
Jantung Aditia sesekali masih berdetak sedikit cepat tidak beraturan, dan sesekali Aditia melirik istrinya itu yang saat ini tepat berjalan di samping nya.
Di luar prediksi dari Aditia, yang awalnya dia mengira istrinya itu akan bertanya tentang siapa tante Riska yang sampai harus berbicara empat mata dengannya ternyata salah. Lisa tidak berbicara dan bertanya tentang itu sampai saat ini, dan beberapa jawaban yang harusnya Aditia sampaikan pada Lisa kini tertahan dalam benaknya.
Ada rasa lega, tentu saja. Karna istrinya ternyata tidak bertanya hal itu, namun tetap saja Aditia masih merasa was-was dan mungkin sampai di sisa hari ini pun akan terus begitu, dengan pikiran yang akan selalu siap memberi jawaban kalau-kalau Lisa tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang sebenarnya dia takutkan.
Saat ini keduanya tengah berjalan menuju ke kantin yang tersedia di bagian kantor milik Aditia ini, keduanya akan makan siang di kantin karna memang tidak membawa bekal dari rumah.
Dalam setiap langkahnya, Lisa masih merasakan ada beberapa tatapan dari karyawan suaminya itu padanya, walaupun sudah tidak sebanyak yang dia rasakan dari pada saat terakhir kali dia datang ke kantor suaminya ini.
Bukan hanya Lisa saja, ternyata Aditia sendiri pun merasakan hal yang sama dengan istrinya itu. Aditia dapat melihat dengan ujung matanya masih ada satu dua karyawan yang menatap ke arah dia dan istrinya itu. Tapi Aditia tidak memperdulikan hal itu lagi, karna setelah kandungan dari istrinya itu berusia dua bulanan. Aditia akan mengumumkan kepada publik tentang pernikahannya dan kehamilan pertama istrinya.
...***...
Selama makan siang Aditia sering kali mencoba mencuri pandang kepada istrinya itu, karna Aditia masih merasa takut kalau Lisa istrinya akan mengajukan pertanyaan padanya.
Padahal Lisa sendiri tidak terlihat akan bertanya apapun padanya, dan sedari keduanya sampai di kantin dan mulai makanpun Lisa terlihat lebih fokus kepada makanannya karna memang merasa lapar.
"Kenapa?" Tanya Lisa tiba-tiba.
Sontak Aditia yang akan menyuapkan makanan kedalam mulutnya terlihat kaget dengan pertanyaan istri nya tersebut, hingga dia gelagapan.
"Itu daritadi om ngeliatin aku terus, ada apa sih?" Tanya Lisa kembali yang terlihat fokus pada makanannya.
Ternyata itu penyebab Lisa mengajukan pertanyaan, karna Lisa yang menyadari bahwa suaminya selalu mencuri-curi pandang padanya. Bukan karna hal lainnya apalagi menanyakan tentang tante Riska.
Namun walaupun begitu tetap saja Aditia telah terlanjur senam jantung dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu, yang dia pikir mungkin Lisa meminta penjelasan.
__ADS_1
"Kamu cantik." Balas Aditia asal.
Mendengar jawaban dari suaminya kini giliran Lisa yang langsung menghentikan aktivitas makan nya dan terdiam, kemudian selama beberapa detik melirik Aditia lalu menunduk. Terlihat pipi mungil Lisa kini berwarna kemerah-merahan setelah menerima pujian dari suaminya.
"Gombal!" Gumam Lisa pelan dengan kepala yang tetap menunduk.
...***...
Acara makan siang telah selesai, Aditia dan Lisa kini telah kembali kedalam ruangan kerjanya yang berada di lantai 18, di bagian paling atas kantor ini.
Kini mulai ada sedikit keanehan dari sikap Lisa padanya, pasalnya sedari selesai makan hingga keduanya berjalan kembali ke dalam ruangan Lisa terlihat sedikit murung dan bahkan selama mereka berdua berjalan pun Lisa tidak mengeluarkan sepatah kata apapun, sampai keduanya tiba kembali di ruangan.
Untuk Aditia sendiri dia masih menunggu waktu yang tepat untuk bertanya tentang perubahan mood dari istrinya itu, dia tidak berani untuk bertanya secara langsung karna entah kenapa dia pun merasa ciut dan lebih memilih diam saja.
Kegiatan perkantoran Aditia kembali berlanjut, dengan beberapa berkas penting yang harus dia tanda tangani dan membicaran kembali pengaturan jadwal nya pergi ke luar kota, setelah sempat berlibur kemarin dan mengosongkan seluruh jadwalnya.
Perubahan sikap istri nya itu benar-benar membuatnya tidak bisa fokus untuk bekerja, Lisa yang hanya diam saja di sofa sambil bermain ponsel sering kali memaksa pikiran Aditia untuk terus meliriknya, tentu saja dengan benak yang dipenuhi oleh tanda tanya.
"Sudah tuan." Jo dan Nathan mengangguk dan menjawab secara bersamaan.
Aditia menghela nafasnya, akhirnya setelah hampir dua jam lamanya dia membuka dan membaca setiap berkas penting yang datang ke kantor nya kini semua telah selesai juga, selain itu jadwal untuk pergi ke luar kota pun telah selesai di buat ulang, dan secara tidak langsung juga diketahui oleh Lisa walaupun sampai saat ini dia masih berdiam di sofa.
...***...
Pekerjaan Aditia hari ini telah selesai dan waktu telah menunjukam pukul empat sore hari. Setelah membiarkan Jo dan Nathan keluar dari ruangannya Aditia berdiri dari kursi kerja nya, dan berjalan perlahan menghampiri istrinya.
Hal apa sebenarnya yang telah membuat perubahan mood pada istrinya itu, Aditia benar-benar penasaran dan ingin bertanya secara langsung pada saat ini.
__ADS_1
"Aku mau pulang." Tiba-tiba ucap Lisa. Padahal Aditia barusaja duduk di sebelahnya dan belum sempat mengeluarkan sepatah katapun.
Aditia mengedipkan matanya beberapa kali, dalam hatinya dia masih ingin tetap melanjutkan niatnya untuk bertanya, namun melihat Lisa yang masih saja seperti ini Aditia mengurungkan niatnya.
"Iya, ayo kita pulang.." Jawab Aditia sambil berdiri kembali dan tersenyum lembut menatap Lisa.
...***...
Dalam perjalanan pulang Aditia sesekali melirik istrinya yang tentu saja duduk di sebelahnya itu, dia masih kebingungan dengan perubahan sikap Lisa yang bahkan sampai saat ini yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah pun Lisa masih tetap saja diam.
Bahkan Lisa sama sekali tidak melihat kedepan, atau hanya sekedar melirik suaminya yang sedang menyetir Lisa sama sekali tidak melihatnya. Tatapannya seperti seseorang yang tengah dalam kesedihan dengan terus menatap ke arah kaca samping.
Beberapa puluh menit kini telah terlewati, mobil baru saja selesai parkir di dalam halaman rumah. Tanpa menunggu suaminya turun dari mobil, Lisa langsung berjalan duluan masuk kedalam rumah dan masih dalam keadaan yang terus diam.
Aditia semakin di buat penasaran dengan sikap Lisa, dia harus bertanya secara langsung hal apakah yang menyebabkan dirinya menjadi seperti itu sekarang.
Apakah ada karyawannya di kantor yang mengatainya, atau dia mendapatkan sikap yang tidak pantas dari karyawannya selama di kantor atau pas di kantin tadi, rasanya tidak mungkin. Karna Aditia terus menerus bersama dengan istrinya itu, tidak satu detikpun meninggalkan dirinya sendirian kecuali saat bertemu dengan tante Riska tadi pagi.
Aditia membuka pintu kamar, perlahan berjalan memasuki kamar yang terlihat di atas tempat tidur ada istrinya sedang berbaring menyamping memunggungi arah pintu.
Aditia duduk di tepian tempat tidur, saking penasarannya dia ingin mengetahui apa penyebab perubahan sikap istrinya itu Aditia tidak mengganti pakaian terlebih dahulu, atau hanya sekedar pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih dulu.
"Ada apa?" Tanya Aditia dengan sangat lembut.
Sekali Aditia bertanya Lisa masih tidak menjawabnya, dan masih saja diam di posisi yang sama dengan matanya yang sesekali berkedip.
"Lisa, katakan ada apa? Saya perhatikan sikapmu berubah semenjak kita berdua selesai makan. Apa ada karyawanku yang menyakitimu?" Tanya Aditia kembali kini dengan sedikit pertanyaan yang dia duga-duga menjadi penyebab perubahan sikap istrinya itu.
__ADS_1
Selama beberapa saat ruangan dalam kamar menjadi hening. Dan perlahan-lahan Lisa bangun dari tidurnya menatap langsung pada kedua bola mata Aditia.
"Tante Riska itu siapa?" Tanya Lisa dengan tatapan yang begitu dingin Aditia rasakan.