Menikahi Juragan Empang

Menikahi Juragan Empang
Tamat


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Sesuai janji, Arka tengah mempersiapkan keberangkatannya untuk pulang ke kampung. Satu minggu telah berlalu, Arka bekerja keras agar bisa pulang.


Sebenarnya ia merasa lelah karena beberapa hari ini juga sang istri sangat rewel akibat morning sickness. Ia tidak tega pada Lela yang setiap hari merasa sakit, mual dan juga pusing karena masa kehamilannya.


Sama halnya seperti pagi hari ini. Wanita itu masih sibuk keluar masuk kamar mandi karena tidak berhenti mengeluarkan cairan bening dari mulutnya.


"Sayang, kita pergi ke rumah sakit aja. Mas gak tega liat kamu kayak gini terus. Liat badan kamu juga makin kurus. Mas anter ke rumah sakit ya, biar kamu ada obat pereda rasa mual," bujuk Arka berharap sang istri mau mendengarkannya kali ini.


"Tapi mas, katanya kita hari ini mau pulang kampung," ucap Lela beralasan.


"Kita pulang siang La. Kamu jangan banyak alasan. Kita pulang setelah periksa." Tak ingin membuang banyak waktu, akhirnya Arka langsung membawa Lela menuju rumah sakit.


***


Di sisi lain, pak Burhan tengah sibuk melakukan persiapan untuk kedatangan anak dan menantunya dari kota. Sudah tiga bulan lebih mereka tidak bertemu, dan itu menciptakan sebuah kerinduan yang mendalam.

__ADS_1


Selain pak Burhan, Bu Inah pun ikut melakukan persiapan di rumahnya sendiri, takut jika putri bungsunya akan datang ke rumah, setelah dari rumah mertuanya. Ia malu karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya, tapi ia tetap mencoba yang terbaik agar tidak membuat kecewa.


Sedangkan Sella, wanita itu ikut membantu sang ibu untuk berbelanja ke pasar, dan menitipkan anaknya pada sang suami. Kini, keadaan di rumah sudah jauh lebih baik. Andi, suaminya Sella, kini mau berubah dan bertanggung jawab pada keluarga kecilnya.


"Selamat pagi Bu Inah," sapa sosok pria yang baru saja muncul di ambang pintu.


"Selamat pagi. Eh! Marko. Ngapain berdiri di pintu? Sini masuk dulu nak!" Bu Inah terkejut saat mendapati sosok pria yang ia kenal sebagai anak pak RT Juki itu.


"Tidak perlu repot-repot Bu. Saya cuma mau kasih undangan aja," ucap Marko tak enak hati.


"Oalah, undangan pernikahan kamu ya? Siapa calonnya? Orang mana?" Tanya Bu Inah bertubi-tubi.


"Kirain kamu yang mau disunat lagi." Bu Inah terkekeh mendengar ucapannya sendiri. Sedangkan Marko, langsung tersenyum kikuk dan segera berpamitan untuk pergi dari sana.


***


Waktu telah berlalu dengan cepat. Sore hari ini, Lela maupun Arka baru saja sampai di kampung kediaman pak Burhan. Bukan hanya itu, Bu Inah, Sella dan Andi pun ikut hadir karena undangan khusus dari besan. Ceritanya biar Lela gak bolak-balik sih.


"Syukurlah sayang. Kami semua senang mendengarnya. Kami akan segera punya cucu." Bu Inah terharu dan memeluk Lela dengan lembut. Wanita paruh baya itu tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur atas kepercayaan yang telah dititipkan pada rahim putrinya.

__ADS_1


"Benar Bu Inah, sebentar lagi kita akan punya cucu. Arka, jaga Lela baik-baik nak. Jangan terlalu sibuk bekerja dan perhatikan istrimu. Bapak liat dia sangat kurus."


"Iya pak, Lela udah beberapa waktu ini sering mual, jadi kesehatannya sedikit terganggu. Arka juga udah atur waktu sebisa mungkin biar gak lepas pantauan untuk Lela."


"Kalian tinggal di sini berapa lama? Bapak harap kalian bisa lebih lama lagi."


"Hanya dua sampai tiga hari pak, pekerjaan Arka numpuk. Bapak tau sendiri, aku baru merintis usaha. Kalo ditinggal terus ya gak bakal berkembang. Buat tabungan persalinan anak kami juga."


"Kami percaya padamu, tolong jaga Lela ya." Bu Inah kini membuka suaranya.


"Siap Bu, Arka pasti jaga istri dan calon anak kami."


...****************...


Tamat ...


Menghargai orang yang ada di sekitar mu, merupakan cinta yang tak terbatas. Menerima kenyataan dan memperbaiki kesalahan adalah sebuah keputusan, dan bukan jadi pilihan.


Terima kasih telah menemani cerita singkat Arka dan Lela. Mohon dukungannya agar Mimin bisa berkarya jauh lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2