Menikahi Tuanku

Menikahi Tuanku
bab 1


__ADS_3

Aku mendorong tubuhnya yang basah kuyub terkena hujan, aku membawa Alex masuk ke dalam rumah.


Ya ampu wajahnya begitu tampan mata biru, dan bulu mata lentik menghinoptisku, ingin sesekali rasanya aku memandangnya terus menerus. Namun, aku sadar aku ini siapa hanya remahan rengingan baginya.


"Jangan lakukan itu kepadakku! Aku mohon!" Kata-kata itu berulang kali Alex lontarkan di bibir merahnya.


Aku memapah badannya, dan membawa dia masuk ke dalam kamarnya, Aku rasa Alex mabuk waktu itu.


Aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga bekerja di rumah Alex. Ibuku juga sudah lama bekerja di rumah Alex sebagai pencuci baju.


Sebut saja namaku Renata Aprilia, aku berbadan langsing, dan mungil semua orang mengataiku manis karena berkulit sawo matang, dan mempunyai tubuh ramping membuat para kaum adam menyukaiku.


Apalagi lingkar Dadaku yang sedikit besar membuat diriku tampak menarik. Bukan itu maksudku aku wanita baik-baik, mempunyai kepribadian jujur karena orang tuaku mengajarkanku arti kejujuran.


Alex sendiri anak majikanku dia sendiri di rumah ini karena memang orang tuanya berada di luar negeri, ia melanjutkan bisnis Papi dan Maminya. Umur kita terpaut usia 10 Tahun, Alex sendiri sudah berumur 35 tahun.


Aku menuntunnya jalan sampai ke pembaringan, dia menarik tanganku perlahan, sehingga membuat diriku berada di atasnya dan wajah kita benar-benar sangat dekat.


Deg, jantungku berdetak aku merasa tidak sopan menatap majikanku lama-lama aku menghindari tangan Alex dan mencoba berdiri Namun, Alex menahannya.


Aku rasa dia masih tidak sadarkan diri. Hanya kata-kata jangan lakukan itu kepadaku terus saja yang keluar dari bibir manisnya, entah kena tekanan batin apa dia sampai segitunya.


Kulepaskan jaz berwarna hitam dan sepatu yang masih berada di kakinya itu, aku mencoba pergi dari kamarnya dan dia menarik tangan ku lagi sehinga aku terjatuh dalam pelukannya.


"Ehmm..." Tiba-tiba dia menciumku jantungku berdetak lebih kencang apa lagi pintu kamar Alex masih sedikit terbuka Aku takut ada yang melihatnya dan bisa menjadi bahan gibah nantinya, Aku mencoba melepaskan pelukan Alex namun, tangan Kekarnya menahanku. Semakin Aku memberontak semakin kuat dirinya.

__ADS_1


Badanku semakin panas dan detak jantungku sudah mulai tak karuan, karena memang ini pertama kali aku berciuman apa lagi bersama majikan yang sangat tampan.


"Tuan Alex. Lepaskan! Mohon lepaskan!" Kataku sambil meminta agar Alex melepaskanku dari pelukannya. Namun, ia tetap menahanku tangan kekarnya itu memeluk tubuhnya sehingga aku berada diatasnya.


"Tolong lepaskan saya, Tuan!" Kataku lagi memohon karena aku tahu tangan Alex mulai menuju keintimanku.


"Lepaskan saya, Tuan!" Aku meneteskan air mata. Namun, Alex hanya diam dan semakin melanjutkan aksinya.


"Aku akan membalasmu atas perlakuanmu tadi!" Seru Alex, aku tidak mengerti kenapa dia bilang seperti itu padaku, padahal aku tidak pernah mengatakan apapun dihadapannya dan tidak berbuat salah kepadanya.


"Emm..." Tangan Alex mulai nakal dan memegang apa yang berada dihadapanya seperti orang kerasukan aku memberontak dan mengigit tangannya lalu mencengkram tangannya Namun, tetap saja aku kalah karena tangan Alex sangat kuat.


"Tolong lepaskan saya! Saya mohon! hiks.." Aku mulai menangis karena Aku tahu apa yang Alex mau.


Perlaham dia membuka bajuku sehinga Aku telanjang dada dihadapannya.


Deg, jantungku berdetak lebih kencang dan aku sangat takut apa yang aku pikirkan tadi benar adanya, Aku sudah memberontak sekuat tenaga dan berteriak. Namun, tetap aja tidak ada yang menolongiku, iya mana mungkin ada yang menolong karena di sini cuma ada Aku dan Alex saja, Ibuku pulang ke Desa dan semua pelayan sudah di kamarnya masing-masing.


Semakin menjadi-jadi ingin rasanya Aku menjerit. Namun, itu tetap saja tidak membuatku lolos.


Alex tetap saja memperlancar aksinya membuat aku kuwalahan dan hanya menangis, benda keras itu teras menrobos di mana kehormatanku yang selama ini aku jaga sampai mati-matian, benda keras itu sudah berhasil masuk ke dalam pintunya, ingin sesekali Aku membunuh Alex. Namun, itu tidak mungkin, aku hanya menangis dan meneteskan air mata.


"Rasakan ini! Ini semua gara-gara kamu! ini yang kamu inginkan bukan!" Bentak Alex sambil tersenyum sinis terhadapku. Namun dirinya tetap memejamkan mata, entah apa yang Alex lakukan dan apa yang Alex katakan aku tidak mengerti. Salah apa aku sehingga dia berani menyentuhku tanpa izinku.


Setelah selesai Alex melepaskan benda keras yang mengangguku itu keluarlah setetes darah di seprai miliknya.

__ADS_1


Setelah selesai Alex tertidur di atas seprai yang ada noda darahku itu dengan telanjang bulat, aku ogah untuk menutupi tubuhnya karena tubuh itu yang mencuri kehormatanku, aku membetulkan bajuku dan berlari menuju kamarku sambil.berjalan teeseok-seok menahan perih di bagian pahaku, Aku menangis di kamarku dan menatap nanar foto ibuku.


"Maafkan Renata, Bu. Renata tidak bisa menjaga kepercayaan ibu," uucapku lirih, menangis dan menyeka airmataku duduk di tepi ranjang sambil memeluk foto ibuku.


Aku masih mengingat wejangan Ibuku dulu setelah Ayahku pergi meningalkanku selamanya Ibuku pernah bilang, "Wanita itu harus dijaga kehormatannya, kesuciannya, jangan sampai gagal untuk menjaganya sebelum menikah. Kalau kamu gagal maka kamu sudah hilang harga diri dan tidak ada harganya!" Kata-Kata itu sudah Aku jadikan motifasi dalam hidupku dan ku jaga sampai saat ini, tapi Alex telah merebutnya Aku membenci Alex.


Aku benci terhadapnya gara-gara dia harga diriku harus lenyap.


Aku menangis histeris di dalam kamar membuat Bik ija teman Ibuku tukang masak di rumah Alex datang menghampiriku.


"Nduk, Ren. Kenapa kamu menangis malam-malam seperti ini?" Tanya Bik Ija datang ke kamarku.


Memang malam itu sudah jam 2, kejadian yang tidak ku inginkan tadi jam setengah 1 malam pas.


"Aku kangen Ibu, Bik." Kataku berbohong.


"Biar Bik ija temenin tidur di sini ya, Ayo jangan sedih lagi." Memang disini Bik ija menyayangiku seperti anaknya sendiri Apalagi beliau tidak mempunyai anak.


"Makasih, Bik. Bik seharusya Renata Mandi dulu mau sholat malam," ucapku. Aku merasa jijik karena diriku sudah tidak suci lagi Alex yang telah mengambilnya saja sudah bisa tertidur pulas sedangkan aku harus memikirkan masa depanku seperti apa, padahal Aku juga ingin sekolah lagi, Namun, dengan keadaan ku yang tidak suci lagi membuat ku down saat itu.


"Nduk, kenapa jalanmu mengangkang?, kamu sakit?" Tanya Bik ija menyelidik.


"Habis kepleset di kamar mandi, Bik." Aku berbohong lagi.


"Di bagiam celana belakangmu juga ada noda darah kamu datang bulan? Kenapa datang bulan harus sholat malam, Nak." Kata Bik ija Lagi, aku hanya terdiam dan masuk ke dalam kamar untuk mandi besar membersihkan diriku.

__ADS_1


__ADS_2