
Selamat membaca ...
****************
Siang ini, di bawah teriknya sinar matahari, Lela dan Arka tengah menikmati indahnya pantai yang ada di dekat desa mereka. Lela terlihat sangat menikmati suasana saat mereka bergandengan tangan sambil menyusuri pasir pantai, dengan ombak yang menerjang kaki keduanya.
“Di sini udah sepi ya, La. Padahal kan masih siang,” ucap Arka seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari pengunjung lain, tapi tetap saja ia tidak melihat siapa pun selain ia dan istrinya, Lela.
“Sekarang kan bukan hari libur mas, makanya sepi. Pantai ini udah semakin sepi pengunjung, karena lebih banyak pengunjung ke pantai Anyer. Mas tau kan pantai Anyer, Sambolo, dan pantai Pasir Putih?” tanya Lela dengan santai, tanpa melepaskan pegangan tangannya dari Arka.
“Sedikit sih. Dari dulu mas gak pernah main ke daerah sana, paling Cuma lewat aja. Lewat pantai Karang Bolong juga kan?” tanya Arka memastikan.
“Iya mas, tapi diantara tempat-tempat tadi yang kita sebutkan. Aku lebih ingin ke pemandian air panas di Batukuwung, mas. Soalnya depan pemandian itu ada toko baju murah. Nanti kita ke sana yuk!” ajak Lela dengan mata berbinar. Entah kenapa hati Arka jadi iba saat mendengar permintaan istri kecilnya. Apakah wanita itu mengalami kehidupan yang sulit? Ah! Entah kenapa ia jadi semakin ingin menjaga dan membahagiakan Lela.
“Boleh, nanti Mas ajak ke sana. Kita belanja bareng,” jawab Arka dengan antusias. Ia tidak ingin mengecewakan Lela.
“Tapi Mas kan belum kerja, pasti mas juga kesulitan uang. Empang bapak juga baru dipanen, dan belum ada pendapatan baru. Lela ada sih sedikit uangnya, Minggu kemarin dikasih upah sama bapak.” Arka tersenyum lembut saat mendengar celotehan Lela yang sangat menggemaskan di telinganya. Ingin rasanya ia menggigit istri kecilnya.
“Kamu gak usah khawatir, aku ada uang kok, kamu gak perlu mikirin ini lagi. Mulai sekarang. Aku akan bertanggung jawab sama kehidupan kamu La. Aku punya tabungan lebih dari cukup, mungkin sampe anak kita lahir.” Arka terkekeh saat mendengar ucapannya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa mengatakan hal itu, sedangkan mencetak kecebongnya saja ia belum pernah.
“Isshh ....” Lela memukul lengan Arka dengan kesal. Lela merasa malu hingga wajahnya terasa panas dan memerah bagai udang rebus.
“La, apa kamu mau jadi istri Mas seutuhnya?” tanya Arka dengan serius, hingga membuat Lela seketika terdiam sambil menatap mata Arka dengan intens. Entah kenapa suasana terasa sangat pengap, seolah ia sedang berebut oksigen karena menipis.
“Ma-maksud mas apa?” bukannya menjawab, Lela justru balik bertanya karena takut salah paham. Kini, jantung Lela berdetak jauh lebih cepat, hingga ia saja tidak bisa mengendalikannya.
“Mas tahu hubungan kita didasari kesalah pahaman, tapi mas sangat yakin, jika Lela adalah jodoh mas. Lela mau kan jadi istri mas, seperti pasangan lain yang saling mencintai?” Arka akan memastikan hubungannya lebih dulu bersama Lela, sebelum ia mengambil tindakan yang salah.
“Apa mas mencintai Lela?” tanya Lela dengan malu-malu, hingga wajahnya semakin merah dan itu terlihat sangat menggemaskan.
“Belum, tapi akan.” Lela langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Arka dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
__ADS_1
“Aku menyukaimu Lela,” ucap Arka sekali lagi, saat melihat keraguan di mata wanita itu. Namun, Arka tidak menyangka karena Lela langsung menghambur dalam pelukannya, setelah ia mengatakan hal itu. Arka senang, akhirnya wanita itu luluh dalam sekejap mata.
“Apa mas juga mau ngasih Lela uang bulanan seperti suami pada umumnya?” Arka sepertinya akan mencabut kalimat terakhir, yang menduga Lela sudah luluh padanya.
***
Setelah menyusuri pantai tanpa tujuan, akhirnya Lela dan Arka memutuskan untuk pulang ke Empang milik Pak Burhan. Tentunya setelah makan bakso dan Mie ayam di daerah pasauran.
“La, kamu mau jajan apa lagi?” tanya Arka sambil melajukan motornya di tengah ramainya jalanan. Desa Pasauran memang lebih ramai pada sore hari, hingga berjejer pedagang kaki lima.
“Mas, beli Capcin yuk! Sekalian kebab, sama martabak buat bapak dan Nisa,” jawab Lela yang bersemangat empat lima, saat mendengar tawaran dari suaminya. Lumayan uangnya utuh. Muehehe ...
“Gak sekalian juga buat Didi?” tanya Arka yang kini sudah menghentikan kendaraannya tepat di depan toko AlpaApril.
“Oh iya, kang Didi juga ya.” Arka mendelik tak suka, saat mendengar ucapan sang istri yang begitu polos. Harusnya wanita itu mengerti ... pengen tak hiikkk!
“Nih uangnya, beli buat kita juga. Nanti malem kita pasti laper,” ucap Arka sambil menyodorkan satu lembar uang berwarna merah, dan langsung disambar oleh Lela.
“Ritual,” jawab Arka asal. Sedangkan Lela hanya membulatkan matanya sempurna, tatkala mendengar jawaban dari suaminya.
“Mas mau ngeffet ya?” tanya Lela dengan polos dan langsung mendapat tonyoran di kepalanya.
“Lelaaa ... cepetan ini udah sore.” Lela hanya langsung bergegas menuju beberapa pedagang.
Lima belas menit berlalu ...
“Mas, nih udah selesai. Ayo pulang!” Arka langsung menoleh ke arah sang istri, yang sudah ada di sampingnya.
Arka mengangguk dan segera melajukan motornya, setelah Lela naik ke jok penumpang. Tidak ada percakapan apapun yang menemani mereka saat ini. Arka lebih menikmati suasana jalanan yang ramai tapi tidak padat itu, sedangkan Lela masih berkelana dalam pikirannya yang tidak menentu.
Empang pak Burhan memang tak jauh dari pantai tersebut, hingga tak butuh waktu lama, akhirnya mereka berdua sudah sampai. Di sana sudah ada Nisa dan kang Didi yang sedang bersiap untuk pulang, karena hari sudah semakin sore.
__ADS_1
“Kang Didi, Nisa!” panggil Lela seraya menghampiri kakak beradik tersebut.
“Lela.” Kang Didi menatap Lela dengan lembut. Tak lupa juga sebuah senyuman yang membingkai indah di wajahnya.
Kang Didi adalah pria manis dan baik hati, hingga Lela juga menyayangi pria itu seperti kakaknya sendiri. Namun, kasih sayang Lela sudah diartikan salah oleh kang Didi. Pria itu mengira jika Lela juga menyayanginya sebagai seorang wanita dengan pria pada umumnya.
Hatinya terkoyak, saat Lela hadir bersama sosok pria tampan, dan mengenalkannya sebagai seorang suami. Ia benar-benar merasa jadi seorang pengecut, karena tidak pernah mengungkapkan isi hatinya pada Lela.
Tak enak makan, dan tak tidur bagai cerita dunia dongeng, setelah mengetahui pernikahan Lela bersama pria tampan, anak dari juragan Empang tempatnya bekerja untuk sesuap nasi. Ia merasakan patah hati yang teramat sangat, karena wanita cantik yang incar sudah menjadi istri orang lain.
“Kang Didi, ini Lela belikan martabak manis buat kang Didi sama Nisa,” ucap Lela dengan senang hati. Arka hanya mendengus kesal saat melihat Lela tersenyum ceria di hadapan pria lain, apalagi itu pria yang menyukainya. Lihat! Pria itu memandang Lela dengan penuh cinta. Cih! ia harus segera memiliki Lela seutuhnya.
“Teh Lela, makasih banyak ya. kebetulan Nisa lagi pengen makan martabak manis,” ucap Nisa yang baru datang setelah mengunci tokonya.
Lihatlah senyuman itu! senyuman yang mampu membuat hatinya semakin mendamba dan memiliki, tapi sekali lagi fakta menamparnya dengan sangat keras, hingga ia meringis lalu mulai sadar.
“Iya sama-sama. Teteh mau pulang ya, kamu juga hati-hati sama kang Didi.”
***
Makan malam sudah berakhir. Di rumah hanya ada Lela dan Arka saja, karena pak Burhan langsung ke pos ronda. Malam ini memang jatahnya pak Burhan yang berjaga, dan hal itu dijadikan sebuah kesempatan bagi Arka untuk merayu Lela.
“La, mas sayang sama kamu,” ucap Arka seraya memeluk Lela dari arah belakang. Lela yang sedang tidur memunggungi suaminya merasa sedikit gugup, karena napas pria itu sangat terasa di area tengkuk lehernya.
“I-iya mas, Lela udah tau. Kan tadi sore udah bilang. Mas, Lela sesak napas nih,” jawab Lela berusaha melepaskan pelukan suaminya. Wanita itu merasa aneh saat ada sesuatu yang menonjol di belakangnya.
“Bolehkah mas--.”
“Mas, kok ada yang nonjol ya di belakang Lela. Minggir dulu, Lela mau liat.”
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya