Menikahi Juragan Empang

Menikahi Juragan Empang
Bukan Lele


__ADS_3

Selamat membaca ...


****************


Kini, Lela dan Arka sudah sampai di rumah , setelah mengelilingi jalanan karena tersesat. Lela menangis takut tidak bisa pulang lagi, hingga Arka mulai kewalahan membujuk istrinya yang sejak tadi menangis.


“Le, jangan nangis terus, kita kan udah sampe di rumah ,” bujuk Arka seraya mengelus punggung kecil milik Lela. Tak sengaja ia mengelus tali bra yang dikenakan oleh wanita itu.


“Le? Aku bukan Lele.” Lela menangis semakin kencang. Arka gugup dan tidak tahu harus melakukan apa.


“B-bukan begitu maksudnya. Lela, mas minta maaf, karena tadi memang tidak tahu jalan. Mas udah lupa, kamu juga malah asyik ngomongin pria lain,” bela Arka dengan sangat hati-hati. Tiba-tiba saja tangisan Lela terhenti. Apa ia sudah berhasil membujuk istrinya? Ah! Ternyata sangat mudah , begitu pikir Arka.


“Oh! Jadi mas nyalahin aku gitu? Mas sendiri yang nanyain Kang Didi dan Kang Marko. Sekarang mas malah nyalahin aku. Mas tega ... sungguh teganya, teganya, teganya, teganya, teganya, teganya, teganya, teganya, teganya, teganya ....” Lela kembali melanjutkan acara tangisnya yang sempat tertunda, karena bernyanyi lagu dangdut milik Megi Z.


Arka terdiam saat melihat tingkah Lela. Ia cukup jengah dengan sikap Lela yang begitu imut di matanya. Ingin rasanya ia tertawa terbahak-bahak, saat Lela menjeda tangisannya, dan malah bernyanyi sambil memukulinya secara bertubi-tubi. Sepertinya ia harus cukup banyak mengalah untuk wanita itu.


“Maafkan Mas, La. Ini semua salah Mas, tapi lain kali kamu jga harus ikut bantu mas, jika mas kehilangan arah. Kamu mau kan, memaafkan mas?” tanya Arka dengan lembut . Ia tidak ingin wanita itu kembali marah dan melanjutkan tangisannya yang diayunkan, bagai menyanyi dangdut dengan cengkok yang berbelit-belit.


“Kali ini Lela maafin, tapi kita belum beli bibitnya mas,” jawab Lela seraya menoleh ke arah Arka, dengan air mata yang sudah berserakan di pipinya. Tidak lupa juga ingus yang membingkai di pipi, bagai terseret ombak.


Arka menatap horor ke arah wanita yang ada di sampingnya. Sepertinya ia sudah menikahi gadis kecil yang polos. Pria itu mendessah berat dan tersenyum lembut. Ia tidak ingin ikut membantu Lela mengusap ingusnya, karena cukup menjijikkan.


“Kenapa tidak Didi saja yang membelinya?” tanya Arka dengan serius. Ia heran mengapa bapaknya memberikan tanggung jawab besar itu pada gadis polos seperti Lela. Apa bapak tidak takut jika Lela kena tipu?

__ADS_1


“Tapi Lela yang udah dikasih tanggung jawab ini sama bapak, meskipun barengan sama kang Didi,” jawab Lela dengan cepat.


“Didi?” tanya Arka dengan penuh selidik. Kenapa pria itu selalu ada sih.


“Iya mas, kang Didi Selalu bantu aku juga tiap mau beli bibit ikan, tanpa harus nyasar. Aku takut kita gak bisa pulang mas,” jawab Lela dengan mata yang sudah kembali berkaca-kaca.


“Didi kan udah tau seluk beluk kampung ini, sedangkan aku baru saja sampai kemarin dan langsung dinikahkan sama kamu La,” kata Arka menjelaskan. Jujur saja ia tidak suka ada Didi di sekitar istrinya. Wanita itu terlalu polos. Bagaimana jika ada pria lain yang sengaja memanfaatkannya. Ah! Kenapa pikirannya jadi seperti ini.


“Jadi mas nyalahin Lela atas pernikahan kita. Mas sendiri yang salah, karena berani masuk ke dalam bilik sumur tanpa permisi.”


“Enggak. Bukan itu maksudnya. Mas udah nerima pernikahan kita, tapi bagai mana dengan kamu?” tanya Arka dengan gugup.


“Mas udah nerima, tapi Lela belum siap.” Jawaban Lela membuat hati Arka sedikit tercubit. Apa memang dia yang terlalu berharap banyak dengan pernikahan dadakan ini. Ia merasa ini adalah takdir untuknya sebagai penyandang gelar pria tua. Meskipun penampilannya masih sangat muda dan begitu menarik perhatian lawan jenisnya.


“Tapi mas janji ya sama Lela, jangan selingkuh, apalagi KDRT,” pinta Lela dengan begitu polosnya.


“Iya, mas janji. Lagian, kita baru nikah, kamu udah bahas masalah itu. Takut ditinggal sama mas ya?” goda Arka dengan penuh percaya diri. Lela mendengus dengan kesal.


“Issh ... enggak! Soalnya, kata mbak Sela, orang ganteng itu banyak selingkuhannya,” jawab Lela yang semakin membuat Arka tersenyum senang. Apa dia terlalu tampan, Arka senyum-senyum sendiri saat mendengarnya.


“Mbak Sela asal ngomong doang, buat nakutin kamu. Aku juga heran, mengapa aku sangat tampan dan mempesona,” celetuk Arka dengan santai dan percaya diri. Tak lupa juga, sebuah senyuman yang membingkai di wajahnya.


“Emang ada ya, orang yang memuji dirinya sendiri,” gumam Lela tapi masih dapat didengar oleh suaminya.

__ADS_1


***


“Bu, kenapa si Lela ibu izinin nikah sama anaknya pak Burhan sih?” tanya Sela pada bu Inah.


“Memangnya kenapa. Toh, si Lela udah cukup umur buat kawin,” jawab bu Inah tanpa memalingkan wajahnya dari layar TV, yang sedang menonton acara dangdut disalah satu Channel.


“Tapi bu, Lela masih terlalu muda. Sedangkan anaknya pak Burhan udah tua. Usianya aja sebaya dengan ku. Emang ibu gak khawatir, liat tampang anak pak Burhan itu?” tanya Sela dengan sewot.


“Memangnya kenapa jika usianya tua. Jodoh gak pandang umur La. Memang apa yang harus ibu khawatirkan sama anak pak Burhan, dia keliatannya juga anak yang baik dan dewasa.”


“Itu bisa aja hanya sebuah topeng bu. Aku yakin, orang ganteng begitu pasti punya banyak selingkuhan. Arka yang ganteng dan terpelajar, mana mungkin mau menikahi Lela dari kampung.”


“Jangan menyama ratakan semua pria tampan itu suka selingkuh, nyatanya kasus perselingkuhan yang paling banyak itu dilakukan pria pas-pasan. Udah jelek, gak tau diri. Noh kaya suami Juminah. Jangan suka menghakimi tampilan orang lain. Baik buruknya mereka bukan urusan kita. Kamu cemburu, sama adik kamu yang nikah dengan pria tampan seperti Arka?”


“Issh ... enggak kok bu. Aku hanya ingin berjaga-jaga aja, biar si Lela yang polos itu gak ditipu para buaya di luar sana,” jawab Sela berkilah seraya mendengus kesal.


Tak lama kemudian , terdengar suara tangis balita dari arah kamar. Sela yang mendengar sang anak menangis pun segera bangkit dari duduknya dan pamit undur diri untuk istirahat lebih dulu. Bu Inah yang melihat putri sulungnya pergi, hanya bisa menghela napasnya panjang.


Sebenarnya ia juga merasa sangat khawatir, karena sikap Lela yang kekanakan tersebut . Takut jika suami Lela keberatan dan malah merasa terbebani, meskipun ia percaya, jika Lela tidak akan melakukan hal di luar batas.


****************


Jangan lupa tinggalkan jejak ya

__ADS_1


__ADS_2