Menikahi Juragan Empang

Menikahi Juragan Empang
Tersesat


__ADS_3

Selamat membaca ...


****************


“iya Mas, anaknya Pak RT Juki.”


Namun, tiba-tiba Arka menghentikan laju motornya hingga membuat Lela terkejut.


"Mas Kenapa kita berhenti?“ tanya Lela sambil memegang bahu Arka.


”kita udah sampai, noh lihat!“ benar saja, kini Lela sudah ada di parkiran Empang milik Pak Burhan.


”Oalah, aku sampai nggak sadar kalau udah sampe,“ celetuk Lela sambil menampilkan deretan giginya yang putih.


”Ya udah mendingan kita langsung masuk saja, lagi pula katanya kita mau beli bibit ikan mujair.“ Arka langsung menggandeng tangan Lela memasuki area Empang yang ada di sana, tetapi Lela menarik tangan yang digenggam oleh Arka dan menghentikan langkah kakinya secara mendadak.


Arka mengernyitkan dahinya lalu menoleh ke arah wanita yang ada di belakangnya. ”Kenapa berhenti?“ tanya Arka penasaran.


"Malu Mas sama orang-orang kalau kita gandengan terus," ucap Lela sambil menunduk malu dengan wajah yang sudah memerah.


Arka mendessah berat seraya menatap sang istri yang masih menunduk di hadapannya. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi istrinya yang polos.


"Gapapa, kita kan udah sah suami istri," ucap Arka yang sebenarnya tidak suka jika melihat seorang pria tengah menatap sang istri dengan tatapan penuh cinta.


"Iya Mas, tapi tetap aja Lela malu. Udah ah lebih baik kita segera masuk takut yang lainnya udah pada nunggu."


"Yang lain? Emang siapa lagi?" Tanya Arka penasaran.


"Itu loh si Nisa adiknya Mas Didi, dia ikut juga ngurus Empang di sini," jawab Lela, lalu segera bergegas memasuki area empang. Di sana sudah ada beberapa orang yang menunggu kedatangannya.


"Teh Lela kok lama banget sih datangnya, kami udah nunggu loh dari tadi," sungut Nisa seraya mengerucutkan bibirnya karena kesal. Nisa masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas kelas akhir.


"Iya maaf tadi teh Lela ada urusan. Oh iya ini kenalin Mas Arka anaknya Pak Burhan," kata Lela seraya menarik tangan Arka dengan lembut.

__ADS_1


Dua orang yang ada di hadapannya melongo tak percaya saat seorang pria tampan, putih, dan tinggi, ada di depan mata mereka. Dan apa tadi, anaknya Pak Burhan?


Nisa maupun Didi menatap tak percaya ke arah pria tampan yang ada di hadapan mereka. Apalagi Nisa, wanita itu sudah membulatkan matanya sambil menganga karena terpukau saat melihat wajah tampan tersebut.


"Widih teh Lela ini mirip seperti aktor Korea itu loh. Aktor siapa tuh? Ji Chang Wook ya?" Kagum Nisa dengan tatapan yang berbinar saat menatap Arka.


"Hus nggak boleh ngomong gitu. Selamat datang kang Arka, saya Didi pengurus Empang di sini sekaligus teman Lela. Ini adik saya Nisa, maaf tadi nggak sopan sama kakang," ucap Didi sesekali melirik Nisa lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Arka.


'Oh ternyata ini yang namanya Didi. Masih jauh lebih tampan aku ke mana-mana juga,' batin Arka yang merasa jauh lebih tampan dibandingkan Didi. Pria itu menganggukkan kepalanya pelan lalu kemudian menyambut uluran tangan Didi sambil tersenyum lembut.


"Oh nggak apa-apa kang. Kenalin saya Arka suaminya Lela," ucap Arka yang langsung memperkenalkan dirinya sebagai seorang suami dari wanita yang ada di sampingnya.


Terkejut Bukan main, Didi langsung membulatkan matanya dengan sempurna, saat mendengar penuturan sosok pria yang ada di hadapannya.


Kini bukan hanya Didik saja yang terkejut, melainkan Nisa pun ikut terkejut sama seperti sang kakak. Pria tampan yang barusan datang ke kampungnya, adalah anak Pak Burhan, sekaligus suaminya Lela.


Suami? Kapan Lela menikah?


"Hah! Suaminya teh Lela?! Kasihan kang Didi, mana belum ngungkapin cinta, ditinggal nikah pula." Nisa terkejut sambil menatap Arka dan Lela secara bergantian.


Didi yang mendengar ucapan sang adik merasa kesal sekaligus merasa malu atas apa yang dikatakan oleh Nisa. Adiknya itu memang tidak bisa menjaga mulut.


"Ngungkapin cinta? Sama siapa Nis? Kok teteh nggak tahu." Nisa hanya melirik ke arah Didi sambil tersenyum penuh arti. Didi hanya menunduk malu.


Ehem! Ehem!


Arka memecah keheningan di antara mereka.


"Sayang katanya kita mau beli bibit ikan? bagaimana kalau kita segera pergi." Apa! Sayang? Mendengar kata sayang yang keluar dari mulut Arka membuat semua orang yang ada di sana menganga tak percaya.


"Ih Mas Arka apaan sih, biasanya juga Panggil Lela, Bukan sayang."


Harusnya Arka sadar jika istrinya itu sangat polos. Sekarang Ia hanya bisa mendessah berat saat mendengar jawaban dari Lela.

__ADS_1


***


Dalam perjalanan ...


"La, kita mau ke mana?" Tanya Arka sambil terus melajukan sepeda motornya.


"Beli bibit Mas. Tadi manggilnya sayang sekarang Lela lagi, mas aneh."


'Aku bukan aneh tapi kamu yang nggak peka, Lela,' gerutu Arka dalam hati. Ia sudah dipermalukan oleh istrinya sendiri. Namun ia juga berpikir, mengapa harus melakukan hal itu di depan Didi?


Ah! Mungkin saja itu hanya untuk menegaskan, bahwa Lela adalah istrinya dan tidak boleh ada yang mengganggu, apalagi merebut Lela dari sisinya.


"Kan nggak ada salahnya Lela, kalau suami kamu manggil sayang."


"Mas! Mas! Berhenti Mas!"


"Kenapa lagi La?"


"Kita sepertinya nyasar."


"Bukannya kamu udah biasa ke sini? nyasar gimana?"


"Iya Mas, Lela udah biasa kalau ke tempat beli bibit ikan, tapi bukan ke sini."


"Lah terus gimana?"


"Emang Mas nggak tahu jalan pulang?"


"Ngikutin arah jalan aja kali ya," usul Arka lalu memutar Balik arah.


****************


Jangan lupa tinggalkan jejak ya

__ADS_1


__ADS_2