Menikahi Juragan Empang

Menikahi Juragan Empang
KUPER


__ADS_3

Selamat membaca ...


***************


Arka membulatkan matanya dengan sempurna, tatkala mendengar penuturan sang istri. Bagaimana bisa, ia menunjukkan ular Cobra miliknya, yang sedang on fire saat menyentuh Lela. Ah! Lagipula wanita itu terlalu polos.


“Mas! Kenapa diem aja?” tanya Lela yang heran, karena suaminya tidak merespon ucapannya.


“Kamu mau liat apa La?” kini Arka bertanya balik, dengan sesantai mungkin.


“Nih yang di belakang Lela apaan sih? Pasti mas juga ngerasain kan? Soalnya itu ada di tengah-tengah kita,” tanya Lela bertubi-tubi.


“Itu ular milik mas,” jawab Arka dengan santai.


Sontak saja Lela menjerit ketakutan, setelah mendengar jawaban dari Arka, hingga wanita itu hendak lari dari sana. Namun, dengan secepat kilat, Arka menahan tubuh mungil istrinya agar tidak lari. Wanita itu meronta karena takut yang teramat sangat.


“Mas! Lepasin Lela! Ternyata mas punya peliharaan yang ganas. Mas sengaja ya, mau jadiin Lela santapan ular milik mas!” teriak Lela yang masih ketakutan.


“Ini ular jinak dan ajaib, La. Jadi, kamu gak perlu takut, karena tidak ada sisiknya. Kamu mau pegang?” tanya Arka menawarkan diri. Dalam hatinya terus bersorak senang, karena malam ini ia akan menjalankan aksinya.


“Mas gak takut?” tanya Lela dengan polos. Bahkan tubuhnya masih didekap erat oleh Arka dari belakang.


‘Apa mas Arka pesulap? Kok bisa punya ular jinak. Astaga! Apa jangan-jangan mas Arka bisa debus juga ya,’ batin Lela sambil memejamkan matanya.


“Enggak, mas sering bawa ke mana-mana juga.” Lela langsung membulatkan matanya dengan sempurna, saat mendengar penuturan dari sang suami.


“Mana mas, biar Lela liat. Jadi penasaran gimana wujudnya,” ucap Lela dengan polosnya. Wanita itu tidak tadi jadi takut dan malah bersemangat. Yes! Yes! Yes! Arka bersorak dalam hati.


“Lela merem dulu ya, nanti mas yang arahin.” Lela mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti.


“Kenapa harus tutup mata mas? Kan Lela pengen liat iiihhh.” Lela merajuk dalam kepolosannya. Ingin sekali Arka tertawa sekencang mungkin, saat melihat kepolosan istrinya.

__ADS_1


“Iya, nanti Lela boleh liat setelah pegang.” Lela terdiam sesaat, lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat. Sepolos itukah? Ah! Arka jadi gemas dan ingin segera melahap wanita itu.


Dengan perlahan Arka memegang tangan Lela yang lembut. Padahal wanita itu bekerja di Empang sering angkat barang-barang. Tentu saja jantungnya ikut berdebar saat menyentuh kulit lembut itu.


Panggil saja namanya si KUPER (Kuat Perkasa). Daging kuat tapi tak bertulang itu sudah menjulang tinggi. Entah ia sedang berlomba dengan monas di jakarta, atau sedang ikut lomba dengan menara Eiffel, tapi yang jelas si KUPER jauh lebih gagah.


Dengan perlahan Arka mempertemukan tangan halus nan lembut milik Lela pada si KUPER miliknya. Arka memejamkan matanya sesaat, karena si KUPER yang baper ingin muntah. Ia seolah diejek oleh aset berharganya.


“Mas, kok ularnya aneh ya. Bener yang mas bilang, ularnya gak ada sisik, tapi kok tubuhnya anget. Apa mas kasih nama sama ular ini?” tanya Lela yang masih memejamkan matanya dengan patuh.


Wanita itu bahkan mengelusnya dengan agresif, hingga membuat Arka harus menahan dessahannya agar tidak keluar begitu saja.


“Ada,” jawab Arka dengan singkat.


“Siapa mas?”


“Namanya si KUPER, La.” Hah! Lagi dan lagi Lela dibuat keheranan.


“Ku-Kuper? Kok Kuper mas. Artinya apaan?”


“Kuat perkasa.” Blush! Wajah Lela memerah, entah apa yang dipikirkannya.


Mendengar jawaban dari Arka, Lela langsung membuka matanya dengan cepat. Wanita itu terbelalak saat melihat apa yang ia pegang saat ini, hingga refleks menjerit ketakutan.


“Mas Arka messum!” teriak Lela seraya melepaskan si Kuper.


“Gimana La?” tanya Arka dengan tiba-tiba. Membuat Lela melotot tak habis pikir.


“Mas! Maksud mas apa bohongin Lela begitu. Mas gak tau ya, kalo Lela kaget, sekaligus takut,” rengek Lela yang terdengar manja di telinga Arka. Si Kuper yang sudah terlanjur tegak bagai keadilan di Konoha, membuat Arka ingin segera memberi sarang pada si Kuper.


“La, bolehkah mas minta hak mas sebagai suami Lela?” tanya Arka dengan penuh hati-hati, agar tidak menakuti Lela. Bagaimana pun ia ingin melakukannya tanpa ada paksaan.

__ADS_1


“Ma-maksud mas?” bukannya menjawab, Lela malah balik bertanya sambil melirik si Kuper yang masih tegak tanpa sehelai benang pun. Arka tidak menutup kembali celananya agar si Kuper bisa cari perhatian pada calon sarangnya.


“Belah duren La, seperti pasangan pada umumnya. Kamu liat kan, si Kuper udah cari simpati sama kamu?” Arka memelas dengan wajah seimut mungkin. Lela yang polos pun ikut merasa kasihan.


“Tapi mas, kita Cuma punya semangka, gak ada duren. Apa kita beli dulu durennya? Isshhhh kok si Kuper bentuknya begitu mas?” tanya Lela dengan begitu polosnya. Tentu saja itu membuat Arka kesal. Sabar, orang sabar pasti kesel!


“Belah duren itu melakukan hubungan suami istri La, bukan berarti kita harus punya duren asli. Bikin anak yang banyak dan lucu-lucu. Begitu gimana La? Kan bentuk semua jenis Kuper begini?” akhirnya Arka menjelaskan secara terus terang, karena istrinya tidak bisa diajak bicara dengan bahasa kode.


“Tapi Lela takut sakit mas. Liat si Kuper mas yang gede, segede jagung Afrika. Apa muat? Si Kuper kok kayak pake helm Proyek mas?”


Lagi dan lagi, Arka hanya memijat keningnya yang tak pusing. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi, untuk berbicara dengan Lela. Wanita polos sekaligus menjengkelkan baginya saat ini. Dan apa tadi? Si Kuper yang gagah perkasa miliknya seperti pakai helm proyek? Astaga! Ingin rasanya Arka membuktikan kekuatan si Kuper, agar tidak diremehkan.


“Mas janji akan pelan kok. Mungkin awalnya doang yang sakit, nanti lama-lama juga enak. Lela pasti ketagihan. La, wajar si Kuper mirip helm Proyek, karena udah disunat dan dijamin lebih nikmat dan sehat secara klinis . Lela, istri mas yang paling cantik dan baik, mau yaa? Pliiiiisss.” Bagaimana pun caranya, malam ini ia harus belah duren bersama Lela.


Tidak dapat ia bayangkan jika bapak ada di rumah. Apalagi Lela sangat berisik dan sangat menjengkelkan, pasti bapak akan mengoloknya esok pagi. Untung bapak tidak ada di rumah karena tugas ronda.


“Mas kayak iklan sabun aja ah, tapi Mas beneran kan kalo pelan?” astaga! Ingin rasanya Arka menerkam Lela saat ini juga, tapi ia tidak bisa jika tanpa persetujuan dari istrinya.


“Iya sayang, mas janji.” Wajah Lela langsung bersemu merah saat mendengar kata sayang dari Arka. Pria tampan itu sangat baik dan sangat pengertian, meskipun terkadang bahasanya penuh kode-kodean yang tidak dapat ia mengerti dengan mudah.


“Ya udah, Lela mau mas, tapi pelan-pelan ya mas.” Yes! Arka bersorak dalam hati, karena sudah dapat persetujuan, dari istri polosnya yang sangat menjengkelkan.


“Eh tapi tunggu!” tiba-tiba saja Lela menghadang tubuh Arka.


“Ada apa La?”


“Kalo punya Mas ada namanya si Kuper, lalu punya Lela apa panggilannya?” sabar, orang sabar pasti kesel.


****************


Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...

__ADS_1


__ADS_2