Menikahi Juragan Empang

Menikahi Juragan Empang
pecel


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Malam ini Lela sudah bisa pulang, karena wanita itu tidak betah berada di ruangan berbau obat. Arka memapahnya dengan perlahan agar Lela tidak terjatuh.


"Lela, mas punya kabar bagus juga buat Lela. Anak kita membawa berkah yang sangat luar biasa. Ada yang mengajak perusahaan, eh lebih tepatnya kantor kecil kita untuk kerja sama. Semoga ini menjadi langkah awal untuk kita memulai, sayang." Lela yang mendengar hal itu mulai berkaca-kaca karena terharu.


Tangan Arka terulur untuk memeluk serta mengelus punggung kecil milik Lela. Wanita itu masih suka menangis seperti anak kecil beserta ingusnya.


"Mas, terima kasih ya ...." Wanita itu mengucapkan sebuah kalimat disertai ingus yang sudah menempel di kemeja milik Arka. Pria itu sudah terbiasa.


"Iya, sebaiknya kamu segera makan, lalu minum obat. Anak kita udah bikin kamu lemes beberapa hari ini. Pasti Kamu kewalahan. Kenapa gak pernah bilang kalo lagi gak enak badan, hm? Tanya Arka beruntun dengan raut wajah penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Aku kira, aku cuma kecapean biasa mas. Kamu nggak usah khawatir, sekarang aku udah baik-baik aja." Arka menganggukan kepalanya tanda ia percaya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. Meskipun Ia tetap khawatir, tapi dia tidak ingin menekan Lela dan membuat wanita itu merasa lebih tertekan lagi.


"Ya sudah, kalo gitu mas bawain makanan buat kamu. Tunggu di sini sebentar." Ketika Arka hendak bangkit dari duduknya, sebuah tangan mungil mencegah dan menariknya kembali hingga terduduk.


"Ada apa sayang?" Tanya Arka penasaran karena istrinya menampilkan raut aja yang tak dapat diartikan.


"Mas, Lela pengen makan pecel," pintanya dengan memelas. Arka menautkan kedua alisnya karena bingung harus mencari makanan itu, di kota pada larut malam seperti ini.


"Udah malam begini sayang, di sini udah nggak ada yang jual. Gimana kalau besok kita cari lagi," bujuk Arka dengan sangat hati-hati agar tidak menyinggung perasaan istrinya. Benar saja, tampak jelas raut kekecewaan pada sang istri. Wanita itu hanya diam sambil mengangguk kecil.


"Emm ... Mas baru ingat, sepertinya di jalan ujung gang sana ada warung lesehan yang masih buka. Semoga masih ada pecel yang Lela mau. Lela mau nunggu kan?" Tanya Arka yang kini penuh harap. Ia tidak ingin Lela kehilangan harapan, hanya karena sebuah pecel di malam hari.


"Gak usah mas, Lela makan yang ada aja." Arka menghela nafasnya kasar setelah mendengar jawaban dari Lela. Jika sudah begini, dipastikan wanita itu akan mengalami fase berubah menjadi naga api dalam beberapa waktu, sampai ia menemukan air pegunungan yang bisa membuatnya sejuk.

__ADS_1


Untung saja Lela tidak memiliki 5 elemen yang bisa menghancurkan seluruh negara api.


"Nggak apa-apa sayang, mas kalian mau beli kopi tubruk yang ada di sana. Kamu tunggu sebentar ya. Jangan ngambek, nanti anak kita susah bujuk ibunya." Lela mulai luluh dan mengangguk tanda ia setuju.


Tak ingin membuang banyak waktu, akhirnya Arka keluar untuk mencari sebungkus pecel yang diinginkan oleh istrinya. Entah kenapa Ia merasa tak terbebani sedikit pun. Justru Ia sangat senang bisa melakukan hal awal untuk menjadi seorang ayah.


"Selamat malam Bu, Apa pecelnya masih ada?" Tanya Arka setelah sampai di warung ujung gang tersebut.


"Malam nak, Maaf bukannya tidak ada, tapi hanya ada sisa sedikit. Kami juga tidak bisa menjualnya."


"Bu tolong bungkusin aja. Berapa pun harganya pasti saya bayar."


"Ini bukan masalah harga. Baik, tunggu sebentar, biar Ibu bungkusin dulu." Mata Arka berbinar senang, saat mendengar penuturan sosok wanita paruh baya tersebut.

__ADS_1


"Ini nak, ambil saja. Warung Ini juga udah mau tutup."


"Wah terima kasih Bu. Kalau begitu saya permisi, istri saya sedang menunggu." Ibu warung itu pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya tanda sebuah persetujuan.


__ADS_2