoba memberi rasa tenang pada Lisa yang memang sedari berangkat sampai ke sekolah saat inipun Aditia tahu, dari raut wajah istrinya itu bahwa saat ini dia merasa tegang.
Lisa menatap suaminya, memaksakan sebuah senyuman di wajahnya yang tidak biasa merasa sampai setegang ini.
"Iya om.. Lisa akan berusaha mendapatkan nilai yang terbaik, Lisa tidak akan mengecewakan semua orang yang sayang dan memberi dukungan sama Lisa." Tuturnya.
Aditia mengangguk sambil tersenyum, dengan sebelah tangan yang mengusap pelan puncak kepala istrinya tersebut.
...***...
Lisa berjalan menyusuri koridor, dimana di sebelah kirinya terdapat seluruh ruangan kelas dan di sebelah kanan nya terdapat lapangan untuk olahraga, dengan di tumbuhi berbagai macam tanaman di pinggiran nya.
Jantungnya berdegeb dengan cepat saat ini. Dia tidak dapat menutupi rasa gugup nya, apalagi saat dia telah sampai di depan pintu kelas.
Sebelum masuk kedalam kelas, Lisa menutup matanya sebentar. Dia mencoba memberi semangat kepada dirinya sendiri, dengan mengingat semua orang yang sayang padanya. Seperti ibunya, yang selama ini telah berusaha keras untuk menyekolahkan dirinya sendirian, setelah ayahnya tiada. Sosok ibu sekaligus menjadi sosok ayah baginya. Dan suaminya Aditia, yang kini telah menjadi bagian penting dalam hidupnya, dan tidak dapat dirinya bohongi perasaannya pada Aditia saat ini sedang bertumbuh.
Mengingat semua itu ternyata benar saja, kini Lisa dapat tersenyum dengan lepas lagi. Karna dia bertekad akan memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang dia sayangi.
...***...
Aditia hari ini akan kembali bertemu dengan para petinggi dari perusahaan Kannai's Grup, untuk membicarakan perihal bagaimana keputusan dari Aditia dengan pengajuan berkas kerjasama dari perusahaan itu, yang memang sampai hari ini Aditia belum mengambil keputusan apapun. Dan hari ini Aditia harus mengambil suatu keputusan.
Aditia duduk di meja sambil memutar pulpen di jari-jari tangannya. Berfikir tentang haruskah dia menerima pengajuan kerjasama itu atau sebaliknya dia harus menolaknya.
__ADS_1
10 menit Aditia berfikir, dia kembali mengingat ucapan dari istrinya yang memang secara logika apa yang di sampaikan Lisa padanya di malam kemarin itu memang benar. Aditia harus mencoba untuk percaya, apalagi Jo dan Nathan sendiri pun yang memang selalu bertugas menyeleksi perusahaan yang mengajukan berkas kerjasama pada Aditia dapat mempercayai pada mereka.
"Jo, pukul berapa mereka akan datang?" Tanya Aditia, bertanya tentang jadwal kedatangan mereka hari ini.
Jo memberitahu bahwa jadwal pertemuan hari ini akan berlangsung pada pukul satu siang. Dan masih ada beberapa jam lagi sebelum mereka sampai kesini.
Mendengar pertemuan hari ini ada pada siang hari, tepatnya pada pukul satu. Aditia sedikit merasa lega, karna dengan begitu dia masih punya waktu untuk menjemput istrinya dari sekolah, yang mana Lisa akan selesai pada pukul 10.30 siang.
"Baiklah.. Kalau kalian berduapun dapat percaya pada mereka. Kenapa engga! Saya akan menerima tawaran kerjsama dari perusahaan itu.. Tapi saya minta sama kalian untuk tetap mengawasi pergerakan dari setiap karyawan dari perusahaan itu. Semuanya! Jangan sampai ada kejadian seperti dulu lagi.. Saya percaya pada kalian berdua." Jelas Aditia panjang lebar kepada Jo dan Nathan, yang selalu setia berada di sampingnya untuk membantu segala aktivitasnya.
...***...
Waktu telah menjelang siang. Aditia akan pergi ke sekolah untuk menjemput Lisa, yang baru saja mengirimkan pesan padanya bahwa dia telah selesai dengan ujian di hari pertama nya.
"Hai.. Lama ya? Maaf ya.." Ucap Aditia kepada Lisa yang barusaja masuk kedalam mobil.
"Tidak om.. Lisa juga baru saja sampai sih.." Jawab Lisa tersenyum.
Melihat senyuman Lisa yang manis telah kembali lagi membuat Aditia merasa lega, karna dia dapat menebak bahwa istrinya mungkin dapat melaksanakan soal ujian nya dengan baik, tanpa ada beban apapun di pikirannya.
"Kamu mau makan sekarang?" Tanya Aditia, yang kini telah dalam perjalanan untuk kembali ke kantor lagi.
Aditia memang akan membawa kembali istrinya ke kantor, karna dia tidak ingin membiarkan istrinya sendirian di rumah. Walaupun sebenarnya ada asisten rumah tangga. Tapi Aditia takut Lisa merasa bosan. Dan alasan lain nya, Aditia ingin berdekatan dengan Lisa karna dia menjadi moodbooster bagi dirinya, terlebih lagi akan ada hal penting hari ini yang harus di kerjakannya.
"Nanti saja om.. Barengan aja nanti." Jawab Lisa.
__ADS_1
Untuk makan siang, Aditia memang selalu makan siang pada pukul satu siang. Tapi mengingat tamu nya akan datang pada pukul satu, pastilah makan siang Aditia hari ini akan tertunda, dan mungkin dia baru dapat makan setelah selesai dengan pertemuan itu, yang entah akan selesai pukul berapa.
Aditia menjelaskan kepada Lisa tentang situasinya di kantor hari ini, dan segala kegiatannya Aditia menjelaskan semuanya.
"Kamu makan duluan saja ya.. Biar nanti Jo atau Nathan yang membelikan kamu makan. Tinggal bilang saja mau makan apa.." Jelas Aditia.
Lisa mengangguk, memahami kesibukan suaminya. Dan dia akan makan siang sendirian.
...***...
Aditia dan Lisa kini telah berada di dalam ruangannya, dan sedang menunggu pesanan makan Lisa datang, yang saat ini sedang di beli oleh Nathan, sedangkan Jo sedang turun kebawah untuk menyambut tamu yang telah memberi kabar bahwa mereka semua telah dalam perjalanan.
"Kamu tidak apa-apa kan sendiri disini? Saya mungkin sedikit lama harus mengobrol dan membicarakan banyak hal dengan tamu saya.." Jelas Aditia.
Sendirian. Memang Lisa akan tinggal sendirian saja, tidak di temani oleh Jo atau Nathan dalam ruangan ini. Karna keduanya pun pasti akan ikut dalam pertemuan itu. Untuk membantu Aditia.
"Iya tidak apa-apa om.. semangat ya, ingat disini ada aku yang nungguin om! Jangan tegang, jangan cepat ambil keputusan, pikirkan semuanya matang-matang." Tutur Lisa, memberi semangat kepada suaminya.
Aditia tersenyum, dia menggengam tangan istrinya lalu mencium punggung tangan itu dengan sangat lembut, hingga membuat Lisa sedikit kaget karna ini kali pertama baginya mendapatkan perlakuan seperti ini.
Keduanya saling menatap untuk beberapa saat, dengan saling memberikan senyuman manisnya masing-masing.
Sampai keduanya harus saling memalingkan wajahnya, karna kedatangan Jo yang memberitahu bahwa tamunya telah menunggu di ruangan meeting.
"Tunggu saya ya.." Ucap Aditia pada Lisa, sebelum dia berjalan keluar dari ruangan. Meninggalkan istrinya sendirian disana untuk beberapa saat.
__ADS_1