Menikahi Juragan Empang

Menikahi Juragan Empang
Pindah


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Arka benar-benar terkejut saat mendengar keinginan sang istri. Bagaimana bisa ia tahan saat si KUPER disentuh oleh istrinya tanpa berbuat apapun. Seharusnya Lela tahu, Jika sesuatu yang dipegang olehnya akan terbangun.


Seperti halnya saat ini, apakah benar-benar tersiksa saat tangan nakal milik sang istri mulai menggerayangi tubuhnya. Ia hanya bisa pasrah lantaran Lela akan merajuk jika tidak dituruti keinginannya.


Arka dengan sekuat tenaga menahan suara ******* yang hampir lepas dari mulutnya. Apalagi saat ini tangan Lela bergerak dengan lincah, mengelus apa saja yang dapat dia raih.


"Ahss ... Sayang jangan seperti ini. Nanti si kuper bangun," cegah Arka seraya memejamkan matanya, karena tak tahan dengan sentuhan istrinya.


"Tapi mas si koper emang lucu tauu ... Lela pengen pegang terus." Tanpa menunggu persetujuan lagi, Lela kembali meremas daging berurat itu.


Akhirnya Arka tidak bisa menahan hasrat yang bergejolak dalam dirinya, Dan kini ia telah membalikkan keadaan. Lela tercengang saat Arka sudah mendidihnya dengan tatapan yang sangat sayu, dan memerah akibat menahan gairah.


Pria itu mulai menundukkan kepalanya, lalu mulai mencium ceruk leher sang istri dengan sangat lembut. Sedangkan Lela hanya menikmati setiap sentuhan yang Arka berikan sambil memejamkan matanya.


"Mas sepertinya si KUPER masih menggantung," ucap Lela di tengah aksi Arka yang sedang membara. Pria itu langsung menghentikan ciumannya dan melihat ke arah bawah bagian inti. Benar saja, ternyata si KUPER masih menggantung. Lebih tepatnya mengacung tegak tapi bukan keadilan, berurat tapi bukan bakso, dan keras tapi bukan kayu.

__ADS_1


"Biarin aja sayang, si KUPER sebentar lagi kan mau masuk kandang. Lela, Aku mencintaimu," bisik Arka kemudian melanjutkan kembali aksinya. Namun lagi dan lagi Lela menahan sang suami di tengah gairah yang membara.


"Mas beneran cinta sama Lela?" Arka mengangguk dengan mantap sebagai tanda sebuah jawaban. Setelah mendapatkan jawaban dari sang suami, akhirnya Lela memberikan kesempatan pada Arka untuk bercocok tanam kembali.


Malam itu pun mereka memadu kasih dengan penuh kasih sayang, seolah menggambarkan hasrat dan ungkapan cinta mereka yang sebenarnya. Hingga 1 jam lamanya, mereka mengakhiri permainan yang telah mereka lakukan.


"Sayang aku ingin punya anak sama kamu. Aku ingin punya keluarga kecil yang bahagia. Lela mau kan, punya anak sama mas?" Tanya Arka penuh harap.


"Tapi mas, apa nggak terlalu cepat?" Bukannya menjawab, Lela justru bertanya balik karena tak yakin dengan keinginan sang suami.


"Memangnya kenapa La? Apa kamu nggak mau punya anak sama mas? Atau kamu belum yakin sama mas?" Arka ingin memastikan bahwa istrinya tidak memiliki keraguan terhadap dirinya. Bagaimana pun, Arka sangat menghargai sebuah hubungan, apalagi pernikahan.


"Sepertinya begitu. Lela takut jika mas akan selingkuh setelah Lela punya anak nanti. Meskipun begini, Lela tetap sadar diri. Dengan pendidikan yang rendah dan wajah yang pas-pasan, Lala takut jika mas Arka menemukan wanita lain selain Lela. Lele takut akan sebuah kegagalan," ungkap Lela bersungguh-sungguh.


Arka mengangguk paham dengan apa yang Lela pikirkan. Ia juga tidak bisa mencegah pemikiran itu, agar tidak datang pada istrinya. Maka dari itu, ia akan berusaha membuktikan semua ketakutan yang Lela miliki, tidak akan pernah terjadi.


"Sayang, aku mengerti atas rasa takut yang kamu alami, tapi percayalah, jika aku akan selalu bersamamu di saat suka maupun duka. Bapak pasti akan kecewa jika memilih anaknya yang tidak bertanggung jawab pada istrinya. Kamu tau, sekarang bapak lebih menyayangi kamu daripada mas. Kamu akan menjadi satu-satunya wanita yang akan menjadi pendamping hidupku, Lela."


"Kenapa mas bisa seyakin itu sama Lela?" Tanya Lela kembali.

__ADS_1


"Karena kamu satu-satunya wanita yang mas cintai."


***


Satu minggu kemudian ...


Hari ini, hari di mana Arka maupun Lela akan pindah ke kota. Tak lupa juga sepasang suami istri itu berpamitan, pada orang-orang yang ada di sekitar mereka. Termasuk kang Didi dan Marko.


Setelah berpamitan dari orang tua serta sanak saudara, akhirnya Lela berpamitan kepada karyawan Pak Burhan yang ada di empang.


Marko pun yang mendengar kabar jika Lela akan pindah, langsung berbondong-bondong mendatangi empang tempat di mana Lela berada.


Pria itu tampak kecewa, hingga menolak keras keputusan Lela tanpa rasa malu. Bahkan pria itu pun tak segan menyalahkan Arka atas rasa sakit hati yang dideritanya.


"Lela, sejauh apapun kamu pergi, kang Marko pasti akan tetap menunggu jandanya Lela." Begitulah kalimat perpisahan yang Marko berikan, sebelum akhirnya, pria itu lari terbirit-birit sambil menangis.


"Lela, sebenarnya kang Didi udah jatuh cinta sama neng Lela, tapi kakang udah sadar diri karena Lela sekarang udah nikah. Apalagi kakang sadar, jika kang Didi nggak punya apa-apa buat bahagiain Lela. Kakang udah bahagia, liat Lela bahagia sama kang Arka. Lelah harus jaga diri baik-baik, tapi kalo Lela udah jadi janda, jangan lupa kabarin kakak ya." Lelak sungguh tercengang, saat mendengar ungkapan kang Didi yang teramat menyentuh hati, jiwa dan raga makhluk hidup yang ada di sekitar.


"Teh Lela, Nisa pasti kangen banget sama Teh Lela. Teh Lela harus janji bakal balik lagi ke sini ya ... Meskipun Nisa ikut bahagia dengan pernikahan teteh, tapi bisa tetap dukung keinginan kang Didi, buat nunggu teh Lela jadi janda, sekaligus calon kakak ipar Nisa." Lagi dan lagi, Lela dibuat terkejut dengan tingkah kakak beradik tersebut.

__ADS_1


__ADS_2