Menikahi Juragan Empang

Menikahi Juragan Empang
Fitnah Marko


__ADS_3

Selamat membaca ...


****************


Suasana di rumah terasa lebih hidup setelah ada Lela. Rumah bersih dan makanan sudah ada, karena wanita muda itu sangat cekatan membersihkan rumah dan memasak. Namun, Pak Burhan selalu melarang akan hal itu. Ia tidak ingin menantunya merasa dijadikan seorang babu gratis di rumahnya.


Untuk kebutuhannya sehari-hari, ia bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan dari siapa pun, karena pria paruh baya itu sudah biasa hidup sendiri tanpa anggota keluarga di sisinya. Bahkan, hidup dengan putranya pun ia sudah merasa sangat asing.


Pak Burhan ingin hidup putranya harmonis tanpa ada gangguan dari siapa pun. Ia melirik nasi goreng di atas meja tepat di hadapannya yang begitu menggugah selera. Meskipun warnanya putih pucat, tapi ia dapat mencium aroma sedap menyeruak dalam indera penciumannya.


“Arka, mulai sekarang kau yang akan mengelola empang milik bapak. Kau tahu sendiri jika bapak sudah tua.” Pak Burhan melirik Arka yang tengah lahap makan nasi goreng buatan istrinya. Arka langsung menghentikan gerakannya dan melirik ke arah bapak. Begitu pun dengan Lela.


“maksud bapak?” tanya Arka dengan polos. Jujur saja ia tidak ingin mengurus empang tersebut , tapi jika bapak memaksa. Apa boleh buat.


“Bapak serahkan empang bapak sama kamu , biar kamu sendiri yang urus. Kau kan sudah punya istri sekarang. Nafkahi istrimu dengan baik. Kalau tidak mengurus empang bapak. Mau dikasih makan apa, bapak sama Lela,” ucap pak Burhan sambil menatap putranya bergantian dengan Lela. Wanita itu terlihat canggung, tapi tetap menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


“Aku masih ada tabungan pak. Lagipula empang itu kan mata pencaharian bapak satu-satunya.” Arka kembali menyuapkan nasi goreng yang gurih ke dalam mulutnya dengan lahap. Ia sangat menyukai nasi goreng buatan Lela.


“Apa kamu gak mau makan buat sehari-hari? Biarkan saja tabungan itu kau simpan, takut ada hal mendesak. Pikirkan juga Lela, dia istrimu sekarang.” Arka menatap pak Burhan kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Benar apa yang dikatakan bapak. Ia harus cari penghasilan untuk makan sehari-hari. Bagaimana pun ia punya keinginan menjadi seorang pengusaha .


“Pak, Lela juga bisa kok jaga empang bapak. Kan biasanya Lela kerja di empang sama kang Didi.” Bapak menoleh menatap sang menantu.


“Tapi sekarang kamu udah punya suami yang wajib nafkahin kamu La. Biar Arka saja yang ngurus empang. Kau di rumah dan gak perlu ikut suami mu itu.” Lela mendongak lalu menggeleng pelan dengan mata yang berkaca-kaca.


“Jadi, bapak mecat Lela?” tanya Lela yang sudah meneteskan air matanya. Ia tidak akan menerima pemecatan tidak beralasan dari mertuanya itu.


Bapak mendessah berat. “Bapak bukan mecat kamu Lela, tapi menggantikan kamu dengan Arka. Biar dia yang kerja. Duitnya tetap kamu yang dapat.”


“Lah, aku gak digaji dong pak.” Arka menimpali dengan nada tak terima. Bagaimana mungkin ia bekerja tapi tidak dapat gaji.


Bapak memejamkan matanya sesaat lalu menghela napas kasar. Ia tidak tahu apa yang harus ia jelaskan pada sepasang suami istri yang stupid tiada tara di hadapannya ini.

__ADS_1


“Bapak sudah selesai. Setelah ini mau ke kebon nengok singkong.” Bapak bangkit dari duduknya meninggalkan Arka dan Lela di meja makan.


Tiba-tiba hening.


“Mas, aku gak dipecat sama bapak kan?” tanya Lela dengan polos.


“Bapak gak mecat kamu . Kayaknya gak mau banget jauh dari empang.” Cibir Arka kesal.


“Kan Lela udah lama ngurusin empang bapak. Lagipula kang Didi pasti nanyain Lela karna gak datang.”


“Didi? Siapa dia?” tanya Arka tak suka. Jangan sampai dia dikhianati istri kecilnya karena sudah berumur.


“Teman Lela di Empang, Mas.”


“Yakin cuma temen?” Lela menatap Arka dengan tatapan yang tak dapat diartikan setelah mendapatkan pertanyaan dari pria di hadapannya.


“Sebenernya kang Didi suka sama Lela, tapi Lela tolak terus.” Arka melongo saat mendengar jawaban polos dari istrinya.


Tidak! ia tidak boleh kalah dari Didi. Bagaimana pun ia harus mempertahankan harga dirinya sebagai seorang suami. Ia tidak akan kalah dari Didi, dan tidak akan membiarkan Lela yang polos diambil oleh pria lain.


“Aku ingin ikut mas,” pinta Lela dengan memelas. Arka memicingkan matanya sambil menatap Lela dengan penuh selidik. Ia tidak suka istrinya bertemu pria yang menyukainya.


“Mau ngapain. Ketemu Didi?” tanya Arka kesal.


“Ih, mas apaan sih. Lela tuh baru inget, kalo hari ini mau beli bibit ikan mujair.” Arka mengernyitkan dahinya.


Beli bibit? Ikan Mujair? Bapak tidak pernah bilang! Jangan-jangan ini hanya alasan Lela saja yang ingin bertemu dengan si Didi calon pebinor yang tak dirindukan, begitulah pikir Arka.


“Bapak gak pernah bilang kalo harus beli bibit ikan La.” Lela yang berjalan menuju dapur akhirnya menghentikan langkah kakinya, dan menoleh ke arah sang suami.


“Bapak gak ngurus bibit mas. Sejak satu tahun yang lalu, aku yang mengurus bibit ikannya.”

__ADS_1


“Lalu, uangnya udah di kasih sama bapak?”


“Enggak mas. Uang khusus untuk beli bibit ikan aku yang nyimpen. Udah dikasih seminggu yang lalu.” Arka menghela napasnya panjang. Ternyata hanya ia yang ngang ngong-ngang ngong diantara keluarganya sendiri.


“Ya udah ayo cepetan. Aku tunggu di teras,” ucap Arka dengan pasrah, lalu meninggalkan ruangan itu untuk memanaskan motor terlebih dahulu. Sedangkan Lela bergegas ke dapur untuk mencuci piring kotornya.


***


Dalam perjalanan menuju Empang ...


“Pegangan La, takut kamu jatoh,” ucap Arka sedikit berteriak. Berharap gadis itu memeluknya saat berboncengan mungkin.


“Gak bakalan mas, Lela udah biasa naik motor. Bahkan sampe dibawa ngebut juga udah biasa,” jawab Lela berteriak tepat di telinga suaminya. Arka terjengkit karena kaget sambil menggosok telinganya.


“Emang sering naik motor mau ke mana?”


“Ke pasar lah mas.”


“Sama siapa?”


“Sama kang Didi, atau kang Marko.”


Marko? Siapa lagi itu Marko? Rasanya ia seperti membawa kembang desa saja. Setiap melangkah, pasti ada pria lain yang mengelilingi Lela. Tadi Didi, teman Lela saat di empang. Sekarang Marko. Jangan bilang Marko adalah anak pak RT.


“Marko? Siapa dia?” tanya Arka penasaran.


“Anaknya Pak RT, mas. Orangnya manis, baik lagi.”


Ingin sekali ia berkata kasar. Ia ingat jika Marko anak pak RT itu pernah memfitnahnya, mencuri dalaman Bu Ningsih, janda gatel di desanya. Padahal ia hanya pernah mengintip saat mandi saja. Meskipun sebentar.


“RT Juki?” tanya Arka lagi, untuk memastikan. Ia dan Marko adalah musuh bebuyutan sejak masuk sekolah SMP.

__ADS_1


****************


Jangan lupa tinggalkan jejak ya


__ADS_2