Menikahi Juragan Empang

Menikahi Juragan Empang
Syarat


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Malam ini pak Burhan sedang berkumpul di ruang keluarga setelah selesai makan malam. Pria paruh baya itu sempat khawatir saat mendengar kejadian yang menimpa menantunya. Apalagi Arka sempat bertikai dengan putra pak RT Juki, yaitu Marko.


Kali ini pak Burhan baru saja memberikan petuah bijak agar kejadian buruk itu tak terulang di kemudian hari. Ia menatap satu persatu wajah Arka dan Lela yang sedang santai, cenderung seolah tak pernah terjadi sesuatu.


Akan tetapi, pak Burhan baru saja menangkap kejanggalan yang ada pada sepasang suami istri tersebut. Arka terlihat sedang kesal, tapi Lela hanya diam dan bersikap tanpa dosa. Ah! Apa ia salah, telah menikahkan putranya yang sudah tuir dengan daun muda cerah ceria?


"Besok kalian mau ke mana? Pengantin baru harusnya banyak waktu di rumah, jangan keluyuran kayak tadi. Arka, kamu sebagai seorang suami, harusnya bisa membimbing istri kamu. Kamu tau sendiri, Lela masih terlalu muda, kayak daun pucuk yang baru tumbuh. Makanya banyak kumbang serta serangga lain yang tergoda." Pak Burhan menatap Arka yang kini masih tertunduk lesu setelah mendengar ucapannya.


"Sebelumnya aku minta maaf Pak, karena sudah lalai menjaga Lela. Sebelumnya aku juga ingin meminta izin pada bapak, untuk mengelola empang secara tidak menyeluruh," ungkap Arka secara tiba-tiba, hingga membuat pak Burhan maupun Lela langsung menatap ke arahnya.


"Maksud kamu apa?" Tanya pak Burhan penasaran, begitu pun dengan Lela.

__ADS_1


"Aku ingin pindah ke kota dan membangun usaha ku sendiri. Bapak tau, aku ingin menjadi pengusaha, dan aku sudah mengumpulkan biayanya lebih dari cukup untuk memulai awal perusahaan kecil ku. Hal ini juga bertujuan untuk menjaga Lela dari para mata jelalatan yang ada di sini." Arka menjawab dengan tegas tanpa keraguan sedikit pun. Pak Burhan maupun Lela langsung membulatkan matanya dengan sempurna seolah tak percaya dengan apa yang telah Arka ucapkan.


"Mas beneran?" Akhirnya Lela buka suara demi memastikan keputusan yang telah Arka buat secara mendadak.


"Keputusan ku sudah bulat pak, dan aku harap bapak percaya padaku." Lela mendelik tak suka saat Arka mengabaikan pertanyaan yang ia lontarkan untuk suaminya tersebut, dan akhirnya memilih untuk diam.


Pak Burhan menghela napasnya panjang sebelum ia menanggapi ucapan sang putra. Pria paruh baya itu sebenarnya masih tak rela jika ditinggal oleh anak semata wayangnya, tapi bagaimana pun, ia harus menghargai keputusan Arka.


"Jika itu memang keputusan mu, bapak udah gak bisa berbuat apa-apa lagi. Bapak percaya sama kamu, dan tolong jaga Lela dengan baik. Lalu, kapan kamu mau pindah?" Tanyanya dengan datar. Rasanya ia sudah tak berselera untuk berbicara, jika mengingat keputusan Arka yang memilih pindah ke kota.


"Baiklah, bapak percaya sama kamu, dan tolong jangan pernah kecewa bapak. Istirahat lah! Bapak juga sudah mengantuk."


***


Di dalam kamar, Lela hanya duduk diam tak berkutik sedikit pun, seraya membelakangi Arka yang sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pria itu seperti acuh tak acuh dan tetap bersikap seolah tak terjadi apapun. Akan tetapi, berbeda dengan Lela, wanita yang tampak diam itu ternyata sedang diambang dilema atas keputusan suaminya.

__ADS_1


"Sayang, kenapa masih duduk di situ?" Tanya Arka yang sudah mulai jengah dengan istrinya. Lela menoleh, lalu membuang wajahnya ke arah lain lagi.


"Ada apa? Kamu marah? Harusnya mas yang kesel dari tadi sore. Bilang sama mas, biar mas tau masalahnya," bujuk Arka yang kini sudah memeluk Lela dengan erat dari arah belakang.


"Kenapa mas tiba-tiba mau pindah? Kenapa gak bilang sebelumnya sama Lela? Mas anggap Lela sebagai istri gak sih? Mas seenaknya ambil keputusan tanpa komunikasi lagi, seolah kehadiran Lela gak berguna. Apa mas gak pernah anggap Lela sebagai istri? Apa Lela hanya seorang anak kecil di mata mas Arka?" Pertanyaan beruntun keluar dari mulut Lela. Wanita itu sangat kesal hingga tanpa sadar menjatuhkan lelehan bening dari pelupuk matanya.


Melihat hal itu, Arka langsung membalikkan tubuh Lela dan menangkup wajah istrinya dengan lembut. Ia memang salah dan ia mengakui hal itu. Tidak seharusnya dia membuat keputusan tanpa komunikasi dan izin dari istrinya.


"Sayang, maaf. Sebenarnya mas mau kasih kamu kejutan, tapi mengingat kejadian beberapa hari ini, mas tidak ingin melihat kamu diganggu oleh orang lain. Sebaiknya kita pindah dulu sambil membuka usaha. Mas melakukan ini karena gak mau bikin Lela pusing. Lela percaya kan sama mas?" Lela menatap Arka dengan tatapan sendu, dan seolah mencari kebohongan di dalam mata suaminya.


"Lela percaya mas, tapi ada syaratnya." Arka mengernyitkan dahinya tak mengerti. Tak biasanya Lela meminta sesuatu darinya.


"Katakan sayang!"


"Lela mau pegang si KUPER, tapi megang doang loh ya ...."

__ADS_1


__ADS_2