Menikahi Juragan Empang

Menikahi Juragan Empang
Bisulan


__ADS_3

Selamat membaca ...


****************


Pagi hari ini, Lela berencana untuk ngambek pada Arka, karena telah membuatnya kesal semalaman. Bagaimana mungkin pria itu malah mengatainya jelek saat menangis, tentu saja ia tak terima. Pokoknya Lela harus ngambek segede gaban gak pake koma.


Pak Burhan pagi-pagi sekali sudah ke desa tetangga, ada urusan katanya. Sedangkan Arka tengah memanaskan motor untuk segera berangkat ke Empang milik bapaknya. Jangan tanya Lela ke mana, karena gadis itu sedang bercermin dan memastikan kecantikannya ketika sedang manyun bagai Lele. Meskipun bibirnya dimajukan, ia harus tetap terlihat cantik, begitu pikir Lela.


“La! Udah belum? Ayo berangkat, ini sudah hampir siang!” teriak Arka dari halaman rumah. Pria itu beberapa kali melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


Tak berselang lama, akhirnya gadis bertopeng muncul dari balik pintu , hingga membuat Arka terkejut hampir berteriak. “Siapa kamu? Ke mana Lela?” tanya Arka dengan tatapan tajam dan hendak mengambil batu yang ada di dekatnya.


“Apa sih mas, lebay banget.” Arka menganga tak percaya saat manusia bertopeng itu adalah istrinya. Wanita itu menjawab sangat ketus.


“Lagian kamu ngapain pake topeng, kaya anak kecil aja.” Lela mendengus saat mendengar penuturan yang keluar dari mulut suaminya.


“Ay ah gelap.” Lela segera menghampiri Arka yang sudah naik di atas motornya.


“Ya jelas gelap lah, kan kamu masih pake topeng,” balas Arka seraya menahan senyum. Ia tahu wanita itu masih kesal karena kejadian semalam.


Tak ingin membuang banyak waktu, akhirnya Arka maupun Lela sudah menyusuri jalanan yang sepi diantara pepohonan besar di pinggir jalan. Cuacanya sangat cerah, secerah masa depan ku bersama si dia.


Suasana sangat hening, karena tidak ada yang membuka percakapan. Arka yang fokus tiba-tiba mengernyitkan keningnya saat mendengar suara aneh dari belakang.


Wrrrrrrrrrr!


Lela membuka topeng yang tadi ia kenakan dan menganga untuk mengahalau angin dengan mulutnya sendiri.


“La, nanti kamu masuk angin loh,” ucap Arka mengingatkan.


“Kok bisa?” tanya Lela dengan polos.


“Kan kamu yang masukin angin ke mulut kamu La.”


“Mas, ini namanya menikmati angin yang segar, bukan makan angin.” Arka menghela napasnya kasar saat mendengar jawaban Lela.


“Awas aja nanti kalo minta dikerokin.”


Setelah beberapa lama di perjalanan, kini mereka sudah tiba di Empang pak Burhan . Seperti biasa, di sana sudah ada Didi dan Nisa, tapi kali ini ada satu orang lagi yang tidak asing bagi Lela. Sedangkan Arka mengernyitkan dahinya saat melihat sosok pria yang tidak begitu asing tapi tidak terlalu ingat juga.

__ADS_1


“Selamat pagi neng Lela,” sapa sosok pria itu setelah menghampiri Lela dan Arka.


“Eh! Ada kang Marko. Kakang ngapain ke sini pagi-pagi?” tanya Lela penasaran.


“Kakang mau anterin neng Lela ke pasar. Hari ini jadwal ke pasar kan.” Marko tersenyum semanis mungkin , semanis kopi hitam tanpa gula. Namun , beberapa detik kemudian mendengus seraya menatap sinis ke arah pria yang ada di samping Lela. Pria tampan yang akan jadi saingannya.


Melihat tatapan Marko yang tidak bersahabat, Lela pun akhirnya memperkenalkan Arka. “Kang Marko, kenalin ini mas Arka, anaknya pak Burhan, sekalig--.”


“Sekaligus suaminya Lela,” sela Arka dengan tatapan tak kalah sinis.


“A-apa! Neng, apa ini beneran suami neng Lela?” tanya Marko pada Lela dengan tatapan tak percaya.


Lela hanya mengangguk tanda sebuah jawaban untuk Marko, hingga pria itu terdiam dua ribu bahasa, karena sering bahasa sudah biasa. Arka pun tersenyum puas saat melihat raut wajah Marko yang pucat dalam sekejap mata.


“Kau lagi bisulan ya, kok gak ngomong lagi,” cibir Arka dengan senyum penuh kepuasan.


***


Arka tersenyum puas saat melihat Marko terdiam dan hanya menatapnya dengan sinis. Ia tidak akan pernah membiarkan istrinya digoda oleh pria yang sudah memfitnah ia mencuri ****** ***** bu Ningsih.


“Maaf kang, tapi mulai sekarang bibit ikan akan diproses sama kang Didi dan Nisa. Jadi, kang Marko tidak perlu repot-repot lagi nganterin Lela,” ucap Lela tak enak hati.


“Iya tidak apa-apa La. Ngomong-ngomong, kapan kalian nikah?” tanya Marko penasaran. Pasalnya ia tidak mendengar kabar pernikahan dadakan itu.


“Kemarin lusa.” Kali ini bukan Lela yang menjawab, melainkan Arka.


“Oh, apa kamu lakuin sama Lela, sampe mau nikah sama pria cabbul seperti kamu,” ujar Marko sarkas.


Ternyata pria itu masih mengingatnya, dasar brengsekk! Ingin rasanya Arka menyumpal mulut Marko, karena telah berkata sembarangan di hadapan sang istri. Lela langsung mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh pria yang ada di hadapannya.


“Maksud kang Marko apa? Siapa yang cabbul?” tanya Lela penuh selidik. Marko tersenyum smirk kala melihat raut wajah Arka yang tengah menatapnya dengan sinis.


“Marko, bukankah kamu udah gak ada urusan? Kenapa tidak cepat pergi!” Arka tidak akan pernah membiarkan Marko mencoreng nama indahnya, dengan kata cabbul karena sebuah fitnah dari pria itu.


“Lela, hati-hati dengan pria cabbul yang jadi suami kamu ini. Dia pernah mencuri ****** ***** milik bu Ningsih.” Lela membulatkan matanya dengan sempurna, lalu melayangkan tatapan mengintimidasi ke arah sang suami.


“Apa bener itu, mas?” tanya Lela dengan penuh selidik.


“Lela, kang Marko pulang dulu ya. Sepertinya bapak lagi nunggu di rumah.” Marko segera pergi dari Empang milik pak Burhan, dan meninggalkan Lela yang sedang penasaran.

__ADS_1


“Mas belum jawab pertanyaan Lela.” Lela mengerucutkan bibirnya kesal. Ia ingin tahu masa lalu suaminya, hingga mendapatkan julukan tidak senonoh.


“Marko adalah musuh mas saat SMP, dia fitnah mas nyuri dalam bu Ningsih karena dia ketahuan ngintip di sumur. Mas yang ganteng sejak lahir tidak mungkin melakukan itu La.” Lela hanya manggut-manggut tanda ia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Arka.


“Oh jadi begitu. Lela kira beneran mas udah nyuri dalaman bu Ningsih.”


“Mana Ada. La, jalan-jalan yuk!”


“Ke mana Mas?”


“Mas pengen ke pantai. Kira-kira di sini dekat pantai mana?” Lela terlihat sedang berpikir sambil mengerutkan keningnya, dan itu sangat menggemaskan di mata Arka.


“Aha! Aku punya edi!” seru Lela dengan wajah berbinar, setelah mendapatkan pencerahan secerah sang surya.


“Ide La, ide. Bukan Edi, nanti kamu dimarahin bu Sinta, karena suaminya disebut-sebut,” tukas Arka dengan gemas.


“Oh, udah ganti kolor ya.” sumpah demi apapun, saat ini Arka benar-benar ingin menggigit bibir mungil milik istrinya.


“Lela ....”


“Iya, iya mas. Mas itu gak boleh marah terus nanti cepat tua. Kita ke pantai Matahari aja, gimana menurut mas?” tanya Lela meminta pendapat.


“Mas lupa-lupa ingat tempatnya. Mas ikuti kamu aja deh. Emang tempatnya sebelah mana, jauh gak?” Lela bingung harus menjelaskan rute-nya, karena ia bukan peta Dora, maupun Dora yang sangat mudah memanggil peta. Bukankah Dora sangat mahir memanggil peta. Katakan peta, katakan peta, itulah saat Dora memanggil peta.


“Itu loh mas, deket perbatasan Pandeglang. Dulu pernah pake syuting sinetron Ariel si duyung.”


“Hah! Beneran?” tanya Arka tak percaya.


“Bener loh mas. Itu ada plang Bintang Laut, nah itu tempatnya. Sekalian sambil beli bibit ikan di sana aja,” ucap Lela dengan semangat.


“Ya udah, tunggu apa lagi.”


“Nisa ...!” Lela memanggil Nisa yang sedang duduk santai sambil menikmati teh manis dan getuk buatan ibunya dari rumah. Sedangkan Didi tengah menyiapkan tempat pemancingan, yang tak jauh dari adiknya, Nisa.


“Iya Teh,” jawab Nisa setelah ada di hadapan Lela, dengan mulut penuh kelapa parut. Sepertinya gadis itu makan terburu-buru. Lela jadi tidak enak hati.


“Teteh mau beli bibit ikan dulu ke perbatasan, sambil mampir ke pantai Matahari. Takut bapak nanyain.”


“Oh iya siap Teh.”

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya


__ADS_2