
Selamat membaca ...
...****************...
Pada saat bersamaan, saat Arka terus menggerayangi tubuh sang istri, tiba-tiba saja terdengar suara deheman dari arah belakang mereka. Keduanya menoleh ke arah sumber suara karena merasa terkejut. Benar saja, ternyata itu Pak Burhan yang baru saja bangun dari tidurnya.
Pak Burhan memang baru saja pulang dari pos ronda pada dini hari tadi. Tentu saja Arka hampir melupakan bapaknya itu, karena sejak pagi dia tidak melihat Pak Burhan ikut sarapan bersama.
"Sepertinya TV yang sedang menonton kalian." Pak Burhan pun segera bergegas pergi dari sana menuju dapur untuk membersihkan diri dan segera melakukan sarapan yang tertunda.
Jangan tanyakan wajah lelah saat ini, tentu saja wanita itu merasa malu, hingga ingin menenggelamkan dirinya di dasar lautan yang paling dalam. Sedangkan Arka hanya acuh tak acuh seolah tak terjadi apapun.
"Tuh kan, gara-gara mas kita jadi ketahuan bapak. Sekarang Lela malu," gerutu sosok wanita yang gini justru menenggelamkan dirinya di tubuh Arka.
Tak ingin membuang kesempatan, Arka pun langsung menggendong Lela ke dalam kamarnya dan melakukan hal yang seharusnya sudah terjadi.
__ADS_1
***
Tak terasa hari pun sudah sore, Empang milik Pak Burhan pun sudah tertutup rapat. Didi dan Nisa sudah bersiap untuk pulang.
"Kakang kenapa akhir-akhir ini kok jadi murung? Karena ditinggal nikah teh Lela ya," goda Nisa sambil terkekeh melihat raut wajah sang kakak seperti tidak ada gairah untuk hidup.
"Diem nis kamu masih kecil. Jadi nggak bakalan tahu apa yang kakang rasain," gerutu Didi kesal karena digoda sang adik saat ia tengah merasakan patah hati.
"Lagian sih Kakak nggak pernah bisa ngungkapin perasaan kakang sendiri. Kan jadinya ditikung orang lain. Apalagi itu mas Arka loh, laki-laki paling tampan di desa kita." Didi sudah semakin memanas, saat sang adik pun kini tengah memuji pria yang telah menikung cintanya.
Namun, saat Nisa hendak mengejar kang Didi yang sudah ada di depan sana, tiba-tiba ia mendengar suara keributan dari arah yang tak jauh dari tempat yang ia singgahi.
Dengan jiwa kepo yang membara, Nisa pun tak ingin ketinggalan berita paling hot sejagat raya. Maklumlah, di desa kalau ada berita sedang panas-panasnya, pasti sumbernya dari kalangan emak-emak.
Nisa langsung membulatkan matanya dengan sempurna, tatkala melihat sebuah keributan antara kang Marko dan Arka, anak pemilik Empang tempat ia bekerja.
__ADS_1
Bagaimana bisa, kang Marko dengan beraninya menggoda teh Lela yang kini tengah ketakutan di sana. Jikalau Nisa yang berada di posisi Arka pun, ia pasti akan marah. Apalagi sampai membuat Lela ketakutan di belakang suaminya.
"Waduh waduh Nisa harus cepetan kasih tahu kang Didi. Haisss, kenapa kang Didi malah nggak ada, lagi." Tak henti-hentinya Nisa merutuki kakaknya sendiri. Namun tenang saja ferguso, ada HP yang akan menjadi saksi. Dengan secepat kilat Nisa mulai mengambil potret bahkan mengambil video untuk ia perlihatkan pada kang Didi.
Setelah merasa puas Nisa pun segera bergegas pergi menyusul kang Didi yang entah ke mana.
"Marko Apa yang kamu lakuin sama Lela, sampai dia nangis kayak gitu?" Tanya Arka kesal pada sosok pria yang ada di hadapannya. Namun bukannya takut, Marko justru tengah santai sambil mengupil.
"Marko, kamu dengar nggak sih?!" Bentak Arka yang semakin geram dengan tingkah Marko.
"Eh apa sih?! Tadi itu aku cuma mau nanya sama Lela, kenapa leher dia tuh banyak merah-merahnya? Sebagai calon suami Lela yang berikutnya, tentu saja aku khawatir." Sungguh Arka tak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar penuturan dari Marko.
Apa dia bilang? Suami berikutnya? Hei! Itu tidak akan pernah terjadi. Ia tidak akan pernah melepaskan Lela, apapun keadaannya. Enak sekali pria itu mengatakan, menjadi suami yang berikutnya.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya