Menikahi Gadis SMA

Menikahi Gadis SMA
Terror dari Nomor tidak di kenali


__ADS_3

Hari ini Aditia dan Lisa kembali sama-sama melakukan aktivitasnya masing-masing seperti biasa, setelah hampir seharian kemarin menghabiskan waktu nya berduaan di rumah saja.


"Om.. Lisa berangkat ya.." Pamit Lisa.


Aditia berjalan menemani istrinya sampai Lisa masuk kedalam mobil. Setelah mobil istrinya berangkat, barulah dia masuk kedalam mobilnya sendiri, dimana Jo telah ada disana standby menunggunya.


Dalam perjalanan menuju ke kantor, Aditia sedikit terganggu dengan suara dering dari ponselnya yang menampilkan nomor tidak di kenal yang terus melakukan panggilan padanya.


Satu dua kali Aditia menghiraukan panggilan itu, karna dia berfikir mungkin itu hanyalah orang iseng.


Namun di hiraukan oleh Aditia nomor itu masih saja mencoba untuk melakukan panggilan padanya. Hingga Aditia yang merasa terganggu mau tidak mau dia harus menerima panggilan itu.


"Siapa ini?" Tanya Aditia dengan nada sedikit emosi.


"Hallo Aditia. Ini tante.. Ko kamu emosi gitu sih!" Jawab dari sebrang. Yang ternyata itu adalah tante Riska.


"Tante.." Gumam Aditia.


Selang beberapa menit keduanya melakukan pembicaraan, sambungan telpon kini terputus bersamaan dengan sampainya mobil Aditia ke kantor.


...***...


"Jo, menurutmu... Siapa yang memberikan nomor ponselku pada tante Riska?" Tanya Aditia dalam ruangannya.


Setelah sedikit obrolan dengan tante Riska tadi, Aditia memang terpikirkan dengan bagaimana bisa tante Riska mengetahui nomor ponselnya. Karna nomor ponsel yang Aditia pakai saat ini adalah nomor baru, yang setelah tante Riska pergi menghilang, Aditia mengganti nomor ponselnya. Dan hanya ada sebagian orang saja yang mengetahui nomor barunya itu.


"Tidak tuan. Saya tidak tahu.." Jawab Jo.


Aditia mengangguk. Lalu mulai membuka berkas-berkas pekerjaannya hari ini.


...***...


Di sekolah, dalam kelas Lisa terdengar suara riuh dari para siswa dan siswi yang saling bercanda dan mengobrol karna di jam pelajaran kesatu ini tidak ada guru yang masuk.


"Tania! Kembalikan ponselku!" Teriak Lisa kepada temannya yang bernama Tania.


Lisa berlari mengejar temannya yang bernama Tania itu, mengelilingi kelas untuk mendapatkan ponselnya kembali.


Keduanya saling mengejar selama beberapa saat, dengan Tania yang tertawa dan Lisa yang sedikit kesal mengejarnya.


"Iya! Iya... Ini nih.. Aku kembaliin.." Keduanya berhenti berlari, dan Taniapun mengembalikan ponsel Lisa yang di ambilnya tadi.


Jam istirahat tiba, semua siswa dan siswi berjalan menuju ke kantin untuk membeli makanan, tapi tidak dengan Lisa yang saat ini masih berada di dalam kelas dengan sisa beberapa orang yang sama-sama masih dalam kelas.

__ADS_1


Ada satu materi pelajaran yang saat ini sedang Lisa pelajari saat ini, dan itu penting untuk menghadapi ujian yang sebentar lagi akan berlangsung.


"Ayo ke kantin.." Ajak Tania.


"Tunggu dulu, ini nanggung..." Jawab Lisa masih fokus dengan buku yang sedang di bacanya.


Tania. Dia adalah teman terdekat Lisa.


Kedua nya telah berteman cukup lama, dan Tania merupakan satu-satunya teman dekat Lisa.


Beberapa menit Tania bersabar menunggu Lisa yang masih fokus pada buku, sampai dia tidak tahan lagi dan akhirnya menarik paksa Lisa untuk ke kantin. Sebelum jam istirahat habis.


...***...


Aditia kebingungan sendiri di dalam ruangannya, karna setelah dari panggilan tante Riska tadi pagi. Masuk banyak pesan pada ponselnya yang memberi berbagai ancaman dari nomor yang berbeda-beda.


Ancaman yang di terima Aditia menjurus ke beberapa proyek besar yang sedang berlangsung saat ini. Dengan isi pesan yang intinya meminta Aditia meninggalkan dan mundur dari proyek itu. Sampai ada beberapa pesan yang di terimanya dengan ancaman akan membunuhnya.


Saat ini Aditia memang sedang melangsungkan beberapa proyek besar di berbagai kota di Indonesia. Dengan nilai dari satu proyeknya ada yang sampai mencapai Miliaran.


Dan dari hal itu Aditia berfikir, mungkin yang memberinya banyak pesan ancaman itu adalah salahsatu pesaingnya, yang mungkin gagal mendapatkan proyek karna kalah darinya.


"Perlu kami melacak semua nomor itu tuan?" Tawar Nathan.


Bagi Aditia memang lebih baik mengganti nomor ponsel nya saja daripada melacaknya. Karna kalaupun nomor itu di lacak, Aditia tidak akan mendapatkan apa-apa dari orang yang mengirimkan ancaman itu.


...***...


Malam tiba, Aditia masuk kedalam rumah dengan sedikit lesu karna terlalu banyak memikirkan sesuatu di siang hari tadi.


Tapi untunglah di sore hari tadi Aditia kini telah mengganti nomor ponselnya, sehingga untuk saat ini dia tidak di pusingkan lagi dengan rentetan pesan ancaman dari nomor-nomor yang tidak di kenalinya seperti tadi.


"Hai.." Sapa Aditia dengan lemas memasuki kamar.


Terlihat di dalam kamar ada istrinya Lisa yang seperti biasanya dia duduk di tempat tidur sambil membaca buku.


Melihat suaminya pulang Lisa menutup bukunya.


"Hai om..." Sapanya dengan ceria, tidak lupa sebuah senyuman yang manis selalu di berikan pada suaminya itu.


Melihat Aditia yang lunglai seperti itu Lisa mengerutkan keningnya. Karna tidak biasanya Aditia terlihat lemas seperti itu.


"Om.. Kenapa? Cape ya?" Tanya Lisa dengan lembut, dengan turun dari tempat tidur.

__ADS_1


Aditia menghela nafasnya, belum menjawab pertanyaan dari istrinya dan memutuskan untuk duduk di sofa dulu, sambil melepas sepatunya. Yang seperti biasa Aditia memakai sepatunya sampai masuk kedalam kamar.


Tidak bertanya lagi, Lisa pergi keluar kamar untuk mengambilkan air hangat untuk suaminya tersebut.


Tidak lama Lisa kembali dengan segelas air hangat di tangannya.


Saat Lisa kembali kedalam kamar, ternyata suaminya itu telah terbaring di tempat tidur. Namun masih dengan pakaian kantornya yang belum di ganti.


Setelah menyimpan air di atas meja Lisa duduk di sebelah Aditia yang telah berbaring.


"Om.. Ada apa?" Tanya Lisa kembali, dengan tangan yang menggengam tangan Aditia.


Aditia membuka matanya dan menatap istrinya tersebut. Lalu bangun dan bersandar pada dinding.


Aditia menarik tangan Lisa dengan lembut, memberikan isyarat padanya untuk berada di sebelahnya.


Lisa tersenyum, dengan senang hati Lisa naik ke atas tempat tidur lalu memeluk perut suaminya itu dengan posisi setengah duduk, bersandar pada dada Aditia.


"Kalau ada masalah cerita saja.. Lisa memang ga bisa bantu, tapi kalau om mau cerita.. Lisa dengan senang hati akan mendengarkan." Jelas Lisa.


Aditia menatap istrinya tersebut, dengan sebelah tangan yang mengusap lembut punggungnya.


"Iya.. Hari ini ada sedikit masalah." Jawab Aditia.


Aditia menceritakan semua apa yang terjadi hari ini pada istrinya tersebut, dengan pelan dan lembut. Supaya istrinya dapat mencerna apa yang dia bicarakan dengan baik.


Setelah selesai bercerita, Lisa mengubah posisinya menjadi tiduran di atas paha Aditia, dengan posisi menatap ke atas. Pada wajah Aditia.


Lisa mengusap pelan wajah suaminya.


"Yang sabar ya om. Memang dalam hal apapun itu pasti ada saja orang yang tidak suka sama kita.. Itu hal biasa. Karna dari 10 orang yang suka, pasti ada setengahnya yang pura-pura suka.." Tutur Lisa.


"Tapi om tidak usah khawatir! Lisa tidak akan termasuk dari setengah orang yang tidak suka itu.." Lisa menutup perkataannya sambil tertawa renyah. Mencoba menghibur suaminya.


Mendengar istrinya yang tertawa seperti itu Aditia sedikit terhibur, dan rasanya semua masalahnya hilang begitu saja.


Pelan-pelan tangan Aditia mulai bermain. Dan tiba-tiba saja di saat Lisa hanya diam merasakan tangan suaminya yang menyentuh tubuhnya, Aditia menggelitiki Lisa hingga membuat Lisa tertawa-tawa dan mencoba memberontak.


"Ampun om.." Ucap Lisa setengah tertawa karna rasa geli.


Aditia tidak menghentikannya dan tidak membiarkan Lisa lepas dari pangkuannya walaupun Lisa terus saja memberontak.


Hingga Lisa mencoba untuk bangun dan wajah keduanya saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat, Aditia menghentikan gelitikannya.

__ADS_1


Keduanya sama-sama terdiam.


__ADS_2