
Selamat membaca ...
...****************...
Arka membuka pintu kamarnya secara perlahan. Di sana tampak sang istri yang belum memejamkan matanya, karena sedang menunggu sang dirinya pulang.
Tak berselang lama, Lela yang mendengar suara decitan pintu, langsung menoleh ke arah sumber suara, sambil menampilkan raut wajah yang bahagia. Dengan mata berbinar, ia menatap sang suami dengan lekat, lalu melihat ke sebuah bungkusan kecil yang ada di tangan suaminya. Sudah pasti Arka mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Sayang, aku sudah mendapatkan yang kamu mau,” ucap Arka yang langsung memeluk sang istri.
"Beneran mas?! Akhirnya, aku senang. Emm ... Bukannya kamu juga mau beli kopi tubruk? Udah dapet?” tanya sang istri dengan antusias, tapi ia tak menemukan tanda-tanda bahwa suaminya mendapatkan kopi tubruk sesuai keinginan pria itu.
"Ah iya, mas lupa. Mas terlanjur seneng karena kebetulan ada pecel, sesuai keinginan kamu La, akhirnya mas langsung beli dan pulang. Kamu gak usah khawatir, kapan-kapan mas bisa beli di waktu lain. Kalo bisa, kopi di rumah aja, soalnya lebih enak," ungkap Arka mengelabui sang istri.
"Ah iya mas. Sekalian irit ya, kalo beli di luar terus gak baik. Udah ah, Lela mau makan ini dulu. Mas mau?” tanya Lela dengan tidak tulus, karena ia ingin pelit sekarang.
Arka menghela napasnya kasar. Kali ini ia harus ekstra sabar menghadapi istrinya yang super duper sensitif, ketus dan galak. Jangan lupa juga, pelit!
‘Buyur ini memang anakku dan Lela. Suasana hatinya seperti ibunya. Sayang, calon anak ayah, tolong bekerja sama dengan ayah ya. Jangan ikutan kayak ibu kamu,' batin Arka dengan penuh harap seraya terkikik geli, kala mengingat dirinya begitu mencintai gadis menjengkelkan, yang telah menjadi istrinya tersebut.
"Siap sayang, mas janji akan hemat, demi kamu dan tabungan persalinan anak kita. Kamu juga harus jaga diri baik-baik, dan jangan ceroboh. Jangan melakukan pekerjaan rumah yang berat, nanti aku akan menyewa pengurus rumah, untuk membersihkan dan memasak di sini setiap pagi dan sore saja. Untuk makan siang, aku akan pulang untuk makan bersama mu. Kau harus patuh dan jangan keras kepala lagi, oke,” pinta Arka tegas tanpa bantahan sedikit pun.
"Katanya tadi mau hemat, kenapa nyewa asisten rumah tangga?” tanya Lela penasaran. Arka terlalu pintar dan bijaksana untuk dirinya yang terlalu polos cenderung bodoh.
"Sayang, uang memang penting, tapi kesehatan kamu jauh lebih penting. Aku bekerja bukan hanya untuk mencapai tujuan ku aja, tapi untuk menjamin kesehatan keluarga ku, termasuk kamu dan calon anak kita. Nanti setelah kerja sama kantor kita sudah di setujui, kita akan pulang ke desa untuk melakukan syukuran. Apa kamu udah paham?” tanya Arka memastikan, yang hanya di jawab sebuah anggukan kepala oleh istrinya.
***
Dengan perasaan senang, Arka tidur sambil memeluk tubuh istrinya. Tentu setelah Lela makan pecel yang ia belikan. Wanita itu sangat menyukainya, dan ia sangat puas karena Lela tidak kecewa. Ia sangat beruntung karena istrinya masih bisa di bujuk. Lela memang sedikit keras kepala, tapi wanita itu masih bisa untuk diarahkan dan dididik dengan baik. Karena kalau tidak, ia akan menjadi suami paling mengenaskan karena telah memiliki istri yang sentimen.
Tak butuh waktu lama, Arka pun memejamkan matanya menyelami alam mimpi. Ia juga merasa ini sangat menyenangkan. Demi sang istri dan buah hatinya, ia rela melakukan apa pun.
***
Pagi hari ini diawali dengan drama ibu hamil pada trimester pertama kehamilan. Wajah Lela sudah pucat karena terlalu banyak mengeluarkan cairannya. Arka sudah panik dan ingin membawa wanita itu ke rumah sakit, tapi Lela tetap kekeuh memastikan keadaannya baik-baik saja.
__ADS_1
"Sudah mas, Lela baik-baik aja kok. Sebentar lagi udah mulai reda," cegah Lela, saat Arka hendak membawanya ke rumah sakit.
"Tapi sayang kamu pucat banget. Kamu yakin nggak mau ke rumah sakit?" Tanya Arka sekali lagi untuk memastikan. Dengan jawaban yang tegas menolak suaminya.
***
Tak butuh waktu lama, kini Arka sudah keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah rapih. Pria itu sengaja mengambil jatah liburnya untuk menemani sang istri. Dia harus memastikan terlebih dahulu keadaan Lela, sebelum ia melakukan aktivitas lain.
Akan tetapi, perhatiannya tertuju pada sosok wanita cantik yang tengah menyiapkan sarapan di meja makan. Siapa lagi jika bukan istrinya. Lela, terlihat sangat cantik dan cekatan saat sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya, padahal Ia sudah melarang wanita itu agar tidak melakukan hal yang tidak diperlukan. Dia ingat, jika asisten rumah tangga yang ia sewa akan datang pagi hari ini.
"Kamu lagi apa sayang? Kondisi tubuh kamu masih lemah. Apa kau tidak mau mendengarkan aku” tanya Arka dengan lembut, sambil menatap wanita itu dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Ia tidak tahu, apa yang harus ia lakukan agar wanita itu mau mendengarkan perintahnya.
"Mas aku udah mendingan kok, lihat aja sendiri. Aku juga nggak bisa kalau terus diam nggak ngelakuin apapun. Kamu tuh kalau ngomong terlalu formal buat aku. Aku udah kayak ngomong sama atasan aja," gerutu Lela seperti biasa. Wanita itu bisa saja mencari alasan, untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya sudah mas percaya kok. Minggu depan kita akan pulang ke desa. Tadi malam bapak nelpon, katanya kamu suruh nelpon balik sama bapak. Bapak kangen, udah lama nggak komunikasi sama kamu." Lela memekik kegirangan saat mendengar penuturan yang dilontarkan oleh suaminya.
***
Setelah selesai sarapan, Arka maupun Lela tengah menikmati waktu bersama di ruang keluarga. Ruangannya cukup sederhana dan tidak terlalu besar, hingga membuat suasana rumah itu tidak terlalu sepi.
"Sayang apa kamu udah nelpon bapak?" Tanya Arka yang kini baru saja selesai dengan pekerjaannya, dan beralih fokus pada Lela.
"Oh iya Lela lupa mas. Sebentar, Lela hubungi bapak dulu." Arka mengangguk, sambil memperhatikan istrinya yang kini tengah sibuk menghubungi sang ayah.
"Halo Pak, bapak gimana kabarnya? Maaf Lela baru sempat menghubungi bapak."
"Oh iya, anak kami sehat-sehat saja. Sebentar lagi bapak akan punya cucu."
"Nanti Lala tanyain dulu sama mas Arka, kalau udah bisa ambil cuti kita akan pulang kok Pak."
"Baik Pak, nanti Lela sampein salam bapak sama mas Arka. Sampai jumpa nanti." Akhirnya sambungan telepon pun terputus.
"Apa yang bapak bilang sama kamu?" Tanya Arka penasaran.
"Bapak nanya kapan kita pulang mas. Kata bapak mas nggak boleh nakal, sama Lela." Wanita itu tampak santai memakan keripik kentang yang dibeli oleh suaminya beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"Mas kan cuma pengen nengok anak kita sayang. Itu namanya bukan nakal, tapi ayah yang perhatian dan peduli, sama Lela dan calon anak kita." Lela mencebikkan bibirnya tanda tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Arka.
"Terus mas kapan cutinya? Jadi minggu depan?"
"Iya, Minggu depan kita pulang. Makanya akhir-akhir ini mas harus ikut lembur. Tapi Lela Jangan khawatir, karena mas lemburnya di rumah."
"Terus nanti siapa yang handle kantor mas?"
"Lela tenang aja, mas udah percayakan ini sama Romi."
Hari telah berlalu dengan cepat, hingga tak terasa matahari sudah mulai terbenam. Seperti yang Arka janjikan semalam, bahwa akan ada seorang asisten rumah tangga yang akan membantunya di rumah itu.
Asisten rumah tangga yang bernama Bik Sumi, wanita paruh baya yang akan datang setiap pagi dan sore hari saja, kini telah menyiapkan makan malam untuk tuannya.
"Bu Lela, Pak Arka, makanannya sudah saya siapkan, tinggal di hangatkan saja nanti malam."
"Wah makasih bik, Tapi nanti jangan panggil ibu ya, soalnya Lela masih muda. Panggil yang lain aja! Lela juga nggak apa-apa."
"Baik bu, eh maksud bibi neng Lela aja gimana?" Tanya bik Sumi meminta izin, Karena bagaimana pun, ia sangat enggan untuk memanggil majikannya dengan sebutan nama saja.
"Oke bik, kalo yang ini nggak papa."
"Kalau begitu bibi pamit undur diri."
"Hati-hati di jalan bik!"
Setelah kepergian bik Sumi, akhirnya Lela memanggil Arka untuk segera turun ke meja makan. Sejak tadi siang suaminya itu sangat sibuk dengan pekerjaannya. Semua itu Arka lakukan, agar bisa pulang ke kampung tanpa beban pekerjaan.
"Mas, ayo makan dulu!" Seru Lela dengan lembut. Pria itu pun menoleh, lalu segera menghentikan kegiatannya.
"Kamu dan calon anak kita sudah lapar ya. Ayo, mas juga udah laper."
"Mas, jangan terlalu dipaksakan. Mas sendiri yang bilang, jika harus menjaga kesehatan. Kalau mas memang gak ada waktu, kita bisa pulang nanti aja."
"Lela sayang, kamu nggak usah khawatir soal ini ya. Mas pasti jaga kesehatan kok."
__ADS_1
"Oke Lela percaya."